OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 445 IKHLAS



Weini sengaja ikut ke kamar Grace, ia meminta waktu sepupunya agar bisa bicara empat mata. Xin Er dan kedua putrinya pun memaklumi, memberikan dua gadis itu kesempatan untuk bicara privat. Kini Weini duduk berhadapan dengan Grace yang masih takjub menatapnya.


“Aku kagum dengan kecantikanmu, hmm... Jun sungguh beruntung.” Puji Grace.


Weini hanya tersenyum tipis, mendengar pujian dari banyak orang membuatnya kebal. Ia tahu wajah aslinya memang cantik tetapi tidak perlu dibanggakan juga dari paras itu.


“Grace, aku senang karena tahu kamu adalah sepupuku. Sejak awal mengenalmu, aku merasa ingin lebih


mengenalmu, ternyata memang ada ikatan darah di antara kita.” Gumam Weini, sebenarnya ia ingin mengatakan lebih dari itu tetapi rasanya sulit.


Grace mengangguk, “Aku lebih dulu tahu tentang rahasia ini, tapi maaf aku belum bisa memberitahumu saat itu. Ah... Sudahlah, jangan ungkit masa tidak menyenangkan itu. Yang penting sekarang, kita harus fokus pada masa depan. Jadi... Apa rencanamu sekarang?” Tanya Grace perhatian.


Weini mengangkat bahu, “Aku tidak tahu, aku belum terpikir rencana apapun. Apalagi wajahku yang lama tak akan kembali lagi, mungkin lebih baik bagi mereka untuk menganggap Weini sudah mati.”


Grace menatap serius, kali ini tatapan mereka cukup lekat. “Kamu keliru, sepertinya tidak bisa sesederhana itu. Saat kamu menimbulkan kekacauan di malam itu, seluruh dunia membahasmu. Dan... sudah banyak yang tahu tentang identitasmu, jika kamu membiarkan berita ini tenggelam dengan sendirinya, rasanya hanya akan


menciptakan fitnah bagi klan kita. Aku tahu kamu tidak nyaman, tapi bersembunyi juga tidak baik.”


Weini terkesiap, ia tentu tidak tahu perkembangan yang berita selama ia menghilang. Apa yang disampaikan Grace membuatnya penasaran, namun saat ini ia tidak mempunyai ponsel. Ia bahkan lupa ke mana alat komunikasinya terakhir ia taruh. “Grace, boleh pinjamkan ponselmu? Aku mau tahu seperti apa perkembangan berita


tentangku sekarang.” Pinta Weini.


Grace menghela napas, ia belum menuruti permintaan Weini tetapi justru menatapnya tajam. “Aku akan ceritakan padamu semuanya, kamu tidak perlu buang waktu untuk mencari berita. Tidak ada berita yang benar, semua sudah dipelintir dan hanya klarifikasimu yang bisa membungkamnya.”


“Kalau begitu ceritakanlah!” Pinta Weini serius. Ia sungguh penasaran dengan apa yang telah terjadi setelah ia melakukan hal mengerikan di malam itu.


Grace membuyarkan pandangan ke arah lain, setelah mengumpulkan moodnya barulah ia angkat bicara. “Aku


dan Jun membohongimu, kami bukan pulang untuk merundingkan pembatalan perjodohan tetapi pulang untuk merencanakan pernikahan.”


Bola mata Weini membesar, mendengar kata ‘bohong’ saja sudah cukup menohoknya. Tetapi ia tetap diam, membiarkan Grace bicara apapun yang ingin ia sampaikan. “Dia mengatur segalanya, kami memang memakai baju pengantin dan hampir menjalankan ritual, tapi semua itu kami lakukan untuk menolong ayahmu.” Sampai di sini Grace berhenti dan melihat ekspresi wajah Weini yang semakin tegang saat mendengar ayahnya diungkit.


“Ayahmu ditawan oleh ayahku, dan kami didesak untuk menikah. Ditambah ibu Jun dan pengawal Lau pun diracun, demi menebus penawarnya maka kami harus menurut. Untung saja Jun berhasil melawan dan semua terkendali sesuai rencananya. Tapi Weini, setelah kami berpikir keadaan sudah terkendali, justru kami mendengar kabar kamu telah menghilang. Kakakku telah berhasil menculikmu.” Grace berhenti bicara, ia menelan rasa kecewanya pada dua keluarganya yang sungguh mengecewakan.


“Aku sempat menemani kedua orangtuamu saat itu, tapi ketika mendengar Stevan kecelakaan bersama Fang Fang dan pak Bams, aku segera kembali. Terakhir yang kudengar, ayahmu tidak sadarkan diri sampai sekarang. Ayahmu koma, Weini.” Lirih Grace.


Weini tersentak kaget, tanpa terasa air matanya pun ikut andil. Hatinya hancur mendengar tentang orangtuanya, dua orang yag sudah menua dan sangat ia rindukan itu ternyata tidak dalam kondisi yang baik. “Aku bisa apa sekarang? Mereka tidak menerimaku....” Lirih Weini.


