OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 227 BUTA CINTA YANG MEMBUATKU NEKAD



Lau menatap Grace dengan tatapan tenang, ancaman nona muda itu barusan tidak menggertaknya sama sekali. Grace bagaikan kucing bertubuh macan, yang hanya berani mengaum namun tak punya nyali menggigit.


“Nona, mohon jangan mempersulit diri sendiri. Menurut saja dengan apa yang diperintahkan tuan, besok perjalanan kita cukup melelahkan. Harap nona istirahat yang cukup dan Fang-Fang bisa melayanimu.” Ucap Lau.


Grace mendelik, ia sangat tidak senang mendengar perkataan Lau. Harus menurut? Atas dasar apa pengawal itu menyuruhnya menjadi gadis penurut sedangkan pria itu hanyalah suruhan Xiao Jun. Grace tak semudah itu percaya bahwa itu adalah perintah dari Xiao Jun.


“Aku tetap pergi, dengan atau tanpamu!” jawab Grace ketus. Ia meraih tas tangannya kemudian melenggang angkuh melewati Lau. Saking kasarnya, ia sengaja menyenggol bahu Lau ketika melewatinya.


Lau melirik tajam kepada Fang-Fang, bahasa isyarat yang hanya dimengerti oleh pengawal didikan Lau. Gadis itu segera menghampiri Grace lalu mencegatnya keluar dari kamar. Ia memalang pintu dengan kedua tangan yang direnggangkan. Grace tersentak kemudian menyipitkan mata menatap pelayan barunya itu.


“Minggir!” bentak Grace seraya mendorong tubuh Fang-Fang pergi, namun tenaga Grace terasa tidak berarti, pelayannya masih berdiri tegap tanpa bergeser sedikitpun.


“Kamu ini pelayanku tapi malah melawanku! Etika macam apa itu! Minggir kataku!” bentak Grace lebih nyaring dari sebelumnya. Baru permulaan saja ia sudah melihat ketidak setiaan pelayan baru itu, bagaimana nanti di tempat baru yang perlu waktu sosialisasi? Yang ada Grace lebih mirip tawanan ketimbang majikan yang harus dilayani, ia tidak punya siapa lagi untuk berbagi keluh kesah.


Lau menghampiri lalu berdiri sejajar dengan Fang-Fang, “Nona, ini demi kebaikanmu. Tetap tinggal di kamarmu, anda bisa melakukan hal lain yang penting tidak datang ke sana.”


Grace menyeringai, kata-kata Lau terdengar memuakkan. Sangat jelas bahwa kehadirannya tidak diharapkan oleh mereka, terutama Xiao Jun. Grace merasa harga dirinya dilecehkan, apa yang membuatnya tidak pantas berada di tengah calon keluarganya?


“Oke, aku nggak pergi. Puas sekarang!?” cecar Grace, ia berbalik badan dan kembali duduk di kursi rias. Membiarkan pelayan setianya berdiri di samping dengan tatapan sedih.


Fang-Fang dan Lau terdiam, akhirnya Grace berhasil diyakinkan. Lau menatap Fang-Fang dan mengkodenya agar mendekati dan melayani Grace.


“Baiklah, kalau begitu saya permisi nona.” Lau membungkuk lalu hendak pergi.


“Tunggu! Bawa pergi pengawalmu, bukankah dia ditugaskan untuk melayaniku di Jakarta? Aku masih di sini, jadi belum membutuhkannya.”


Grace tak sudi melirik Fang-Fang yang baru beberapa langkah mendekatinya. Pengawal wanita itu menoleh menatap Lau, menanti keputusan. “Apa kalian tidak dengar? Enyah dari hadapanku!” pekik Grace sembari


menatap cerminnya.


Setelah kedua pengawal itu berlalu, Grace masih berusaha menenangkan hati. Baru sebentar berhadapan dengan mereka saja sudah menguras emosinya, tak terbayang mulai besok sampai entah kapan harus terus berurusan


dengan mereka.


“Nona, kelak harus hati-hati dengan pelayan baru itu.” Ujar pelayan Grace dengan nada cemas.


Grace menatap pelayan itu, wajahnya mengkerut, tatapannya penuh harap. “Tidak bisakah kau ikut denganku? Pinta Grace.


Pelayan itu segera menggeleng lemah, “Pelayan sepertiku tidak punya hak memilih majikan. Semua sesuai keputusan kepala pelayan dan atas persetujuan tuan besar. Maaf mengecewakanmu nona, kalau kau kembali ke rumah ini mungkin aku bisa melayanimu lagi.”


“Begitu ya?” ujar Grace lemah, tak ada harapan lagi.


Keduanya terdiam, kemudian Grace terpikir melakukan rencana lain. “Ah, aku sudah terlanjur berdandan. Mereka juga pasti tidak curiga. Aku harus berangkat sekarang, kau pergilah! Jika ada yang tanya, bilang saja tidak tahu dan ini murni niatku kabur ke acara itu.” Grace tidak ingin pelayannya terlibat dan kena masalah gara-gara aksi nekadnya.


