OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 275 MABUK YANG MENYESATKAN



Aku ingin mempercayaimu, lebih dari siapapun di dunia ini


Kaulah belahan jiwaku, tak sedikitpun ku ragu


Namun masih ada yang mengganjal di hatiku


Sebuah rasa yang tak mampu kudefinisikan, membungkamku bisu


Quote of Xiao Jun


***


Weini masih menanti jawaban itu mencuat dari bibir prianya, meskipun hanya tatapan dengan ekspresi yang sulit dijelaskan yang ia dapatkan dari Xiao Jun. Gadis itu menghela napas, susah juga meyakinkan seseorang yang sama kerasnya dengan dirinya. Ia meraih tangan kanan Xiao Jun ke dalam genggamannya. “Jun, bisakah kau percaya padaku?”


Xiao Jun menyembunyikan diri dari tatapan maut Weini, ia tak bisa menjamin dirinya sanggup bertahan lama andai tak segera melepaskan sorot mata dari gadis itu. Tapi hatinya sungguh lemah, jika sudah dikaitkan dengan cinta terutama di hadapan Weini. “Dia mungkin memaksaku pulang dan tak akan diijinkan kembali.” Pada akhirnya, Xiao Jun tetap luluh.


“Mengulang sejarah kemarin bahkan mungkin lebih parah dari yang kemarin.” Desis Weini lirih. Ia terdiam sejenak memikirkan jalan terbaik, pasti ada caranya.


Xiao Jun tanpa daya mengangguk, “Weini, bisakah kau percaya padaku? Aku pasti cari solusi agar hal terburuk itu tidak terjadi. Kau cukup diamlah, biar aku yang hadapi Grace.” Xiao Jun membalikkan ucapan Weini untuk


menguatkan posisinya. Ia tetap bersikeras menjauhkan Weini dari jangkauan Grace.


“Hadapi wanita dengan cara wanita yang tak akan dipahami pria. Jun, aku yakin mampu meyakinkan dia dengan caraku asal kau percaya.” Weini tersenyum optimis, ia tak sembarangan berucap sesuatu jika belum memastikan kemampuannya.


Xiao Jun terbawa suasana, senyuman menawan Weini menggodanya ikut mengukir senyum. Ia mengangguk setuju, tidak ada salahnya berbagi beban meskipun ia tak ingin memberikan penderitaan lagi pada Weini.


Mereka kembali bersulang, setelah kesepakatan didapatkan. Dan malam itu sepenuhnya menjadi milik mereka, mengambang di atas udara yang hanya ada mereka berdua.


***


Grace merutuki dirinya yang terlihat memprihatinkan, ia seperti menelan racun secara sadar meski tahu itu mematikan. Menatap pria yang ia cintai menggandeng gadis lain lalu mengacuhkannya, seolah ia sama sekali tak berharga, Grace jelas sangat terluka oleh perlakuan tak berperasaan itu. “Xiao Jun, kau tunanganku tapi malah menghabiskan malam dengan wanita itu!” Grace menggertakkan gigi, amarahnya membuncah hingga kepala terasa berat.


Saat terpuruk ini, hanya ada seseorang yang bisa ia andalkan untuk menumpahkan kekesalannya. Jemarinya lincah memainkan layar sentuh ponselnya, Grace merasa perlu mendengar saran kakaknya. Hanya Chen Kho satu-satunya yang bisa ia andalkan sekarang.


“Brother, apa aku menganggumu?” Tanya Grace ketika suara berat Chen Kho terdengar.


“Tidak, aku tak pernah merasa terganggu olehmu. Kenapa? Kau terluka lagi?” Cecar Chen Kho.


Grace tak kuasa lagi menahan isak tangisnya, ia merubah panggilan suara menjadi panggilan video hanya untuk memamerkan air mata dan kelemahannya. Chen Kho memang kerap membuat wanita menangis, namun hatinya


hanya trenyuh dengan air mata Grace, satu-satunya adik yang ia miliki itu.


“Si brengsek itu berbuat apa padamu? Apa perlu aku datang menghajarnya?” Geram Chen Kho.


Grace menggeleng cepat, “Tidak, tidak usah! Aku yang salah, aku yang tak becus dan salah strategi. Harusnya aku mengikuti saranmu untuk pura-pura baik pada Weini, tetapi ketika berhadapan langsung dengan dia malah membuatku emosi.”


Grace mengangguk lemah, “Dan Xiao Jun datang untuk dia setelah aku menggertaknya. Xiao Jun … Dia ….” Grace kembali terisak, ia tak kuat menyampaikan kelanjutan cerita bahwa Xiao Jun berlalu dengan hati dingin


meninggalkannya.


