OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 345 PENYUSUP DI TEMPAT TERAMAN



“Pengawal Lau, mengapa sampai separah ini kondisimu?” Isak Liang Jia yang bergegas menghampiri dan membantu pria itu duduk.


Lau tidak menjawab sepatah katapun, dengan tangan yang terborgol di belakang jelas menyulitkan geraknya. Namun ia tak pupus semangat untuk mengisyaratkan sesuatu pada Liang Jia. Kepalanya mengangguk berkali kali


dengan kedipan mata serta ekspresi wajah yang membingungkan Liang Jia. Dengan susah payah Lau berdiri tergopoh mencari sesuatu di kamar Liang Jia.


“Apa yang kau cari? Kenapa tidak menjawabku? Apa kau dipukul sampai tidak bisa bicara?” Liang Jia makin panik dengan pikiran negatifnya.


Lau menatap serius pada nyonya besarnya kemudian menggelengkan kepala, matanya kembali sibuk mencari sesuatu hingga berhasil mendapatkan apa yang dia inginkan di atas meja dekat ranjang. Lau menarik selembar kertas dari buku lalu menuliskan pesan di atas kertas putih polos itu. Liang Jia mengernyit bingung, apa yang hendak Lau lakukan.


Jangan bicara, dia membawaku ke sini untuk memancingmu bicara, nyonya.


Lau menunjukkan tulisannya pada Liang Jia, sontak nyonya itu terkesiap saking kagetnya. Lau kembali menuliskan sesuatu, Liang Jia pun semakin mendekatkan diri agar mempermudah kerja pengawal itu.


Dia bisa mendengar percakapan kita, jadi kita bicara lewat tulisan saja. Setelah ini bakar semua kertasnya, nyonya.


Liang Jia mengangguk paham dengan maksud tulisan Lau. Ia menatap serius pada Lau kemudian meminta kertas dan pulpen dari tangan Lau. Nyonya besar itupun menorehkan tinta sebagai balasan untuk Lau.


Kenapa kau pulang mendadak? Apa Jun sudah tahu apa yang terjadi?


Liang Jia menyodorkan kertas pada Lau, terlihat pengawal itu menulis jawabannya.


Ya, tuan muda mengutus saya kembali menyelidiki. Nyonya berhati-hatilah, jangan pancing kemarahannya. Lebih baik diam sampai tuan muda datang. Tuan besar masih hidup, nyonya bertahanlah untuk tidak emosi.


Informasi yang disampaikan Lau sangat berharga, setelah membaca pesan itu senyuman Liang Jia kembali merekah lalu ia mengangguk senang. Lau kembali menuliskan sesuatu karena waktunya sangat singkat dan sewaktu-waktu


pengawal Chen Kho bisa masuk menjemputnya.


Mulai sekarang nyonya lebih baik komunikasi yang penting dengan tulisan, dia bisa mendengarmu tapi tidak bisa melihat ke dalam. Perhatikan makananmu, mungkin dia akan memasukkan sesuatu untuk meracunimu.


Lau meyodorkan kertas pada Liang Jia, kemudian wanita itu mengangguk paham. Ia menuliskan balasan untuk Lau.


Apa kau tidak apa-apa Lau? Apa mereka akan menyekapmu juga?


Lau menggeleng, kemudian kembali menulis.


Jangan kuatirkan saya, saya bisa mengatasi masalah ini nyonya. Sebaiknya nyonya sekarang bicara, jangan sampai ia menaruh curiga.


Chen Kho yang berada di aula utama memasang telinga dengan baik, tawanya pun pecah saat mendengar Liang Jia dan Lau yang sepertinya masuk dalam jebakannya. Kedua orang di dalam kamar itu saling meratapi nasib


dan mengira Li San sungguh mati.


“Dasar manusia dungu, segalanya masih dalam kendaliku.” Tawa Chen Kho bahagia. Suasana hatinya yang bagus itu sangat mendukung untuk bertindak semena-mena pada pelayan wanita yang diseret untuk menerima hukuman. Pelayan tak berdaya itu menangis meronta dan ditinggalkan berduaan dengan Chen Kho dalam aula.


***


Haris masih melakukan percakapan video dengan Xin Er. Setelah pulang dari Beijing ia baru sempat memberi kabar pada istrinya. Untung saja Xin Er masih diberi kebebasan untuk tidak kembali ke kediaman Li, meskipun wanita itu merasa beban dengan kenyamanan hidup yang ia rasakan sekarang bersama anak-anaknya.


