
Grace memandangi Stevan yang tampak sibuk dengan ponselnya. Dari tampang pria itu bisa ditebak bahwa usahanya menghubungi Weini sia-sia. Grace menghela napas, terlebih melihat Stevan masih berupaya meskipun
tahu tidak ada hasilnya.
“Sudahlah, mungkin dia sudah dalam perjalanan.” Lirih Grace yang tidak tega melihat Stevan kesulitan. Pria itu sampai menggaruk keningnya saking frustasinya.
Stevan menuruti Grace, ia memasukkan lagi ponselnya dalam saku celana. Raut wajahnya penuh penyesalan, “Sorry, gue nggak berguna buat lu.”
Grace tersenyum tipis, tak mengira bahwa Weini benar. Pria yang terlihat cool itu bisa menjadi bodoh ketika jatuh cinta. “Sudahlah, biarkan saja. Jangan ngomong kayak gitu lagi.” Pinta Grace.
Fang Fang mencoba menyuapi bubur pada Grace namun masih ditolak dengan alasan yang sama, belum selera makan. Stevan pun tak bisa memaksakan gadis itu, yang terpenting saat ini adalah mengembalikan semangat
Grace.
Kalau memang tidak bisa dicegah, yang terjadi … terjadilah. Gumam Grace dalam hati, memikirkan nasib Weini yang mungkin tidak mempercayainya.
Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka, menampilkan sosok Xiao Jun yang masuk dengan paras menawan dan terlihat tenang. Bola mata Grace membesar mendapati tamu tak terduga yang membesuknya. Sstevan dan Fang Fang pun turut terheran melihat kedatangan Xiao Jun.
“Tuh, dia udah pulang berarti Weini nggak jadi pergi. Lu bisa tenang sekarang.” Ujar Stevan dengan polosnya. Ia merasa tertolong dengan kehadiran Xiao Jun yang sekaligus menjawab rasa penasaran Grace tentang keberadaan Weini.
Xiao Jun mengernyitkan dahi, belum mengerti maksud pembicaraan Stevan. Untungnya aktor tampan itu menyadari kecurigaan Xiao Jun kemudian langsung menjelaskan. “Itu … Grace hanya mau pastiin Weini di mana sekarang.”
Grace membuang muka, ia tak punya tenaga meladeni Stevan yang dengan suka rela membuka aibnya pada Xiao Jun. Sementara Xiao Jun yang kini sadar ranah pembicaraan mereka pun tersenyum tipis. Ia menatap Grace penuh
perhatian, dan sempat membuat Stevan kesal karena pujaan hatinya dilirik seteduh itu.
“Bro, bisa tinggalkan kami berdua sebentar? Ada yang mau aku bahas dengan Grace.” Pinta Xiao Jun yang kini tatapan teduhnya beralih pada Stevan.
Stevan mengangkat satu alis, dan sedikit merasa tersinggung. Rahasia apa yang hendak mereka bahas sehingga harus menyingkirkannya sejenak. “Lu nggak bisa ngomong langsung aja sekarang? Gue cuman cemas kalau berdua sama lu, Grace malah terganggu. Dia belum pulih betul.” Ujar Stevan menyatakan keberatannya.
Grace mengarahkan tatapan pada Xiao Jun, ia pun heran hal apa yang hendak Xiao Jun bahas dengannya karena tidak biasanya pria itu punya permohonan padanya. “Stev, plis … Kami memang perlu bicara. Fang Fang, kalian tunggulah di luar sebentar.” Pinta Grace yang akhirnya tidak terbantahkan oleh kedua orang yang ditunjuknya.
Suasana masih hening sekalipun dalam ruangan itu tinggal mereka berdua, Xiao Jun masih bergeming dan berjalan mendekati bangsal Grace. Ia menarik kursi yang tadi diduduki Stevan lalu duduk di sana. Grace tak bersedia menatapnya, ia lebih memilih menatap lurus ke depan demi menghindari mata Xiao Jun.
“Maaf, aku tahu ini pasti berat sampai kamu mengambil jalan ini.” Ucap Xiao Jun lirih.
Grace masih menatap lurus dan kosong, seolah tak mendengar apa yang diucapkan pria di sampingnya.
Sayangnya Grace terpancing dengan perkataan Xiao Jun, terutama tentang kekacauan di Beijing. “Apa yang terjadi di sana? Dia sungguh berbuat ulah?” Tanya Grace, kali ini ia sudi menatap lawan bicaranya dan berharap segera mendapatkan jawaban.
