OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 464 SAMPAI



Kao Jing duduk tersungkur dengan tatapan kosong, tubuh lunglai nya yang sudah beberapa hari tidak mandi itu bersandar pada dinding penjaranya yang lembab. Tak ada semangat yang ia rasakan lantaran terkungkung di sini tanpa kepastian bisa melihat Li San untuk yang terakhir kalinya.


Weini melangkah antusias hingga Xiao Jun harus menyamakan langkahnya. Meskipun tahu ada penjara di bawah tanah dalam kediaman Li, namun ini kali pertama Weini menginjakkan kakinya ke sini. Kesan gelap, suram dan menyeramkan terasa jelas begitu ia masuk kemari.


"Satu belokan lagi itu selnya. Kamu yakin tidak mau ak temani?" Tanya Xiao Jun memastikan lagi saking khawatirnya ia pada Weini. Niatnya untuk menemani hingga bicara bertiga dengan Kao Jing nyatanya ditolak oleh Weini.


"Kalau ada apa-apa, aku akan menghipnotis nya sampai pingsan. Kau meragukan kemampuan ku?" Canda Weini.


Xiao Jun tersenyum tipis, "Aku tidak meragukan kemampuanmu tapi meragukan keberanian mu. Aku yakin kamu tidak akan sampai hati melukainya." Guman Xiao Jun pelan.


Weini tertawa kecil, "Justru itu cara paling aman tanpa perlu melukai nya. Sudahlah, kau tunggu saja di sini, aku akan menemuinya sebentar." Ujar Weini lalu berjalan meninggalkan Xiao Jun yang pasrah menurut padanya.


Suara langkah Weini membuat Kao Jing kembali mendongak, menginginkan harapan yang belum terkabulkan. Ia tertatih menuju pintu sel dan menggenggam jeruji besi yang membatasi geraknya.


"Pengawal, kau datang membawaku menemui adikku kan?" Teriak Kao Jing penuh harap. Binar matanya yang memancarkan optimis itu seketika memudar lalu tegang saat mendapati sosok yang datang bukanlah pengawal melainkan seorang gadis yang tidak ia kenali. Gadis berparas cantik, berperawakan tinggi serta wibawa yang begitu terasa walau tersembunyi di balik keanggunannya.


Weini kini menatap lekat Kao Jing, orang yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Jujur ia sangat prihatin melihat kondisi tubuh pria tua itu yang lusuh dan sedikit menebarkan aroma lantaran tidak terurus.


"Siapa kamu? Mengapa bukan pengawal yang datang?" Tanya Kao Jing heran, ia masih bisa mengontrol suaranya terhadap seorang wanita.


Weini tersenyum tipis, mencoba memberikan kesan baik agar pria itu nyaman padanya.


"Paman, aku Yue Hwa, keponakanmu." Jawab Weini pelan.


Kao Jing menelan ludah, ia jelas kaget karena dikunjungi oleh orang yang sejak dulu ia rencanakan kematiannya. Nyatanya, gadis itu punya kekuatan tak terduga, ia tetap selamat bahkan kembali lagi ke rumah ini sebagai penguasa.


"Oh, haruskan aku ucapkan selamat padamu atas posisi barumu sebagai penerus klan Li? Kau sampai repot-repot datang melihatku, aku tak enak hati jadinya." Ucap Kao Jing masih dengan gengsinya harus mengakui Weini sebagai seorang penerus baru. Ia sangat menyayangkan pilihan Li San yang menunjuk gadis lemah seperti Weini sebagai pemimpin.


Weini memilih tidak menanggapi Kao Jing, ia pun tak ambil hati karena masih diragukan oleh Kao Jing. "Aku kemari untuk melihat keadaan paman, dan tentu saja juga menanggapi permintaan paman untuk memberi hormat pada ayahku." Jawab Weini pelan dan tersenyum.


Kao Jing masih diam, ia yakin tanpa harus basa basi dengan Weini, gadis itu pasti akan membebaskannya.


"Namun sebelum itu, aku ingin paman tahu sesuatu... ini tentang kak Chen Kho." Lirih Weini.


Saat mendengar nama Chen Kho, mata Kao Jing bersemangat menatap Weini, ia sungguh ingin tahu tentang kabar putranya. "Di mana dia? Apa dia datang bersamamu?"


Weini menunduk penuh sesal, ia harus mengakui meskipun terasa sulit. "Paman, aku tahu kau dan kak Chen Kho berencana menyingkirkan aku. Aku juga tahu itu pasti bukan kehendak kalian, kak Chen Kho banyak bercerita padaku, tentang dirinya, tentang ketidak bahagianya."


"Dia bicara seperti itu? Anak itu tak pernah berubah." Gerutu Kao Jing yang menyayangkan sikap Chen Kho yang labil, kadang bisa diandalkan kadang sebaliknya.


"Paman, tolong jangan salahkan dia lagi. Bagaimana pun dia sudah sangat berusaha membuatmu senang. Dia melakukan semuanya demi melihat mu bahagia." Lirih Weini yang tidak terima Kao Jing menilai Chen Kho seperti itu.


"Di mana dia sekarang?" tanya Kao Jing penasaran.


Weini menghela napas, ia menatap lekat pada pamannya. "Dia... dia tidak berhasil selamat dari pengaruh 'dia'. Saat itu dia kesurupan dan terus menyakiti dirinya, kami tidak bisa menolongnya. Dia... Rumah bawah laut itu meledak dan kak Chen Kho, dia di dalam."


