
Senja tenggelam di telan kabut hitam, mendung mengitari langit Bogor dan sekitarnya kala Weini dan kru menyelesaikan pekerjaan hari ini. Hal pertama yang ia cari adalah ponselnya, selama bekerja hati Weini sibuk memikirkan Xiao Jun dan Lau. Hampir enam jam lepas dari ponsel, Weini yakin ada kabar untuknya entah dari Xiao Jun atau Haris.
“Mana ponselku kak?” Dina yang sigap menggotong barang Weini langsung ditodong.
“Eh? O iya, bentar. Kayaknya nggak ada yang cari deh non, gak bunyi sih dari tadi.”
Dina membuka resleting tas pinggangnya dan mengeluarkan barang pribadi Weini.
Kata-kata Dina membuat keyakinan Weini down, ia tetap mengecek langsung untuk membuktikannya. Ada ratusan chat WA grup yang menumpuk dan mata Weini terbuka lebar melihat pesan dari Xiao Jun yang tertimpa di bawah. Ia scroll lalu bergegas membacanya tanpa berseru memberitahu Dina tentang kabar bahagia itu.
Dina yang mengamati wajah Weini bisa menebak dari perubahan rautnya bahwa ada sesuatu yang membahagiakan sehingga senyum yang seharian lenyap kini merekah. “Chat dari tuan ya non?”
Weini tidak menjawabnya, ia fokus membaca pesan Xiao Jun yang panjang dan rautnya berubah suram lagi. Isi pesan yang sangat menyedihkan, ia diminta untuk menunggu tanpa kepastian, tergantung antara ada dan tiada. Ia menurunkan ponsel bahkan hampir menjatuhkannya, untung saja Dina sigap menampah ponsel mahal itu.
“Are you okay, non?” wajah melas Weini menular pada Dina, ia segan bertanya apa yang membuat Weini bersedih. Ponsel itu masih dalam keadaan menyala, Dina tanpa permisi membaca apa yang dituliskan Xiao Jun. Sesaat kemudian ia menutup mulutnya, Shock.
“Kak Dina, antarkan aku ke apartemennya.” Perintah Weini lirih, ia berharap semua hanya mimpi dan bisa menemui Xiao Jun di apartemennya.
Dina tak berani menolak meskipun ia tahu hasilnya akan lebih menyakitkan, tapi dalam kondisi ini Weini tidak akan mendengar sarannya. Menasehati seseorang yang patah hati, sama saja menabur garam di lautan, sia-sia alias mubajir.
“Gue ikut. Naik mobil gue aja, aman.” Stevan menguping semua percakapan mereka dan menyahut tiba-tiba. Weini dan Dina terkejut bersamaan, pria tak diundang itu menawarkan diri untuk masuk dalam masalah yang bukan urusannya.
“Ng… kita ada supir kok, aman aman…” kilah Dina, kehadiran Stevan bisa jadi beban baru untuk Weini yang sedang labil.
“Kalau gitu, gue yang nimbrung mobil kalian. Pokoknya gue ikut!” seru Stevan maksa.
“Mobil kami udah penuh, barang non Weini aja makan tempat banyak.” Sanggah Dina enggan kalah berdebat.
Weini enggan berkomentar, sudah ada juru bicara yang mewakilinya. Saat Stevan menatapnya, ia justru reflek memalingkan wajah. Ditatap dalam keadaan rapuh, bukan kondisi menarik yang bisa dibanggakan.
“Yaudah, gue buntutin dari belakang. Gue juga punya urusan sama bos itu, jadi gue mau mastiin dia ngumpet atau beneran hilang.” Stevan bersikukuh pergi bersama Weini walaupun harus memakai alasan yang konyol sekalipun. Ia hanya khawatir dengan Weini dan ingin memastikan gadis itu kuat menerima kenyataan.
“Udah yuk kak, terserah dia lah. Ikut kita juga nggak apa-apa.” Ujar Weini pasrah, berdebat makin lama hanya membuang waktu saja. Ia inisiatif melangkah pergi, disusul oleh Dina dan Stevan yang girang diperbolehkan semobil dengan Weini.
***
Haris mengamati jam yang berdentang, hari yang begitu sibuk dan menegangkan terasa sangat cepat berlalu. Waktu menujukkan pukul Sembilan malam, Haris memperkirakan Weini telah selesai bekerja. Ia mengetik pesan singkat untuk memancing responnya, akan lebih baik hal ini disampaikan saat gadis itu telah menyelesaikan tanggung jawabnya.
