
“Jun! ponselmu!” Namun Xiao Jun terus melangkah, menjauhi Weini yang sudah memungiti ponselnya.
Perasaan ini pernah ada, adegan seperti ini dan di tempat inilah pertama kalinya kita bertemu. Tidak saling kenal, kau terlihat sangat angkuh, dingin dan tampak sulit terjamah olehku. Tapi kini kita bukan lagi dua orang asing, melainkan sepasang yang saling mengenal satu sama lain.
Weini menyadari perasaan serta apa yang ada dalam benaknya sekarang, sebuah rasa yang menuntunnya agar tidak diam di tempat. Agar ia tidak menjadi gadis penurut yang diam menunggu kekasihnya datang, sepasang kakinya mulai melangkah, makin cepat demi mengejar seseorang yang terlihat menjauh darinya.
Waktu itu aku mengejarmu, namun tidak terkejar. Sekarang, di tempat yang sama ini aku kembali mengejarmu, dan tak mau mengulangi kegagalan. Aku pastikan akan menangkapmu! Gumam Weini mantap dalam hatinya.
Deg! Xiao Jun merasakan debaran hatinya yang sangat kencang lantaran sepasang tangan melingkari pinggangnya dari belakang. Erat... seakan enggan dilepaskan. Xiao Jun mematung sejenak, dalam diamnya bibir yang enggan memecah keheningan dan ingin lebih meresapi bahasa tubuh yang saling bertautan sekarang. Betapa mereka saling membutuhkan dan enggan terpisahkan, seperti itulah makna pelukan yang dirasakan Xiao Jun sekarang.
Perlahan Xiao Jun membalikkan tubuhnya, menghadap tepat pada Weini yang menatapnya lekat. Weini sudah melupakan tentang ponsel yang ingin ia berikan, tatapan Xiao Jun sudah melenakan dan debaran kencang di jantungnya telah mendominasi rasa hatinya sekarang.
Xiao Jun meraih dagu Weini dengan jemarinya, perlahan namun pasti ia tahu apa yang ia inginkan. Weini pun sudah menyiapkan hatinya sejak tadi. Menantikan sebuah kecupan hangat mendarat di bibirnya.
Lalu lalang orang-orang di sekitar tak lagi menjadi penghalang mereka untuk meleburkan perasaan. Dunia ini dalam sesaat adalah milik mereka dan tak seorangpun bisa mengusiknya. Sepasang bibir itu telah bertemu, dalam kecupan hangat dan pelukan erat. Membiarkan orang-orang yang melintasi tubuh transparan mereka, tidak akan ada yang bisa menyaksikan adegan ini.
"Wo ai ni, Yue Hwa." Bisik Xiao Jun lembut saat mengakhiri kecupannya.
❤️❤️❤️
"Wah kacau nih, aku kirain mereka bakal nunggu di mobil sebentar, eh nggak tahunya malah ikutan keluar. Mana nggak bisa dihubungi lagi mereka berdua. Ke mana ya kira-kira? Kok nggak bikin kegaduhan kalau emang nona nongolin wajahnya." Dina menyandarkan dirinya di body mobil, menunggu dengan cemas lantaran semua berkumpul di luar dan tidak bisa masuk ke dalam mobil karena Xiao Jun dan Weini yang berjaga di sana menghilang.
"Ke toilet juga kali ya? Trus selisihan jalan sama kita. Mungkin nggak sih?" Timpal Grace yang ikutan bingung. Ia melirik ke Stevan yang malah angkat bahu.
"Kirain Ming Ming doang yang bikin kacau jadwal kencan, eh nggak tahunya kita udah kelar malah satu pasangan menghilang. Huft sabar Dina sabaar!" Gumam Dina mengelus dadanya. Banyak yang ia pikirkan dan segalanya terasa kacau.
Stevan melirik Dina dengan entengnya, siap menyinyir gadis itu. "Emangnya kamu berani apa sama mereka, walaupun jelas mereka yang berulah tetap aja kita nggak bisa apa apa, apalagi sama Weini." Ledek Stevan.
Dina menimbang-nimbang sejenak, perkataan Stevan barusan memang benar tapi gengsi Dina jauh lebih besar.
"Siapa bilang nggak berani? Lihat saja nanti aku bakal ngamuk ke Bos Jun." Gerutu Dina dengan mantap.
Stevan menaikkan satu alisnya, bibirnya pun mulai menarik senyuman. "Yakin tuh?"
Dina diam, pasalnya ia tidak seyakin itu.
Ia memasang jurus diam dan pura pura acuh agar Stevan berhenti meledeknya.
❤️❤️❤️
"Eh, mereka udah selesai ternyata." Weini kaget melihat teman-teman yang lain sedang berdiri, berpanas-panasan mengerumuni mobil karena tak bisa masuk. Jelas saja sedang menunggu mereka yang membawa kunci mobil.
Xiao Jun tersenyum kemudian menatap balik Weini, "Kita masuk saja ke dalam sekarang, setelah itu baru hilangkan sihirnya." Gumam Xiao Jun memberi ide yang sukses membuat Weini ternganga.
