OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 320 YANG TERAKHIR



Gathering masih berlanjut, suasana pesta semakin ramai dengan hiburan penyanyi undangan yang memeriahkan acara. Pihak sponsor memang cukup royal memberikan penghargaan kepada para talent dan semua yang terlibat


dalam produksi film tersebut. Padahal belum tayang dan hasilnya pun belum tertebak akan laku di pasaran atau tidak, tetapi para sponsor dan produser optimis bahwa film yang perdana dibintangi Weini ini akan laris.


“Non, ke sana yuk.” Dina tiba-tiba muncul dengan membawa segelas wine di tangannya. Entah mengapa ia tetap merasa tidak senang melihat kedekatan Weini dan Grace yang baru terjalin. Terasa aneh dan janggal bagi Dina, terutama saat ini Grace datang membawakan minuman dan tertawa lepas bersama Weini.


Weini menoleh ke arah Dina dengan sisa senyuman yang lebar untuk Grace, matanya menatap hangat pada managernya. “Kak, nimbrung di sini saja.”


Dina terdiam, ia menatap Grace dengan antusias namun rasa tidak suka yang terpancar dari raut wajah Dina begitu jelas. Grace bahkan tahu diri hanya dengan melihat ekspresi Dina, ia menyunggingkan senyum ramah meskipun


Dina hanya membalasnya dengan senyum yang sangat terpaksa.


“Aku balik ke sana lagi ya, kalian nikmati saja pestanya.” Ujar Grace mengundurkan diri.


“Eh, kita belum selesai ngobrol kan, nggak apa-apa kok kita bertiga cari tempat duduk saja di sana biar lebih nyaman ngobrol.” Pinta Weini mencegah Grace berlalu.


Grace tersenyum, ia menoleh ke belakang sekilas untuk mencari alasan. “Next time aja kita lanjut, aku nggak enak sama Stev, dia udah nungguin dari tadi. Habis kukerjain sebentar sebelum samperin kamu.” Bisik


Grace seraya tertawa kecil.


Weini menyelidiki kebenaran perkataan Grace dengan melihat ke arah yang dimaksud, di sana memang tampak Stevan yang berdiri menatap penuh harap pada Grace. Pria itu bahkan mengangkat dagu untuk mengkode


Weini mengembalikan Grace padanya. Weini tertawa kecil, ia mengerti apa mau calon pasangan yang sedang pendekatan itu.


“Ah, begitu … Nikmati waktu kalian ya. Aku nggak mau ganggu deh.” Seru Weini menggoda Grace. Kemudian Grace berlalu dengan senyuman yang perlahan mulai memudar. Sekejab sorot mata berbinarnya berubah menjadi


tatapan kosong dan berjalan menuju Stevan dengan perasaan hampa.


Weini mendelik pada Dina, meskipun Grace memang hendak kembali ngobrol dengan Stevan namun sikap Dina yang terlalu menonjol itupun tidak bisa dibenarkan. “Kakak, rasa tidak sukamu terlalu nampak. Kenapa nggak


coba buka hati buat dia? Dia baik kok, nggak seburuk yang kita kira.” Bisik Weini pelan.


Dina langsung manyun, Weini tidak peka saja bahwa saking khawatirnya hingga Dina bersikap seperti itu. “Non, mana ada sifat orang berubah drastis dalam waktu satu malam. Lagian nggak ada alasan dramatisir yang bikin perasaan benci dia ke non hilang sekejab kan? Non jangan terlena sikap manisnya sekarang, kita nggak tahu apa yang ada dalam pikirannya. Siapa tahu dia punya cara licik buat ngerjain non.” Ungkap Dina dengan judes.


Weini tertegun sejenak, ia memikirkan perkataan Dina yang ada benarnya. Di hari terakhir syuting kemarin, Grace mulai membalas senyumnya. Dan luar biasanya hari ini Grace bahkan ramah menyapanya dan menyodorkan


segelas wine persahabatan. Mereka yang semula terlibat persengitan gara-gara seorang pria, bisa menjadi dekat dalam sekejab. Itupun terjadi ketika Xiao Jun tidak ada di sini.


