
Perasaan macam apa ini? Dia priaku, tetapi aku justru merasa sebagai pengganggunya
Dia melakukannya dengan sempurna di hadapanku
Berlalu bersama wanita yang jadi mimpi burukku
Sampai pada satu titik, aku mulai bertanya
Aku ataukah dia, orang ketiga sesungguhnya?
Quote of Grace
***
Di sinilah mereka berlima berdiri dalam jarak masing-masing, belum ada sepatah kata yang terucap. Semuanya masih betah menyembunyikan umpatan yang dipendam dalam senyum penuh kepalsuan. Grace dengan penuh percaya diri menghampiri Xiao Jun, meskipun ia tahu di mana tangan pria itu bertaut.
“Jun, kebetulan sekali kau datang menjemputku? Ayo, jangan buang waktu … Aku sudah menahan lapar sejak tadi.” Tangan Grace dengan lincah melingkari lengan Xiao Jun yang bebas dari genggaman Weini. Grace menyamping sehingga menyudutkan posisi Xiao Jun di tengah, diapit dua gadis.
Dina membungkam mulutnya saat melihat keberanian Grace yang begitu agresif kepada pria. Stevan tetap bergeming dan menatap tiga orang yang terjebak masalah itu tanpa berkedip, ia tak punya tendensi untuk turut
campur.
Weini sedikit mengendorkan genggaman tangan yang saling bertaut dengan Xiao Jun, namun Xiao Jun tidak membiarkannya dan makin meremas jemari lentik nan lembut milik Weini. Mereka tak perlu saling bertatapan untuk mengkomunikasikan apa yang dirasakan, cukup lewat bahasa tubuh yang sedang dilakukan.
“Aku tidak menyangka bertemu denganmu di sini, Grace. Apa yang kau lakukan di sini? Aku pikir kau masih berdiam di kamar.” Xiao Jun malah balik bertanya dan bertingkah seolah belum tahu apa-apa tentang keberadaan Grace.
Grace berdecak, ia sangat yakin bahwa Xiao Jun hanya bersandirawa. Tidak mungkin Weini sejinak itu tidak melaporkan kejadian antara mereka. Kalau tidak, untuk apa Xiao Jun datang di saat jam kerja. “Aku juga salah satu pemain film, aku lolos casting dengan kemampuanku. Sekarang sudah tahu kan, ayo pulang bareng.” Grace memaksa dengan menarik lengan Xiao Jun yang belum dilepaskannya, meskipun Xiao Jun tidak menepis sejak awal gadis itu melingkarkan tangannya namun bukan berarti ia bersedia digeret sesuai kehendak Grace. Xiao Jun melakukan perlawanan dengan sedikit tenaga hingga wajah Grace mengkerut kesal karena gagal mengandengnya pergi.
“Maaf, aku tidak tahu kamu ada di sini juga tapi aku kemari untuk menjemput Weini. Ah, bukankah kamu bisa datang sendiri, berarti kamu juga tahu jalan pulang sendiri.” Tolak Xiao Jun, menyusul dengan sikapnya yang meronta agar Grace melepaskannya.
Grace jelas tak akan terima dihempaskan begitu saja, ia pun bisa melakukan perlawanan. Ia mengerahkan tenaga maksimal agar tangannya tetap melekat di lengan kekar Xiao Jun. “Dia juga bisa datang sendiri, kenapa tidak biarkan dia pulang dengan teman-temannya? Apa kau lupa, kita tinggal di satu tempat jadi kita searah untuk pulang.” Kilah Grace.
Xiao Jun mulai jengah, ia terpaksa melepaskan genggaman Weini demi melepaskan diri dari cengkeraman Grace. “Grace, jangan paksa aku untuk kasar padamu. Kamu yang tidak mau diatur, kamu keluar dari kerjaan dan bilang akan hidup mandiri di sini padahal aku memintamu pulang ke Amerika. Aku sungguh tidak punya harapan dengan ikatan kita, bisakah kamu juga memikirkan kebaikan untuk dirimu? Kita memang tidak ditakdirkan bersama,
mengertilah.”
Weini tersentak mendengar kata-kata Xiao Jun, pria itu sengaja bicara dengan bahasa Mandarin agar tidak melukai harga diri Grace di depan Dina dan Stevan. Bahasa itu pun sudah di luar kepala Weini, maka dapat disimpulkan bahwa Xiao Jun punya itikad baik kepada Grace maupun Weini.
