OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 264 KERASNYA HATI YANG MULAI TERGOYAHKAN



Flashback selesai, kembali pada kenyataan di hadapan Stevan.


Weini mengangguk pelan, tangannya meraih bantal sofa dan memangkunya. Ketenangan yang membuat Stevan takjub lantaran gadis itu sanggup menahan diri untuk tidak bertanya.


“Lu nggak mau tanya apa kabar dia? Kenapa dia ketemu gue? Apa yang kami omongin?” Sangat disayangkan, ternyata malah Stevan yang harus menyodorkan pertanyaan untuk dijawab kemudian.


“Ng, tolong dijawab aja kak tiga pertanyaan barusan. Aku siap mendengarkan.” Kilah Weini santai, ekspresi wajahnya malah membuat Stevan makin dongkol pada dirinya sendiri.


Stevan berdecak, namun ia tidak bisa mengulur waktu untuk bicara empat mata dengan Weini sebelum Dina keburu bangun. “Kalau dari tampilan luar, kabarnya semakin baik, makin ganteng. Kalau dari dalam, sepertinya semakin kurang baik, makin kacau perasaannya. Lu berdua sama-sama lagi saling mengacaukan.”


Weini tersenyum tipis, sindiran itu memang tepat dan terasa lucu ketika orang lain sedang memprihatinkan kondisi mereka sementara mereka masih belum ada perkembangan baik. Hubungan mereka masih jalan di tempat, tanpa ada yang bersedia sedikit berupaya keras.


“Weini, diam itu memang emas tapi nggak bisa jadi emas benaran. Sesuatu yang berlebihan dan kekurangan juga nggak baik, termasuk sikap apatis lu.” Gerutu Stevan, ia tak menyangka gadis yang dulu setengah mati


membuatnya tergila-gila, sekarang sedang dibantunya rujuk dengan tunangannya. Skenario hidup yang tidak bisa tertebak, cinta datang dan berakhir seperti apa tidak ada yang bisa meramalkannya.


“Jadi, dia nunjuk kamu jadi jubirnya ya kak? Dia mau apa kak?” Tanya Weini polos, kali ini dia lebih menghargai lawan bicaranya dengan menatap serius pada Stevan.


Stevan tersenyum girang, ia mulai berhasil merebut perhatian Weini sepenuhnya dari tontonan drama Korea. "Ya bukan gitu sih, dia nggak sama sekali bilang suruh gue ngerayu lu buat baikan ama dia. Gue cuman prihatin aja lihat betapa frustasinya dia. Gue bukan membela dia atau membenarkan sikap dia yang nyuekin lu sekian lama dan biarin lu menderita. Weini, saling membalas atas nama cinta itu nggak akan ada habisnya. Kalau lu masih cinta, lu harus buka hati dan kasih kesempatan. Yaa … Itu kalau gue sih, nggak tahu kalau elu.”


“Aku pernah mencoba berpikir baik, berusaha bertahan dengan ketidak-pastian, sampai ayah menyarankanku untuk diam dan menunggu. Tapi akhirnya, aku lebih memilih melindungi diri sendiri, untuk tidak kembali tersakiti. Apa itu berlebihan, kak?”


Trauma masa kecil, dikhianati orang yang paling dipercayai, dibuang bagai seonggok nyawa tak berharga oleh orang yang menjadikannya ada di dunia ini, semua itu tidak bisa sepenuhnya lepas membelenggu hidupnya. Hasrat yang begitu besar untuk kembali, diterima dengan sepenuh hati oleh kedua orangtuanya, tak perlulah Weini berharap lebih untuk mewarisi kekayaan mereka, cukup cinta dan pengakuan saja sudah membuat hidupnya


sempurna. Dan harapan besar itu saja belum terpenuhi, bahkan ia pun tidak sanggup lagi meratapinya. Apalagi dengan cinta yang baru dientaskan ini? Dalam benak Weini, belum apa-apa saja kehadirannya sudah tidak diakui, bagaimana kelak menjalani pernikahan tanpa restu orangtua sang pria? Maka, apa berlebihan jika ia berusaha lebih keras untuk melindungi diri sendiri agar tidak mudah tersakiti?


“Lu ngomong seakan udah sering disakiti, gue nggak tahu juga pengalaman hidup lu sepahit apa, yang jelas selagi lu masih nyimpan cinta, balas dendam itu bukan jalan keluar.” Uajr Stevan tegas. Ia melirik Dina yang tampak tertidur pulas, kebetulan yang sangat pas dan ia berharap tidur gadis itu masih lama hingga sesi curhat ini selesai.


