OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 277 CARA TERBAIK UNTUK BERSAMAMU



Sepasang mata Weini yang terpejam perlahan terbuka, ia tersentak kaget lalu mengerjapkan matanya. Tubuhnya mencoba bangun dari tempat tidur namun kepala yang terasa sangat berat akhirnya melumpuhkannya sejenak. Weini masih kebingungan, seingatnya ia semalam bersama Xiao Jun menikmati makan malam dan minum. Setelah itu ia tak ingat lagi, Weini memegang dahinya yang terasa berat. Kepalanya berputar-putar dan badannya terasa tidak enak.


“Gimana caranya aku pulang ke rumah? Terakhir aku minum sama Xiao Jun, habis itu ngapain?” Weini berusaha keras mengingat kejadian semalam, terasa ada yang janggal dalam hatinya dan ia harus bisa mengingat kembali.


“Jun yang antar kamu pulang dalam kondisi teler. Anak gadis ini, mentang-mentang sudah dewasa jadi seenaknya


mabuk sama pria.” Haris melipat tangan lalu berdecak di depan pintu, Weini dibiarkan dengan tampang kusut dan pakaian yang belum diganti dari semalam. Mustahil juga Haris harus melakukannya – mengganti pakaian seorang gadis, meskipun sudah dianggap anaknya.


Weini tersentak kaget, wajahnya panik bahkan nyaris menangis di tempat. Ia dengan percaya diri meyakinkan Xiao Jun bahwa tidak akan kalah dengan alkohol, dan ternyata meleset. Lebih parahnya lagi, ia tak mampu mengingat kelakuannya yang mungkin di luar kendali terhadap Xiao Jun.


“Oh ya, Kamu juga memberi Jun pelajaran karena sembrono membiarkanmu mabuk. Kamu hadiahi dia muntahan di


bajunya.” Timpal Haris, ia merasa perlu membuat perhitungan pada Weini.


Tubuh Weini terhuyung dan duduk lemas di atas ranjang, kedua tangannya membungkam mulutnya yang ternganga lantaran shock. Ia berharap kejadian semalam hanya mimpi buruk, Weini tak sanggup membayangkan dirinya yang muntah dan merepotkan kekasihnya. “Memalukan banget.” Keluhnya penuh sesal.


Haris tersenyum geli, rasanya ia tak perlu repot membuat perhitungan pada Weini. Melihat tampang gadis itu yang tidak karuan sekarang, sudah jadi satu bentuk sanksi. Haris hanya ingin Weini tahu bahwa dampak mabuk itu bisa mengacaukan kehidupannya bila ia ketagihan dan cenderung lari ke minuman setiap kali disudutkan dengan masalah.


“Syukurlah kalau sadar, tampangmu sekarang juga memalukan. Apa kamu nggak berniat bersihkan diri dulu baru lanjut merenungi kekhilafanmu?” Celetuk Haris.


Pria itu berlalu dari depan kamar Weini, meninggalkan gadis yang masih kebingungan dan berantakan itu mematung


sendirian. “Setengah jam lagi kalau tidak keluar, kau bisa bantu mengangkat air seratus ember di belakang.” Lanjut Haris seraya berjalan, bantuan yang dimaksud itu adalah sindiran halus yang bermakna hukuman.


Bukan ancaman hukuman yang menakutkan Weini, yang lebih horor dari itu adalah ia tidak bisa mengingat semua kejadian semalam ketika mabuk. Ia pun baru menyadari bahwa inilah rasanya ketika seseorang di bawah pengaruh alkohol. Nikmat yang tidak seberapa dan harus menanggung efek memalukan yang luar biasa. Weini bergegas mencari ponselnya, ia meronggoh saku jaketnya dan tidak mendapati alat komunikasi itu. Fokusnya beralih pada tas tangannya, barangkali benda itu terselip di sana. Dan benar saja, ponselnya dalam posisi habis daya baterai, ia bergegas mengisi daya untuk menghidupkan ponsel itu.


Weini menggigit bibir bawahnya, ia belum berniat mandi seperti yang disarankan Haris. Hal terpenting saat ini


adalah mengecek ponselnya, ia tidur terlampau pulas hingga matahari meninggi mendekati puncaknya saking siangnya. Setelah mendiamkan beberapa saat sampai sinyal ponselnya normal, sekian banyak pesan masuk dari notifikasi Whatsapp. Weini dengan antusias memeriksa pesan tersebut namun mimik wajahnya berubah kecewa, tidak ada satupun pesan dari Xiao Jun untuknya sejak tadi malam.