Air muka Xiao Jun berubah, begitu pula dengan Weini yang semakin serba salah. Ia tidak sepenuhnya tahu kesulitan Xiao Jun saat di Hongkong sehingga harus terpaksa menerima perjodohan itu. Dan juga tidak tahu pengorbanan
apa saja yang telah Grace berikan untuk memperjuangkan hubungan yang terlanjur terikat sepihak. Xiao Jun memilih bungkam dan menarik Weini pergi, membiarkan Grace yang terpaku di tempatnya berpijak dengan tangisan yang sudah meleleh. Weini tak kuasa menolak, ia memang perlu bersama Xiao Jun sekarang setidaknya untuk
mendengarkan lebih detail.
“Apa kamu sudah bilang ke paman? Atau aku saja yang bilang kalau kamu tetap memilih dia!” Teriak Grace pada punggung Xiao Jun yang semakin mendekati mobilnya.
Weini menoleh ke belakang, menatap Grace yang berdiri dengan isakan tangis. Hati kecilnya ikut teriris melihat tangisan gadis itu, meskipun sikapnya menyebalkan namun ia tak punya alasan untuk membencinya. Di mata Weini, Grace sangat menyedihkan.
Jangankan jawaban, Xiao Jun bahkan terlihat berhati dingin membiarkan Grace terkatung menatap punggungnya. Ia menuntun Weini masuk ke dalam mobil lalu bergegas tancap gas dari sana.
Alih-alih ikut beranjak, Grace malah sesengukan semakin menjadi-jadi, membuat Dina dan Stevan serba salah. Mereka berdua tidak tega harus meninggalkan Grace sendirian, menangisi yang sudah pergi. Tiba-tiba image jahat dan jelek tentang Grace perlahan luntur, Dina yang sejatinya juga wanita pun turut prihatin. Cinta yang memusingkan, membuat segala pihak termasuk Dina dan Stevan sulit menentukan sikap.
“Balik ke mobil lu aja.” Stevan menyodorkan sapu tangannya pada Grace, hanya itu yang bisa ia lakukan. Andai ia nekad mengusap air mata yang sudah membuat basah nyaris semua bagian wajah cantik Grace itu, mungkin yang ia dapatkan hanya sebuah tamparan.
Grace melirik uluran sapu tangan dari Stevan, matanya yang terfokus pada kain berwarna navy itu mulai merambat naik hingga pada wajah si pemilik sapu tangan.
Sorot mata Stevan menampakkan rasa kasihan, dan Grace muak dikasihani. Ia mengatur napasnya lalu berjalan angkuh meninggalkan Stevan yang masih menjulurkan sapu tangan. Sikap Grace barusan kembali mengingatkan image negatifnya saat berurusan dengan Stevan CS, membuat Dina menahan napas saking kesal.
“Dasar muka dua, nyesel gue barusan ngerasa kasihan ama dia. Dah ah, cabut.” Dina berbalik menuju posisi setir, namun Stevan dengan gesit menyalipnya dan meraih gagang pintu mobil. Pria itu masuk dan duduk di belakang setir, menyunggingkan senyum jahil pada Dina yang ternganga melihat aksinya.
“Buruan cabut!” Stevan mengerlingkan mata, mengkode agar Dina segera masuk dan duduk di sampingnya.
“Lu ngapain? Bukannya lu bawa mobil?” Dina menatap ke lokasi parkir yang ia yakini masih ada mobil Stevan di sana, namun ia mengernyit heran karena hanya mendapati mobil yang dibawa Grace baru saja bergerak pergi. Ia menatap kembali pada Stevan yang masih senyam-senyum, apa boleh buat Dina menuruti permintaan Stevan dan kembali masuk ke mobilnya sebagai penumpang.
“Gue bilang ke manager, mau balik ikut mobil lu. Mana gue nyangka bakal telat, mereka terlanjur terciduk juga.” Stevan menghela napas, berat juga rasanya berada dalam posisi penengah.
Dina mengangguk, ia sependapat dengan Stevan. “Mereka ngomong apaan sih sampe tuh cewek nangis jejerit? Kayaknya dilema cinta segitiga ini nggak sesimpel yang kita kira, gue bingung harus gimana ngelindungin Weini. Cewek yang namanya Grace itu bisa dapat ajang penghargaan tuh actingnya boleh juga, perlakuannya bisa berubah drastis ke Weini tergantung sikon.”
Stevan mengulum senyum, ia punya pendapat yang kontras dengan Dina namun hanya menyimpannya sebagai konsumsi pribadi saja. Setelah melihat sisi lemah Grace barusan, mengingatkan Stevan tentang kondisinya di
masa lalu. Mengantagoniskan diri hanya demi menutupi kerapuhan hati. Raut wajah putus asa Grace terus terngiang dalam benak Stevan, mengusik pikirannya yang tak kuasa melihat korban yang bernasib sama seperti dirinya.
***