
Mereka kembali ke apartemen tanpa sepatah kata, tanpa bergandengan yang romantis. Weini berpikir mungkin ada yang salah dengan obat yang diminum Xiao Jun, apa efek sampingnya bisa menjadikan seseorang temperamen dalam waktu singkat? Jelas-jelas Xiao Jun selalu lembut padanya semenjak mereka jadian, tapi pria itu sekarang bersikap seperti orang yang tidak dikenal.
Langkah mereka berhenti di depan apartemen Xiao Jun. Pria itu menarik Weini berdiri sejajar di sampingnya. Apartemen itu masih terkunci namun Xiao Jun terlihat tidak berniat membukanya. Weini protes dalam hati, mana mungkin pintu bisa terbuka hanya dengan dipelototin.
“Pencet tanggal, bulan, tahun lahirmu.” Perintah Xiao Jun yang tatapannya tertuju pada mesin pengaman apartemennya.
Weini masih bengong, ia sebenarnya mendengar perintah Xiao Jun tapi masih belum punya keyakinan untuk melakukannya. Ia menengadah pada Xiao Jun, berharap diberi penjelasan yang lebih meyakinkan.
“Masukkan nomor itu 6 digit. Itu kode password rumahku. Kelak jangan menunggu dibukain pintu lagi, kamu bisa masuk sesukamu dan menemukanku.” Meskipun tidak mengumbar senyum, namun kata-kata Xiao Jun terdengar
mengandung sindiran terselubung dan Weini bisa menebaknya.
“Waktu itu… kamu di dalam kan?” Weini bertanya hati-hati, meski penasaran dan ingin memastikan namun ia kuatir akan memicu perubahaan temperamen Xiao Jun lebih parah lagi. Ia yakin waktu itu Xiao Jun ada di dalam rumah dan sengaja tidak ingin menjumpainya.
“Buka dulu pintunya.” Perintah Xiao Jun tegas tanpa berniat menjawab pertanyaan itu.
Weini tidak mau berdebat, ini bukan timing yang pas untuk memaksa kehendak. Bagaimanapun ia masih merasa bersalah telah membuat penyakit Xiao Jun kumat. Dipencetnya tanggal lahir lengkap dan mesin pengaman itu berbunyi. Xiao Jun meraih gagang pintu dan menyeret Weini masuk. Dibiarkannya pintu tertutup dengan kasar dan terkunci otomatis. Lau tidak akan pulang dalam waktu cepat, jadi hanya ada dia dan Weini dalam rumah ini. Berduaan!
“Kamu mau apa?” pekik Weini takut saat Xiao Jun setengah memaksa menariknya sampai ke kamar lalu mengunci pintu.
Apa yang akan dua sejoli lakukan dalam rumah sebesar itu dan kamar tidur yang terkunci. Xiao Jun mendorong tubuh Weini hingga terlentang di atas kasur. Weini bergegas mengubah posisi tubuh dan duduk di tepian kasur. Tatapan Xiao Jun terlihat nanar, senyumnya nakal menyungging dan tak berkedip melihat Weini yang panik. Weini gelisah, ia memang mencintai Xiao Jun namun haruskah ia melakukan itu sekarang? Dalam kondisi Xiao Jun yang
seperti orang lain? Ia merasa tak rela harus kehilangan sesuatu yang paling berharga sebagai gadis dengan cara tak terhormat seperti ini.
Xiao Jun mendekat, ia bahkan sengaja merangkak di atas kasur mendekati Weini yang bergerak mundur. Weini menggenggam kancing bajunya erat-erat, bila perlu ia akan menendang Xiao Jun babak belur untuk
mempertahankan kesuciannya.
“Kamu ingin mengenalku lebih dekatkan? Aku akan memberimu hukuman ringan karena kamu lancang mencai tahu tentangku lewat orang lain.” Ujar Xiao Jun serius. Jaraknya tinggal sejengkal dari wajah Weini.
Mereka akan berciuman jika Weini tidak menghindar.
Ancaman Xiao Jun malah membuat Weini larut dalam pikiran, rupanya pria itu mendengar semua pembicaraannya dengan Lau dan kesal karena itu? Ia terlalu bodoh mengira Xiao Jun tidur dan tidak mendengar apapun,
ah… lagi-lagi Weini melakukan kesalahan yang mengundangnya dalam posisi sulit.
Belum selesai pikirannya, bibir Weini justru jatuh dalam lumatan nakal bibir Xiao Jun. Gadis itu tersentak dan mencoba berontak, sayangnya Xiao Jun mengeluarkan tenaga ekstra untuk mencegahnya kabur. Pria itu sudah mengukur reaksi dan kekuatan Weini hingga berhasil membuat si gadis tak berdaya. Dilumatnya bibir tanpa polesan warna milik Weini dengan tangan yang merangkul pada pundak. Weini menutup mata rapat-rapat merasakan sensasi ciuman yang sangat liar kali ini. Xiao Jun benar-benar marah dan melahap bibirnya dengan ganas. Weini mulai kewalahan dan takut apa yang selanjutnya terjadi padanya jika ini tidak dihentikan. Bisa saja salah satu di antara mereka terbawa perasaan dan napsu akan menggiring mereka bertindak lebih jauh.
