
Wen Ting menghampiri Xiao Jun yang duduk termenung menatapi kolam ikan. Perbincangan hangat dalam sesi kumpul keluarga sudah berakhir, namun tidak dengan kegalauan Xiao Jun. Dari sekian banyak masalah yang sudah terlewati, tidak disangka ia akan dibuat pusing dengan masalah yang satu ini – lamaran. Saking seriusnya berpikir sampai ia tidak sadar kalau Wen Ting sudah berdiri di belakangnya.
“Jangan dipikirin sendiri kalau memang tidak sanggup.” Ujar Wen Ting sembari menepuk pundak Xiao Jun, mengejutkannya.
“Kakak ipar, sejak kapan di sini?” Tanya Xiao Jun yang kaget lantaran ia tidak sendiri di sini.
Wen Ting ikut duduk di sebelah Xiao Jun, tangannya meraih tempat makan ikan kemudian melempar segenggam makanan kering itu ke dalam kolam. “Sejak kamu memikirkan cara melamar gadis itu. Ah... entahlah, siapa juga yang lihatin waktu saat mengintip orang melamun.” Jawab Wen Ting terkekeh.
Xiao Jun tersenyum tipis, lucu rasanya membiarkan orang lain menertawakan kebohodannya. Ia terlihat bodoh hanya karena tak bisa membayangkan ide romantis untuk meminta seorang gadis menjadi istrinya.
“Jun, seperti yang pernah aku katakan, aku siap membantumu dalam urusan ini. Kamu memang kaku, wajar kalau tidak punya ide brilian seperti aku.” Ungkap Wen Ting membanggakan dirinya. Wajar saja ia merasa bangga, dulu ia bisa memberikan lamaran romantis pada Li An yang tidak terlupakan oleh istrinya.
“Terima kasih kak, aku masih ingat tawaran itu. Tapi Yue Hwa berbeda, dia bukan kak Li An yang mudah luluh karena dirayu.” Gumam Xiao Jun polos.
Wen Ting mengangkat satu alisnya, “Hmmm... begitu ya? Aku baru tahu kalau Li An mudah dirayu. “ Celetuknya asal, padahal ia kenal betul sifat Li An yang memang sangat mudah diraih simpatinya.
“Tapi menurutku semua wanita itu kurang lebih sama, tidak ada yang menolak kalau diberikan kejutan. Apalagi kalau lamaran yang manis dan berkesan, sekuat apapun wanita itu pasti akan luluh terharu.” Timpal Wen Ting lagi.
Xiao Jun memikirkan kata-kata Wen Ting, cukup masuk akal jika diingat-ingat saat ia melamar Weini untuk menjadi tunangannya. “Ah, aku kan sudah pernah melamarnya, dia bahkan sudah memakai cincin dari ibu. Kenapa aku bisa lupa?” Geram Xiao Jun pada dirinya yang tidak becus.
Wen Ting tertawa melihat Xiao Jun memukul jidatnya sekali karena merutuki diri sendiri. “Kalau begitu kamu tinggal memintanya menjadi istrimu, bukankah sudah lamaran sebelumnya?”
Xiao Jun menggeleng lemah, “Itu berbeda kak, waktu itu aku belum tahu kalau dia nona klan Li. Aku memintanya pada ayahku sendiri, dan sekarang aku harus melamarnya di hadapan ibu kandungnya. Mana ku tahu kalau ayahnya ternyata ayahku!” Geram Xiao Jun lagi-lagi ia merasa gemas teringat masa lalu.
“Ha ha ha... kenapa baru protes sekarang? Harusnya tadi saat di depan ayah, kau protes seperti itu.” Goda Wen Ting dengan tawa lebarnya.
Suara tawa Wen Ting terdengar mengusik pikiran Xiao Jun, tapi ia tidak memungkiri bahwa yang dikatakan Wen Ting memang masuk akal. “Kak, berurusan dengan gadis yang lebih unggul dariku itu dilema bagiku. Dia punya segalanya, aku hampir tak menemukan cara untuk memberi kesan terbaik untuk melamarnya.” Akhirnya Xiao Jun mengeluarkan uneg-unegnya.
