OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 362 SALING SIASAT



Grace berjalan tegang menuju kamar yang dulu ia tempati, langkahnya berat namun tetap ia paksakan meski harus setengah diseret. Bagaikan berada dalam mimpi buruk yang sulit terbangun, Grace tak pernah berharap kembali ke tempat ini dengan kondisi terpuruk lagi. Ia menjatuhkan diri di atas ranjang, membenamkan wajah pada bantal serta membiarkan air mata luluh begitu saja. Untuk pertama kalinya ia menjadi anak pembangkang, terang-terangan menentang ayahnya yang semakin keterlaluan dan itu menguras banyak tenaganya.


“Jika ini mimpi, bangunkan aku! Jika bukan mimpi, tolong bawa aku keluar dari tekanan batin ini!” Lirih Grace. Seketika itu pula ponselnya dalam genggamannya bergetar, Grace menyudahi penyiksaan diri yang membuatnya sulit bernapas itu lalu melirik layar ponsel.


Sebuah pesan dari orang kesayangan yang berhasil membuat senyum Grace merekah. Setidaknya masih tersisa satu orang yang begitu tulus mencintainya.


***


Weini menyetir mengelilingi ibukota tanpa tujuan, ia membiarkan diri terjebak kemacetan di jalan yang padat saat siang hingga malam. Ia mencoba menyibukkan diri, menghindari di rumah, menjauhi Dina dan Haris bahkan Stevan, dan siapapun yang mengenalnya. Weini sungguh ingin menepi sejenak, meresapi kesedihan aneh yang terus mengganjali perasaannya. Dalam kejenuhan di mobil, ia meraih ponsel di dasbor kemudian mengecek chat dengan


Xiao Jun. Belum ada kabar dari kekasihnya, padahal Weini yakin Xiao Jun sudah sampai tujuan.


“Setiap kali kamu meninggalkanku ke sana, aku tak pernah bisa tenang. Apa kau akan kembali menghilang seperti sebelumnya? Kali ini kejutan apa lagi yang kau bawa padaku nanti?” Desis Weini, perasaannya tak bisa diajak berdamai dan tenang.


***


Xiao Jun menghuni paviliunnya lagi, tidak banyak yang berubah pada tempat itu. Kao Jing tak menaruh perhatian pada tempatnya, beruntungnya lagi para pelayan dan pengawal di pavilion itu masih orang lama yang dikenali Lau. Baru saja ia duduk di ruang utama, beberapa pelayan dan pengawal silih berganti melaporkan pada Xiao Jun tentang apa yang telah terjadi di sana.


Lau menyerahkan laptop yang sudah menyala dan terbuka satu file rekaman CCTV yang diminta tuannya. Hilangnya Li San tanpa jejak membuat Xiao Jun tak habis pikir dan merasa perlu turun tangan langsung memeriksa rekaman CCTV di seluruh kediaman Li. Matanya serius menonton dengan jeli, adegan demi adegan serta gerak-gerik orang yang terekam.


“Jadi benar tuan Li terakhir tampak masuk ke aula utama dan tidak pernah terekam keluar dari sana.” Gumam Xiao Jun yang akhirnya percaya laporan Lau sekaligus bingung.


Lau mengangguk mantap, “Benar tuan, fakta ini cocok dengan laporan penjaga di depan pintu aula. Tuan besar tidak pernah keluar sejak hari itu, bahkan tak ada benda mencurigakan yang dibawa keluar oleh siapapun yang keluar masuk aula.”


“Apa mungkin ada jalan keluar rahasia atau pintu penghubung yang tidak kita ketahui? Paman berikan padaku denah rumah secepatnya.” Perintah Xiao Jun bersemangat. Kepalanya mulai berat memikirkan misteri ini, pasti ada sesuatu yang belum terkuak hanya saja belum terpecahkan.


Lau bergegas pergi mengambil denah yang diminta tuannya. Satu hal yang ia yakini benar adalah Li San masih hidup. Itulah sebabnya ia dengan percaya diri mengatakan pada Liang Jia, bukan sekedar untuk membuatnya tenang namun ia mendengarkan kata hatinya. Meskipun belum ada petunjuk tentang keberadaan serta kondisi sang penguasa yang sebenarnya berada.


“Tuan.” Lau menyerahkan satu gulung kertas besar yang menggambarkan denah rumah yang lebih layak disebut istana itu.


