OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 54 BAGAIMANA MENGAKUI PERASAANKU?



Setiap sela syuting Weini tak pernah lepas mengecek ponselnya. Setiap kali ia menatap smart phone itu, wajahnya seketika terlihat sedih. Reaksi tak biasa itupun mengundang rasa cemas dari Stevan, ia tak mengerti mengapa mood Weini cukup jelek hari ini. Saat beradu peran bersamapun, jiwa Weini terasa kosong.


“Hei, minum dulu.” Stevan menyodorkan segelas air mineral dingin yang langsung disambut oleh Weini.


“Thanks.”


Stevan menarik kursi plastik dan mendekatkannya pada kursi Weini. “Tahu nggak kenapa kelinci mukanya imut?”


Weini menggeleng, selain tidak tertarik ia juga berharap Stevan berhenti mengganggunya. Saat ini ia butuh ketenangan.


“Soalnya kelinci selalu tersenyum hahahaha” Stevan tertawa terpingkal padahal guyonannya garing. Ia berhenti tertawa konyol saat mendapati Weini tak terpancing untuk menyunggingkan senyum.


“Huft… lu kenapa sih? Coba cerita, siapa tahu gue bisa bantu.” Stevan menawarkan diri sebagai tempat curhat.


“Aku nggak apa apa kak, agak capek aja antara syuting striping sama sekolah. Bentar lagi kan UN.” Weini cekatan juga mencari alasan yang terdengar masuk akal.


“Oh… lu harus jaga kesehatan ya.” Stevan pura-pura percaya, padahal ia yakin Weini sedang mengelabuinya. Gadis itu memang belum terbuka kepadanya, tapi nanti siapa tahu ketika Stevan menolongnya, maka ia bisa membuka hati.


Dina celingukan mencari Weini, setengah jam lalu ia meninggalkan lokasi untuk membeli makanan. Sekembalinya, ia tak mendapati Weini di ruang make up maupun ruang pribadinya. Dina mulai bertanya pada kru yang berpapasan dengannya. Menurut informasi salah satu dari kru, Weini tengah mojok dengan Stevan di area set lokasi Syuting. Ia segera menyusul sebelum waktu istirahat berakhir.


Pemandangan di hadapan Dina terasa menusuk penglihatan. Anak kecil polos saja pasti tahu Stevan sedang berusaha keras pedekate dengan Weini. Sementara Weini tampak tidak berminat dengan pria itu. Sentimental Dina berdesir, ia harus menyingkirkan Stevan. Walaupun secara pribadi Stevan termasuk tipikal aktor bersih tanpa skandal dan bukan penjahat kelamin, namun Dina paham Weini dan Xiao Jun saling menyukai. Takkan ia biarkan


pihak ketiga mencoba masuk menyaingi salah satu dari mereka.


“Non, makan dulu.” Dina muncul dari belakang dan menggeletakkan kantong belanjaannya ke tengah Weini dan Stevan. Sengaja ia lakukan untuk memberi jarak pada mereka.


Stevan tersenyum meskipun Dina bertingkah over protectif, ia menggeser kursinya agar Dina leluasa melayani Weini. Panggung berhasil dicuri Dina, tuan Xiao Jun aku akan menjaga pujaan hatimu agar steril dari gangguan nyamuk ini.


“Aku nggak laper kak.” Sekotak nasi ayam bakar yang disodorkan Dina tak menggugah selera makan Weini. Aromanya cukup menggoda namun tak mampu menakhlukkan mood Weini yang layaknya orang patah hati.


“Hah? Masih belum lapar? Dari pulang sekolah belum makan apapun, sekarang udah hampir magrib loh. Makan dikit lah buat ganjel perut non.” Dina mulai cemas, tak biasanya Weini susah dilayani.


“Lagi ada masalahpun, jangan menyiksa perutmu. Bahkan buat marah aja lu butuh tenaga. Makanlah sedikit.” Stevan menimpali omongan Dina.


Weini tak punya banyak pilihan, perutnya mulai nyeri lantaran ia biarkan kosong nyaris setengah hari. Dibukanya kotak makanan dan mengambil potongan timun sebagai cemilan. “Trims atas perhatian kalian, makan yuk.”


Stevan mengangguk senang seakan mempersilahkan tuan putri mencicipi hidangan. Tanpa ia sadari semakin ia menebar senyum, semakin kesal Dina melihatnya.


***


Macet melumpuhkan jalan di Pancoran dan sekitarnya hingga mobil Dina terjebak dalam kerumunan kendaraan. Sesekali ia menoleh ke samping, mengontrol keadaan Weini yang terkesan seperti orang lain. Weini lebih banyak diam, jika diajak bicara hanya menjawab sekenanya.


Bunyi pesan masuk dari ponsel Weini yang sejak tadi digenggamnya bak harta pusaka. Ia bergegas melihat ke layar, senyumnya meredup dan ia kembali menggenggam ponsel itu tanpa membuka pesan masuknya.


“Nunggu pesan dari siapa non?” Dina pura-pura bertanya dengan polos. Padahal ia bisa menebak bahwa Weini pasti menunggu kabar dari Xiao Jun.


Weini gelagapan mendengar celetukan Dina. “Nggak ada. Nggak siapa siapa.”


“Owh… kirain.” Dina melengos.


Hening…


“Non, kupingku siap loh nampung curhatan. Trus hatiku juga lapang loh jadi bisa ngertiin masalah non. Plus, mulutku ini bakalan digembok rapat jadi rahasia pasti aman. Hehe…” ungkap Dina, intinya ia membuka diri sepenuhnya menjadi teman curhat Weini.


