
Sepekan sudah masa nganggur Weini di rumah, ia sungguh betah berdiam diri di sana. Tak sekalipun ajakan dari Stevan atau Dina yang berhasil menggugahnya keluar dari tempat persembunyian ternyamannya. Ia selalu
beralasan sibuk demi menolak tawaran kedua sahabatnya, padahal ketika mereka bertandang ke sana, Weini paling hanya disibukkan berlatih kecapi atau kungfu.
“Aku ngantuk banget.” Dina menguap puluhan kali ketika nonton bareng drama Korea yang ia rekomendasikan pada Weini. Nyatanya, kebut nonton itu membuat matanya lelah pada episode 5. Dalam hitungan detik, tubuh
Dina yang tinggi kurus itu sudah terlentang di atas sofa.
Weini melirik managernya sebentar lalu tergoda untuk tersenyum, betapa beruntungnya dirinya yang dikelilingi dua sahabat baik. Tidak perlu banyak, asalkan mereka tulus bersahabat saja sudah lebih dari cukup. Di samping Dina adapula Stevan yang sebentar lagi pasti akan mengusilinya. Terkadang persahabatan itu lebih manis dan membahagiakan ketimbang cinta yang menggebu.
“Heran gue, kok bisa ada orang yang ngantuk di saat drama lagi tegang. Lu mantengin kita syuting seharian nggak ada capeknya, ini cuman duduk nonton aja lu udah pasang mode tidur.” Benar dugaan Weini, Stevan sudah
mencela Dina bahkan mengguncang tubuhnya agar tidak ketiduran.
“Woi, lu harus tanggung jawab, inikan ide lu buat nonton bareng!” Pekik Stevan pada Dina yang tidak bergeming, tampaknya tak ada yang lebih menyenangkan selain tidur sekarang.
“Biarin aja, kak. Kita aja yang nonton, ini bagus kok ceritanya. Biasanya kita yang ditonton, baru sekarang punya waktu untuk bebas nonton drama orang.” Ujar Weini yang menjadi penengah, dan ia selalu berada di posisi itu.
Stevan menatap Weini dengan sorot yang teduh, wajah cantik Weini yang putih mulus terlihat sangat cerah meskipun tanpa riasan tebal. “Weini, kenapa nggak mau ambil job talk show bareng gue. Lumayan loh buat ngisi waktu luang, trus lu juga bisa nyoba pengalaman lain. Seru kok, lebih natural diri kita sendiri.”
Weini menggelengkan kepala dengan pelan sembari tersenyum, “Ng, aku kurang berminat kak. Entahlah, nggak ada mood untuk merambah genre lain. Lagian enak juga istirahat di rumah, waktu santai seperti ini sangat langka dan mahal kak. Nikmati aja dulu.” Ujar Weini seraya tertawa.
“Gue semalam minum bareng dia.” Ucapan Stevan barusan sukses membuat Weini memalingkan wajah dari TV, kini sorot mata gadis itu menatapnya lekat.
“Oh.” Sayangnya hanya beberapa detik, Weini kembali melanjutkan nonton dengan perasaan yang serba berkecamuk. Jawabannya pun terdengar tidak antusias, ia mencoba menyembunyikan perasaan yang sebenarnya.
“Cuman Oh aja? Nggak pengen denger gue ngapain aja ama dia?” Ledek Stevan yang tak segan tertawa kecil. Ia tak yakin kalau Weini bisa setenang itu tanpa terusik rasa penasaran. Gadis itu memang cukup keras kepala, dan harga diri yang terlampau tinggi hanya untuk sekedar mengakui perasaan.
Flashback pertemuan dua pria muda di sebuah bar elit.
Stevan meneguk Vodka yang disuguhkan oleh bartender, sebenarnya sudah lama ia tidak nongkrong dan minum di tempat umum meskipun privasinya dijamin aman seperti di tempat ini. Ia bersedia menerima ajakan itu lantaran
Xiao Jun, jika bukan karena dia, mustahil ia bersedia menginjakkan kaki kemari.
“Terakhir kita minum tiga bulan lalu, apa kabarmu sekarang?” Xiao Jun ikut meneguk minumannya, hanya sekedar alkohol ringan tidak akan membuatnya mabuk.
Stevan mengangkat bahu, “Baru dua bulan. Ya, seperti yang lu lihat. So, ngomong aja langsung maksud lu apa?”
Xiao Jun menggoyangkan gelasnya, meminta bartender menambahkan kadar alkohol yang lebih pekat. “Kamu masih dendam padaku?” Xiao Jun bertanya iseng, ia merasa masih perlu bertele-tele sejenak. Stevan adalah tipe yang meletup-letup dan mudah lalai mengontrol emosi, Xiao Jun perlu merangkul hangat hatinya sebelum masuk ke inti masalah.
