OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 541 PERNIKAHAN



Satu persatu anak akan terlepas sepenuhnya dari kedua orangtuanya. Entah karena memperjuangkan nasib, atau mungkin karena sebuah status yang telah berubah. Dan semua itu cepat atau lambat pasti akan terjadi.


Suara petasan yang panjangnya nyaris lima meter bergantungan dari atap aula utama, dinyalakan satu pasang pada sisi pintu masuk ruangan utama itu. Hari pernikahan kebali memeriahkan suasana di kediaman Li, setelah sebelumnya menggantung kain putih serta lampion putih sebagai tanda berkabung. Kini kain merah yang panjang teruntai sampai ke bawah serta hiasan yang dominan merah, pelambang kebahagiaan bisa terlihat di sepanjang area aula utama.


Weini berdiri di antara saudaranya yang lain, menyaksikan pernikahan Yue Xiao yang tampak sangat bahagia. Xiao Jun sejak tadi terus melirik ke arah Weini, mencuri pandang pada gadis itu yang tampil begitu memesona.


Perhatikan dengan baik ya Hwa, sebentar lagi kita juga akan mengalaminya. Gumam Xiao Jun dalam hatinya. Bersyukur karena ia tidak bisa tersambung telepati dengan pria itu sehingga apapun yang ia katakan dalam hati tidak terdengar gadis itu.


Haris yang berdiri di samping Xiao Jun melirik dengan tatapan usil. Jelas ia bisa mendengar bisikan hati Xiao Jun yang sepertinya sangat antusias mempelajari tata cara ritual yang dilakukan oleh mempelai pria.


Nona Yue Hwa, dapat pesan dari Jun... katanya perhatikan baik baik mempelai wanitanya, karena sebentar lagi kalian akan mempraktekkannya. Haris mengirim telepati pada Weini, meneruskan apa yang ia dengar dengan jelas dari hati putranya. Sontak Haris mendapat delikan dari dua arah, yang satu dari sampingnya dan satu lagi dari Weini yang berdiri di bagian depan.


“Ayaaah!” Bisik Xiao Jun kesal, kalau saja bukan dalam ruangan ini, mungkin Xiao Jun akan melayangkan protes yang lebih pada ayahnya yang telah membocorkan isi hatinya.


Wajah Weini memerah, ia bisa mendengar jelas apa yang Haris katakan. Ditatapnya pria tua itu dengan lembut, Haris yang selalu bersikap tenang itu tampak tersenyum santai. Baik ayah, sampaikan padanya aku akan menyimaknya. Balas Weini seraya tersenyum manis, hatinya kian berbunga-bunga, Xiao Jun ternyata menaruh perhatian lebih dalam hal ini. Pandangannya beralih pada Xiao Jun yang berdiri di samping Haris, kontras dengan ayahnya yang tenang tenang saja, Xiao Jun malah menundukkan kepalanya, menyembunyikan gurat malu dengan cara itu.


“Dia bilang akan menyimaknya, tuh dia saja tidak marah pada ayah. Kenapa kamu malah sewot?” Bisik Haris menyampaikan langsung pada Xiao Jun, bisikan yang terdengar oleh Xin Er yang mulai menyadari ada percakapan rahasia antara ayah dan anak itu.


Xiao Jun menghela napas, melirik Haris yang masih bisa tersenyum tenang. “Tetap saja, ayah membuatku malu saja.” Gumam Xiao Jun yang sudah memberanikan diri untuk menatap ke depan. Tatapannya langsung beradu dengan Weini yang masih memandangnya. Gadis itu masih bisa tersenyum manis, sontak membuat wajah Xiao Jun bersemu merah. Haris yang melihat tingkah dua anak muda itu menaham tawanya.


***


“Selamat ya kak, akhirnya ketemu jodoh yang sepadan. Hwa doakan yang terbaik, semoga berbahagia hingga rambut menua bersama.” Yue Hwa memeluk Yue Xiao saat ritual pernikahan berakhir, mereka masih berkumpul keluarga untuk bersenang-senang. Suasana hangat dan haru kentara dari wajah wajah bahagia mereka.


Yue Xiao terlihat cantik dengan pakaian pengantinnya yang masih mengusung tema adat. Wajahnya yang telah dicukur bulu halusnya, alisnya pun dirapikan sehingga terlihat sangat berbeda dari penampilan biasanya. Gadis dari klan Li masih memegang tradisi kuno yang mengharuskan mereka menjaga kealamian wajah dan hanya boleh membuka aura wajah – cukur bulu halus wajah dan cukur alis – ketika mereka akan menikah.


“Terima kasih Hwa, aku sangat bahagia. Oya, kakak doakan semoga lamaran dan pernikahan kamu juga lancar ya. Maaf kakak ingin hadir, tapi apa boleh buat tidak dibolehkan. Huh... kenapa para tetua tetap saja berpikiran kolot sih? Apanya yang akan saling berebut kebahagiaan, kita akan bahagia dengan kehidupan masing-masing.” Gerutu Yue Xiao yang harus berbesar hati untuk tidak hadir di acara pernikahan Weini nantinya, karena jarak pernikahan mereka yang terlalu dekat dan dianggap tabu bila hadir. Para tetua masih percaya bahwa salah satu pengantin baru itu akan berebut kebahagiaan, maka mereka melarang Yue Xiao datang di hari pernikahan Weini.


Weini tersenyum tipis, ia pun menyayangkan ketidak hadiran kakaknya nanti, tapi apa boleh buat jika memang ini harga yang harus mereka terima sebagai syarat mengakhiri masa lajang mereka. “Yang penting kita saling mendoakan ya kak, bagaimanapun juga aku tetap mengharapkan kebahagiaanmu kak.” Ujar Weini tulus.


