
Dekorasi aula yang tak kalah mewah dengan dekorasi out door di pelataran langsung membuat mata Grace terpana. Ia tak mengira persiapan untuk menyambut dirinya teramat sempurna, bahkan seorang wanita secuek dirinya pun luluh diperlakukan demikian. Bagaikan hidup dalam dunia dongeng, semua keglamoran yang elegan
terpancar dari momen ini. Xiao Jun masih merangkul tangannya menuju tempat duduk yang telah disediakan.
“Selamat datang di kediaman kami, enjoy your time miss.” Xiao Jun tersenyum dan melepas tangannya dari gandengan Grace. Ia telah mengantarkan nona kesukaan Li San itu di depan tempat duduk yang telah disediakan. Sesuai dengan tingkat kedudukan, setiap kursi di aula telah diberi nama. Xiao Jun mengangguk pelan sebagai tanda beranjak dari hadapan Grace, meninggalkan wanita yang masih terkunci bibirnya saking kagumnya.
Kao Jing mengambil posisi di sebelah Grace, menyisakan sebuah kursi kosong yang menjadi jatah Chen Kho. Saat melihat kursi kosong itulah, Kao Jing menyadari putranya belum melengkapi suasana bahagia ini.
“Terima kasih adik, kau sudah repot menyiapkan pesta semeriah ini untuk anakku. Ini penyambutan paling spektakuler yang pernah kami lihat. Ah, sayangnya putraku tampaknya belum hadir.” Kao Jing sengaja menyebut Chen Kho untuk mengingatkan pada tuan rumah bahwa masih ada personil yang belum lengkap sebelum pesta dimulai.
Li San menyebar pandangan pada sekitar ruangan dan baru menyadari keponakan prianya memang belum terlihat. “Maaf Da Ge, aku baru sadar Chen Kho belum hadir. Pengawal, cari tuan muda Chen Kho dan utus kemari.”
Belum juga pengawal yang diutus beranjak dari posisi berdiri, Chen Kho menampakkan batang hidungnya. “Chen Kho memberi hormat pada paman, ayah, maaf atas keterlambatanku.” Chen Kho membungkuk hormat bergantian kepada Li San dan Kao Jing.
Li San tertawa kecil, “Baiklah, semua sudah lengkap di sini. Mari kita mulai pestanya.” Li San menepuk tangan dua kali sebagai kode agar seluruh pengisi acara mempersiapkan diri. Sementara Chen Kho langsung menempati tempat duduk di antara ayah dan adiknya.
“Hi, brother. Kau tambah ganteng.” Grace langsung menggoda saudara laki-lakinya dan merangkulnya akrab.
Seisi ruangan melihat sikap Grace yang dinilai terlalu berlebihan dan tak sesuai tata krama budaya mereka. Li San bahkan sampai mengernyitkan dahi, ia memang sadar Grace dibesarkan di Negara luar namun tidak menyangka akan mengadaptasi budayanya.
Lima orang penari wanita dengan busana Hanfu yang setengah terbuka memberi salam kepada seluruh penghuni aula sebelum memulai aksinya. Lantunan music tradisional mengiringi gemulai tarian, yang paling menonjol dari pertunjukan itu adalah kelincahan sang primadona di posisi tengah. Gerak tubuhnya yang gesit, luwes dan tatapan genit yang melirik ke semua penonton hingga ia berfokus pada satu orang dan terus menatapnya. Grace menaruh perhatian pada penari itu, betapa menggodanya sang wanita lewat gesture tubuh. Hati Grace mulai panas oleh
ketidak senangan saat sang penari berusaha menarik perhatian Xiao Jun dengan lirikan nakal dan senyum centil. Grace rela tak berkedip mengawasi gerak-gerik sang penari, ia risih dan enggan membiarkan wanita lain berusaha merayu calon prianya.
“Cemburu?” Goda Chen Kho lewat bisikan. Ekspresi Grace yang tegang dan menebar kebencian itu sangat kentara menyimbolkan hatinya yang tengah panas oleh api cemburu. Melihat sikap adiknya, Chen Kho bisa menyadari secepat itu hati Grace luluh oleh pesona Xiao Jun dan akan menjadi hal buruk andai cinta adiknya bertepuk sebelah
tangan. Baru melihat seorang wanita mencoba mendapat perhatian Xiao Jun saja, Grace sudah panas hati. Apalagi ia tahu fakta bahwa Xiao Jun sudah punya kekasih dan dipaksa menikahinya, Chen Kho yakin adiknya pasti patah hati.
