
Dina mengurung diri di kamarnya sejak pulang dari pemakaman, bukan karena berlarut dalam kesedihan namun lantaran ia sibuk menerima video call dari kekasihnya. Menanti kabr dari Ming Ming jauh lebih sulit ketimbang menanti tanggal gajian yang datangnya sebulan sekali namun habis dalam seminggu. Pria itu sangat sulit untuk dihubungi semenjak kembali ke Beijing, dan Dina seperti disuruh melatih kesabaran agar kuat menghadapi cobaan LDR ini.
“Jadi besok kamu akan datang menjemput tuanmu?” Seru Dina kegirangan, setelah seharian sulit dihubungi rupanya Ming Ming muncul membawa kabar bahagia.
Ming Ming tampak mengangguk mantap dari layar ponsel Dina, ia pun sama girangnya dengan Dina lantaran tanpa direncana bisa berjumpa lagi dengan kekasihnya dalam waktu dekat. “Iya, aku diutus menjemput tuan Wen Ting dan istrinya.” Gumam Ming Ming.
Dina spontan jingkrak dari duduknya, tak peduli Ming Ming menertawakan kekonyolannya. Dina berhenti bertingkah layaknya bocah, ia kembali menatap layar dengan raut wajah yang kembali serius. “Trus berapa hari di sini?” Tanya Dina dengan wajah tegang, menunggu jawaban yang ia harapkan sesuai dengan harapannya.
Senyum Ming Ming ikut memudar, kerongkongannya terasa kering saat hendak mengucapkan jawabannya. “Langsung pulang hari itu juga.” Jawab Ming Ming lesu.
Dina merasa tubuhnya kehabisan tenaga lalu terhuyung duduk lagi di kursinya. “Jawaban macam apa itu? Kamu datang hanya buat pulang lagi? Secepat itu?” Pekik Dina bersemangat kemudian lemas lagi.
Ming Ming menunduk sesal sesaat, kalau bisa memilih ia pun tidak ingin seperti itu. “Mau gimana lagi, sabar ya sayang. Aku kan masih bisa datang lain kali kalau liburan, aku pasti datang lebih lama mengunjungimu.” Hibur Ming Ming, tidak ada jalan lain selain sabar. Hanya itu kunci kesuksesan LDR.
Wajah Dina tampak sewot, ingin berteriak dan marah-marah tetapi ini pun bukan salah Ming Ming. “Ini sih sama aja kayak iklan, datang cuman bikin tambah kangen aja.” Keluh Dina sedih.
“Ya... untuk saat ini sabar dulu, aku janji akan memikirkan lebih baik lagi untuk hubungan kita ke depannya. Kamu jangan sedih dulu ya, pokoknya percaya sama aku.” Ucap Ming Ming dengan mantap.
Hati Dina serasa berbunga-bunga, hanya mendengar janji seperti itu saja sudah membumbungkan hatinya ke mana-mana. Ia menaruh percaya sepenuhnya pada pria itu, apapun yang terjadi Dina yakin Ming Ming akan memberikan masa depan padanya asalkan ia percaya an sedikit bersabar. “Ya, aku akan bersabar! Aku akan menunggu!”
***
Keluarga Haris berkumpul lengkap di ruang tengah paviliun Xiao Jun yang dijadikan tempat tinggal mereka selama berada di sini. Xiao Jun meminta pelayannya menyulap ruangan itu menjadi lebih nyaman untuk bersantai, setidaknya mereka bisa leluasa menikmati hidangan dan menghabiskan waktu bersama. Setelah beberapa hari berkumpul, mereka harus menerima kenyataan untuk kembali berjauhan. Li Mei, Li An dan Wen Ting akan kembali pada kehidupan mereka mulai besok. Dan ini adalah momen perpisahan sejenak mereka, hanya keluarga inti saja, tanpa Weini dan yang lainnya.
“Li An, jaga kandunganmu ya. Jangan banyak pikiran serta rajin makan, ibu tunggu kabar baik dari kalian nantinya.” Xin Er memberi nasehat pada putrinya yang hamil pertama, meskipun brat harus membiarkan Li An menjalani kehamilannya tanpa ia dampingi, namun Xin Er yakin putrinya akan baik-baik saja selama Wen Ting selalu di sisinya. Menantunya adalah suami yang sangat siaga dan terbukti bisa memperlakukan Li An dengan istimewa.
