
Setiap kali memikirkan kejadian memalukan malam itu, kepala Lisa selalu terasa nyeri seakan hendak pecah. Ia sukses mempermalukan dirinya di depan anak sugar daddynya. Entah apa yang akan Metta lakukan untuk
mengancam Anwar sebagai upah tutup mulut. Bisa jadi ia akan melabraknya di muka umum sebagai pelakor. Andai itu terjadi, Lisa tak yakin masih punya nyali untuk menghadapi netizen.
Handphone dalam genggamannya bergetar, sebuah pesan singkat masuk dari nomor tak dikenal. Lisa meletakkan scriptnya dan menoleh ke sekeliling memastikan tidak ada yang memperhatikannya.
Belakang studio di parkiran motor, sekarang!
Ia terburu-buru menuju lokasi yang sesuai perjanjian sebelum syuting dimulai. Bisa gawat jika ada yang melihat tingkah lakunya yang mencurigakan di luar area syuting. Tanpa ia sadari, ada sepasang mata yang awas
membuntutinya.
Seorang pria bertopi klupuk dan mengenakan kaos hitam menunggu di samping pagar teralis. Lisa tertatih mendekatinya, ia berjuang setengah mati menyeimbangkan tubuhnya karena berlari dengan heels 10 cm.
“Good Job. Nih! Jangan deketi gue lagi.” Lisa menyerahkan amplop coklat yang tebal. Pria ia mengambil jatahnya lekas menyimpannya dalam tas pinggang.
“Lain kali kontak lagi kalo perlu bantuan.” Ujar pria itu puas dengan transaksi yang menyenangkan.
“Jangan senang dulu, kita belum tahu kelanjutan kasus ini gimana. Metta ternyata bukan orang biasa.” Lisa tampak stress kembali mengungkit identitas mantan asistennya.
“Jadi ini masih mau diteruskan sesuai rencana?” tanya pria itu ikut bingung.
Lisa terdiam, rencana yang ia atur dengan matang ternyata menyimpan kejutan. Semula dikira mengorbankan seorang dungu saja bisa membuatnya cuci tangan dari kejahatan. Nyatanya, hasil akhirnya nantipun tak bisa ia tebak kecuali ia berani spekulasi.
“Terusin aja!” Lisa bergegas pergi dari hadapan pria itu. apakah dia gagal atau berhasil nantinya sudah dianggap sebagai pertaruhan. Lebih baik jahat sekalian ketimbang munafik sebagai orang baik.
***
“Seperti yang udah kita rapatkan, syuting tetap lanjut dengan mengubah alur. Peran Lisa dapat lebih banyak scene buat gantiin peran utama sementara. Jadi Stevan harus kembangin chemistry dengan Lisa.”
Tekanan dari berbagai pihak membuat Bams terpaksa merubah naskah dalam satu malam. Lisa sangat diandalkan demi mempertahankan rating sambil menunggu Weini comeback. Namun kondisi Weini yang terluka parah belum ada kepastian kapan akan beraktivitas seperti semula.
“Kali ini lu nggak berani dupak gue begitu saja kayak yang dulu lu lakuin. Artis pilihan lu nggak becus kan nyatanya lu bergantung am ague buat nyelamatin rating.” Lisa menyentil masa lalu, dendam pribadinya pada Bams terlontar lewat sindiran barusan.
“Lisa plis. Gue uda bilang sorry. Urusan pribadi lu bisa kelarin di luar kerjaan. Gue siap kok ladeni.” Efek kurang istirahat dan banyak pikiran memicu emosi Bams yang labil.
Stevan yang masih sedikit pusing karena efek mabuk makin bertambah pusing mendengar perbincangan yang menjurus pada pertengkaran. “Ehem… bisa kita mulai sekarang?”
Bams yang saling bertatapan sinis dengan Lisa akhirnya memalingkan muka dan fokus pada lensa kamera. Dari layar kamera yang belum merekam, Bams melihat beberapa petugas berseragam polisi masuk ke studio. Ia
melihat ke arah depan untuk memastikan penglihatannya.
“Selamat siang. Kami dari satuan X minta ijin memeriksa TKP dan rekaman CCTV.” Ujar seorang polisi sembari menunjukkan surat ijin penggeledahan.
What the hell… umpat Bams dalam hati, drama apa yang bakal ia hadapi kali ini. Di sisi lain, Lisa seketika pucat melihat keseriusan polisi menggeledah seisi studio dan mengintrogasi satu persatu kru.
***
Weini menyantap bubur yang disediakan rumah sakit. Sejak bangun ia tidak melihat Xiao Jun, hanya ada Haris yang tidur pulas di sofa. Ingatannya belum sepenuhnya mengingat kejadian lalu meskipun hanya semalam. Apa mungkin itu hanya mimpi? Atau aku halusinasi Xiao Jun di sini?
“Nggak mimpi, nggak halusinasi. Dia sepanjang malam di sampingmu.” Haris menjawab sambil merem. Ia masih betah bermalas-malasan di sofa.
Weini terkejut, dilihatnya Haris yang tampak seperti tidur. “Ayah sudah bangun?”
“Aku bahkan belum tidur, gimana bisa bangun?” Haris merubah posisi tidur, kedua tangannya dilipat sebagai pengganti bantal.
“Hah? Lalu siapa yang mengorok tadi?” tanya Weini serius.
Haris menguap panjang, “Kau sudah baikan? Mana yang sakit? Pacarmu semalaman memandangimu terus.” Goda Haris.
saat tertidur dan dipandangi oleh seorang pria. Betapa memalukannya.