“Hah? Nona sungguh mau ke sana?” pelayan itu terkejut, ia masih berupaya mencegah Grace melakukan tindakan bodoh.


***


Xiao Jun menunggu Lau sembari menikmati cocktail. Prosesi adat telah berlangsung dengan lancar, tidak banyak yang dilakukan mengingat hanya sedikit kerabat yang diundang. Xiao Jun memilih menyendiri sejenak,


“Tuan muda, maaf saya terlambat.” Lau menampakkan batang hidungnya, ia memang terlambat hamper setengah jam karena kendala Grace.


Xiao Jun tersenyum, “Tidak masalah, paman. Duduk dan nikmati pestanya.” Xiao Jun menunggu pengawalnya itu untuk sekedar nongkrong di tengah suasana pesta. Bertemankan live music klasik yang begitu menyehatkan


pikiran.


“Dia memang berjiwa pembangkang, maklumi saja kalau dia memberontak.” Dia yang dimaksud adalah Grace, sikapnya yang seperti itu sudah tak heran bagi Xiao Jun. Gadis yang punya keberanian menyerahkan diri kepada


seorang pria, kenangan buruk itu cukup Xiao Jun yang mengetahui dan sekaligus membuatnya sadar bagaimana sifat tunangannya itu.


Lau mengangguk setuju, “Saya sebenarnya kasihan dengan dia, sekembali ke Jakarta sebaiknya tuan segera mencari cara untuk mengakhiri hubungan palsu ini.”


Xiao Jun terdiam, mengalihkan perhatian pada gelas yang ia goyang dulu isinya sebelum diteguk. Ia pun ingin bertindak seperti itu, selagi ada sedikit kekuatan tambahan untuk melawan Li San. Yang terpenting bukan hanya perasaan pribadinya yang harus diperjuangkan, ia sudah menguatkan prinsip untuk kembali pada fokus utama keberadaannya di Jakarta – mencari jejak ayah.


“Lepaskan! Biarkan aku masuk! Aku salah satu keluarga mereka!”


Xiao Jun mendengar keributan kecil di depan pintu masuk, pendengarannya lebih tajam ketimbang orang lain. Lau bahkan tidak menyadari bahwa masalah kecil itu muncul tanpa diharapkan. Ia langsung berdiri, bersiap menghadapi seseorang yang secara khusus datang menemuinya. “Nikmati waktumu di sini, aku akan segera kembali.”


“Anda mau kemana tuan? Apa ada masalah?” Lau menoleh pada Xiao Jun, aneh saja tiba-tiba tuan muda itu meninggalkannya yang baru saja bergabung.


“Hanya sedikit urusan kecil, kau tak perlu turun tangan. Tunggu aku kembali!” sergah Xiao Jun.


Grace berusaha meyakinkan penerima tamu dan security di depan bahwa ia adalah kerabat dari si empu pesta. Sebanyak apapun ia membeberkan alibi, selagi tidak ada kartu undangan ia tetap ditolak masuk. Gadis itu masih bersikeras, padahal ia sama sekali tidak mempunyai cara membuktikan diri. Nomor ponsel Xiao Jun saja, ia tidak punya.


“Lepaskan saja! Biarkan dia masuk.” Ujar Xiao Jun dengan suara lantang.


Grace langsung berbinar, senyumnya merekah lebar mendapati pria kesayangannya muncul sebagai penyelamat. “Xiao Jun.” pekiknya girang. Grace bergegas menghambur hendak memeluk Xiao Jun, namun dengan sigap


pula Xiao Jun menepisnya.


“Kau sangat ingin masukkan? Silahkan …” Xiao Jun tegas, nadanya terdengar tak senang.


Grace memasang wajah memelas, “Ayo temani … aku datang untuk bertemu kamu, sekalian ikut berbahagia buat kakak ipar.” Seru Grace manja.


Xiao Jun menyeringai, “Karena kau sudah sampai di sini sendirian, jadi masuklah sendiri. Aku akan di sini selagi kamu di dalam.”


“Kenapa begitu?” protes Grace, jelas ia tak terima diperlakukan demikian. Ia susah payah kabur dan mencegat taksi demi menemui Xiao Jun, setelah bertemu justru perlakuan ini yang didapatnya. Apa tidak ada toleransi di hari baik? Setidaknya pria itu bersikap manis sedikit selagi berada dalam suasana bahagia.


“Aku memang begitu, bahkan masih banyak yang belum kau tahu. Kau jadi masuk tidak?” seru Xiao Jun, wajahnya menyeringai.


Grace memincingkan mata pada Xiao Jun, demi menyelamatkan harga dirinya maka ia membalikkan badan tanpa sepatah katapun. Melenggang dengan anggun memasuki ballroom, tanpa Xiao Jun di sisinya pun ia tetap akan


menemui sepasang pengantin di dalam.


***