OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 406 RASA YANG RUMIT



"Aaarrgghhh!"


Erangan penuh amarah terdengar menggema serta menakutkan. Teriakan yang emosional itu keluar dari mulut Kao Jing, selepas putrinya meninggalkan penjara ini beberapa saat lalu. Kao Jing tak butuh siapapun untuk tahu betapa rapuh hatinya sekarang, tak siapapun boleh tahu kekecewaannya, termasuk anaknya sendiri.


Tangannya mengepal geram, ingin rasanya ia lampiaskan pada tembok yang menyekatnya, tetapi ia urungkan niat itu lantaran enggan melukai dirinya dan semakin menampakkan kelemahannya. Kata-kata Grace yang menusuk hatinya kembali terngiang, semakin ia ingat, semakin Kao Jing membenci dirinya sendiri.


Flashback....


Grace tersungkur jatuh dengan posisi duduk di lantai, seluruh tubuhnya lemas setelah mendapati pernyataan ayahnya yang menyayat hati. Ia merasa terbuang, tak diharapkan lagi menjadi bagian keluarga dari pria yang membesarkan itu. Isakan tangisnya mulai terdengar, dan betapa ia sangat menyayangkan kata-kata kasar itu harus terlontar dari ayahnya.


"Apa sepenting itukah kekuasaan? Mengapa ayah terlalu terobsesi menjadi penguasa? Apa hidup yang sekarang belum puas bagimu? Di mana ayahku yang dulu begitu lembut dan memanjakanku?" Pekik Grace dalam tangisnya. .


Kao Jing menyeringai, ia bahkan tak bersedia menatap Grace. "Ayahmu yang seperti itu hanya kepura-puraan, tak ada yang bisa kau dapatkan dengan kebaikan, tanpa kekuasaan, kamu bukan apa-apa di dunia ini. Selagi kamu bermanfaat seperti kakakmu, aku baru bisa menganggapmu anak." Ketus Kao Jing.


Ingin rasanya Grace tak percaya pengakuan ayahnya, tapi kenyataan terlampau menyakitkan dan tak bisa dipungkiri. Grace menyeka air matanya, seiring napas yang ia tarik dalam-dalam lalu dihembuskan dengan kasar, seiring anggukan yang menjadi pertanda bahwa ia haru kuat menerima kenyataan, suka atau tidak. Dan saat itu pula ia mantap dengan keputusannya.


"Baik, jika itu mau ayah, aku tak akan memaksa ayah merubah cara pandang ayah terhadapku. Maaf, aku tak bisa menjadi anak yang membanggakanmu, aku tetap memilih berada di jalur yang bersebrangan denganmu selama ayah tetap bersikeras kudeta. Aku akan tutup mata, tutup hati, melupakan perlakuan ayah yang mencampakkanku, bahkan nyaris membunuhku. Tapi... Yang pasti, aku tetap mengakui anda sebagai ayahku." Seru Grace lantang, ia menyeka air matanya sebagai pertanda ia harus kuat dan bangkit dari keterpurukannya.


Kao Jing tersentak mendengar kata-kata Grace, tapi apa daya gengsinya harus tetap dipertahankan. Ia tak akan menampakkan penyesalan, ataupun menampakkan bahwa ia terpengaruh ucapan putrinya. Ia tetap bergeming, berdiri dengan tangan di belakang.


Grace berusaha berdiri dengan susah payah lututnya masih terasa bergetar. "Aku mungkin tidak bisa menjadi anak yang membanggakan bagimu, tapi aku tetap akan menunjukkan baktiku dengan tetap menyayangimu dengan caraku. Untuk itu... Terimalah hormatku ayah." Grace langsung bersujud berulang kali, menunjukkan rasa hormat dan baktinya. Air matanya kembali berderai, sulit baginya harus menegaskan jarak antara ia dan ayahnya. Namun ini semua adalah pilihan ayahnya, ia bisa apa?


Kao Jing mengepalkan tangannya, betapa ia ingin berlari mendekati Grace, ingin menariknya berdiri dan memeluknya. Sayangnya, semua itu berat untuk ia lakukan, jangan berharap ia bersedia menjilat ludahnya sendiri. Dibiarkannya Grace menyelesaikan tanda hormatnya, Kao Jing tetap bergeming.


"Kuharap ayah menjaga diri baik-baik, setelah ini aku juga tidak tahu harus berbuat apalagi agar paman mengampunimu. Tanpa ayah bicarapun, mereka pasti bisa menemukan tempat persembunyian kakak. Aku hanya berusaha mencari cara pengampunan untukmu. Sekarang aku kehilangan kesempatan itu, maafkan aku... Dan jaga dirimu, putri tidak bergunamu pamit dulu."