"Kamu yakin? nanti mereka kaget gimana?" Tanya Weini tak tega membuat yang lainnya terkejut.
Xiao Jun menggenggam tangan Weini lalu menuntunnya masuk ke dalam mobil dengan tubuh transparan mereka. Duduk kembali ke posisi semula mereka lalu memandangi teman-temannya di luar. "Nggak apa apa, mereka udah sering dibuat kaget kan sama kita." Ujar Xiao Jun tersenyum, kemudian menghilangkan pengaruh sihirnya. Tubuhnya kembali terlihat lagi, begitupun dengan Weini yang mengikuti jejak Xiao Jun.
Pluk... Xiao Jun membuka pintu mobil dari dalam, sontak mengejutkan Dina yang sedang bersandar di sana.
“Eh kaget!” Latah Dina yang nyaris terpental dan untung saja dengan sigap ditarik oleh Ming Ming. Saat menoleh ke mobil, nyaris saja Dina pingsan di tempat, terkaget-kaget melihat Xiao Jun duduk di dalam mobil dan sedang tersenyum manis. Lutut Dina terasa lemas, dalam hatinya pun berkata. Kapan dia muncul, ya ampun aku ngomongin mereka dari tadi, jangan jangan... ****** dah hiks.
Weini pun melakukan hal yang sama, membukakan pintu dari dalam lalu tersenyum pada semuanya. “Maaf ya bikin kalian kepanasan di luar. Masuk yuk, kita lanjut lagi jalannya.” Gumam Weini dengan lembut dan agak merasa bersalah.
Grace bergegas menghambur masuk, tak sabar berpanas-panasan ria di depan. Ia kembali duduk di samping Weini yang mengambil posisi di tengah. Sementara Dina menempati di sebelahnya, Fang Fang dan dua pria pengawal itu duduk di deretan kursi belakang.
Hati Dina berdebar-debar khas orang yang sedang ketakutan dan merasa bersalah. Berharap agar Weini dan Xiao Jun tidak mendengar apa yang ia bicarakan tadi.
“Kak, habis ini kita ke mana?” Tanya Weini memecah keheningan yang canggung itu. Weini bisa membaca pikiran para penumpang yang lainnya yang bingung bagaimana ia dan Xiao Jun bisa masuk ke dalam mobil tanpa sepengetahuan mereka.
“Ng ke ka fe di de kat apartemen bos Jun.” Seru Dina terbata-bata, sontak membuat tawa Stevan yang sudah mengemudikan mobil meninggalkan kawasan bandara, menjadi terbahak-bahak. Dina menahan geram, ia tahu betul kalau Stevan sedang menertawakannya. Dan gara-gara Stevan pula yang memancing Dina sampai terlalu bersemangat dan berani memarahi Xiao Jun, padahal begitu melihat senyuman bos muda itu hati Dina langsung ciut.
“Kenapa Din? Tadi katanya mau marahin bos Jun? Tuh orangnya di sebelahku, kok belum dimarahin?” Kelakar Stevan yang kembali terkekeh.
Xiao Jun yang mendengar itu langsung menoleh ke arah Dina, membuat Dina gemetaran sehingga menggaruk lututnya yang berbalut celana jeans. Weini yang menyadari Dina terlalu panik sekarang, langsung memegang tangan gadis itu. Memberikan ia ketenangan serta meyakinkan bahwa gadis itu tidak bersalah.
“Marahin aja kak, lagian memang kami berdua yang salah karena pergi terlalu lama. Udah gitu bikin kalian terkejut pula.” Ujar Weini lembut, tatapan teduhnya berhasil menenangkan Dina.
Dina tersenyum lega, setidaknya Weini tidak marah padanya. Semua yang ia lakukan pun demi kebaikan kedua bosnya itu. Meskipun harus sedikit berkorban dan main drama untuk memuluskan rencana itu. Apapun akan Dina lakukan demi kebahagiaan dua orang itu.
“Tadi itu kalian menghilang dengan sihir ya?” Tanya Grace yang masih kepo dan tak habis pikir dengan kemunculan mendadak pasangan itu.
Weini pun tak bisa menutupi dari teman-temannya, setidaknya mereka memang telah teruji dan bisa dipercaya. Ia pun mengangguk dengan mantap, semantap jawabannya. “Ya.”
Sepasang mata Grace tampak berbinar penuh rasa kagum. “Wow... sepupuku memang hebat. Andai aku juga bisa, sedikit saja deh sihirnya ha ha ha... bisa dibagi nggak Hwa ilmunya?” Celetuk Grace seraya tertawa, mengundang tawa yang lainnya sehingga perjalanan menuju tempat berikutnya terasa sangat hidup.
Kita ke tempat selanjutnya Hwa, dan terakhir menuju hatimu. Gumam Xiao Jun dalam hatinya seraya tersenyum bahagia karena rencana awalnya berjalan mulus.
❤️❤️❤️
Hmm... rencana apa sih yang Xiao Jun maksud?