“Apa harus perlu alasan hanya untuk mengajak seorang teman pria minum bersama? Sesaat meninggalkan kota ini lalu kembali, ternyata semua tak lagi sama.” Seru Xiao Jun, ia meneguk habis minumannya meskipun dengan
ekspresi wajah mengkerut menahan pekatnya minuman itu.
“Tidak, asalkan jelas alasannya. Kita bukan teman dekat dan lu tahu gue condong dekat ke siapa, so … Tujuan lu pasti nggak jauh soal Weini kan?” Tuding Stevan blak-blakan. Harus ia akui bahwa ia masih menyimpan sedikit rasa geram pada Xiao Jun, karena sikap kurang gentle yang membuat Weini menderita.
Xiao Jun berdecak, ia merasa ditampar secara halus. “Aku memang brengsek, wajar kalau kalian marah. Tapi tidakkah kamu merasa perlu memberiku kesempatan bicara?”
Stevan agak melunak, ia merasa tidak enak telah menghakimi terlalu dini. “So, alibi lu apa?”
Helaan napas yang terdengar panjang dan berat dari Xiao Jun, menceritakan masalah pribadi tidak semudah memimpin rapat bisnis. Hal yang sangat memalukan ini terpaksa harus dibagi pada orang yang ia pilih. “Gadis
itu, aku tidak menganggapnya istimewa. Ini bukan hubungan sehat yang dibangun atas dasar cinta. Tapi Weini malah lebih memikirkan perasaan gadis itu, dan aku seperti dipaksa harus memilih tanpa mengorbankan perasaan siapapun. Dia jelas tahu siapa pilihanku, namun dia juga tidak memberiku kelonggaran untuk bertindak tegas pada gadis itu. Wanita memang makhluk yang paling sulit dimengerti.”
Stevan tertawa keras, efek minuman sudah mulai beraksi mempengaruhi kesadarannya. “Kalau lu bisa mengerti wanita, lu udah jadi dewa! Jadi dia ngambek sama lu gara-gara itu?”
“Ng, entah apalagi isi pikirannya, aku tak habis pikir lagi bagaimana cara meyakinkannya.” Xiao Jun sungguh-sungguh mencurahkan unek-uneg itu, ia menggenggam gelas dengan kuat sampai tak sadar meretakkannya.
Stevan terhentak, ia segera menyingkirkan gelas itu dari tangan Xiao Jun kemudian meminta yang baru pada bartender sebagai pengganti. “Gue memang belum pernah di posisi lu, tapi gue yakin itu pasti sulit. Kadang yang bikin masalah itu rumit justru kita sendiri, yang mestinya bisa selesai simpel malah jadi berbelit. Dia pernah cerita ke gue, intinya dia nggak pengen diduakan dan dia pengen lu tegas. Tapi kalau dari cerita lu, kesannya malah dia yang egois pengen semua konflik berakhir baik. Cinta segitiga tanpa melukai salah satunya, ya mana bisa!”
“Semakin lama mengenalnya, aku semakin nggak tahu siapa dia.” Xiao Jun berhenti bicara, ia masih sanggup mengontrol kesadaran agar tidak keceplosan hal yang tidak perlu diketahui Stevan.
Stevan menepuk pundak Xiao Jun, ia mengira bos itu mulai mabuk padahal dirinya sendiri yang telah dikuasai pengaruh alkohol. “Kalemin aja dulu, dia juga nggak kemana-mana. Jangankan hatinya, fisiknya aja sulit diajak move on. Tunggu sampai rasa kesal dia ke lu hilang dengan sendirinya, lu nggak tahu gimana susahnya dia waktu itu. Nggak ditampar aja udah beruntung lu!”
“Aku nggak pernah bermaksud, melukai dia … Aku lebih sakit!” Pekik Xiao Jun, ia menuang minuman dari botol yang baru disadarinya telah kosong.
“Satu lagi, bro!” Stevan memesan lagi sebotol Vodka lalu menuangkannya untuk Xiao Jun. Nalurinya sebagai sesama pria mulai tergugah, bagaimanapun ia tahu bahwa Xiao Jun bukan tipe pria brengsek. Meskipun kondisi sekarang tak menguntungkan baginya untuk totalitas mencurahkan kasih pada gadisnya.
“Hanya ada satu cara menyingkirkan dia tanpa terluka.” Stevan buka suara, setelah memikirkan sejenak apa yang akan dikatakannya.
Xiao Jun memandang Stevan, ia menagih kelanjutan sarannya lewat sorot mata sendu.
“Dia terjebak cinta yang salah. Bawa dia pada cinta yang tepat, pasti dia bakal lepasin lu!” Stevan tersenyum geli, menertawakan dirinya yang lebih pandai berteori ketimbang mempraktekkan sarannya. Ia mampu dengan mudahnya memberi solusi pada masalah orang lain, sedangkan dirinya sendiri perlu proses panjang untuk berhasil move on tanpa menjatuhkan cinta pada gadis lain.
***