OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 282 USAHA MERUBAH TAKDIR BURUK



Dua porsi ifumie kuah terhidang dengan dua mangkuk ukuran sedang. Aroma masakan itu menggelitik rasa lapar dua pria beda generasi itu. Haris puas dengan masakannya, bukan hanya karena aromanya yang tertebak


kelezatannya, tetapi karena momen ini istimewa.


“Bagaimana? Sudah terasa cita rasa Hongkong?” Tanya Haris, meminta pendapat Xiao Jun yang sudah mulai mencicipi satu suapan.


Xiao Jun mengangguk sembari tetap melahap, ia bahkan menjawab tanpa menatap lawan bicaranya.


Haris tersenyum, ia puas melihat Xiao Jun begitu menikmati masakannya. “Kalau kamu suka, aku akan masak ini saat Weini ulangtahun. Saat itu masaknya pasti lebih spesial.” Ujar Haris penuh semangat.


Xiao Jun menengadah, ia menyipitkan mata menatap Haris. “Kapan ulangtahun Weini?”


Haris menggelengkan kepala, “Kalian sudah tunangan tapi ulangtahun masing-masing saja belum tahu? Untung saja aku membahasnya sekarang, Weini pasti sedih kalau sampai kamu tidak peka perayaan hari lahirnya.”


“Maaf, ayah.” Xiao Jun menunduk penuh sesal, dulu Dina pernah menyetor informasi itu padanya namun ia lupa lantaran tahu ketika ulangtahun Weini sudah lama lewat.


“Dia ulangtahun tanggal 29 april, delapan hari lagi.” Jawab Haris ramah, ia tampak memaklumi ketidak-tahuan Xiao Jun.


“Baik, ayah terima kasih. Aku pasti memberinya hadiah spesial.” Gumam Xiao Jun.


“Makanlah, keburu mienya bengkak.” Haris mengingatkan makanan yang terjeda gara-gara obrolan ini. Ia pun mengangkat sumpitnya dan mulai makan.


Xiao Jun memperhatikan Haris sembari mengunyah, saatnya masuk dalam perbincangan serius lagi. “Ayah, dulu aku pernah cerita tentang identitasku, tentang apa tujuanku kemari. Sejauh ini, apa ayah tahu apa yang kudapatkan?”


Haris pura-pura tenang dan masih menyumpitkan mie ke dalam mulutnya. “Ng, apa kau sudah dapatkan yang kau inginkan?”


Xiao Jun menggelang, “Belum. Tepatnya aku tinggal memastikan bahwa itulah yang kucari.”


“Baguslah.” Jawab Haris singkat.


Xiao Jun menaruh sumpitnya, tatapannya tajam pada Haris seolah akan mengulitinya. “Aku hanya ingin memastikan kalau ayah adalah orang yang kucari, Wei Ming Fung.” Seru Xiao Jun mantap dan tegas.


Haris ikut meletakkan sumpitnya, ia perlu bicara dari hati ke hati pada sesama pria. “Kau seyakin itu? Lalu kenapa kau tidak mengenali aku sejak awal bertemu? Kita bahkan baru saling mengenal ketika Weini di rumah sakit.”


“Karena kau merubah wajahmu.” Tutur Xiao Jun tegas.


Dua pria itu bertatapan dengan tegang, tanpa suara dan hanya saling bertukar pandangan. Haris mengumpat dalam hati, ia tak mengira putranya tahu banyak tentang hal ini meskipun ia dapat mendeteksi kemampuan


sihir pada Xiao Jun tidak seberapa dan belum di level setara dengan Weini.


Tawa menggelegar dari Haris membunuh sepi yang bertahan kurang lebih tiga menit, Xiao Jun masih mempertahankan ekspresi dinginnya. Ia merasa menang selangkah dari Haris, dan menunggu alasan apalagi dari pria itu untuk berkelit.


“Jadi kau bilang mukaku hanya topeng? Nah, coba kau buka saja. Aku nggak masalah kamu mau utak atik dari bagian mana.” Seru Haris seraya tertawa.


“Kau bisa mengubah wajah dengan sihir, kau raja sihir aliran timur. Tidak sulit bagimu melakukan itu, tapi yang tidak aku terima, kenapa kau terus mengelak?” Tuding Xiao Jun, ekspresi seriusnya begitu menakutkan.


Haris membatin, Anak ini pasti mengambil buku sihir kuno di rumah, dia sudah beranjak dewasa.


“Nak, banyak persoalan orang dewasa yang tidak akan bisa diterima oleh pria seusiamu. Bukan berarti aku bilang kamu tidak dewasa, tapi tingkat kematanganmu saja yang belum cukup. Sudahlah, jangan memaksakan


kehendakmu terus. Habiskan mienya sebelum bengkak.”