“Ini baru hukuman ringan. Lain kali kalau kamu berani main rahasia padaku, aku akan menghukummu lebih dari itu.” Xiao Jun mengusap bibir Weini yang lembab oleh lumatannya. Ia mulai tersenyum dan tatapannya lembut. Senyum dan tatapan familiar yang Weini kenal, debaran jantungnya kembali normal perlahan. Xiao Jun
tidak bertindak lebih jauh, namun tak disangka pria itu berani memberinya hukuman yang ekstrim.
Xiao Jun berbalik badan menyembunyikan kecanggungannya. Bukan hanya Weini yang gemetaran menerima serangan dadakannya, Xiao Jun bahkan tak jauh gugup. Detak jantungnya tak berirama lagi, ia tak menyangka berani memberi ciuman yang menggairahkan. Bagaimanapun ia pria normal yang bisa lepas kontrol mengekspresikan kecintaannya. Namun ia tidak akan pernah mengingkari janji untuk tidak merusak Weini. Gadis itu terlampau istimewa, ia harus menjaga berlian itu tetap berkilau dan dimiliki dengan terhormat pada waktunya.
Xiao Jun terkejut, apa ia sungguh keterlaluan menakutkan hingga Weini menangis. Ia segera berhambur ke hadapan Weini, meraih wajahnya dan menatapnya leka.
“Apa aku sangat menakutkanmu? Maaf… plis jangan menangis. Aku egois. Aku hanya ngak mau kamu mencari tahu diriku dari orang lain. Cukup bertanya padaku, aku ceritakan semua padamu.” Xiao Jun menyeka air mata Weini. Hatinya tercabik perih telah membuat gadis kecintaannya menangis.
Weini justru menghambur dalam pelukan Xiao Jun, kepalanya menggeleng dalam dekapan pria itu. “Maaf… semua salahku. Aku nggak tahu kamu nggak boleh makan pedas, nggak tahu kamu akan tersinggung dengan ulahku. Nggak tahu kalo kamu sangat memperhatikanku.” Ya… Weini baru sadar betapa Xiao Jun memikirkannya, bahkan password rumahnya pun diambil dari tanggal lahirnya.
Tangan Xiao Jun mengelus lembut rambut Weini, ia tersenyum sangat manis namun sayangnya Weini tak bisa melihatnya. Gadis itu masih merasakan dekapan hangat Xiao Jun yang menenangkan. Ia tak takut lagi akan dimakan pria itu.
“Udah ya, jangan diungkit lagi. Kita sama-sama salah jadi impas. Ada yang mau aku tunjukkan padamu, sini!” Xiao Jun merenggangkan pelukannya lalu mengajak Weini ke arah jendela. Disibaknya tirai putih tebal yang menutup mereka dari dunia luar. Cahaya yang menyilaukan sempat menyipitkan mata Weini, namun saat matanya mulai menyesuaikan kontras cahaya, ia terpukau dengan pemandangan di balik kaca transparan itu.
Papan reklame berukuran raksasa yang memajang wajah Weini terlihat jelas, seakan pemandangan itu satu-satunya yang paling mencolok dari kamar itu. Hampir setahun Weini didapuk menjadi brand ambassador iklan itu
dan setahu Weini sejak itu pula papan reklame di jalan S.Parman itu terpajang. Berarti sejak itu Xiao Jun leluasa melihat wajahnya dari kamar ini?
“Sesuai dugaanmu, sudah selama itu aku memandangmu dari sini. Kalau kamu lagi nyebelin, lagi galak dan keras kepala, aku cukup melampiaskan rasa gemasku dengan memandang wajahmu yang selalu tersenyum itu.”
ungkap Xiao Jun polos. Itulah yang sebenarnya ia rasakan selama ini, poster Weini yang tersenyum lepas bisa menyulap mood Xiao Jun menjadi baik, seburuk apapun mood sebelumnya.
“Jadi mendingan pandang fotoku daripada orang aslinya yang jutek, keras kepala, nyebelin itu?” Weini pura-pura kesal lalu menyubit pipi Xiao Jun gemas.
Reaksi Weini barusan dianggap Xiao Jun sebagai tantangan, gadis itu mulai bertingkah mengesalkan lagi maka Xiao Jun bersiap memberinya serangan balik. Jangan harap ia akan membebaskan Weini sebelum ia berteriak
minta ampun.
“Oh… jadi kamu minta dihukum lagi?” goda Xiao Jun sembari membelalakkan mata.
Weini langsung merinding mendengar kata hukum, pria manis itu tidak bisa diremehkan lagi. Baru saja ia menerima serangan nakal dari Xiao Jun dan sekarang ia memberinya peluang dihukum lagi? Weini bersiap pasang kaki seribu untuk kabur, namun langkahnya tidak lebih cepat dari gerak lincah tangan Xiao Jun yang berhasil meraih pinggang rampingnya.
“Arrghhhh hahahahaaaaa…” teriak Weini sekuat tenaga menahan diri. Ia membungkam mulutnya agar tidak bersuara yang memancing sensasi lebih pada Xiao Jun.
“Ampun nggak hemmm” ujar Xiao Jun makin bersemangat.
“hahhahahahahahaaaa…”
Tangan Xiao Jun agresif mengelitik pinggang Weini hingga tubuhnya mengeliat. Ia makin lemas dan tak mampu meloloskan diri dari dekapan dan kelitikan Xiao Jun.
“Ampuuuuuuun.”
***