
Dina sesekali melirik Grace yang membisu di sampingnya, fokus gadis manajer itu terbagi dua antara konsentrasi menyetir dan mengkhawatirkan Grace. Bisa dibilang bahwa Grace sepanjang malam terjaga hanya untuk menangis, bahkan ketika Dina tak tahan lagi menemaninya dan tertidur, ia pun mendapati Grace masih terjaga dengan wajah sembab. Grace tidak tidur sama sekali hanya untuk menunggui ponselnya berbunyi. Konyol sekali bagi Dina, tapi entahlah... andai ia yang bermasalah dengan Ming Ming, entah seperti apa juga gayanya saat galau.
“Sudahlah, percaya aja dia pasti ketemu. Yang penting kita udah laporin polisi, bentar lagi juga beritanya nyebar” ujar Dina mencoba menghibur Grace.
Ide Grace pula yang sudah tak tahan mencemaskan kekasihnya, hingga membujuk Dina menemaninya membuat laporan ke kantor polisi. Terpaksa Dina menurutinya dan diam-diam membuat laporan orang hilang tanpa sepengetahuan manager Stevan. Resikonya jelas besar di depan mata, beritanya akan tersebar dan Stevan bisa saja dianggap sengaja menciptakan sensasi untuk come back di dunia sinetron lagi. Tapi kalau terjadi sesuatu yang tidak diharapkan, mungkin tindakan ini jauh lebih bijak ketimbang duduk berharap menunggu ia kembali.
“Gimana bisa tenang, udah lebih dari dua puluh empat jam dia hilang.” Sedih Grace.
Dina hanya bisa menghela napas, ia pun ikut merasa risau tapi tak tahu harus berbuat apa lagi.
❤️❤️❤️
“Apa Grace belum kembali?” Lagi lagi Kao Jing mengulangi pertanyaannya setiap lima menit. Fang Fang nyaris darah tinggi dibuatnya, semula ia masih bisa sabar memberikan jawaban secara halus, namun lambat lain ia merasa lelah juga harus menahan kesal setiap kali menjawab pertanyaan yang sama.
“Belum Tuan, sabar ya.” Jawab Fang Fang, nasehat yang lebih cocok ditujukan kepadanya yang nyaris hilang kesabaran.
Kao Jing menghela napasnya, “Kenapa lama sekali, apa yang mereka lakukan di luar?”
Fang Fang menarik napas lalu menghembuskan teratur. “Katanya mereka mencari Stevan, mungkin sedang melaporkan ke pihak berwajib.” Jawab Fang Fang.
“Stevan belum juga ditemukan? Pantas saja Grace tak bisa tenang. Heran... kemana bocah itu, padahal aku yakin dia tidak akan mengecewakan Grace. Hmmm....” Gumam Kao Jing ikut bingung.
Belum juga Fang Fang menanggapi tuan besar itu, suara bel membuyarkan perhatian mereka. “Ah itu mungkin nona sudah pulang. Sebentar ya, tuan.” Seru Fang Fang langsung bersemangat hendak membukakan pintu.
“Bukannya Grace bisa buka pintu sendiri?” Heran Kao Jing, namun teriakannya tidak ditanggapi Fang Fang yang lebih duluan sampai di depan pintu.
Senyum sumingrah Fang Fang terlihat jelas, sedari tadi ia pun gusar menunggu Grace pulang. Apalagi ditinggalkan berdua dengan ayahnya, bukan maksud Fang Fang berpikiran jahat namun ia lebih tenang andai bisa pergi mendampingi Grace. Namun Grace memintanya menunggu di rumah saja bersama ayahnya. Apa boleh buat, dia tidak akan bisa mengelak karena Kao Jing pun tidak mungkin dibiarkan menunggu di rumah sendirian.
“Nona sudah... eh?” Senyum Fang Fang yang lebar itu seketika kaku saat melihat orang yang disambutnya salah sasaran. Meskipun demikian, tamu yang datang ini pun di luar dugaan dan tentunya Grace akan sangat senang saat melihatnya. Sayangnya Grace belum ada di sini.
“Halo Fang Fang, Grace ada?”
Fang Fang terpaku, mata indahnya membulat dan belum siap memberikan jawaban.
“Grace sudah pulang Fang?” seru Kao Jing yang mengulangi alarm bawah sadarnya untuk bertanya. Dan Fang Fang hanya bisa diam saat disodori pertanyaan dari dua sisi.