Grace membalikkan badan, berjalan cepat dan enggan menoleh lagi ke belakang. Isaknya pecah saat ia menjauh dari sel ayahnya, tak peduli dengan tatapan bingung para pengawal yang menunggunya di kejauhan. Ia hanya ingin menangis sekuatnya, ia lelah.


⏳⏳⏳


Xiao Jun bersama Haris dan Wen Ting sampai di rumah sakit, Lau terlihat berdiri menyambut mereka di depan, padahal Xiao Jun tak memerintahkannya. Pengawal itu langsung membungkuk hormat, setelah Xiao Jun menyadari keberadaannya.


"Bagaimana kondisi mereka paman?" Tanya Xiao Jun.


Haris menghela napas, ia prihatin mendengar kejadian ini. Tak seharusnya mereka menjadi korban, andai Haris bisa segera menangani masalah ini. "Apa boleh melihat pasien?"


Xiao Jun menoleh pada ayahnya dengan sorot mata yang menyipit, Xiao Jun tahu maksud hati ayahnya pasti ingin melakukan keajaiban seperti yang ia lakukan pada Weini dulunya. "Ayah, kondisimu belum pulih, jangan bertindak nekad. Biarkan saja berproses semestinya, dokter pasti bisa menanganinya." Seru Xiao Jun mencegah niat baik ayahnya.


Haris tersenyum simpul, "Jangan cemaskan aku Jun, aku bisa merasakan batasannya. Ini semua adalah tanggungjawabku, semakin lamban kita bertindak, kita tidak tahu siapa lagi korban selanjutnya."


Xiao Jun menggerakkan gigi, ia pun geram dengan tindakan Chen Kho. Strateginya keliru hanya mengira perlu melindungi Dina, tapi ternyata Bams dan Stevan pun ikut jadi sasaran. "Baiklah, aku akan aturkan cara agar ayah bisa menjenguk mereka." Ujar Xiao Jun pasrah.


"Tidak perlu semuanya, aku hanya perlu bertemu Bams saja." Haris segera memperjelas maksudnya.


***


Liang Jia menerima panggilan masuk dari seseorang yang tak terduga, seseorang yang sangat ia rindukan dan ia harapkan ada di dekatnya dalam kondisi saat ini. Liang Jia pun hanya bisa berpuas diri, hanya bisa melepaskan rindu dan mencurahkan segala kesedihannya via telepon.


"Xin Er, aku sangat senang kamu menghubungiku. Apa kamu sudah membaik? Bagaimana kondisi hatimu sekarang?" Seru Liang Jia girang, ia menjauh dari Li San agar tak mengganggu pembicaraannya.


Xin Er menatap wajah lelah nyonyanya dari layar ponsel, betapa ia ingin segera kembali ke sana dan menghiburnya. Tetapi Haris memintanya tetap berada di tempat Li An, hingga ia kembali nantinya. Xin Er lebih mendengarkan suaminya, kepatuhan kepada suaminya adalah nomor satu.


"Nyonya, saya sudah sehat kembali. Saya ikut bersedih atas masalah di kediaman Li. Nyonya harus tetap menjaga kesehatan dan makan, jangan sampai anda sakit." Pinta Xin Er penuh perhatian.


Liang Jia mengangguk, tak terasa air matanya menetes. Ia mendapatkan Xin Er lagi untuk berkeluh kesah, "Dia belum juga ditemukan, bagaimana aku bisa tenang? Jangan cemaskan aku, kamu juga harus jaga kesehatan. Aku turut berduka atas kepergian Wei, tapi kamu harus tetap tegar, tetap semangat meneruskan hidup demi anak-anakmu." Lirih Liang Jia, ia baru sempat menyatakan rasa berkabungnya pada Xin Er.


Xin Er tersenyum getir, rupanya Liang Jia sudah tahu kabar kematian Haris, tetapi belum mengetahui kabar terbarunya yang menggemparkan, kabar yang seketika membasuh kesedihan di hati Xin Er.


"Nyonya, suamiku belum mati. Dia hidup kembali...." Lirih Xin Er, apa yang dia sampaikan itu sangat mengejutkan Liang Jia.


Liang Jia terkesiap, ia merasakan bulu romanya berdiri saat mendengar pernyataan Xin Er. Betapa luar biasanya pengawalnya yang berbakat sihir itu bisa kembali dari kematian.


"Wei... Hidup lagi...." Lirih Liang Jia antara percaya dan tidak percaya.


⏳⏳⏳