Weini terkesima, tak menyangka Dina bisa dianggap figur kakak baginya. Sejak Sisi memusuhinya, tak ada lagi orang yang bisa disebut sahabat. Tapi Dina, dengan kedewasaannya mungkin ia pantas menjadi kakak, manager sekaligus teman dekat. Weini perlu mencoba membuka hati dan kepercayaannya pada wanita itu.


Dina bengong sejenak. Dalam hati ia mengeluh bahkan nyaris menangis, ia hanya berniat sebagai tong sampah yang siap menampung uneg-uneg Weini. Tak disangka justru dimintai pendapat dengan pertanyaan kelas berat.


“Ng… Minta maaf. Ya… salah satu harus minta maaf duluan.” Dina asal celetuk sambil memasang wajah sok serius.


“Begitu ya.” Weini menghela napas lalu melengos. Minta maaf bisa mengembalikan hubungan antara dia dan Xiao Jun seperti sedia kala, semudah itukah? Weini terus berpikir, apakah ia harus mengucapkan maaf dulu pada Xiao Jun? Tapi untuk apa permintaan maaf itu? Maaf telah menolak ciumanmu? Memikirkannya saja sudah membuat wajah Weini memerah malu.


“Non, kadang maaf saja tidak cukup loh. Tergantung masalahnya apa. Kadang mudah bagi orang untuk memaafkan tapi sulit untuk memberi kesempatan ulang.”  Timpal Dina.


“Jadi harus gimana kak?” Tanya Weini antusias.


“Hemm, sepengalamanku sih tergantung masalahnya apa non. Kalau soal cinta sih biasanya tergantung seberapa besar cintanya. Jika dia mencintaimu pasti bersedia memaafkan dan memberi kesempatan, jika tidak ya berhenti sampai di situ. Eh… kok malah ngomongin cinta ya? Sorry non, aku sok tahu.” Dina mengatup mulutnya rapat-rapat pasca bersabda panjang lebar.


“Makasih kak.” Weini tersenyum lebar memamerkan sederet gigi putihnya.


Sebaliknya Dina justru kaget setengah hidup melihat reaksi Weini yang tidak sesuai bayangannya. Semudah itu mengembalikan senyum gadis yang sudah seharian mendung.


“Eh… nggak usah sungkan deh non. Hehe… btw non, tuan Xiao Jun nganterin non sampe ke rumah kan kemarin? Oke oke aja kan?” Dina melanjutkan misi keponya.


Nama Xiao Jun yang terucap dengan santai oleh Dina nyatanya tak bisa dicerna dengan mudah oleh Weini. Mendengar nama itu saja bisa merontokkan senyuman lega yang barusan disunggingkan Weini. Ia berpaling


menatap jalan dari kaca demi menyembunyikan guratan suram di wajahnya.


“Iya.” Jawab Weini pelit bicara.


“Apa kau tidak senang non? Maaf ya, lain kali aku tidak akan meninggalkanmu begitu saja.” Dina mulai peka dengan perubahan cuaca hati Weini yang sensitif mendengar nama Xiao Jun. Perlu kerja ekstra keras membuat mereka berdua menyadari arti penting perasaan mereka. Dina harus putar otak lagi dan tentunya ia tak bisa melakukan semua itu sendiri.


***


Lau menerima telepon di kamarnya. Ia berusaha menjaga jarak sejauh mungkin dari Xiao Jun agar pembicaraan rahasia itu aman. “Baiklah. Aku mengerti. Terima kasih atas informasinya.”  Lau mengakhiri pembicaraan di ujung telepon tepat ketika Xiao Jun memanggilnya. Ia segera menghampiri tuan muda itu sebelum dicurigai melakukan percakapan rahasia.


“Paman, aku perlu copy dokumen perjanjian kerjasama dengan perusahaan X.” Xiao Jun masih berkutat di depan laptop. Sehari libur karena kelalaian pribadi membuatnya nekad memvonis diri untuk kerja lebih keras di hari berikutnya.


“Segera saya siapkan tuan. Ada lagi yang lain?”


“Tidak.” Xiao Jun menjawab tanpa mengalihkan perhatian dari laptop.


Lau kembali membawakan permintaan Xiao Jun beserta secangkir teh panas dan kudapan . “Tuan, silahkan dinikmati dulu. Tehnya segera dingin jika tidak anda minum.”


Xiao Jun berhenti mengetik. Ia mencuri lirikan pada nampan di hadapannya. Direbahkannya tubuh pada sandaran kursi serta melemaskan otot kakunya sejenak.


“Nona Dina melaporkan jadwal syuting Nona Weini dengan Lisa dimulai dua minggu lagi. Apa kita harus mengirim mata-mata untuk mengawasi mereka?” Lau mulai memancing reaksi Xiao Jun dengan pertanyaan pertama.


Xiao Jun terlihat santai tanpa reaksi, ia lebih memilih menyantap kudapan yang masih hangat. “Tidak perlu.” Jawab Xiao Jun cuek.


“Baik tuan. Dan juga nona Dina bilang, ada seorang aktor yang juga lawan main nona Weini yang sering mengganggu di lokasi syuting.” Pertanyaan pancingan kedua dari Lau.


Xiao Jun meletakkan cangkir dengan terburu padahal ia belum sempat menyeruput minumannya. Lau mengamati perubahan mimik tuannya, terlihat jelas Xiao Jun tengah menggertakkan gigi.


Aku rasa anda cemburu, tuan. Hehehe… 


***