“Aku terpaksa berdebat dengan nona Yue Hwa, dia tetap keras kepala akan pulang dalam kondisi membahayakan.” Keluh Haris yang memang perlu teman bicara untuk menenangkannya.


“Apa tidak sebaiknya nona pulang saja? Suamiku, aku tak pernah membantahmu, tapi kali ini aku rasa nona Yue Hwa benar. Sebaiknya kalian pulang jika memang tuan dan nyonya besar sedang bermasalah saat ini.” Ujar Xin Er penuh hati hati, baru pertama kali ia mencampuri urusan suaminya. Selama ini ia hanya jadi pendengar dan selalu mendukung apapun yang Haris lakukan, termasuk pergi meninggalkannya demi menyelamatkan Weini.


Haris menghela napas berat lalu mengalihkan pembicaraan. “Kita bahas yang lain saja, aku tidak mau merusak suasana hati kita dengan masalah ini. Bagaimana kesehatanmu? Apa Li An sudah membawamu ke dokter?” Tanya Haris perhatian.


Xin Er tersenyum sambil mengangguk, “Tadi siang dokter keluarganya memeriksaku. Aku baik-baik saja, kamu yang harus jaga kesehatanmu. Bagaimanapun tulang kita sudah mulai lapuk.” Canda Xin Er.


Haris tertawa mendengarnya, perbincangan yang begitu hangat meskipun harus berpuas diri dengan cara terbatas seperti ini. “Sudah malam, kau istirahatlah lebih awal dan jangan banyak pikiran, kecuali merindukanku.” Gumam Haris lembut.


“Kamu juga, aku masih menunggu janjimu. Sudah saatnya keluarga kita berkumpul lagi, kita berpisah sudah cukup lama.” Jawab Xin Er sebelum telpon mereka benar-benar berakhir.


Li An yang sedari tadi duduk di samping ibunya hanya senyam senyum menggoda. “Kemesraan ayah dan ibu memang sepanjang masa, tak kalah sama pasangan muda. Apa sih rahasianya, ibu? Aku juga mau menuruni


jejakmu.”


Xin Er tersenyum geli sambil melihat wajah sumingrah putrinya. “Pengantin baru ini kenapa lebih banyak menghabiskan waktu bersama ibu? Sana temani suamimu, itu salah satu kunci kemesraan sepanjang masa.”


Li An manyun seketika, “Aku tidak mau ibu kesepian, kak Li Mei masih menidurkan bayinya. Wen Ting juga mungkin masih mengurus kerjaannya, jadi tidak ada salahnya kan aku menemani ibuku.” Ujar Li An manja sambil memeluk erat Xin Er.


Xin Er tak bisa menjawab lagi, hanya senyuman dan mengelus kepala Li An dengan lembut.


“Ibu, minum obatmu dulu. Oh iya, obatnya diminum sebelum makan jadi aku siapkan cemilan sebagai pengganjal perut. Silahkan dicicipi, ibu.” Li An melepas pelukan ibunya lalu mendekatkan nampan berisi beberapa cake dan air hangat yang tertunda gara-gara tak ingin mengganggu waktu ibu dan ayahnya berbicara.


Xin Er tersenyum kemudian mengangguk, “Kamu memang perhatian, nak. Terima kasih.” Xin Er lebih memilih minuman lantaran cukup haus usai bicara cukup lama di telpon.


“Sama anak sendiri jangan pakai bahasa formal, ibu.” Ujar Li An sambil memerhatikan ibunya minum.


Xin Er mengambil sepotong cheese cake yang disuguhkan putrinya. Dari suapan pertama ia terlihat menyukainya sambil mengacungkan jempol pada Li An sebagai komentar tentang rasa kue itu. Li An tersenyum puas, ia sengaja menyempatkan diri untuk membuat kue itu sepenuh hati untuk ibunya.


“Enak kan kuenya, Ibu? Aku yang membuatnya … Ibu?” Pekik Li An terkejut. Suara yang awalnya lembut langsung meninggi saking terkejut melihat ibunya terbatuk.


Xin Er merasakan gatal yang tak tertahankan di tenggorokannya saat menelan kue itu. Ia tak sanggup menelan suapan kedua dan langsung terbatuk hingga memuntahkannya. Betapa terkejutnya Li An hingga menjerit saat mendapati muntahan Xin Er yang terkontaminasi darah. Xin Er merasakan sesuatu menjalari tenggorokannya lalu tanpa bisa ia tahan, ia kembali memuntahkan darah segar.


“Ibuuu!” Pekik Li An shock melihat tubuh Xin Er lunglai tak sadarkan diri.


***