
Langkah kaki jenjang Weini melenggang gontai ke dalam rumahnya. Tubuh langsingnya dihempaskan dengan kuat pada kasur. Ia membenamkan wajah pada bantal, jika bisa ia enggan menampakkan wajah pada siapapun hingga perasaannya tenang. Ia tak mampu berpikir, sedetikpun tak ingin memikirkan apapun.
“Uuuhhh…” keluh Weini. Ia kesulitan bernapas dalam posisi hidung tertindih bantal. Weini membalikkan badan, kini ia terlentang menatap langit-langit kamarnya yang polos. Tiba-tiba ia berkhayal membayangkan wajah Xiao Jun di atas langit-langit. Bergegas Weini menutup matanya dengan kedua tangan. Pria itu tak boleh muncul dalam ingatannya, atau ia akan sangat malu. Setelah kejadian tadi, Weini tak yakin masih punya nyali untuk bertemu
dengan pria tampan itu.
Beberapa menit kemudian ketika hampir saja Weini tertidur, ia baru menyadari dirinya belum membersikan tubuh dan melepas dress yang sejak sore ia kenakan. Weini memaksakan dirinya yang masih malas agar beranjak dari kasur lalu mandi. Ia sengaja menghidupkan kran air dengan deras dan mengguyur tubuhnya, wajahnya yang terasa panas itu gayung demi gayung.
Memutar memori dua jam lalu…
Xiao Jun menatap Weini tanpa berkedip. Antara sadar atau tidak, tiba-tiba pria itu membuat sebuah pengakuan yang mengejutkan Weini.
“Weini, aku ingin mengenalmu lebih dekat.”
Gara-gara terlampau syok dirayu mendadak seperti itu, Weini pun tak bisa mengalihkan tatapannya dari Xiao Jun. Empat mata yang saling beradu tatap itu tak berkedip sekalipun, mereka mematung sejenak. Tiba-tiba Xiao Jun bergerak mendekat, ia bangkit dari kursi lalu berdiri di depan Weini. Tangan kanan pria itu meraih dagu Weini dan mencondongkannya ke atas. Jarak antara wajah mereka mungkin tak lebih dari 20 cm.
Wajah Weini terasa kaku, bibirnya bahkan terbuka sedikit saking kaget. Ia bisa merasakan napas Xiao Jun yang kian mendekat. Pria itu mulai memejamkan mata, jarak bibir mereka tinggal setengah jengkal lain untuk saling berpagut. Ritme debaran jantung Weini seakan tak mampu memompa darahnya yang mendesir. Wajahnya terasa panas, ia tak pernah sedekat itu dengan pria. Sebentar lagi ia akan berciuman dengan Xiao Jun. Pria itu bahkan tidak menatap wajah Weini yang memerah merona.
Weini meremas taplak meja dengan kencang, bibir Xiao Jun terasa menempel di bibirnya. Ia terkejut dan reflek bergerak hingga tangannya tanpa sengaja menyenggol mangkuk lalu sumpit di sebelahnya jatuh ke lantai. Weini bergegas memalingkan wajah dan memungut sumpit itu. Sontak saja ciuman yang baru bersentuhan sedikit itu berakhir dengan kecanggungan. Xiao Jun ikut memalingkan wajah dengan ekspresi yang tak mampu ditafsirkan artinya oleh Weini.
Memori selesai.
Semakin mengingat itu kian malu rasanya. Weini mengguyur air lebih intens berharap perasaaan tak menentu itu ikut tersapu cipratan air. Ia memegang bibirnya, tidak pernah terbayang seorang pria yang mengecup bibirnya
untuk pertama kali adalah Xiao Jun. Kenapa ia tidak mendorong pria itu saat mulai terpejam menyodorkan bibirnya?
Apa jangan-jangan… aku menginginkannya juga? Aaaarrggghhhh! Weini menggeleng berulang kali, ia memungkiri perasaannya. Atau mungkin ia belum sepenuhnya memahami perasaannya? Mungkin ia menyukai Xiao Jun dan
berharap mendapatkan cintanya juga. Lalu mengapa ia mengacaukan suasana sampai berantakan, dan ciuman pertama mereka gagal. Semakin Weini memikirkannya, makin gila rasanya.
Tok… tok… tok… pintu terdengar diketuk dari luar saat Weini mengeringkan rambut dengan handuk.
“Weini, kau sedang apa? Ayo makan martabak Bangka di depan.” Suara Haris memanggil dari luar. Weini dengan cepat menyingkirkan handuk kemudian menyisir rambut lurus panjangnya.
“Ayah, kau baru pulang? Emmm… wanginya bikin laper.” Weini mengendus aroma martabak yang masih panas dalam kotak makanan.
“Ayo kebur dingin. Kita makan di teras saja.” Haris mengambil langkah lebih dulu menuju teras rumah.
“Gimana kabar om Felix dan tante Lina?” Weini menyomot sepotong martabak Bangka bertopping coklat keju susu.
“Baik. Mereka salam buat kamu.” Ujar Haris yang ikut mengambil sepotong kue manis itu.
“Enaknyaaaa…. Aku rela melupakan diet demi ini.” Weini kegirangan, tanpa ragu ia menambah sepotong lagi.