“Gadis itu tinggal bersama dia ….” Ujar Weini lirih, harus ia akui masalah itu yang mengganjalnya. Ia cemburu hanya dengan memikirkan prianya berada satu tempat dengan gadis lain, setiap kali pikiran itu muncul, semakin ilfeel ia membalas pesan Xiao Jun.


“Itu pertanyaan atau pernyataan? Dia nggak bakal sebodoh itu membiarkan dirinya terjebak oleh orang yang tidak dicintainya.” Seru Stevan, meskipun ia pun tidak tahu apakah Xiao Jun seatap dengan Grace atau hidup terpisah.


Weini tersenyum mendengar jawaban itu, api cemburu yang berkobar di hatinya sedikit terpadamkan. Haruskah ia menuruti saran Stevan? Kini ia mulai berpikir ulang, mungkin memang benar bahwa dirinya yang terlalu keras dalam hubungan ini.


Dina mengentakkan kakinya di atas sofa, ia menggeliat sembari mengucek kedua mata. Weini dan Stevan mendadak tegang melihat manager itu terbangun, “Ng, kenapa kalian? Ngomongin aku ya?” Tuding Dina. Ia beranjak dari rebahan tanpa berkedip menatap kedua sahabatnya yang mukanya seperti maling ketangkap basah.


Dina menyipitkan mata, ia ragu dengan alibi Weini. Ketika ia ingin berucap lagi, bunyi ponsenya lebih cepat menyita perhatian. Stevan memonyongkan bibir sebagai kode agar Dina lebih baik segera mengangkat ponselnya ketimbang kepo terhadap mereka.


Sebuah panggilan yang seperti kado manis bagi Dina, ia melonjak kegirangan dari sofa kemudian berlari menuju kamar untuk mencari ketenangan. “Yes!” Pekik Dina.


Weini ikut tersenyum, ia mencoba menebak panggilan dari siapa yang bisa membuat Dina sebahagia itu. “Apa dia punya gebetan?”


Stevan mengangkat bahu, “Masa sih? Dia mainnya kurang jauh, siapa yang bisa digebetnya?” Stevan dan Weini malah saling berpandangan, tak lama kemudian tawa mereka melebur. Secara tidak langsung mereka diselamatkan dari kekepoan Dina berkat panggilan itu.


Dina mengatur napasnya dengan baik sebelum mengucapkan salam pembuka, ia tak boleh terdengar seperti orang yang baru bangun tidur – padahal memang begitu – agar tidak mengurangi citra dirinya.


“Halo, pak Asman.” Seru Dina dengan suara lembut.


“Ya, saya mengerti. Terima kasih banyak pak, besok kami pasti hadir tepat waktu.” Dina menahan tawa girang, ia mengigit jari telunjuknya saking gemas. Setelah dipastikan percakapan itu berakhir sempurna, teriakannya langsung meledak saat itu juga.


“Iyesss!”


Weini dan Stevan mendongak ke arah kamar, suara Dina yang terbahak itu begitu dasyat dan menggelegar seperti berteriak dengan toa. Tubuh manager itu muncul di balik pintu, dengan langkah yang separuh terkontaminasi


loncatan. Ia dengan sergap melompat ke atas sofa, membelah kebersamaan Weini dan Stevan yang tercengang menatapnya.


“Kesambet apa lu?” Komen Stevan sedikit pedas.


Dina mengabaikannya, ia justru meraih kedua tangan Weini dan menggenggamnya erat. “Non, selamat ya! Akhinya nggak nganggur lagi non. Barusan itu produser film yang telpon, besok kalian berdua dijadwalkan ke kantornya buat reading naskah.”


Stevan tersenyum girang, kali ini ia setuju jika Dina begitu over bahagia. Kesempatan layar lebar ini adalah momen yang paling ditunggu, dan ini peluang emas bagi Weini untuk comeback dengan sukses.


“Syukurlah. Kakak nggak perlu repot cariin aku job lagi.” Ujar Weini seraya tertawa kecil, ia dengan polosnya bahagia bisa melihat Dina kembali bekerja, tidak mengikuti jejaknya yang santai dan tenang nganggur di rumah.


“Berarti peran pendukung wanitanya udah nemu yang cocok dong. Sumpah, itu produser perfeksionis banget buat film ini. Castingnya udah berapa bulan hanya buat nyari peran pendukung yang klop sama dia. Weini, lu harus maksimalkan acting lu! Nggak lucu kan kalau peran utamanya ketutup pamor gara-gara peran pendukung yang lebih mencolok.”


Weini mengangkat bahu, “Entahlah, let it flow aja kak.”


***