
Tawa dan senyum bahagia begitu kentara dari semua orang yang berdiri dalam ruangan itu. Setelah serangkaian ritual tunangan telah selesai, akhirnya Xiao Jun dan Weini bisa menghela napas lega. Mulai saat ini mereka sudah saling terikat satu sama lain. Dua insan itu saling bertatapan kemudian tersenyum bersama, mengundang tepuk tangan yang riuh sebagai pengiring kebahagiaan nyata mereka.
“Selamat untuk pasangan baru. Zhu ni xing fu (Semoga berbahagia).” Satu persatu mengucapkan doa dan harapan mereka pada Weini dan Xiao Jun, padahal ini baru sebuah pertunangan, belum waktunya pernikahan namun mereka sudah diperlakukan layaknya pengantin baru.
Haris yang terlihat paling nampak bahagianya, tidak biasanya pula ia mengangkat cawan araknya, namun kali ini sudah berulang kali cawan itu diisi ulang. “Bersulang.” Teriak Haris yang mengajak Lau dan beberapa pengawal lainnya yang berkumpul di meja panjang. Sementara kaum ibu-ibu juga tidak mau kalah, dipimpin Liang Jia yang juga bersenda gurau dan menikmati hidangan bersama Xin Er dan anak-anaknya. Tanpa sadar mereka mengabaikan Weini dan Xiao Jun, seolah membiarkan keduanya menikmati waktu berkualitas lebih lama.
“Kita jalan-jalan keluar yuk, Hwa.” Ajak Xiao Jun yang kurang tertarik dengan suasana hiruk pikuk dalam ruangan besar ini.
Weini mengangguk, menyanggupi ajakan Xiao Jun. Mereka berjalan beriringan dan masih tampak malu-malu untuk menunjukkan kemesraan. Ekor mata Dina menangkap bayangan pasangan itu hendak keluar dari ruangan ini. Bergegas ia pun berdiri dari duduknya di sebelah Li An.
“Nona Li An, saya ijin keluar sebentar. Ada yang harus saya sampaikan pada Gong Zhu.” Ujar Dina meminta ijin pada Li An untuk mengakhiri sandiwara mereka yang sukses besar.
Li An mengangguk sambil tersenyum, “Ah... baiklah, kita sudahi juga ini. Tapi jangan kelamaan mengganggu mereka ya. Tahu sendiri kan namanya juga pasangan baru.” Ujar Li An memelankan suaranya juga.
Dina manggut-manggut, “Saya mengerti nona, tenang saja. Siap laksanakan!” Jawab Dina kemudian berjalan sambil membungkukkan badan ketika melewati para nyonya dan tuan. Setelah keluar dari pintu, barulah ia berlari kencang hendak menjadi obat nyamuk bagi pasangan baru itu.
“Gong Zhu, tuan muda tunggu.” Pekik Dina sekuat tenaga karena jaraknya cukup jauh sedangkan mereka masih terus berjalan.
Weini dan Xiao Jun mendengar suara Dina memanggil mereka, sontak mereka saling berpandangan lalu berhenti dan menoleh ke belakang. “Ada apa dengan dia?” Tanya Xiao Jun seraya menaikkan satu alisnya.
“Pasti mau jadi penyambung lidah.” Tebak Weini yang yakin karena Dina adalah penyambung komunikasi antara ia dan teman-teman di Jakarta. Setelah beberapa detik akhirnya Dina bisa sampai di tempat Weini berdiri, dengan napas tersengal dan wajah yang sedikit pucat saking cepatnya berlari.
“Non... Eh Gong Zhu, Grace mau video call sebentar bisa nggak?” Tanya Dina dengan kepayahan karena napas yang belum kembali normal.
Weini sudah bisa menebak itu dengan jitu, ia pun tak keberatan dengan menganggukkan kepalanya pelan. “Hubungkan saja kak.”
Dina girang bukan main, ia pun segera mendial nomor Grace dari ponsel yang ia genggam sejak tadi. “Tadi aku ngambil video prosesnya, trus si Grace udah nggak sabaran mau ngomong. Makanya dia desak aku buat nyari Gong Zhu dan tuan sekarang.”
“Makasih ya kak, nanti kirimin videonya ke ponselku ya.” Ujar Weini. Proses pertunangannya digelar secara tertutup dan hanya orang di kediamannya saja yang bisa melihat serta mengabadikan momen itu.
Panggilan video mereka tersambung, sontak memperlihatkan Grace dan Stevan yang duduk bersamaan, namun tiba-tiba muncul Bams yang tak mau ketinggalan.