Haris hanya memperhatikan Weini menyantap dengan lahap. Ia paham betul jika gadis itu sedang sedih atau galau, selera makannya terhadapan makanan manis pasti meningkat.
“Coba cerita padaku, tak baik memikul beban sendiri. Selama ada aku, kau tak perlu banyak berpikir.” Haris menodong langsung tanpa basa-basi lagi.
“Eh…” Weini masih mengunyah namun ucapan Haris membuatnya seret untuk menelan. Tidak ada salahnya curhat pada Haris. Toh dia juga seorang pria yang pernah muda dan lebih berpengalaman soal asmara.
“Ayah, berjanji dulu kau tidak akan menertawakanku!” desak Weini serius.
Weini memberi acungan jempol sebagai kesepakatan mereka akhirnya deal. Perubahan ekspresinya terjadi begitu saja, sedetik lalu ia bersemangat lalu sedetik kemudian Weini kembali lesu.
“Ayah, apa aku boleh suka sama seseorang?” Weini menunduk sangat dalam, mengamati kakinya yang tak beralas sandal.
“Tentu. Sangat wajar anak seusiamu jatuh cinta. Kau tak perlu mengingkarinya, ini masa mudamu.” Ujar Haris memberi support.
“Tapi… apa aku bisa menjalin hubungan serius? Kelak aku harus mengakui wajah asliku pada dia atau terus hidup dengan wajah palsu ini?” Weini masih belum punya keberanian menatap lawan bicaranya. Ia mulai paham
keraguan hatinya menolak rasa suka pada Xiao Jun, lebih dikarenakan ia dilemma dengan jati dirinya.
“Tergantung sikon. Jika alur hidupmu lebih tenang dengan penampilan seperti ini, hidup di balik topeng bukan pilihan buruk.”
“Tidak buruk tapi bukan yang terbaik juga kan? Aku… tidak mampu hidup dalam kebohongan, apalagi kepada orang yang kucintai. Ayah aku harus bagaimana?” mata Weini mulai berkaca-kaca tapi ia masih mampu menahan
agar isak tangisnya tidak pecah.
“Kebohongan memang tidak dibenarkan, tapi jika kelak kau menemukan orang yang tulus mencintaimu. Dia pasti bisa menerima kekuranganmu. Sebenarnya, kau lebih banyak kelebihannya.” Haris mulai membelai lembut kepala Weini. di sisi lain ia sangat senang, akhirnya Weini mengenal cinta, kelak mungkin ada pria yang bisa menggantikan Haris untuk menjaganya.
“Lalu aku harus jujur dengan statusku? Ah… ayah aku harus pakai margamu atau marga asliku ketika menikah? Mungkin aku berpikir terlalu jauh, tapi aku tidak mau terjerumus lebih dalam pada langkah yang salah.” Weini meminta pertimbangan, kelak masalah ini pasti ia hadapi jika hubungannya dengan Xiao Jun semakin serius.
“Minum air jangan lupa sumbernya. Anak yang baik pun jangan lupa asalnya. Walaupun kenyataan sangat pahit, tapi kau tidak bisa memungkiri darahmu dari keturunan Li. Bagaimanapun darah lebih kental dari air.”
“Jika ayahku paham darah lebih kental dari air, mungkin dia tidak setega itu padaku.” Weini mendadak kesal jika teringat ayahnya. Sebaliknya ia merasa Haris lebih pantas menjadi ayah sesungguhnya.
“Biarkan saja. Jangan diungkit lagi! Sekarang ayah ingin kamu jujur, kamu naksir Li Xiao Jun kan?” Haris blak-blakan menodong Weini.
“Ng… tapi marganya sama. Apa boleh pernikahan sesama marga?” masalah ini pula yang menjadi keraguan Weini.
Tiba-tiba Haris tertawa keras, “Hahaha… Marga Li itu terbanyak di dunia. Meskipun sama, tapi kalian tidak ada ikatan darah. Tentu saja boleh.”
Jawaban itu tidak lantas membuat Weini Senang. Ia teringat rencana Xiao Jun yang hanya menetap sementara di sini. Haris harus ekstra kerja untuk meyakinkannya.
“Tapi… dia pasti akan pulang ke Hongkong. Kalau kami menikah, dia akan memboyongku ke sana. Ayah… kenapa rumit sekali jatuh cinta? Mana mungkin aku kembali ke sana.” Keluh Weini mulai frustasi.
“Itukan baru rencana. Scenario Tuhan pasti lebih indah. Sudahlah jalan saja dulu apa adanya. Biar waktu yang menentukan jalan cinta kalian. Jika memang dia jodohmu, pasti ada cara lain.” Haris menepuk pundak Weini untuk menyemangati. Weini akhirnya berani menatap Haris, matanya berbinar. Terbaca sekali ia hendak mengatakan sesuatu.
“Jadi… ayah mengijinkanku dekat dengan dia?” Tanya Weini sangat semangat.
“Dengan siapa? Stevan?” goda Haris.
Weini auto manyun, candaan Haris terdengar garing.
“Dia belum pernah bertemu denganku, belum lolos seleksiku, gimana bisa ijinkan begitu saja?”
Weini menunduk lemas lagi, lagi-lagi itu kesalahannya yang sedari awal menghalangi Xiao Jun menemui Haris. Dan ketika ia yakin mengenalkan mereka, justru keadaanlah yang belum berpihak.
***