Grace menggelengkan kepalanya, ia meraih tangan Weini lalu digenggam hangat. “Siapa bilang? Aku mendengar sendiri ibumu berkata bahwa ia mengutus Jun untuk membawamu kembali. Dan itu didengarkan langsung oleh ayahmu sebelum ia koma. Weini... lebih baik kamu jangan buang waktu lagi, cepatlah kembali.” Ujar Grace penuh keyakinan, Weini dapat melihat keseriusannya lewat sorot mata itu.


Weini mengangguk cepat dengan wajah berlinang air mata, ia percaya apa yang Grace sampaikan. Ia percaya


bahwa pada akhirnya ia kembali diijinkan pulang. Namun masih ada satu hal yang mengganjalnya, satu hal yang memang harus ia sampaikan pada Grace. Ia tidak bisa menyembunyikannya lebih lama lagi.


Grace salah paham, ia mengira Weini ingin membahas tentang ayah dan ibunya. “Sudahlah, ayo ajak Jun kembali, jangan buang waktu.” Gumam Grace menyemangati Weini.


Weini menggeleng lemah, matanya kembali berkaca-kaca, ia harus menguatkan diri untuk menyampaikan apa yang sebenarnya terjadi atau ia tidak akan tenang seterusnya hidup menyimpan rahasia. “Grace, ada yang ingin aku katakan. Ini tentang kakakmu....” Lirih Weini, ia bisa melihat raut wajah tegang Grace saat mendengar Chen Kho akan dibahas.


“Oh....” Jawab Grace singkat.


Weini meraih tangan Grace yang sudah terlepas dari genggaman, ia berharap Grace bisa menatapnya sejenak. Ia ingin membaca isi hati gadis itu lebih dalam lagi namun Grace mengelak. “Grace, ini penting... Aku tidak bisa memendamnya lagi. Aku....” Weini mulai menangis, ia tak sanggup melanjutkan kata-kata untuk sejenak.  Mengungkit kegagalannya menyelamatkan Chen Kho, membiarkan pria itu hancur di depan matanya adalah kepahitan yang Weini telah sendiri. Pria yang seharusnya ia benci tapi nyatanya alasan di balik sikap jahatnya jauh lebih tragis.


Grace menghindari tatapan Weini yang sudah menitikkan air mata, firasat buruknya semakin tajam. Ia bisa menduga apa yang terjadi, kemungkinan terburuk yang dialami kakak satu-satunya itu. Grace tahu bahwa Chen Kho menyekap Weini entah di mana, jika Weini dan yang lainnya bisa kembali dengan selamat, berarti dalam pertarungan memperebutkan Weini saat itu pasti jatuh satu korban.


“Dia sudah pergi?” Tanya Grace lirih.


Isakkan Weini kian menjadi-jadi, Grace bisa menebaknya tanpa perlu disampaikan terang-terangan. Air mata Grace pun menetes dari dua matanya, ia segera menghapusnya dengan kasar, tak peduli jika make-upnya ikut tersapu telapak tangannya.


“Apa kalian membunuhnya?” Tanya Grace lirih namun terdengar menohok.


“Tidak! Aku bahkan tidak membiarkan dia sendiri, aku ingin membawanya pergi dari sana. Tapi dia... Dia... hiks... maafkan aku Grace. Aku sungguh tidak ingin semua itu terjadi padanya.” Tangisan Weini pecah, ia membaur dalam pelukan Grace.


Tangisan dua gadis itu saling bersahutan, dalam pelukan yang kian erat diberikan. Grace tak sanggup berkata-kata, ia merasa runtuh, hancur dan kehilangan. Meskipun Chen Kho sempat menyebalkan padanya namun tidka dipungkiri bahwa ia pernah menjadi sosok kakak laki-laki yang baik baginya. Tetapi kematian ini, ia pun tidak bisa menyalahkan Weini. Semua itu bukan kehendak mereka, itulah yang harus Grace pertegas.


“Aku tidak bisa membawanya kembali, bahkan jasadnya....” Lanjut Weini dalam isakannya.


Grace makin kencang menangis, sekarang ia tahu pertanda firasat buruknya kemarin. Seburuk apapun


hubungannya dengan Chen Kho, mereka tetap bersaudara dan ia tetap bisa merasakan pertanda akan kehilangan seseorang yang pernah dekat dengannya.


***


Apa yang bisa kulakukan ketika takdir lebih berkuasa di atas kehendakku?


Hanya bisa pasrah menyaksikan orang yang ku sayangi berlalu bak debu yang diterbangkan angin


Ada namun tak lagi terlihat, ada dan pasti selalu terkenang dalam hidupku


Tenanglah di sana, kurelakan kau jalani apa yang sudah jadi suratan untukmu


_Quotes of Grace_


***


LIKE, KOMEN DAN VOTE PLIS. THANKS