🎊❤️🎊
Weini mengerutkan dahinya karena merasa kepalanya berat sedari tadi. Tumpukan berkas di depannya, plus banyaknya yang harus ia baca sebelum ditanda tangani membuat ia merasa mual hanya dengan melihatnya. Setelah dua minggu menjabat sebagai penguasa, Weini akhirnya kehilangan masa-masa indahnya yang terbebas dari hal hal berat. Sejak dulu ia paling benci dengan pelajaran di sekolah, menghapal, berhitung, semuanya terasa seperti siksaan baginya. Setelah lulus SMA dan bekerja di bidang yang ia sukai, barulah Weini merasa hidupnya sangat berarti dan segala yang dipelajarinya selama sembilan tahun di Jakarta tak perlu dijadikan ilmu untuk menopang kehidupan. Tapi sekarang, ia tak berani berlagak lagi setelah dihadapkan dengan setumpuk pekerjaan kantor yang tidak ia mengerti istilahnya.
“Lebih baik suruh aku lari keliling satu negara daripada disuruh berhadapan dengan berkas-berkas ini.” Gerutu Weini dan langsung membenamkan kepalanya di tumpukan kertas. Kendala ini membuatnya ingin mundur dari jabatannya saja.
“Salam hormat kepada Gong Zhu....” Seorang tenaga profesional dari perusahaan mendatanginya lagi dan tengah memberi salam.
Weini mendongakkan kepalanya kemudian melihat pria yang berdiri dengan setelan formal itu seperti seorang peneror. Spontan Weini bergidik kemudian menyambutnya dengan tatapan penuh curiga. “Ada apa lagi?” Ketus Weini dingin, ia tak mau mendengar tentang penambahan kerjaan lagi untuk hari ini. Cukup sudah!
Pria itu berdiri dengan raut wajah tegang dan serba salah, kedatangannya sepertinya bukan saat yang tepat namun apa boleh buat karena ini cukup penting dan mendesak. “Ma... maaf Gong Zhu, ada berkas yang harus anda pelajari dan tanda tangani lagi. Ini terkait pengajuan kerjasama dengan perusahaan Ma yang sudah mendapatkan tanggapan. Mohon Gong Zhu untuk menerimanya.” Ujar pria itu terbata bata.
Weini lemas seketika, tak terbayang rasanya tingkat stresnya saat ini. Jadi ini yang setiap hari ayah dan Jun kerjakan? Duh... aku nggak sanggup lagi... aku nggak suka belajar bisnis, hiks. Jun... tolong aku.... lirih Weini dalam hatinya.
❤️❤️❤️
Grace segera melirik ponselnya yang bergetar, hatinya nyaris runtuh setiap kali ada notifikasi masuk dari sana. Berharap yang mencarinya adalah Stevan, namun kali ini bukan juga. Hanya nama Fang Fang yang tertera dalam panggilan masuknya.
“Ya Fang ada apa?” Tanya Grace lemas, matanya sayu dan tampak sangat tidak bersemangat. Namun hanya sesaat, lantaran ketika Fang Fang mengatakan maksudnya menelpon, seketika itu pula semangat Grace kembali penuh. Dina mencuri tatap pada Grace, berharap raut wajah bersemangat Grace itu menandakan hal baik untuk mereka.
“Dina... cepetan kita pulang. Cepetan....” bujuk Grace seraya tersenyum dan tidak sabaran.
“Iya iya... ada apa sih?” Tanya Dina penasaran melihat gaya Grace yang kebangetan tak sabarnya.
Senyuman Grace sangat lebar, inilah kabar yang ia nantikan sejak kemarin. “Stevan pulang... dia sudah pulang.” Gumamnya cepat.
Dina mengerutkan dahinya, “Pulang ke mana? Jadi kita ke apartemen dia?”
Grace menggeleng, saking senangnya sampai sulit mengucapkan dengan jelas. “Ke apartemenku sekarang!”
🎉🎉🎉
Hai... selamat ya buat kalian yang sudah baca episode ini. Spesial loh karena menyentuh angka 500. Huft... nggak nyangka author bisa nulis sepanjang ini dan nggak nyangka kalian masih setia membacanya. Terima kasih sebanyak-banyaknya untuk kalian ya, tetap semangat membaca dan ikuti kisah ini hingga tamat. Psssttt... nggak lama lagi kok, pokoknya kita buat semuanya happy ending ya.
Makasih buat semangatnya untuk author, salam cinta dan sayang buat kalian.
Salam,
Author Lee