“Tapi, dia sudah menyerah kak. Dia mundur dari perasaannya mencintai Xiao Jun.” Ujar Weini pelan, alasan itu tercetus begitu saja saat ia tengah berpikir, menimbang baik dan buruknya sikap Grace selama ia mengenal


gadis itu.


bisa ngaku udah nggak cinta, udah nyerah, memangnya non tahu hatinya kayak apa? Aku nggak yakin semudah itu move on apalagi model cinta buta kayak dia, non.” Ketus Dina, ia tetap keras kepala mempertahankan rasa tidak senangnya pada Grace.


Giliran Weini yang bergeming, tiba-tiba ia merasa perutnya perih. Sensasi perihnya seperti dikeroyok ratusan  kupu-kupu di dalam perut. Reaksinya yang mendadak berubah itu disadari oleh Dina. Weini masih berdiri merasakan sensasi aneh di perutnya, perih itu hilang kemudian timbul seperti punya ritme sakitnya tersendiri.


“Non, kenapa? Wajahmu pucat.” Tanya Dina cemas, ia merangkul lengan Weini lalu menarik tubuh gadis itu untuk mencari tempat duduk.


Weini menggeleng pelan, ia tidak mau mencolok dan menarik perhatian yang lain. Apalagi di sekitar ruangan itu masih ada beberapa wartawan yang berkeliling mencari narasumber. Namun perut Weini mulai merasa mulas, semakin dibiarkan ia pun mulai tidak tahan. Dina yang berdiri di samping Weini pun sigap menutupi Weini dengan merubah posisi berdirinya di depan artis itu.


“Aku ke toilet bentar kak.” Ujar Weini lirih. Ia pun bergegas berdiri dan berjalan cepat menuju kamar kecil. Dina membuntutinya dari belakang,  hatinya tak bisa tenang membiarkan Weini pergi sendirian.


Feelingku udah nggak tenang, jangan-jangan Grace melakukan sesuatu ke Weini …. Batin Dina sambil berlari mengejar langkah Weini yang cepat.


Grace melirik kedua gadis yang bergerak cepat menuju pintu keluar, ia tidak punya komentar apapun saat ini. Senyumnya kembali merekah untuk mengimbangi Stevan yang terus mengajaknya bicara, apa saja topiknya. Bahkan saking banyak dan serunya pria itu berceloteh, Grace tak sepenuh hati mendengarkan, untung saja Stevan tidak melontarkan pertanyaan karena bisa dipastikan Grace tak akan bisa menjawab.


Sepertinya mulai bereaksi. Gumam Grace dalam hati, ia tidak mengira efek dari minuman yang disodorkan untuk Weini itu hanya perlu beberapa saat untuk bergejolak pada tubuh korban.


“Setelah ini kita nongkrong di luar bentar yuk.” Ajakan Stevan mengembalikan fokus Grace pada saat ini. Ia menatap Stevan yang terlihat berbinar menunggu respon darinya.


Grace menggeleng cepat, “Aku nggak enak ninggalin Fang Fang pulang sendirian.” Alasan Grace, ia bahkan enggan menatap balik Stevan saat mengatakan itu.


“Saya tidak masalah, nona silahkan nikmati waktu bersama teman nona.” Fang Fang yang dijadikan alasan itu langsung menyatakan dukungan tak langsungnya. Suaranya pun mengejutkan Grace lantaran sejak tadi Fang Fang menjaga jarak agar tidak mengganggu pembicaraan Stevan dan Grace, namun ketika namanya disebut, ia dengan sigap mendekatkan diri dan membeberkan jawaban.


Grace menyipitkan mata menatap pelayannya, ia berharap Fang Fang memberinya dukungan namun Fang Fang sepertinya menolah berada di kubunya. “Saya sungguh tidak masalah, jangan hiraukan saya nona.” Fang Fang mempertegas lagi ucapannya.


Stevan tersenyum penuh kemenangan meskipun belum telak ia sebagai pemenang.


“Fang Fang  nggak bisa nyetir, jadi aku tetap bawa mobilku dan antarin dia pulang dulu.” Seru Grace.


“Tidak perlu repot, managerku akan mengantar dia pulang dengan selamat. Biar aku saja yang bawa mobilmu, nanti aku bisa minta managerku jemput ketika kita selesai.” Jawab Stevan mantap.


Grace tak bisa lagi menolak, dukungan dari Fang Fang serta wajah penuh harapan dari Stevan membuatnya luluh. Anggap saja ini sebagai kado yang terakhir …. Gumam Grace dalam hatinya.


***


Apa yang terjadi pada Weini? Apa yang direncanakan Grace? Coba ditebak yuk, coret di kolom komentar ya ^^