“Gadis bodoh, kalau kau seperti ini terus semua usahamu sia-sia. Semakin kau menindasi dia, si brengsek itu semakin simpati padanya dan pasti tambah membencimu.” Ujar Chen Kho kecewa.


Grace menutup mulutnya, ia sungguh menyesal. “Aku mengacaukan segalanya, aku kalah telak darinya.”


“Belum, Grace. Masih bisa diperbaiki, kau masih punya kesempatan lain.”


***


Pesta yang berakhir dengan seorang gadis yang tumbang, sebelumnya ia adalah tipe yang sulit digoyahkan untuk mencicipi minuman beralkohol. Namun sampai di satu titik, ia merasa perlu meneguknya demi sebuah pengalaman. Dan seperti inilah kondisinya, lunglai di bawah pengaruh efek minuman. Xiao Jun gelisah melihat kondisi kekasihnya, ia merasa perlu membuatkan bubur penghilang mabuk untuk Weini sebelum mengantarnya pulang. Sayangnya


malam beranjak larut, ia lebih takut kalau Haris mencemaskan putrinya.


Weini tertidur lunglai di kursi mobil, untung saja mabuknya tidak menimbulkan reaksi lain. Kencan mereka memang sempurna, mereka bicara dari hati ke hati namun yang sangat disayangkan adalah tak kecupan romantis sebagai ending yang dinantikan para pembaca, *He he* mereka hanya murni makan malam ala pasangan yang masih malu-malu.


“父亲,为什么要离开我 Fùqīn, wèishéme yào líkāi wǒ? (Ayah, kenapa meninggalkanku?)”


Weini berucap lirih dengan mata terpejam, berulang kali menyebutkan kata-kata itu hingga XiaoJun mengernyit heran. Ia rela menepikan mobil sejenak untuk mendengar ocehan Weini yang bersuara kecil. Hingga Weini makin tak terkontrol dan meneriakkan kata-kata itu, Xiao Jun kian tak paham apa maksudnya. Haris meninggalkan Weini? Hubungan ayah dan anak itu terlihat harmonis, apa mungkin Weini mengeluhkan  kejadian di masa lalu?


“妈妈我好想你 Māmā wǒ hǎo xiǎng nǐ (Mama, aku sangat merindukanmu).” Pekik Weini yang diiringi


isakan tangis. Tangisan yang belum pernah Xiao Jun lihat dari sisi Weini yang tegar, gadis itu seakan menjadi orang lain dengan perilaku asing itu. Ia tak sanggup melihat keterpurukan Weini saat ini, hati Xiao Jun ikut tercabik. Entah


mengapa, kata-kata yang dilontarkan Weini sangat mewakili suara hatinya. Ditinggalkan ayah kandung dan juga sangat merindukan ibunya, Xiao Jun mulai berpikir mungkinkah Weini juga punya kenangan masa kecil yang buruk terhadap kedua orangtuanya?


“我保证会成为一个好公主 Wǒ bǎozhèng huì chéngwéi yīgè hǎo gōngzhǔ, (aku janji akan jadi putri yang baik).” Isak Weini, ia sungguh di luar kontrol.


Xiao Jun tak mungkin tinggal diam membiarkan Weini tersedu sedan, ditariknya tangan gadis itu dan mendarat dalam pelukan hangatnya. Detak jantung mereka seakan bersatu, mendetakkan ritme yang sama dalam setiap ketukan. Tanpa perlu berkata, Xiao Jun hanya menyediakan telinga untuk mendengar dan sebuah dekapan hangat agar gadisnya tenang. Cara itu cukup efektif, Weini mulai tenang meskipun air matanya membasahi kemeja Xiao


Jun di bagian pundak. Xiao Jun mengelus lembut rambut Weini yang malah disalah artikan oleh Weini yang tengah mabuk, gadis itu mengira kehangatan dekapan itu adalah pelukan serta belaian ibunya.


“Wǒ bǎozhèng huì chéngwéi yīgè hǎo gōngzhǔ, (aku janji akan jadi putri yang baik). Bu yao ba wo diu diao (jangan membuangku!)” Desis Weini lirih namun terdengar jelas oleh Xiao Jun.


Suara sepelan itu berhasil menghentakkan Xiao Jun, ia mengendorkan pelukan lalu menatap wajah Weini yang


masih memejamkan mata. “Membuangmu? Siapa?”


***