“Terima kasih kak Bams, cepat nyusul ya.” Jawab Weini lembut, tak mempermasalahkan Bams yang masih belum terbiasa memanggil nama barunya.
Bams mengerutkan dahinya, namun suara tawa Grace dan Stevan yang nyaring menyebar kepada siapapun yang melihatnya tertawa, kecuali Bams yang menjadi bahan olokan saat ini.
“Nyusul ke mana? Ke Hongkong? Udah tahu orang jomblo malah disuruh buruan nyusul.” Gerutu Bams yang semakin terdengar menggelikan bagi yang lainnya.
Stevan merangkul Bams dari belakang, hendak prihatin namun tawanya lebih menggelegar. “Makanya buruan nyari, nggak dicari mah juga nggak bakal nemu itu jodoh. Atau aku bantu comblangin aja mau? Artis pendatang baru yang itu boleh juga tuh.” Ujar Stevan dengan kode keras yang hanya dimengerti oleh Bams dan dirinya.
Bams tampak menggeleng dengan cepat, berusaha segera membubarkan obrolan tentang dirinya. “Apa sih ah elu makin digosokin aja, udah deh mendingan fokus ke Weini aja. Bukannya ucapin selamat malah ledekin gue! Ntar gue ganti peran lu ama yang lain.” Ancam Bams sambil terkekeh.
Stevan mendelik pada pak sutradara itu, “Coba saja kalau berani, aku laporkan adikku baru tahu rasa. Jun, nih sutradara lu mau gantiin aku sama yang lain. Jangan diijinkan syuting lagi ya, kan hanya aku yang boleh meranin kamu.” Seru Stevan yang ditujukan pada Xiao Jun.
Weini dan Xiao Jun hanya tertawa mendengar celotehan lucu mereka. Tapi tidak dengan Dina, rasanya tenggorokannya sudah gatal sejak tadi ingin ikutan menyahuti Stevan. Apa daya ia kini berada di kediaman Li, Dina cukup tahu diri dan tidak ingin ikutan bercekcok ria seperti yang sering ia lakukan dengan aktor tampan itu.
“Wah, kalian sudah mulai syuting drama itu ya? Aku tidak sabaran mau melihat proses syutingnya.” Gumam Weini yang akhirnya ditanggapi oleh Grace. Sejak tadi hanya Grace lah yang serius dan siaga untuk merespon Weini.
“Iya, Hwa. Baru dua hari mulai syuting, doakan semua lancar ya. Dan... semoga kamu suka deh lihat aku yang berperan jadi kamu. Kalau ada yang kurang, jangan sungkan buat kritik ya, aku agak canggung nih bawain peran ini.” Ungkap Grace yang tampak sangat senang bisa melihat dua orang terdekatnya itu mengenakan pakaian tradisional dan terlihat serasi.
Grace memang sempat terkenang tentang perjodohan dia di masa lalu bersama Xiao Jun, kurang lebih memakai pakaian seperti itu pula. Namun bedanya, tidak ada tawa selebar dan sebahagia itu dari raut wajah Xiao Jun. Yang ada malah wajah tertekan dan nyaris tanpa senyuman. Memang benar bahwa pernikahan yang dilandasi cinta dari pasangannya adalah yang paling bahagia. Dan kekuatan cinta dari Xiao Jun kepada Weini begitupula sebaliknya, menggetarkan hati setiap orang yang mengetahui lika-liku mereka mempertahankan perasaan. Grace terhanyut dalam pikirannya, matanya berbinar namun berkaca-kaca saking harunya. Cinta yang begitu hebatnya itu dimiliki oleh sepasang insan yang sedang menatapnya dengan bahagia.
“Li Jun, Yue Hwa... aku turut berbahagia untuk kalian, semoga selamanya tidak akan terpisahkan apapun.” Ucap Grace tulus seiring tetes air mata haru yang akhirnya tak bisa ia bendung lagi.
Weini yang melihat air mata ketulusan Grace pun ikut trenyuh, “Kamu juga Grace, kita pantas hidup bahagia.”
Bams yang mendengar percakapan mengharu biru itu langsung nimbrung, “Trus aku kapan dapat jodohnya? Masa sampai ceritanya tamat, aku masih berstatus lajang?” Timpal Bams yang merusak suasana haru kembali menjadi tawa renyah.
❤️❤️❤️
Barangkali ada yang mau dijodohkan dengan Bams, silahkan. He he....