OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 517 MALAM PERTAMA



“Kak Dina, kamu serius belum ngantuk?” Weini ragu dengan ajakan Dina untuk ngebut nonton drama Korea hingga subuh. Weini mungkin masih sanggup tidak tidur semalaman, ia bisa memulihkan energinya dengan menyerap energi Yang dari sekitar. Lain hal dengan Dina yang tidak punya cadangan energi apa-apa, yang ada gadis itu akan lemas keesokan harinya.


Dina mengangguk mantap, lagaknya selangit seakan ia memang sehebat yang ia pikirkan. “Serius lah non, kapan lagi kita bisa me time kayak dulu lagi? Ingat nggak non waktu dulu kita pas non lagi nggak ada gawean, trus kita sering balapan nonton drakor di rumah. Ha ha... aku kangen masa itu dan pengen ngulangin lagi nih.” Gumam Dina terkekeh mengingat masa lalu itu.


Weini jelas ikutan mengangguk, masa-masa itu memang tak terlupakan dan ia masih ingat betul. “Iya kak masih ingat, trus kakak yang ngajakin tapi malah drakor yang nontonin kakak tidur kan.” Celetuh Weini dengan polosnya menskakmat Dina hingga senyum gadis itu berubah canggung.


“Eerrrggg... emang ada ya non momen kayak gitu? Perasaan aku nggak pernah gagal nonton deh.” Celetuk Dina menggaruk kepalanya, berusaha mangkir dari sesuatu yang memalukan dan masih diingat oleh Weini.


Weini hanya tersenyum lebar, kasihan juga melihat ekspresi Dina yang canggung. Ia pun segera menyetel drama Korea dari saluran televisi langganan Grace. “Ya udah deh kak, buruan nonton aja ntar nggak keuber loh waktunya. Berapa episode sih?” Tanya Weini berbaik hati mengalihkan fokus pembicaraan.


Dina tersenyum girang lagi, bergegas merapat pada Weini yang sudah meraih remote. Akhirnya dia punya kesempatan untuk lolos dari suasana canggung yang menyudutnya, jadi ia tidak perlu mengakui hal memalukan yang masih Weini ingat itu.


“Ng, enam belas episode doang non, bisa lah kalau sampai pagi mah.” Seru Dina antusias.


“Pada mau ngapain sih?” Tanya Grace yang baru keluar dari kamar mandi seraya menguap lebar, ia berjalan pelan menuju ranjang saking kantuknya.


Weini tersenyum melihat Grace yang sudah teler itu, sejenak ia merasa bersyukur karena memiliki kemampuan yang lain dari orang biasa. Kemampuan yang membuatnya mempunyai daya tahan tubuh berkali-kali lipat di bandingkan yang lainnya. “Tidurlah Grace, kami tidak akan mengganggumu.” Gumam Weini perhatian.


Dina manggut-manggut, ia jadi berkesempatan bersama dengan Weini dan bernostalgia masa lalu bersama. Walaupun tetap saja terasa beda karena bagaimanapun rumah lama Weini lebih menyimpan kenangan dan kehangatan. Tapi sepertinya Weini belum berminat mengunjungi rumah yang pernah ia tempati bersama Haris, belum sekalipun Weini menyinggung tempat itu padahal Dina sudah merancang jadwal tempat yang dikunjungi untuk kencan bersama. Ya sudahlah, mungkin saja Weini enggan mengenang sesuatu yang menyakitkan dan ingin menciptakan suasana yang lebih menyenangkan. “Ya, tidurlah, kami akan mengecilkan volumenya.” Seru Dina menimpali.


Grace ternganga mendengar pengakuan mencengangkan Dina dan Weini, membuat nyali Grace ciut saking kagumnya pada dua gadis yang berencana begadang itu. “Seriusan kalian berdua jadi nonton?”


Dina dan Weini kompak menganggukkan kepala. “Calon mempelai wanita dilarang ikutan hal yang ekstrim ya. Mulai sekarang kamu harus rajin perawatan tubuh, atur pola diet, nggak boleh stress, nggak boleh begadang, nggak boleh kelayapan biar makin kinclong kulitnya.” Celetuk Dina sambil menghitung dengan jarinya, berapa banyak pantangan yang ia berikan pada Grace. Tentunya ia asal celetuk saja dan kalau ia yang disuruh seperti itu, menjalani ritual dipingit, Dina yakin ia tidak akan sanggup.