Wen Ting terdiam, ia mulai masuk ke ranah pembicaraan serius. “Jun, sesempurnanya seorang gadis, dia tetap ingin dilindungi seorang pria. Sekuat apapun dia, ada sisi lemah yang ingin ia tunjukkan agar tetap mendapat perhatian. Itulah yang namanya wanita, apalagi Yue Hwa... dia pasti tahu posisinya. Sekalipun dia penguasa, dia tetap tahu kapan harus patuh pada suaminya. Kamu tak perlu memikirkan sesuatu yang mewah untuk menggugah hatinya, jika semua kemewahan sudah ia miliki, cari saja cara yang lebih sederhana yang mengena di hatinya.”
Wen Ting menepuk pundak Xiao Jun setelah ia menyampaikan sarannya. Ia yakin pria secerdas Xiao Jun mampu memecahkan teka-teki darinya. wajah Xiao Jun pun tidak sesuram sebelumnya, ia mulai bisa tersenyum membalas kebaikan Wen Ting padanya.
Kesederhanaan ya? Hmm.... Gumam Xiao Jun dalam hatinya. Sekelebat ingatan tentang Weini langsung bermunculan dari satu kata itu.
Wen Ting pergi meninggalkan Xiao Jun yang mulai menemukan titik temu kerumitan masalahnya. Sebuah kata yang tidak terpikir sebelumnya oleh Xiao Jun, jika bukan karena masukan Wen Ting, mungkin ia akan melupakan proses yang berharga dalam perjalanan cintanya bersama Weini.
Sederhana... itulah satu kata yang mewakili dirimu pada saat pertama mengenalmu. Kamu yang muncul di hadapanku dengan seragam putih abu abu, berusaha memanggilku namun kuabaikan saat itu. Kamu yang memilii hati yang sederhana, polos dan jujur, menunggu aku menghubungimu, menjaga apa yang ku miliki dan mengembalikan padaku. Kamu yang menolakku habis-habisan, enggan menerima imbalan dan berkeras hati menolak hingga membuatku penasaran dengan sikap keras kepalamu. Kita tidak memulai segalanya dengan perkenalan yang mulus, tapi kamu... dengan kesederhanaanmu kala itulah yang berhasil masuk dalam hatiku. Kamu tidak terkesima diperlakukan dengan segala kemewahan dariku, tapi hanya dengan hiasan bunga dan kembang api yang tak seberapa artinya bagiku, kamu bisa luluh dan terharu. Sesederhana itulah hati, Weini... maaf, aku baru menyadari bahwa kamu tidak serumit yang aku pikirkan. Membahagiakanmu tidak perlu dengan cara yang rumit....
***
“Ibu, mulai sekarang aku akan tinggal bersama ibu di paviliun ini. Jika ibu tidak keberatan, aku ingin tidur sekamar dengan ibu.” Pinta Weini yang datang mengunjungi ibunya di kediaman pribadi Liang Jia.
Liang Jia tersenyum lalu melebarkan tangannya untuk menyambut Weini dalam pelukannya. Permintaan Weini yang sangat membahagiakan bagi Liang Jia, ibu mana yang akan menolak perhatian anaknya, terlebih anak yang sudah lama ia rindukan memintanya tinggal bersama.
“Tentu saja putriku, ibu sangat senang mendengarnya. Impian ibu tercapai sudah, ingin tinggal bersamamu, menyanyikanmu lagu pengantar tidur agar tidurmu nyenyak.” Gumam Liang Jia yang tersenyum membayangkan impiannya.
Liang Jia ikut tertawa, “Benar juga, kamu gadis kecilku yang sudah beranjak dewasa. Ah... ibu bahagia melihatmu sekarang, kebahagiaan ibu akan bertambah lengkap jika sudah melihatmu menikah. Kamu dan Jun harus hidup bahagia ya, nak.” Gumam Liang Jia seraya mengelus wajah Weini.
Pembahasan Liang Jia membuat wajah Weini bersemu merah, ia menunduk menyembunyikan gurat malunya. “Ibu... kok malah bahas soal itu.” Gumam Weini malu-malu.
Liang Jia tersenyum, ia merangkul Weini menuju tempat duduk. Lebih nyaman berbincang sambil duduk ketimbang berdiri di dekat pintu. “Cepat atau lambat, kamu dan kakak-kakakmu pasti menjalani masa itu. Hwa, ibu hanya berpesan padamu satu hal, setinggi apapun posisimu, ingatnya ketika di rumah, suamimu lah pemimpin keluarga. Hargai diri dengan segala kekurangannya, sekalipun mereka berbuat salah, bersabarlah... klan Li tidak menginginkan perceraian, itulah mengapa ibu sanggup bertahan di masa sulit, ketika ayahmu khilaf.”
