OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 280 KESEMPATAN UNTUK MENJELASKAN



Doa Stevan terkabul dengan cepat, dalam ruangan besar yang baru terisi oleh Grace dan dirinya terasa sangat dingin. Bukan sekedar pendingin udara yang terlalu rendah suhunya namun karena suasana yang kurang nyaman di sana. Stevan sesekali mengintip Grace yang terlihat acuh, gadis itu menikmati dunianya dengan serius membaca naskah.


Dina membuka pintu, mempersilahkan Weini masuk terlebih dulu. Saat itulah senyum Stevan mengembang, melihat


kedatangan rekan yang sedari tadi ia harapkan. Dina bertampang ketus saat menatap ke arah Grace, ia sungguh tidak menyukai gadis angkuh itu. Weini pun melakukan hal yang sama, mencuri pandang sesaat pada Grace namun tidak menimbulkan reaksi batin apapun.


“Weini sini.” Pekik Stevan melambaikan tangan agar Weini duduk di sofa sampingnya.


Weini tersenyum lalu berjalan mendekati Stevan, ia memenuhi permintaan aktor itu lantaran hanya di sanalah


tempat yang nyaman. Bagian lain ruangan itu sudah dimonopoli Grace, berbekal pengalaman sebelumnya jelas Weini enggan menimbulkan masalah lagi dengan Grace. Dina lebih keki, sofa yang dikuasai Grace adalah kursi yang lebih dulu ia siapkan untuk Weini, namun Weini melarangnya cerewet. Hanya perkara kursi, jangan bertingkah seperti anak kecil yang rebutan mainan. Dan masih banyak hal lain yang Weini wanti-wanti padanya sepanjang perjalanan tadi.


Dina menyodorkan script kepada Weini sesuai permintaan, artis itu mulai membuka halaman yang memuat adegan dan dialognya. Stevan mendongak mengintip dua pemeran tengah fokus menghapal dialog, kemudian ia dengan konyol menepuk jidatnya.


“Kenapa gue nggak baca script aja dari tadi malah bengong nungguin lu pada.” Cecar Stevan.


“Hah? Lu belajar script di lokasi? Kayaknya bukan lu banget deh, kan lu selalu datang paling awal dan bersantai sementara yang lain sibuk bolak-balik naskah. Ngapain lu ribet kalau semua isi naskah udah di luar kepala?” Seru Dina, meskipun ia adalah manager Weini namun bukan berarti ia tidak mengerti kebiasaan baik dan buruk pemeran lainnya. Apalagi Stevan yang kerap bersama mereka sepanjang waktu syuting selama setahun lebih.


Stevan berdecak, ia melototi Dina yang tak mengerti letak kesalahan dari ucapannya. Stevan hanya berdalih, menutupi kedunguannya di hadapan Grace yang tak berkutit.


“Ngapain lu mendelik? Emang gue salah ngomong?” Protes Dina.


Stevan tak berniat menjawab, ia malah mencueki Dina dengan sok sibuk membaca naskah. Weini hanya geleng-geleng kepala seraya tersenyum, dengan ekor matanya ia melirik Grace yang kini terlihat sibuk dengan ponsel.


Seolah sadar tengah dipelototi, Grace akhirnya bergerak. Pemilik tubuh jenjang dan langsing itu merapikan naskah dan ponselnya lalu memasukkan ke dalam tas. Setelahnya, ia berdiri dan menatap balik pada Weini yang ketahuan menatapnya. Sedetik dua gadis itu tampak canggung, mata yang saling beradu tatap namun raut muka terlihat datar. Stevan dan Dina pun ikut menatap pada Grace, membuat Grace makin terkucilkan lantaran kalah jumlah dengan mereka. Dalam hati Grace, ia merutuki pengawalnya yang begitu lama ke toilet.


“Nikmati waktu kalian, sampai jumpa di lokasi.” Dari bibir Grace terucap kata-kata itu, terdengar manis namun sulit


dicerna oleh pendengaran tiga pasang telinga di sana.


Grace berbalik badan lalu berjalan menuju pintu, suara heelsnya mendominasi dalam ruangan saking sunyi keadaan sekitar. Ia berlalu dengan anggunnya, meninggalkan tiga pasang mata yang kompak tak berkedip menatapnya.


Dina mengorek telinganya dengan ujung kuku, jorok memang namun ia lakukan saking tak percaya dengan apa yang baru didengarnya. “Telinga gue kesumbat kotoran kali ya? Masa aku barusan dengar dia ngomong baik-baik, wanita sombong itu tahu tata krama?”


Stevan mengatup mulutnya yang sedikit terbuka setelah sadar bertingkah konyol gara-gara ucapan Grace. Ia menatap Weini saking penasaran dengan reaksi gadis itu juga.


