
Sekelebat bayangan dua orang yang muncul tiba-tiba mengejutkan para pengawal Chen Kho yang berdiri kebingungan. Mereka masih bingung karena hilangnya Chen Kho serta Haris yang sekejap mata entah kemana,
kemudian rasa kaget itu berkelanjutan saat tahu dua orang hilang itu mendadak muncul kembali di hadapan mereka seperti jatuh dari langit.
Chen Kho tampak mengangkat tubuh lemas Haris lalu membuangnya dengan kasar hingga jatuh ke tanah. Kemampuan lawan yang tak berimbang dan begitu mudah ditakhlukkan membuat Chen Kho merasa jengah. Permainan mereka berakhir cepat meskipun sempat berimbang namun dengan sedikit tipu muslihat, Chen Kho berhasil keluar sebagai pemenang. Ditatapnya sekeliling rumah Haris yang tampak sederhana saja, kemudian beralih melihat Haris yang terkulai tak berdaya di bawah kakinya.
“Apa perlu kami habiskan dia, tuan?” Tanya seorang pengawal yang menyadari Haris masih hidup.
Chen Kho menyeringai, ia melirik dengan tatapan meremehkan Haris. “Biarkan saja, dia akan mati dengan sendirinya. Aku masih berbaik hati memberi kesempatan untuk dia berpamitan dengan nona mudanya.” Tawa
Chen Kho menyeruak, ia sungguh puas mendapatkan hasil sesuai ekspektasinya.
Pengawalnya mengangguk paham dengan raut wajah tanpa ekspresi. “Baik tuan. Selanjutnya apa kita langsung mencari nona Li?” Tanya pengawal itu menunggu perintah Chen Kho.
Senyum licik Chen Kho mengembang lagi, ia sengaja menatap Haris yang melihat tajam ke arahnya, seolah penasaran menunggu jawaban Chen Kho. “Tidak perlu, dia pasti disuruh sembunyi. Tunggu saja dia muncul
sendiri, tenang saja… Aku pastikan dia tidak akan lolos dari tanganku.” Ucap Chen Kho penuh kesungguhan, hatinya makin senang terlebih melihat raut khawatir Haris yang tampak jelas meskipun dengan sisa kekuatan yang kian melemah. Ketidak-berdayaan lawan adalah kenikmatan tersendiri bagi psikopat seperti Chen Kho.
“Ayo pergi, tinggalkan tua bangka ini. Biarkan sepupuku mengurusi pemakamannya ha ha ha….” Tawa Chen Kho begitu kencang seiring langkahnya yang kian menjauh dari tempat Haris terkulai.
Lewat tatapan tak berdaya itu, Haris mengawali kepergian Chen Kho beserta pengawalnya yang masuk ke dalam mobil lalu meninggalkan halaman rumahnya. Haris menghela napas dengan susah payah, pandangannya tertuju pada langit yang mulai mendung. Awan menggelantung hitam seolah turut bersedih atas kemalangan nasibnya. Sungguh takdir yang tak bisa dihindarkan, yang terjadi telah terjadi.
“Nona… Aku tak pernah menyesal mengorbankan hidupku padamu.” Lirih Haris dengan sisa kekuatannya, sedikit tetes bening keluar dari ujung kelopak matanya. Ia tak pernah sepesimis ini dalam hidupnya, seorang Wei Ming Fung yang gagah dan penuh trik sihir tidak sepenuhnya menjamin akan selalu berakhir sebagai pemenang. Tak akan ada yang bisa menebak seperti apa akhir hidupnya, entah berakhir di tangan siapa dan oleh sebab apa. Yang jelas, apapun yang terjadi Haris tak ingin pergi membawa beban apalagi penyesalan. Untuk itulah ia secara ikhlas menyatakan bahwa ia tidak pernah menyesal mengabdikan hidupnya pada keluarga Li, pada Weini.
***
Sepanjang perjalanan yang tersendat kemacetan itu semakin memperparah kecemasan Weini. Ia tak mengerti keresahan hatinya yang seolah mendesak segera pulang, kondisi jalanan yang tidak bersahabat kian membuatnya frustasi. Weini memukuli setir dengan keras agar kekesalannya terlampiaskan, lalu ia meraih ponselnya di dasbor dan menghubungi Haris.
“Apa yang ayah lakukan sampai tak menjawab panggilanku sejak tadi?” Gumam Weini sembari menggigiti bibir bawahnya. Baik Xiao Jun maupun Haris tidak ada yang meresponnya hingga sekarang, yang ada justru chat dari Dina yang mengajaknya nonton namun tidak digubris oleh Weini.
Selang dua puluh menit kemudian, Weini baru berhasil sampai di rumahnya dengan penuh perjuangan. Ia turun dari mobil dengan tatapan heran, perasaannya semakin tidak karuan begitu menatap pintu rumahnya yang terbuka
lebar. Ini di luar kebiasaan Haris yang selalu menutup pintu meskipun ia berada dalam rumah. Weini berlari masuk tanpa mengunci mobilnya, hati ini sudah ingin ditenangkan dan sebelum ia melihat Haris, ketenangan itu tak akan terjadi.
Air mata menggenang seketika saat Weini melihat Haris terbaring di tengah ruang tamu. “Ayah!” Pekik Weini dengan kencang sekaligus spontan berlari menghampiri ayahnya. Kepanikan Weini kian menjadi begitu melihat darah yang sudah mengering di bibir Haris. Weini mendekap tubuh Haris dan meraba nadi di pergelangan tangan untuk memastikan kondisinya.