Alis Grace mengkerut saat mendengar pantangan ribet itu. “Yang benar aja sih aturannya kayak gitu? Kok ribet ya? Mending nikah adat saja deh kayak di kediaman Li. Sepupu, apa kau membolehkanku menikah di aula utama saja? Aku nggak sanggup harus dikurung berminggu-minggu hanya buat nikahan.” Celetuk Grace yang ekspresi wajahnya tampak serius.


“Apanya yang lucu sih? Emangnya kamu betah disuruh kayak gitu, Din?” Ujar Grace menuding balik ke Dina.


Dina menggeleng dengan mantapnya, “Ya nggak lah, sehari aja dikurung di rumah udah meraung-raung aku. Apalagi disuruh satu minggu ha ha ha... tapi kayaknya Ming Ming santai aja deh, nggak pusingin soal ritual.” Seru Dina bangga.


“Siapa bilang kak? Biasanya orang Beijing banyak ritualnya juga loh, ya kurang lebihlah. Kalau pihak keluarganya menginginkan seperti itu, kakak nggak bisa hindari loh.” Seru Weini menjelaskan apa yang ia ketahui dan tidak bermaksud memihak siapapun di antara dua sahabatnya itu.


Wajah dina menegang, tampak jelas kalau ia pusing memikirkan apa yang Weini katakan. Dan momen itulah dimanfaatkan oleh Grace untuk menertawakannya, terbahak-bahak membalas kelakuannya tadi. “Rasain lu, yang namanya orang mau jadi pengantin ya pasti ribet lah. Namanya juga sekali seumur hidup, kan harapannya gitu, udah pastilah serangkaian prosesnya bikin ribet.” Gumam Grace dengan bangga, seakan dialah yang paling tahu karena di antara mereka bertiga, ia lah yang pertama akan merasakannya.


Dina manyun, hanya itu senjata andalannya untuk mangkir dari kalah debat. “ Iya deh iya, yang bentar lagi berpengalaman uhuy! Habis nikah kita kumpul ya Grace, buat interview soal malam pertama. Kasih pendapat dan tipsnya dong buat kita-kita yang bakal nyususl juga hi hi hi.” Celetuk Dina yang makin diladeni makin merambat ke mana mana.


Wajah Grace memerah seketika, menulari wajah Weini yang sebenarnya bukan target Dina namun ikut tersentil pula. Kata malam pertama yang terlontar dengan gampang oleh Dina itu nyatanya meninggalkan efek luar biasa dalam pikiran dua gadis polos yang mendengarnya. Jantung mereka berdetak, ritmenya tak beraturan lagi saking cepatnya. Mereka merasa malu meskipun hanya mengatakan kata-kata itu, entahlah.


“Apaan sih, salah minum obat ya Din? Udah ah, aku mau tidur saja, ngantuk. Selamat berjuang buat kalian, semoga nggak ketiduran.” Gumam Grace yang buru-buru kabur sebelum terjebak pertanyaan maut Dina. Ia merebahkan diri di atas ranjang empuknya kemudian menarik selimut dan ketiduran.


“Ha ha ha... lihat nggak non tadi wajah Grace merah banget. Ngomongin gitu doang dia bisa malu juga ha ha ha.... eh?” Dina ternganga menoleh dan mendapati wajah Weini yang tak kalah merah dengan Grace, dan yang lebih parah lagi adalah... Weini sepertinya sedang melamunkan sesuatu. Buktinya beberapa kali Dina mengajaknya bicara namun gadis itu tetap diam.


Malam pertama? Hah... seperti apa itu nantinya? Jun dan aku... kami... Aaarrggghh aku malu. Ciuman saja boleh nggak ya? Aku takut mengecewakan Jun karena nggak berpengalaman. Hmm.... gumam Weini, risau dalam hatinya. Membayangkan visual ia bersama Xiao Jun pasca menikah, duduk berdua di tepi ranjang dan menunggu Xiao Jun membuka penutup kepalanya saja sudah membuat Weini jantungan. Weini tak sadar dengan bayangan pikiran mesumnya saat ini sukses membuat pipinya bersemu merah, dan Dina masih kewalahan mengembalikan kesadarannya.


“Nooonnn... jadi nonton nggak nih?”


❤️❤️❤️