Xiao Jun menghampiri Weini dan berdiri di belakang gadis itu tanpa ketahuan. Yue Xiao yang melihat kedatangannya pun tersenyum, membalas anggukan pelan Xiao Jun. “Hwa, pangeranmu datang.” Goda Yue Xiao.


Weini yang mendengar itu langsung menoleh, melihat wajah Xiao Jun yang masih tersisa rona merah. Namun Weini enggan membahas lagi soal tadi, lebih baik kembali biasa agar Xiao Jun merasa nyaman lagi.


“Selamat atas pernikahanmu kak, semoga selalu sehati dan cepat diberikan momongan.” Ujar Xiao Jun seraya mengangguk pelan pertanda hormat.


“Terima kasih adik ipar, ha ha... aku memanggil duluan ya, tinggal menghitung hari juga kalian akan menyusul. Jaga adikku baik baik, jangan bikin dia kecewa, atau kau akan berhadapan dengan empat kakak dan tiga kakak ipar.” Seru Yue Xiao sok mengancam Xiao Jun.


Kita memang terlambat untuk saling meyayangi, tapi aku bersyukur masih diberi kesempatan untuk berbagi kehangatan seperti layaknya sebuah keluarga. Bersama kalian, aku merasakan apa arti kebahagiaan. Gumam Weini, bersyukur dalam hatinya.


❤️❤️❤️


“Dina... habis makan apa kamu sampai bisa fasih bicara Mandarin secepat itu?” Grace dan Stevan terbelalak kaget saat menerima video call dari Dina yang modusnya ingin memamerkan suasana pesta pernikahan Yue Xiao. Tapi ia malah membuat Grace dan Stevan salah fokus hingga lebih banyak mengomentari Dina yang mendadak pintar dalam beberapa hari.


Dina mengibas poninya yang disampirkan di samping, wajahnya menunjukkan keangkuhan yang justru mengundang gemas bagi siapapun yang melihatnya saat ini. “Rahasia... non Weini bilang nggak boleh bilang ke siapapun. So guys, i’m sorry.” Seru Dina dengan logat khasnya.


“Palingan pakai sihir Weini, mana mungkin Dina berbakat belajar bahasa.” Celetuk Stevan yang tampak tidak penasaran lagi. Tebakan jitunya langsung membuat air muka Dina yang sombong luntur sekejap.


Grace menahan tawanya saat melihat raut wajah Dina, mengesalkan tapi juga mengundang gelak tawa. “Ya udah sih, jangan diledekin lagi deh. Gimanapun caranya yang penting kan Dina nyaman. Daripada kelamaan buat nyesuaikan diri di sana.” Ujar Grace yang menghibur Dina dan pro padanya ketimbang Stevan.


Dina manggut manggut, moodnya kembali membaik berkat Grace. “Oh ya Grace, ngomong soal penyesuaian diri, aku juga nggak bisa menghindar dari yang namanya Bibi Gu. Hiks....” Dina curhat colongan, ia menepikan dirinya di luar agar tidak terdengar yang lainnya.


“Oya? Aduh apes banget kamu Din. Kena omel nggak?” Tanya Grace prihatin.


Dina mengangguk dengan cepat, andai boleh menangis, ia ingin tersedu sedan di pojokan. Mengadu nasib pada Grace yang juga punya pengalaman buruk dengan pelayan senior itu.


“Aku kemarin dihukum berdiri pake satu kaki dan kepalaku ditaruh baskom berisi air. Apaan coba, basah kuyup berulang kali ketiban baskom. Hukuman macam apa itu, huh!” Gerutu Dina yang seketika bersin hanya karena teringat kemarin basah terkena air dingin hingga satu jam.


Grace tampak prihatin mendengar keluhan Dina, namun yang bisa ia lakukan hanya menghiburnya. “Ya udahlah Din, sabar sabar aja. Semua juga kena kok sama dia, nggak cuman kamu, aku aja dulu lebih parah hukumannya. Kan udah pernah aku ceritain. Tapi habis itu kan jadi pinter dan luwes jadi nona terhormat.”


Dina tetap tak bisa terima begitu saja, ia menggelengkan kepala dengan cepat. “No... tetap aja nenek tua itu ngeselin. Nih aku bayangkan aja deh andai kami tukeran posisi, dia yang aku suruh berdiri pake satu kaki, kepalanya ku taruh dua tingkat baskom. Ha ha ha... lucu kali ya, kakinya goyang goyang, dasar nenek tua.” Dina cekikikan sampai sepasang matanya menyipit, ia tidak melihat dengan jelas siapa yang berdiri di belakangnya sekarang.


Grace memucat, ia harus menyelamatkan Dina secepatnya. “Din, di belakangmu.” Ujar Grace dengan bahasa Indonesia.


“Ngapain sok pake bahasa Indonesia, nggak ada yang denger kok tenang. Dina masih nggak sadar dan asyik cekikikan.


“Kaki siapa yang goyang goyang?” Suara seorang wanita tua yang menggema begitu nyata di belakang Dina, sontak membuat bulu kuduk Dina berdiri.


****** dah aku, kenapa dia muncul tiba tiba? Batin Dina dalam hati, tanpa melihat ke belakang karena ia sadar ada siapa di sana, Dina langsung pasang jurus jitu menyelamatkan diri – berlari sekencang kuda.


❤️❤️❤️


Hi guys, ada kabar gembira nih buat kamu yang suka novel ini. Thor akan mengadaptasinya menjadi versi audiobook loh. Mohon dukungannya ya. ❤️