Gadis itu merenung sembari mendekap ponselnya di depan dada, tidak biasanya Xiao Jun seperti ini. Sebenarnya apa yang terjadi semalam? Apa aku menyinggung dia? Gumam Weini lirih, ia memandangi layar ponselnya yang masih menyala, menimbang-nimbang sejenak apakah ia harus menghubungi Xiao Jun lebih dulu?


***


Xiao Jun duduk termenung sembari mempermainkan pulpen yang sempat ia gunakan untuk menanda-tangani surat penting. Pikirannya masih belum tenang pasca kejadian semalam, wanita dengan segala keistimewaannya memang sangat rumit. Begitulah yang sementara disimpulkan oleh bos muda itu.


“Membuangmu? Siapa?” Xiao Jun terperangah mendengar pengakuan yang paling jujur dari Weini. Ia yakin ketika


seseorang mabuk, di saat itulah ia sanggup mencurahkan isi hati yang sebenarnya. Rintihan yang dikeluhkan Weini saat itu ternyata bukan tentang masalah mereka, namun ada masalah penting lainnya yang lebih diresahkan gadis itu tanpa dia sadari.


Xiao Jun mencoba bertanya lebih detail, Weini yang kala itu dalam dekapannya pun direnggangkan agar ia dapat


masuk lebih dalam pada curhatannya. Di luar perkiraan, yang Xiao Jun dapatkan setelah itu justru muntahan Weini yang mengenai lengan baju serta jok mobilnya. Setelah itu, Weini tanpa rasa bersalah tertidur dengan pulas hingga sampai ke rumah dan dipasrahkan pada Haris.


“Jika dia dibuang orangtuanya, lalu Haris siapa?” Gumam Xiao Jun, wajahnya sampai mengkerut memikirkan itu.


“Tapi Dina pernah bilang kalau dia anak broken home, mungkin ibunya yang meninggalkan mereka dan hidup berdua bersama ayahnya sampai sekarang.” Xiao Jun menarik kesimpulan sendiri berdasarkan informasi yang selama ini ia kumpulkan tentang Weini dan Haris.


Masalah Weini tak lagi diambil pusing, sekarang yang menjadi sumber kekacauan pikiran Xiao Jun adalah sikap Grace. Pembicaraan mereka yang cukup serius tadi malam, yang Xiao Jun sangka akan menjadi kesepakatan


penyelesaian konflik, rupanya belum berakhir memuaskan. Tak seperti yang diharapkan, Grace justru keukeh dengan prinsip konyolnya.


“Kamu tahu, Jun … Sejak aku masih di rumahmu, masa depan suram ini sudah ada dalam bayanganku. Aku sudah tahu tentang Weini, meski tak tahu sedalam apa cinta kalian dan aku tidak mau tahu! Tapi semua yang terjadi, berawal dari kejodohan. Kita bisa kenalpun karena itu, tak perlu awal yang baik untuk mendapatkan akhir yang indah.”


Grace terlampau percaya diri, dan tak berhenti sampai di situ. Ia melontarkan kata-kata yang lebih menohok sebelum pergi dari apartemen Xiao Jun.


“Mulai sekarang, aku tidak akan melarangmu bertemu dia. Aku nggak akan ganggu kalian, tapi hatiku sepenuhnya


adalah urusanku. Aku akan menunggu sampai satu saat kamu tahu bahwa akulah yang paling bertahan mencintaimu!”


Xiao Jun penat, cukup sudah pikirannya diberatkan dengan masalah wanita. Ia menengadah, menopang lehernya dengan sandaran kursi. Tak lama kemudian, bunyi getar ponsel dari atas meja mengejutkannya. Ia bergegas meraih ponsel itu lalu mendapati notifikasi pesan dari Weini. Hatinya berdebar hanya karena dihubungi lebih dulu, dan ia baru sadar sejak kemarin malam belum menghubungi gadis itu untuk menanyakan kondisinya.


Bos muda itu beranjak dari tempat duduk lalu menuju toilet, ia membasuh wajahnya dari air wastafel. Sejenak ia


berdiri mematut pantulan dirinya di cermin, “Waktuku di sini tidak banyak, sebelum semua semakin kacau aku harus menemukan ayahku. Lalu Weini, kalau kenyataan hidupku terlalu berat untuk kita hadapi, aku janji setelah menemukan ayahku maka kita akan pergi ke suatu tempat. Hanya ada kamu dan aku, dan orang-orang baru yang tak akan mengganggu kita.”


Mungkin inilah cara terbaik Xiao Jun untuk lepas dari jeratan kekuasaan Li San.


***