"Dia sudah meninggal? Putraku sudah meninggal... lalu buat apa aku berjuang?" Lirih Kao Jing putus asa.


Weini ikut berjongkok agar bisa mendekat pada pamannya, ia bisa merasakan kesedihan hati pria tua itu. Kehilangan Chen Kho berarti kehilangan satu satunya penerus klan Li yang murni meneruskan marga Li di keluarga mereka. Ini sungguh petaka yang tidak mereka inginkan.


"Paman, jangan putus asa... kak Chen Kho sangat menyayangi mu. Dia tak mengapa harus berkorban asalkan bisa melihat mu bahagia. Jika paman memang sangat mencintainya, tolong teruskan hidup dengan semangat, demi dia." Lirih Weini, ia tak tahu harus menghiburnya seperti apa lagi, pria itu terlihat sangat memprihatikan dengan tatapan penuh penyesalan.


"Aku yang membuat dia terbunuh, aku tahu dia terpaksa demi aku. Dia mati karena aku, karena ambisiku. Chen Kho... kenapa bukan aku saja yang mati? kenapa harus dia?" Pekik Kao Jing, ia tak peduli Weini melihat sisi lemahnya, kini Kao Jing menangis meronta-ronta. Terjawab sudah perasaan tak tenangnya beberapa hari ini karena Chen Kho telah pergi. Ia tak bisa melihat putranya lagi.


❤️❤️❤️


Jet yang ditumpangi Lau, Dina dan yang lainnya akhirnya mendarat di halaman istana Weini. Hari sudah mulai petang saat mereka tiba, setelah mendarat sempurna, mereka bersiap turun. Namun yang paling semangat adalah Dina, ia berada di belakang Lau agar bisa segera melihat seperti apa tempat tinggal nonanya.


Mata Dina terbuka lebar, begitupun senyumannya yang tak bisa menutupi rasa takjubnya. Saking semangatnya sampai ia melupakan sesuatu yang penting.


"Dina, koper lu nggak di bawa nih?" Ujar Stevan yang berdecak karena tingkah Dina.


"Eh? iya ya...." Jawab Dina, dengan berat hati ia berbalik badan dan berlari menaiki tangga jet lagi, padahal ia sudah berjalan dengan anggun di belakang Lau, dan sempat mengkhayal bahwa dirinya seorang putri yang kembali ke istananya. Khayalan itu rusak seketika karena harus mengambil koper, lagian mana ada tuan putri yang membawa kopernya sendiri? Grace saja punya Fang Fang yang melayaninya, dialah putri yang sesungguhnya. Terpaksa Dina berjalan di belakang Stevan dan menjadi orang terakhir yang keluar dari jet.


Lau membalikkan tubuhnya menghadap orang-orang di belakangnya. Senyumannya terpancar dan ia mulai memberi sikap hormat kepada dua tamu yang ikut datang dengannya. meskipun sudah saling kenal dan akrab, tetapi aturan di kediaman Li mengharuskan ia bersikap formal.


"Selamat datang di kediaman Li, semoga menjadi kesan baik bagi anda berdua. Silahkan...." Ujar Lau sopan dengan tangan yang menunjukkan jalan dalam posisi tubuh sedikit menunduk.


Dina spontan tertawa, ia merasa geli diperlakukan seperti itu oleh Lau. "Paman, apa harus sekaku itu? Aku merasa lucu diperlakukan begitu, kita sudah terlalu kenal."


Stevan melirik Dina, menyuruhnya diam dalam isyarat mata. Dina langsung bungkam, ia takut dengan delikan itu.


Lau tersenyum dan memberi pengertian pada Stevan dan Dina. "Tuan dan nona, lain tempat lain tradisi. Di sinilah tempat asal saya dan seperti inilah sikap saya terhadap anda. Semoga anda bisa segera menyesuaikan diri dengan aturan di tempat ini. Mari, ikuti saya menuju aula utama."


Lau memimpin jalan diikuti Grace dan Fang Fang di belakang, sementara Stevan dan Dina tersisa di belakang dengan perasaan serba salah dan takut-takut.


"Canggung banget yak, ngeri gue, lu ngeri nggak?" Bisik Dina.


Stevan mengangguk pelan, "Rasanya kayak datang ke jaman dulu, jaman kerajaan gitu. Keren banget ya, gue nggak nyangka ada kehidupan kayak gini di jaman modern. Kita nikmati aja, lu jaga sikap dan mulut bawel lu." Gumam Stevan.


Dina membekap mulutnya, ia benar-benar takut bicara sekarang, apalagi teringat cerita Lau bahwa di kediaman ini punya aturan dan kebal hukum. Ia merinding membayangkan akan dihukum cambuk atau dipenggal.


Sementara itu, bangunan yang sangat besar dan megah terpampang nyata di hadapan Dina dan Stevan, meski masih tampak jauh namun mereka sudah tak sabar untuk sampai di sana. Hingga mereka sadar sudah tertinggal jauh oleh rombongan mereka. Barulah Dina berlari kencang menyusul, meninggalkan Stevan yang tak sanggup berlari karena belum begitu pulih.


"Tunggu gue woi!" Pekik Stevan pada Dina.


❤️❤️❤️