Li An mengangguk nurut pada apa yang dikatakan ibunya. “Ibu, sayang sekali ibu tidak ikut tinggal dengan kami lagi. Sering-seringlah berkunjung ke rumah kami bersama ayah dan nyonya Liang Jia. Aku dan Wen Ting selalu menunggu kalian datang.” Ujar Li An sedih. Ia mengira Xin Er akan ikut tinggal dengannya, ternyata yang terjadi jauh lebih baik dari perkiraannya. Xin Er kembali hidup bersama Haris dan itulah kebahagiaan terbesar wanita itu. Tak peduli di manapun mereka tinggal, asalkan bersama dan tak terpisahkan lagi, itu saja sudah cukup bagi Xin Er. Dan karena Haris merasa inilah tempat tinggalnya, maka Xin Er pun menuruti kehendak suaminya.
“Iya, pasti ibu dan ayah akan sering berkunjung. Kelak kalau sudah dekat masa persalinan, ibu dan ayah akan tinggal agak lama di sana sampai kamu melahirkan.” Ujar Xin Er yang langsung membuat senyum lebar Li An terlihat.
“Sungguh? Ibu serius kan?” Tanya Li An memastikan ulang perkataan ibunya.
Xin Er mengangguk dan tersenyum, Li An langsung memeluknya erat. “Terima kasih ibu, aku senang sekali mendengarnya. Aku pasti akan jaga diri dan kandunganku baik-baik, tunggulah cucu kalian yang sehat ini lahir ya bu.” Seru Li An.
Iao Jun dan para pria lainnya dalam ruangan itu menatap senang percakapan hangat ibu dan anak itu. Hingga sebuah pertanyaan usil terlontar dari Wen Ting yang ditujukan untuk menggoda Xiao Jun. “Kak Li Mei sudah memberi satu cucu buat ayah ibu, Li An dan aku juga sebentar lagi... ya minimal udah ketahuan lah calon cucunya. Nah ini nih, satu satunya penerus klan Wei kapan ya memberikan keturunan langsung buat ayah dan ibu? Hmmm... Jun, nggak ada alasan lagi loh buat menundanya. Ha ha ha....” Ujar Wen Ting seraya tertawa usil, ia makin senang saat melihat raut wajah Xiao Jun yang mendadak jelek karena diserang pertanyaan seperti itu.
“Benar nih Jun, kamu masih punya tanggung jawab besar loh terhadap kelangsungan klan Wei. Jadi kapan kamu siap lamaran? Cece siap datang lagi loh buat kamu. Pernikahan adik-adikku tidak boleh terlewatkan.” Timpal Li Mei yang malah ikutan menggoda Xiao Jun.
“Selagi kita sekeluarga sedang berkumpul, ayah rasa ini waktu yang tepat untuk membahas tentang rencana pernikahan. Jun, seperti yang kamu dengar saat itu, nyonya besar sudah mewanti-wanti kita untuk segera mempersiapkan lamaran. Ini urusan yang sangat berarti bagi keluarga kita, bukan semata-mata karena ini pernikahan putraku satu-satunya, tapi calon gadis yang akan dinikahinya juga bukan orang biasa. Ayah sungguh-sungguh ingin memberikan kesan baik bagi klan Li dan klan Wei. Untuk pertama kalinya, kedua klan yang sejak dulu terikat oleh kesetiaan leluhur kita sebagai klan pengawal, akhirnya di tangan penerus saat ini, kedua klan itu akan bersatu sebagai keluarga. Kita tidak memanfaatkan status mereka, bagaimanapun Jun tetap menjadi penerus klan Wei. Jun tetap harus tahu posisimu yang sebenarnya, meskipun nona Yue Hwa kelak adalah istrimu. Kamu mengerti, Jun?” Jelas Haris panjang lebar, ia ingin semua kelaurganya mendengar apa yang ia pikirkan dan ia nasehatkan pada putranya.
Xiao Jun mengangguk patuh, “Aku mengerti ayah, apapun yang ayah dan ibu perintahkan akan Jun patuhi.” Jawab Xiao Jun.
Haris menggeleng pelan, ia tersenyum tipis dan merasa perlu meluruskan sesuatu yang disalah artikan Xiao Jun. “Bukan kaena ikatan anak an orangtua yang mengharuskanmu menuruti apapun kehendak kami. Kalian anak-anak, menantu dan cucuku mempunyai takdir masing-masing. Jalan hidup kita tidak lah sama, ayah dan ibu selalu berdoa dan berusaha agar kalian mendapatkan kehidupan yang lebih baik daripada kami. Ada kalanya kami sebagai orangtua akan menunjukkan keegoisannya jika dirasa permintaan kami tidak sesuai dengan kehendak kalian, apalagi ini menyangkut prinsip hidup kalian, kehidupan rumah tangga kalian, kalian berhak mengambil jalan sendiri tanpa harus menuruti kehendak kami.”