Pesan WA itu sukses dibaca Weini dalam waktu dua menit. Haris langsung mendapatkan balasannya dengan telpon masuk dari gadis itu.
“Weini, kamu lagi di mana? Dengarkan ayah…”
***
gusar melirik ke belakang terus.
“Non? Kita jadi ke sana kan?” Dina hati-hati bertanya, ia hanya mencari bahan obrolan agar Weini tidak menyembunyikan isak tangisnya.
“Ng” jawab Weini pelan sambil mengangguk.
Kemarin ia masih menikmati masa bahagia, rasa berdebar-debar saat berduaan dengan Xiao Jun. siapa yang mengira bagaikan mimpi, dalam sekejab rasa bahagia itu membuatnya terpuruk hingga ke dasar penderitaan. Bukan hanya Xiao Jun yang pulang dadakan, Lau juga dijemput paksa dan perusahaan yang baru berdiri kokoh berkat kerja keras Xiao Jun itu beralih tangan. Apa sedemikian bersalahkah cinta mereka hingga harus membayar
pengorbanan seburuk itu?
Dina terdiam bisu, lebih baik memberi kelonggaran privasi bagi Weini agar puas meluapkan kesedihan. Stevan menoleh ke belakang menatap Dina, mengkode agar manager itu lebih tenang. Mereka saling bertatapan dan bertukar isyarat tanpa menyadari Weini mencuri pandang melihat tingkah konyolnya.
Dua jam lebih perjalanan akhirnya mengantarkan mereka ke parkiran apartemen Xiao Jun. Weini bergegas turun dengan langkah cepat hendak menuju lift, Dina dan Stevan menyeimbangkan kecepatan demi mengimbanginya. Kartu identitas pemilik apartemen masih dimiliki Weini sejak ia diberi tumpangan tinggal di apartemen samping
Xiao Jun, berkat itulah mempermudah aksesnya menuju hunian pribadi yang elit itu.
Nostalgia yang terasa kentara ketika ia masih bertetangga dengan kekasihnya, semuanya terasa seperti baru terjadi kemarin. Mereka sampai di depan pintu apartemen Xiao Jun, kemantapan hati Weini mendadak ciut. Ada rasa takut mengetahui kenyataan serta rasa penasaran apakah di dalam sana sungguh kosong.
“Non, pencet belnya.” Ujar Dina menyadarkan Weini, mereka lagi-lagi seperti mengulang masa lalu. Berdiri menatapi kunci digital yang menyodorkan sederet nomor.
“Apa gue aja yang pencet?” Stevan menawarkan diri dan tak sabar menunggu persetujuan, nyaris saja ia membunyikan bel itu jika sedetik saja Weini telat menahannya.
“Nggak perlu, aku tahu passwordnya. Kalian berbalik bentar, jangan ngintip.” Weini menutupi tombol dengan satu tangan kemudian mulai menekan tombol angka, ia perlu memastikan apakah passwordnya masih enam digit tanggal lahirnya.
“Dari tadi kek non kalau tahu passwordnya ngapain bengong melototin pintu?” Dina keceplosan sewot, ia sudah tak sabar menyelidiki tapi malah terbengong ketika sampai di TKP.
Senyum Weini merekah saat bunyi password terkonfirmasi dan pintu bergerak terbuka. Seketika itu juga Stevan dan Dina berbalik badan tanpa dikomando, mereka mengikuti Weini yang sudah duluan masuk.
“Lah? Kayaknya ada orang deh.” Cerocos Dina mengomentari suasana dalam rumah. lampu terang benderang seisi ruangan, bahkan ada tiga cangkir setengah kosong tertata di atas meja ruang tamu.
“Nggak bener nih, kayaknya bos muda itu permainkan kita.” Seru Stevan tak mau ketingalan komentar. Jika benar Xiao Jun hanya bercanda, ia pastikan akan memberinya bogem mentah.
Weini merasakan tanda kehadiran orang di dekatnya, ia mempertajam pendengaran dan mendapati suara gemericik air dari arah dapur. Seketika ia berlari menghampiri sumber suara dan menemukan sesosok pria berdiri membelakangi wastafel dengan punggung kekarnya.
“Paman Lau?”
***