Xiao Jun menerimanya kemudian mengangguk sebagai bentuk terima kasih. Matanya jeli memerhatikan bentuk gambar rumah terutama bagian aula utama, cukup lama tatapannya terpaku pada titik itu hingga ia mengerutkan dahinya. “Ada yang janggal dengan aula utama, luas bangunannya seperti ada selisih di bagian ini.” Xiao Jun menunjuk pada gambar yang membuatnya curiga.


Lau mengamatinya dan berpikir keras, selama nyaris dua puluh tahun tinggal di kediaman Li, ia pun tak begitu hapal tatanan ruang aula utama. “Menurut saya, kita perlu selidiki langsung ke sana. Tapi tidak mungkin sekarang, tuan. Mereka hampir sepanjang hari berada di sana.”


Xiao Jun manggut-manggut, berpikir keras bagaimana mendapatkan celah. “Ah, besok pasti ada kesempatan. Pernikahan digelar di sana, jika aku tak leluasa bertindak, tolong wakilkan aku menyelidiki tempat yang ku lingkari ini.” Ujar Xiao Jun yang mulai optimis.


“Berikan ponselku paman, aku akan menghubungi ayah.” Pinta Xiao Jun karena sejak di pesawat, ia menyerahkan barang pribadinya dalam pengawasan Lau. Berjaga-jaga jika ia harus terlibat serangan fisik dengan Chen Kho, andai negosiasi mereka berjalan alot. Nyatanya pihak rival menyetujui permintaannya meskipun harus sedikit adu urat.


Lau menyerahkan barang milik tuannya, raut wajah Lau sedikit gusar saat melihat Xiao Jun memegang ponsel. “Maaf tuan saya lancang, apa tuan tidak lebih dulu mengabari nona Weini? Dia pasti menunggu kabar dari


anda, ini sudah hampir sore dan tuan belum juga menghubunginya.”


Xiao Jun terpaku, Lau barusan mengingatkannya hal penting. Ia mengabaikan Weini dan bisa saja gadis itu berpikir buruk tentangnya. Terlebih perasaan Weini tengah sensitif, ia tak ingin Weini salah paham lagi. “Baiklah paman, terima kasih sudah mengingatkanku.” Gumam Xiao Jun tersenyum pada pengawalnya.


***


“Aku tak mengerti jalan pikiranmu, kenapa kau tak membantuku menolak permintaan anak pungut itu? Malah kau dengan enteng menyetujuinya, sekarang para pelayan sibuk mendekorasi ulang untuk sebuah pesta yang harusnya dua minggu lagi.” Kesal Kao Jing pada putranya.


“Apa susahnya mendekor ulang? Ruangan itu belum sepenuhnya bersih, tinggal diganti saja nama pengantinnya. Sisanya pakai dekorasi lama, jangan dibuat repot ayah.” Ketus Chen Kho yang terus mendapat teguran dari ayahnya.


“Aku mau tahu jalan pikiranmu bagaimana? Kau tahu kalau ini bukan sekedar pernikahan, kita sudah mempersiapkan segalanya dan harus berubah total dalam satu hari.” Cecar Kao Jing.


Chen Kho hanya menyeringai, dengan santainya ia malah menerima panggilan masuk tanpa permisi sehingga Kao Jing merasa terabaikan.


“Kita tidak perlu menunggu lagi, rencana tetap berjalan seperti semula tapi besok eksekusinya.” Ujar Chen Kho mantap kemudian menutup telponnya.


“Ayah, kau tahu bahwa aku bukan tipe yang percaya akan hari baik. Semua hari akan jadi baik atau buruk tergantung sikap kita. Apa bedanya besok atau dua minggu lagi? Dia hanya mempercepat kemenangan kita. Dan


aku juga siap mempercepat keberangkatanku ke Jakarta.” Ujar Chen Kho dengan senyum liciknya.


Kao Jing yang mulai paham maksud hati putranya pun ikut tersenyum lebar. “Maksudmu besok kau akan ke Jakarta?” Tanyanya demi sebuah kepastian.


Chen Kho menyeringai, “Selagi mereka menikah di sini, akan kubereskan sisa pengacau di sana.”


Suara tawa ayah dan anak itu membahana, membayangkan kemenangan sejati ada dalam genggamannya setelah semua pengacau itu dilenyapkan.


***


Ditunggu komentar dan likenya ya, guys.