Haris merespon Weini dengan gerakan lemah di jemarinya, matanya yang semula terpejam pun mulai terbuka. Haris ingin memberi senyuman pada nonanya, tapi apa daya bahkan untuk menggerakkan jemarinya saja ia perlu tenaga ekstra. Weini meraih jemari Haris untuk digenggam, ia tak tahu apa yang telah terjadi namun ini bukan waktunya bertanya. Hal yang lebih penting dilakukan sekarang adalah menyalurkan energi pada tubuh Haris yang sudah sedingin es. Jika Haris orang biasa, pasti sudah tak tertolong sejak tadi.
Weini mengerahkan seluruh tenaganya beserta isak tangis yang tak bisa dijeda, ia benar-benar ketakutan, takut kehilangan orang yang ia sayangi. Tangisnya makin menjadi-jadi begitu sadar bahwa energi yang transfernya tidak bisa diserap sepenuhnya, luka dalam Haris terlanjur parah dan terlambat mendapatkan pertolongan. “Aaarrggghhh… Ayah, apa yang terjadi? Siapa yang menyerangmu? Siapaa?” Pekik Weini, emosinya tak terbendung lagi.
Haris memaksakan diri untuk menarik seulas senyum, tipis bahkan sangat tipis senyum itu. Ia menatap lirih pada Weini yang kehilangan kontrol diri, tangisan itu... Kecemasan serta kesedihan itu membuat gadis sekuat Weini hancur dan rapuh. Pertahanan diri Haris runtuh, ia berniat tegar agar Weini tak terpuruk, namun perpisahan oleh ajal di depan mata menggagalkan itu semua. Haris menitikkan air mata yang berlinang deras tanpa isakan, ia
menangisi kejodohannya sebagai pengawal setia Weini yang harus berakhir sampai di sini.
“Ayah, bertahanlah! Aku coba salurkan energi lagi, kumohon bertahanlah!” Isak Weini, ia bersila di depan tubuh Haris yang terbaring dan terus memaksakan diri memberikan pertolongan. Tak peduli energinya terkuras sia-sia, tak peduli bahwa organ yang rusak parah di dalam tak semudah itu diobati karena penanganan yang terlambat.
“Ayaah… Jangan tutup mata! Kau harus terus terjaga, kau tahu… Xiao Jun itu putra kandungmu! Dia putra yang kau rindukan selama ini ayah!” Pekik Weini histeris saat melihat kesadaran Haris mulai melemah.
Haris tertatih kembali ke dalam rumah agar tidak menghembuskan napas terakhir di halaman rumahnya, namun gerakan yang dipaksakan itu kian memperparah luka dalamnya. Dan kini ia harus sedikit memaksakan diri lagi untuk menjawab perkataan Weini barusan, ia tak ingin mati dalam kondisi tak sempat menyampaikan pesan terakhir.
“Baguslah… Aku bisa pergi dengan tenang… Dia akan menggantikanku menjagamu… No… Na….” Lirih Haris terbata-bata.
Weini langsung menjerit histeris, kepalanya menggeleng kencang menolak semua yang dikatakan Haris. Ia tak peduli pipinya basah kuyup oleh air mata hingga hidung yang mengeluarkan lendir karena terlalu kuat menangis. “Tidak! Tidak ada yang bisa menggantikanmu sebagai pengawalku! Tidaak! Ayah, aku tidak mau kehilanganmu… Aku tidak sanggup tanpamu!”
Napas Haris kian berat dan terputus-putus, melihat itu semua semakin mengguncang hati Weini. Gadis itu memeluk Haris, tak ingin terpisahkan sekalipun oleh maut.
“Pergi no na… kegelapan pasti dikalahkan kebeningan, ka… mu… punya kebeningan hati dan kegelapan….” Kata-kata Haris terhenti, seiring napas yang juga telah habis dihembuskan. Tubuh yang masih dalam pelukan Weini itu melemah, tangannya jatuh perlahan menyenggol lutut Weini yang duduk bersimpuh.
“Ayaaaah….” Dunia Weini runtuh berkeping-keping seiring kepergian Haris yang hilang hayat dalam pelukannya. Ada yang telah pergi dan tak akan kembali, walau tangisan bahkan jerat hati menahannya untuk tetap tinggal. Yang tersisa hanyalah kepingan hati yang hancur mengenang semua kenangan yang pernah mengisi lembaran hari bersama.
“Tidaaak… Jangan mati! Pengawal Wei, aku Li Yue Hwa tidak mengijinkanmu mati!” Pekik Weini, dalam hatinya yang belum bisa menerima kenyataan, ia terus memaksakan Haris untuk bangun lagi. Berandai bahwa kematian bisa tunduk padanya, berandai bahwa manusia tak perlu terpisahkan dari yang dicintainya atas nama ajal. Weini berharap Haris mendengarkan perintahnya, bukan sebagai anak tapi sebagai majikan karena Haris adalah pengawal yang patuh dan setia. Namun kenyataannya….
***
Mohon jangan protes ya, author juga sangat sangat sedih. Ini episode yang menghabiskan waktu nulisku paling lama. Aku perlu hampir tiga jam menulis bab ini karena banyak dijeda untuk menata hati, menyeka air mata. Haris adalah salah satu tokoh utama yang author cintai, lalu kenapa author membuat nasibnya setragis ini? Pasti ini juga pertanyaan kalian, sabar ya… mohon tetap sabar dan ikuti kisah ini. Kujanjikan hal yang indah sebagai ending cerita.
Ku menangisss hiks….
***