“Ya! Semalam kau terima dia. Banyak saksi yang mendengar, kau bisa tanya aku, Stevan atau managermu.” Lanjut Haris. Sedikit humor pasti lebih santai ketimbang terlalu serius.
“Ayaaaaahh… kenapa kau ijinkan dia di sini? Kok nggak disuruh pulang aja! Yang benar saja aku nerima dia di depan kalian?” Weini menutup wajahnya, malunya sudah mencapai level puncak.
“Buat apa malu? Kalau sudah waktunya, nikmati saja! Masa muda tidak datang dua kali.” Ujar Haris sambil bangun merapikan bekas tidurnya di sofa.
Seharusnya Xiao Jun berada di Hongkong, tapi ia malah menjaga Weini. Ketika terbangun tanpa melihatnya, Weini merasa ada sesuatu yang kurang. Waktu kebersamaan mereka terasa singkat, Weini masih merindukannya. Banyak hal yang ingin ia tanyakan, namun Xiao Jun pasti sibuk dengan kerjaan.
“Ayah, aku bosan. Boleh berikan ponselku?” pinta Weini. ia belum menyentuh ponsel pasca kecelakaan.
Haris mengambilkan apa yang Weini minta dari laci meja. Ada puluhan chat yang belum terbaca sejak kemarin. Layar ponsel discroll ke bawah mencari pesan terlama, ada rasa kecewa tersemat saat ia tahu tidak ada satupun chat dari Xiao Jun. Haruskah Weini yang menghubungi dulu?
Ia membuka chat sebelumnya, Xiao Jun terlihat online dua jam yang lalu. Weini menepis keinginannya, ditutupnya aplikasi komunikasi itu daripada tergoda mengganggu Xiao Jun. Ia lebih penasaran tentang kabar di lingkungan kerja.
“Non… kamu udah sadar?” Pekik Dina kegirangan hingga gendang telinga Weini nyaris jebol karena volumenya.
“Errr… kak, lagi dimana?”
“Lagi otw kantor, hari ini mereka tetap syuting. Sementara kontrak Lina ditambah beberapa episode lagi sampe non balik.”
Weini dihantui rasa bersalah, akibat kecerobohannya hingga seluruh kru ikut kacau. Bams pasti kelabakan menangani situasi tak
menguntungkan itu.
“Non? Halo? Jangan banyak pikiran. Habis dari kantor aku langsung otw ke sana.”
Telpon mereka berakhir, Weini merasa tak betah menjadi tawanan rumah sakit. Ia akan berusaha secepatnya keluar dari tempat membosankan itu. Sementara waktu terpaksa ia hanya bisa mengetahui dunia luar lewat internet. Berita tentang dirinya pasti sudah berseliweran di sosmed, ia harus memastikan semua itu.
Berbagai portal berita mengunggah beritanya dalam berbagai versi cerita, namun yang mengejutkan ketika Weini membaca bahwa tidak hanya dirinya yang dilarikan ke rumah sakit. Masih ada satu orang yang ikut dibawa bersamanya.
“Ayah, si Metta dirawat di sini juga? Ayah tahu gimana kondisinya?” tanya Weini cemas.
“Lebih parah kamu. Dia hanya terkilir kakinya.” Ujar Haris sedikit meringankan diagnosa Metta agar Weini tak khawatir.
“Owh… syukurlah.” Weini enggan bertanya lebih detail lagi, mengetahui rivalnya tidak terluka parah saja sudah cukup melegakan.
Ia melanjutkan berselancar di Youtube, video klarifikasi Bams terkait masalah kecelakaannya lebih menarik. “Kasian kak Bams.” Ujar Weini sedih menyaksikan tampang lelah Bams yang diberondong pertanyaan pers.
Sebuah video rekomendasi muncul di bawah video yang sedang ia tonton, Weini terkejut membaca judulnya. “Pernikahan termewah dari anak sang penguasa bisnis Hongkong.”
Jantungnya berdegup kencang, Weini menebak berita itu pasti ada kaitannya dengan keluarganya. Dengan jemari gemetar, ia klik video itu untuk memastikan. Terlihat sepasang pengantin dalam pakaian tradisional yang sedang melakukan prosesi tea pai. Ia tidak yakin saudaranya yang mana yang menikah hingga teks di video menuliskan nama pengantinnya, LI Yue Yan.
“Ayah, lihat. Ce Yue Yan menikah.”
Haris beranjak dari sofa, dilipatnya Koran yang sedang ia baca dan segera menghampiri Weini. Air mata Weini tak terbendung kala melihat ayah dan ibunya yang tampak menua, betapa ia merindukan mereka dan tak menyangka bisa melihat berita bahagia dari keluarganya. Haris ikut menyimak cuplikan video itu, terlihat banyak wajah yang dikenalnya. Keluarga besar Li San berkumpul lengkap, Haris tersenyum datar melihat kebahagiaan dan kenyamanan yang mereka rasakan. Sementar di sini, gadis yang mereka buang itu hanya bisa menyaksikan kebahagiaan mereka lewat berita.
Pandangan Haris tertuju pada seseorang yang berdiri di belakang Liang Jia, sayangnya hanya sekian detik terekam. “Putar ulang ke menit sebelumnya.” Pinta Haris serius.
“Eh?” Weini bingung, namun ia menuruti tanpa bertanya karena melihat keseriusan Haris. Dimundurkannya tayangan ke beberapa detik hingga Haris meminta stop dan dijeda.
“Xin Er.”
***