“Lu mau buka hati buat bersahabat sama saingan lu? Mending jangan, selama dia masih punya maksud tertentu, itu hanya jadi peluang dia buat nyakitin lu.” Stevan dengan sigap mengutarakan ketidak-setujuannya jika Weini terlalu baik pada orang yang belum tertebak hatinya.


Dina mendekati Weini kemudian mendongak menatap mimik wajah Weini yang tenang, “Non, sorry to say … Baik sih boleh, bodoh jangan! Kita mana tahu itu cuman akal-akalan dia doang, buat ngeyakinin kalau dia udah berubah. Non kan pernah bilang, orang gak bakal berubah dengan cepat, apalagi ini baru sepekan.”


Weini menatap kedua sahabatnya secara bergantian, ia trenyuh dengan kepedulian mereka terhadapnya. “Aku ngomong di sini ya, cukup kita aja yang tahu. Sejak pertama lihat dia, aku tidak merasa bahwa dia itu musuh. Entahlah, dia itu rasanya hanya perlu dirangkul. Baik jahatnya orang kan tergantung keadaan, saat disudutkan keadaan yang tidak menguntungkannya, bisa saja dia berbuat sesuatu yang menyakiti orang dan secara


nggak langsung dia juga lagi nyakitin dirinya sendiri.”


Stevan serius menatap Weini, “Jadi, lu mau apain dia?”


Weini menggeleng pelan, “Biarin saja, tak perlu dikejar tak perlu dijauhi. Kalian juga bersikap biasa saja terhadap dia. Jangan karena aku, kalian ikutan bermasalah.”


Dina menguap lebar, ia ngantuk di saat obrolan serius hanya karena tak tertarik dengan saran Weini. “Ya ampun non, aku nggak tertarik banget baikin dia. Gara-gara pelayannya, nih bekas begam di tanganku baru memudar.”


Stevan dan Weini terdiam menatap Dina hingga ia sadar sedang disorot serius. Dina manyun lalu memperbaiki


kata-katanya, “Ya, nggak apa apa sih baik juga nggak apa. Siapa tahu dia jadi tobat dan nggak ngejar Xiao Jun lagi. Ah, Stev … Lu kan jomblo lumutan, kenapa nggak lu gebet aja dia? Cinta yang baru untuk menggeser cinta yang tak kesampaian, kan bagus tuh apalagi dibikin FTV. Ha ha ha ….” Tawa lebar Dina hingga kedua matanya menyipit itu berubah petaka ketika sebuah jitakan mendarat di kepalanya. Stevan yang kesal dijadikan bahan candaan itu terpaksa membungkam Dina dengan cara yang menyebalkan bagi manager itu.


“Salah gue di mana???” Pekik Dina kesal seraya menggosok bekas jitakan di kepalanya.


***


Seharusnya Xiao Jun tengah berkutat dengan urusan bisnis di kantor, seharusnya ia memimpin rapat kerja siang ini,


namun agendanya terpaksa dialih-tugaskan pada Lau dengan sangat terpaksa. Bos muda itu gagal mengontrol diri untuk sejenak menepikan pikiran kusutnya pasca membaca buku sihir. Semenjak itu, Xiao Jun pun lebih banyak mengurung diri di kamar dan berlatih ketika pulang kerja. Ia bahkan belum menemui Weini, beralasan sibuk dan lembur di kantor, ia meminta pengertian Weini agar mereka kencan lewat ponsel untuk sementara.


Kecurigaan, rasa tak percaya, dan penasaran terus berputar dalam pikiran Xiao Jun. Betapa ia menaruh curiga dan punya firasat pada seseorang yang punya kriteria seperti dugaannya. Andai memang sihir pengubah rupa itu sungguh nyata dan dikuasai ayahnya. Xiao Jun memang tak banyak mengenal ayahnya, hanya tujuh tahun kebersamaan tak lantas membuatnya kenal sepenuhnya pada sosok bernama Wei Ming Fung itu. Tetapi ada kenangan, ada perasaan dan kenyamanan yang tak bisa dibohongi dan masih melekat di ingatannya. Ia hanya tak menyangka ada hal sekonyol ini di dunia yang realistis ini, manusia berganti rupa.


Mobil yang dikemudikan Xiao Jun melaju kencang membelah jalanan ibu kota yang lancar di tengah hari, satu tujuan sudah ia tetapkan dan ia perlu memastikannya segera. Inilah kesempatan yang dinantikan, ia perlu bicara dari hati ke hati sebagai seorang pria sejati.


“Kau harus memberiku penjelasan, ayah Haris!”


***