Grace menampik tudingan Chen Kho, sebenar apapun itu ia tak akan sudi terang-terangan mengakui. “Aku hanya kagum tariannya bagus. Cemburu apanya, brother bisa aja.”
Chen Kho tertawa kecil, “Sudahlah jangan berbohong, kau tak pandai menutupi perasaan. Tapi baguslah, setidaknya kau tak kecewa kan? Dia tidak seburuk yang dibayangkan, lebih baik lihat orangnya langsung daripada menyuruh kakakmu mencuri fotonya.”
dan para penari itu undur diri dari hadapan mereka. Kini tak ada lagi hambatan di hadapan, Grace melihat Xiao Jun tanpa berkedip bahkan tatapan itu disadari oleh Xiao Jun. Grace reflek menyunggingkan senyum manis namun sayangnya Xiao Jun tak merespon semanis itu. Ia hanya melirik sekilas pada Grace dengan tatapan dingin lalu mengalihkan perhatian dengan ngobrol bersama Liang Jia. Seketika itu Grace agak kecewa namun tetap berusaha berpikir positif, mungkin Xiao Jun tidak menyadari senyumannya.
Para pelayan muda masuk menyuguhkan hidangan di atas meja masing-masing. Mereka duduk dengan posisi saling berhadapan namun terpisah jarak yang cukup luas dan terhalangi meja. Jamuan makan pun sengaja digelar di aula agar mereka dapat menikmati santapan sekaligus hiburan.
Li San menatap Grace, gadis itu cukup cantik dan memesona. Postur tubuh yang tinggi langsing pun sesuai dengan Xiao Jun yang memang tinggi dan tegap. “Grace, mulai hari ini tinggallah bersama sepupumu. Paman harap kamu betah di sini dan cepat akrab dengan Xiao Jun.”
Grace tersipu mendengar harapan pamannya, betapa ia pun sangat berharap segera mengenal pria bernama Xiao Jun itu lebih dekat. “Baik Uncle, aku akan berusaha. Terima kasih.” jawab Grace girang. Sayangnya panggilan modern yang ia serukan pada Li San justru membuat nyaris seisi ruangan mengerutkan dahi. Kao Jing sampai melirik tajam ke arah putrinya sebagai isyarat yang telah diucapkan Grace barusan bukan pada tempatnya, tapi Grace sama sekali merasa yang ia ucapkan adalah hal yang lumrah dan tak merasa bersalah mengucapkannya.
Li San terdiam sejenak, andai bukan Grace yang memanggilnya seperti itu mungkin emosinya sudah dimainkan. Ia mencoba lebih tenang dan memaklumi, setidaknya untuk hari ini saja. “Baguslah. Kalau begitu Xiao Jun dan Grace tidak ada yang keberatan dengan perjodohan ini kan?” pertanyaan itu jelas basa-basi saja, andai diperbolehkan jujur tentu Xiao Jun dengan lantang akan menyerukan penolakan.
Liang Jia melirik Xiao Jun, separuh cemas dan berharap Xiao Jun masih sanggup memainkan scenario lanjutan.
“Aku tidak keberatan, ayah.” Ujar Xiao Jun mantap.
Jawaban Xio Jun yang lantang itu menerbangkan separuh hati Grace, seolah bunga-bunga bertebaran di sekitarnya. Ia seakan melayang oleh pernyataan itu, “Aku bersedia.” Ujar Grace tak kalah mantap.
Li San tertawa senang, jawaban itulah yang ia nantikan. “Urusan baik jangan ditunda lama, aku sudah melihat hari baik. Pertunangan kalian akan dilaksanakan minggu depan, apa ada yang keberatan?”
Hening sejenak, Li San, Liang Jia, Chen Kho, Grace serta Yue Xin dan Yue Xiao menatap pada Xiao Jun. Layaknya terdakwa yang menanti keputusan terakhir sang hakim yang masih membisu. Meskipun ini hanya pertanyaan settingan, namun Li San tetap tegang dan separuh menyesal memberikan pertanyaan seperti itu, seakan ia masih
punya hati membiarkan Xiao Jun memilih.
“Sesuai kehendak ayah, silahkan dilaksanakan.” Jawab Xiao Jun singkat.
Senyum Grace langsung merekah, pria itu menerimanya. Dalam bayangan Grace, ia akan menjalani cinta yang hebat dengan Xiao Jun. Keputusan baik itu membuatnya merasa sebagai wanita paling beruntung di dunia. “Aku bersedia.”
***