Xiao Jun mengangguk pelan, “Ada mata mata, dugaanku itu pasti kiriman kakakmu. Apa aku salah?” Tanya Xiao Jun lembut.
Grace menunduk, terlihat ia menarik napas berat lalu menghembuskannya. “Sebenarnya siapa Weini? Kenapa mereka sangat terobsesi menghabisinya? Awalnya aku kira mereka tulus membantuku mendapatkanmu, namun
makin ke sini … Pikiran mereka makin tak masuk akal. Jika Weini hanya gadis biasa, mereka tidak mungkin mengincarnya. Jadi sebelum kamu meminta keteranganku lebih lanjut, jawab dulu pertanyaanku!” Tegas Grace, karena ia pun sudah letih berspekulasi memikirkan keistimewaan Weini.
Gantian Xiao Jun yang kebingungan, ia menundukkan kepala kemudian menarik napas berat, persis yang barusan Grace lakukan. Ayah, aku bersedia dihukum karena ingkar janji. Tapi ini darurat, dan aku yakin Grace bisa dipercaya. Batin Xiao Jun yang merasa bersalah pada ayahnya.
“Kamu benar, Weini bukan gadis biasa dan mereka juga menyadari itu.” Ujar Xiao Jun kemudian terjeda sejenak karena yang akan disampaikan selanjutnya terasa berat diucapkan.
Grace memincingkan mata, ia tak sabar menunggu kelanjutannya. “Jadi dia siapa?” Tegasnya sekali lagi.
“Weini adalah putri kelima tuan Li, dia nona Li Yue Hwa, sepupumu.” Jawab Xiao Jun tak kalah tegas.
Grace tersentak kaget, luar biasa terpukul hatinya mendengar pernyataan Xiao Jun, sampai terasa sulit untuk dipercaya. “Mustahil … Bukankah dia sudah lama meninggal? A … Aku memang nggak kenal dia, tapi ayahku
bilang dia sudah ….” Grace tak mengira ia bakal menitikkan air mata, segera disekanya tetes bening itu dengan kedua tangannya. Jika benar yang disampaikan Xiao Jun, bisa ia mengerti sedikit kesulitan Weini bertahan hidup hingga tumbuh sebesar ini.
Xiao Jun mengangguk pelan dan senyumnya sangat getir. “Jika itu mustahil, untuk apa ayah dan kakakmu begitu antusias mengincarnya? Dan sekarang akupun perlu tahu darimu, kenapa mereka seperti itu? Apa ada konspirasi di balik itu yang kamu tahu?” Selidik Xiao Jun.
Grace mengabaikan perkataan Xiao Jun, ia masih terguncang dengan kenyataan itu. “Bodohnya aku tidak menyadari lebih awal. Aku sempat membenci sepupuku gara gara kamu!” Grace melirik tajam pada Xiao Jun, matanya masih berkaca-kaca. Tak lama kemudian tangisnya pecah lalu ia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
Xiao Jun hanya pasrah mengikuti kehendak gadis itu, perasaan kaum hawa memang terlalu halus dan mudah terbawa perasaan. Tetapi setidaknya Xiao Jun sungguh yakin bahwa Grace berbeda dengan keluarganya yang lain. Gadis itu masih menyisakan kebeningan hati untuk mengasihi, pengorbanannya yang terucapkanpun cukup besar. Salah satunya mundur dari persaingan cinta demi melihat kebahagiaan dia dan Weini.
“Oh tidak, berarti paman dan bibi sudah tahu tentang dia?” Grace menyudahi tangisnya, pikiran lain terbayang dalam benaknya seketika.
“Kecuali tuan Li, kalau dia sudah tahu sejak dulu hanya ada dua kemungkinan, Weini kembali diburu atau Weini diminta pulang. Nyatanya ia tetap di sini, menjalani kehidupannya sebagai orang lain. Dan aku minta padamu, tolong jangan beberkan pada Weini. Dia belum tahu bahwa kami tahu tentang identitasnya. Kumohon, jaga rahasia ini demi kebaikannya.” Pinta Xiao Jun bersungguh-sungguh.
Grace mengerutkan dahi, “Mengapa harus merahasiakan demi kebaikan? Yang namanya kebohongan itu menyakitkan, apa kau tidak takut dia membencimu ketika tahu selama ini kau membohonginya?”
Xiao Jun terdiam memikirkan perkataan Grace yang masuk akal. Sejenak ia berpikir, haruskan ia berterus terang pada Weini? Atau tetap menuruti alur yang dirancang Haris?
***