Ketiga anak Haris serta Wen Ting menunduk berbarengan, mereka paham apa yang Haris sampaikan. Mereka pun salut kepada Haris yang sangat bijaksana, pria tua yang selalu membawakan dirinya dengan tenang, sesulit apapun kondisi yang ia hadapi.
“Baiklah, kembali pada fokus kita... Jun, kami sebagai orang tua hanya mengurus masalah ritual saat lamaran, tunangan dan pernikahan. Selebihnya kamu pikirkan sendiri caranya, ayah tidak pandai merayu wanita, boleh tanyakan pada ibu kalian waktu kami menikah. Bagaimana ayah memintanya menjadi istriku?” Seru Haris yang membuat raut wajah Xin Er bersemu merah.
Semua mata tertuju pada Xin Er, penasaran dengan jawaban wanita tua itu. Jarang-jarang ada kesempatan mendengarkan kisah lama perjalanan cinta kedua orangtua mereka, selagi Haris tengah membuka kesempatan untuk menguak kisah lama yang manis itu.
“Kalian kenapa melihat ibu seperti itu?” tanya Xin Er grogi ditatap seperti itu dari empat pasang mata anak-anaknya.
“Ayolah bu, ceritakan pada kami bagaimana cara ayah melamar ibu?” Desak Li An yang paling antusias menunggu kenangan manis itu.
Xin Er tersenyum tipis seraya menggeleng pelan, “Tidak ada yang istimewa, kami hanya bertemu beberapa kali sebelum dijodohkan.” Ujar Xin Er singkat.
Para pendengar pun kecewa (begitu juga dengan para pembaca yang mengira ada bagian manis-manisnya), sorakan kecewa spontan terdengar dari Li Mei dan Li An.
“Masa sih hanya seperti itu saja? Sulit dipercaya... Tapi jaman dulu memang masih kolot, wajar aja kalau ayah dan ibu masih suka malu-malu.” Gumam Li An yang sengaja meledek kedua orangtuanya.
“Siapa bilang kami malu-malu? Kaian sudah besar dan kami sudah tua, mana pantas lagi bermesraan seperti anak muda. Yang jelas, ibu kalian adalah wanita terbaik yang ayah miliki. Kalian anak-anak kami, contohlah sikap ibu kalian yang setia dan selalu percaya pada ayah. Komitmen, kesetiaan, dan saling percaya adalah kunci kelanggengan sebuah hubungan. Tidak ada rumah tangga yang luput dari pertengkaran, tapi bagaimana kalian bisa akur kembali dan bertahan hidup bersama seumur hidup. Di situlah pentingnya tiga kunci yang ayah katakan. Apapun masalahnya, jangan mudah mengumbar niat berpisah. Itu saja yang ayah pesankan, kalian anak muda pasti lebih tahu bagaimana caranya mempertahankan hubungan dengan romantis. Ayah yang harus belajar dari kalian.” Canda Haris di akhir nasehatnya yang serius.
Dalam sekejab suara tawa terdengar nyaring di ruangan itu. Hangat dan terasa akrab, tua dan muda saling terbuka menceritakan apapun tentang hidup mereka. Namun yang sering menjadi sasaran adalah Xiao Jun, karena hanya dia lah di sana yang belum berpengalaman dalam kehidupan pernikahan. Xiao Jun masih kebingungan, idenya terasa buntu, ia tidak tahu cara yang romantis untuk melamar Weini. Sama halnya ketika ia bingung saat harus menyatakan cinta pada gadis itu. Jika bukan karena kejadian yang menegangkan saat Weini dirawat di rumah sakit, Xiao Jun mungkin tidak terdesak untuk menyatakan cinta.
Masa iya harus lamaran karena desakan lagi? Aaarrghhh.... Gerutu Xiao Jun dalam batinnya. Haris yang mendengar suara hati putranya yang menjerit itu hanya tersenyum tipis.
Berusahalah, Nak. Kali ini harus mengandalkan kemampuanmu.
***
Ciyee... yang mau lamaran tapi bingung, eaaa....