***


“Xin Er, putra kita makin luar biasa, aku hampir kalah dibuatnya. Aku tak yakin akan bisa lolos kedua kalinya dari dia, jika dia terus bersikeras begini. Bersiaplah Xin Er, kita perlu plan B untuk selamat dari masalah yang mungkin tak akan bisa terhindarkan.”


Bukan tanpa alasan Haris berkata sepesimis itu, kemampuannya yang mumpuni dan sanggup menerawang masa depanlah yang membuatnya terpaksa bungkam. Sekuat tenaga yang ia miliki, ia berusaha merubah nasib. Dalam


mimpinya, sering terlihat kegelapan dan kematiannya yang mengerikan andai keadaan itu tidak berhasil ia rubah.


“Aku ikhlas mati di tangan dia, asalkan Weini dan Xiao Jun selamat dan kembali pada kehidupan yang semestinya mereka jalankan.” Gumam Haris dengan gurat wajah yang sangat menyedihkan, membayangkan kematiannya yang


bukan lagi sebuah rahasia.


***


Xiao Jun menepikan mobilnya yang berada di kiri jalan raya, ia tak sabar menunggu kembali ke rumah hanya untuk menghubungi Liang Jia. Rasa marah, kesal pada ayahnya berkecamuk jadi satu. Ia tak habis pikir mengapa Haris begitu keras kepala berkelit padahal secara tidak langsung ia merasa pria itu sudah mengaku, namun untuk berkata ‘ya’ bahwa dia adalah Wei Ming Fung nyatanya sangat sulit.


“Xiao Jun? Angin apa yang membawamu menelpon tengah hari?” Liang Jia yang girang mendapat video call dari Xiao Jun langsung menodong pertanyaan itu padanya. Tak biasanya Xiao Jun menelpon siang, dan wajar bila Liang Jia sedikit khawatir terjadi sesuatu pada pria itu.


Xiao Jun tersenyum, “Halo ibu, aku hanya kangen kalian. Apa salah kalau rindunya datang tiba-tiba?” Canda Xiao Jun.


Mereka terlibat obrolan hangat yang penuh tawa, sampai Xiao Jun meminta Liang Jia memberikan ponsel padanya ibunya, barulah Liang Jia meninggalkan ibu dan anak itu bicara dengan tenang.


“Jun, kau tampak sayu, apa kurang istirahat?” Meskipun penglihatan Xin Er mulai berkurang karena usia, tetapi sangat jeli melihat kondisi anak-anaknya. Mata seorang ibu tak akan bisa dikelabui sekalipun buta, mata hatinya tetap peka.


Xiao Jun tersenyum lembut, hatinya sedikit terguncang mendengar perhatian ibunya. “Aku baik-baik saja, ibu bagaimana?”


“Aku baik, tuan besar juga sudah mengijinkan ibu untuk hadir di acara pernikahan Li An bulan depan. Kau harus ke sana bersama tunanganmu.” Jawab Xin Er lembut.


Xiao Jun sedikit terdiam sehingga Xin Er sadar bahwa kata-katanya barusan terdengar ambigu. Xiao Jun pasti bingung tunangan yang mana yang dimaksud ibunya.


“Maksud ibu, Weini.” Ralat Xin Er.


Xiao Jun mengulum senyuman, “Aku pasti sampaikan ke dia ibu, semoga pas dia sempat.”


“Oya, ibu ada sesuatu yang ingin aku minta tolong ibu pastikan pada nyonya Liang Jia.” Timpal Xiao Jun, ia harus to the poin sebelum Liang Jia kembali.


Xin Er mengernyit bingung namun tetap mengangguk.


“Terima kasih, ibu. Tolong tanyakan tanggal lahir putri bungsu nyonya. Aku ingin tahu segera, ibu. Nanti malam aku telpon ibu kembali.” Pinta Xiao Jun dengan tegas.


“Kenapa kau tiba-tiba tertarik membahas nona Yue Hwa?” Xin Er penasaran, putranya tak pernah gadis itu sebelumnya.


Xiao Jun menggeleng pelan, “Aku belakangan ini sering bermimpi aneh, mungkin aku memimpikan dia.”


Setelah berhasil meyakinkan Xin Er, pembicaraan ibu dan anak itupun selesai. Xiao Jun menggenggam ponselnya di tangan yang juga memegang setir. Ia tak sabar menunggu nanti malam, satu kecocokan yang akan segera terkuak.


“Weini, kamu siapa sebenarnya?”


***