Weini mengangguk paham, “Aku mengerti ibu, aku akan mencontoh kesabaran ibu. Doakan kebahagiaan Hwa ya, bu.” Gumam Weini, ia memeluk Liang Jia sembari memejamkan matanya.
“Selalu, nak.” Jawab Liang Jia mengelus lembut punggung Weini.
“Bu, apa ibu masih tetap mau tinggal di sini? Bagaimana kalau pindah ke paviliun utama?” Weini mencoba membujuk ibunya, bagaimanapun kamar ini menyimpan kenangan menyakitkan. Di tempat inilah Li San menghembuskan napas terakhirnya.
Liang Jia menggeleng pelan, “Tidak, di sini banyak kenangan bagi ibu. Semasa muda bahkan hingga setua ini, kamar inilah yang menjadi saksi ibu. Banyak kenangan yang tertinggal di sini, termasuk tentang ayahmu. Biarlah ibu di sini dan merasakan seolah ayahmu masih ada di dekat kita.” Lirih Liang Jia sedih mengenang Li San.
Weini tak bisa memaksa lagi, selama Liang jia masih nyaman, ia akan membiarkan ibunya melakukan apapun yang disenanginya. “Baiklah, ibu. Aku akan ikut ke manapun ibu tinggal.”
Liang Jia menggeleng, “Keliru, Hwa. Ibu yang akan ikut ke manapun kamu tinggal. Ada bagusnya juga kamu tinggal di sini, kelak kalau Jun sudah melamarmu dan kalian menikah, ibu tidak bisa menculikmu tidur di sini lagi.” Gumam Liang Jia menggoda putrinya.
Weini mengulum senyumnya, ia malu jika digoda soal itu. “Ibu... apaan sih....”
Malam itu, ibu dan anak itu menghabiskan waktu dengan bertukar cerita. Apapun yang telah mereka lalui tanpa bersama, dan bertekad mulai sekarang tidak akan terpisahkan.
❤️❤️❤️
"Maaf tuan, saya tahu ini sudah larut malam tapi saya masih meminta waktu anda." Lau membungkukkan tubuhnya saat bicara pada Xiao Jun. Ia merasa sikap lancangnya yang mengganggu jam tidur tuannya tapi tak ada pilihan lain, ia harus menyampaikan malam ini juga.
Xiao Jun menyambut Lau masuk ke kamarnya, mempersilahkan pria tua itu duduk dan bicara lebih santai. "Tidak masalah, paman. Ada hal penting apa yang ingin paman bahas?"
"Tuan, tim profesional perusahaan anda di Jakarta melaporkan ada klien penting yang harus anda temui untuk membahas kesepakatan kerjasama. Ini klien besar dari Eropa yang anda incar sejak dulu. Saya rasa sebaiknya...." Lau segan menyuruh Xiao Jun kembali ke Indonesia, di saat Weini dan keluarganya berada di sini, tapi apa boleh buat rasanya tidak ada pilihan lain jika Xiao Jun memang masih menginginkan kerjasama ini.
Xiao Jun paham maksud Lau yang tidak disampaikan itu. Ia tersenyum getir, tanggung jawabnya dalam hal pekerjaan memang tidak bisa ditepis kan, meskipun Lau bisa diandalkan namun bukan berarti Xiao Jun bisa melepaskan semua beban pada pengawal setianya. Berat rasa hati Xiao Jun untuk meninggalkan tempat ini lagi, ketika ada orang-orang tercinta yang pasti mengharapkan kehadirannya. Weini dan kedua orangtuanya adalah prioritas utama Xiao Jun, tapi mungkin belum saatnya mereka hidup bersama.
"Baiklah paman, aku pasti hadir dalam pertemuan itu. Kapan rencananya kita berangkat?" Tanya Xiao Jun setelah diam beberapa saat untuk berpikir.
Lau mengangguk pelan, ia tahu tuannya pasti bisa mengambil keputusan yang tepat meskipun ia tidak mempengaruhinya.
"Besok, tuan. Kita akan ke Jakarta besok."
Pernyataan yang disampaikan Lau barusan sukses mengejutkan Xiao Jun. Walaupun sadar akan segera kembali ke Jakarta tapi Xiao Jun tidak menyangka secepat itu. Besok para kakaknya akan pulang, dan ia pun harus pergi besok? Meninggalkan ayah, ibu dan kekasihnya di sini.
"Besok?" Desis Xiao Jun shock, ia tak bisa berkata apa-apa lagi selain menelan kegetirannya sendiri.
❤️❤️❤️