
Selepas kepergian Xiao Jun dan yang lainnya, apartemen terasa sepi meskipun masih banyak penghuni tambahan di sana. Xin Er dan dua putrinya, serta satu orang cucunya beristirahat di dalam kamar yang sama. Xin Er tidak bisa tertidur meskipun tubuhnya terasa lelah dan tidak tidur semalaman, ia tidak terbiasa tidur di siang hari, secapek dan sekantuk apapun.
"Ibu tidak bisa tidur? Apa perlu Li An siapkan sesuatu?" Tanya Li An penuh perhatian, ia tahu ibunya hanya berbaring dan sesekali bergerak gelisah.
Xin Er melihat putrinya, senyuman lembutnya tersorot untuk Li An. "Apa ibu membangunkanmu?" Xin Er justru bertanya balik.
Li An duduk di samping Xin Er dan menggeleng pelan, "Aku tidak ngantuk, bu. Ibu pasti belum terbiasa di tempat baru, apa perlu Li An siapkan sesuatu?" Li An mengulangi tawarannya.
"Kamu sedang hamil muda, jangan terlalu banyak bergerak. Ini kehamilan pertamamu, kamu harus lebih menjaga diri. Ibu tidak apa-apa, tidak perlu terlalu dilayani. Nanti ibu akan buatkan jamu penguat kandungan untukmu." Ujar Xin Er sembari mengelus punggung tangan Li An.
Li An mengangguk patuh, bagaimanapun ibunya jauh lebih berpengalaman soal mengurus anak. "Li An akan belajar menjadi ibu yang baik, seperti ibu yang jadi panutanku." Ujar Li An bangga mempunyai seorang ibu yang punya kebesaran hati seperti Xin Er.
"Aku juga... Aku belajar menjadi ibu yang tanggung untuk anakku, seperti yang ibu lakukan untuk kami." Timpal Li Mei yang ternyata mendengar pembicaraan mereka.
Xin Er dan Li An menoleh ke arah Li Mei yang tidur dalam posisi miring, mengeloni anaknya.
"Mei, kamu juga tidak tidur?" Bisik Xin Er memelankan suaranya, takut mengganggu bayi yang tertidur pulas itu.
Li Mei tersenyum, "Aku sempat tertidur sebentar, Bu. Obrolan kalian sangat asyik, aku tidak tahan ingin nimbrung." Seru Li Mei, ia beranjak dari sisi bayinya lalu duduk di dekat saudari dan ibunya.
"Kemarilah, anak-anakku." Xin Er merentangkan kedua tangannya untuk menyambut Li An dan Li Mei ke dalam pelukan. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh dua bersaudara itu, sangat jarang kebersamaan yang bisa mereka rasakan bersama ibunya. Meskipun anggota keluarga mereka belum berkumpul lengkap, tetapi kekurangan itu bukan kendala mereka untuk saling mengutarakan kasih sayang.
"Kalian adalah wanita yang hebat, setiap wanita pasti bisa menjadi ibu yang hebat bagi anak-anaknya, itu sudah nalurinya. Ibu selalu berdoa untuk kebahagiaan kalian, agar kalian tidak mengalami penderitaan hidup seperti ayah dan ibu. Cukup kami saja yang menderita, kalian harus punya kehidupan yang lebih baik." Xin Er memberikan nasehatnya pada kedua buah hatinya.
Li An dan Li Mei mengangguk, "Apapun itu, yang pasti ibu adalah panutan kami." Seru Li An yang mengeratkan pelukannya.
"Karma itu ternyata ada, siapa yang menyangka dulu kita sangat tertindas oleh tuan besar. Ayah dan ibu, kita sekeluarga menerima hukuman yang menyedihkan itu. Mei masih ingat ketika dibuang di daerah terpencil, setiap hari Mei berpikir sampai kapan kehidupan seperti ini? Apa masih ada kesempatan untuk berkumpul kembali. Ternyata pertanyaan Mei terjawab juga, namun setelah keluarga kita bisa berkumpul, justru keluarga tuan besar yang jadi berantakan." Gumam Mei, wajahnya tampak sedih mengingat pengalaman pahitnya di masa lalu, selain berjuang hidup untuk dirinya, ia juga bertanggung jawab menjaga Li An yang lebih kecil dan polos.
Xin Er meraih tangan Li Mei, digenggamnya hingga terasa hangat. Senyumannya yang kharismatik membuat siapa saja yang memandangnya menjadi tenaga.
"Apa yang sudah terjadi di masa lalu, biarkan saja... Jangan dijadikan dendam lagi, sebenarnya keluarga tuan besar juga sejak dulu tidak ada yang betul-betul bahagia. Setidaknya kalian juga mendapatkan jalan hidup seperti ini berkat tuan besar juga. Dia memang keras, tapi tidak sepenuhnya kejam."
Li An dan Li Mei mengangguk paham, mereka tidak bisa pungkiri bahwa pendapat ibunya memang benar adanya.
"Ah, bicara tentang mereka, ibu jadi penasaran dengan kabar nyonya besar. Li An, bisa hubungkan ibu dengan nomor nyonya Liang Jia?" Pinta Xin Er yang baru teringat majikannya.
Li An beranjak dari duduknya, ia berjalan hati-hati menuju meja. Semenjak menyadari ada janin dalam kandungannya, ia mulai menjaga gerak tubuh. Ponsel di atas meja itu diambilnya, Li An mulai mencari nomor Liang Jia dan menghubunginya.
Berkali-kali ia mencoba terhubung hingga air mukanya tampak jelas bahwa usahanya terancam sia-sia.
"Mungkin mereka sibuk, sudahlah An." Ujar Xin Er yang melihat raut pesimis putrinya.
Li An nyaris saja memutuskan panggilannya, tetapi tertahan saat ada jawaban dari seberang.
"Wei, ni hao thai thai (nyonya)." Li An berjalan mendekati ibunya lalu menyerahkan ponsel itu kepada Xin Er.
Xin Er tampak begitu semangat saat bisa terhubung dengan Liang Jia.
"Nyonya besar, apa kabar anda?"
"Nyonya... Ceritalah, aku siap mendengarkan."
Isakan Liang Jia terdengar pecah, ia serasa menemukan tempat untuk menurahkan bebannya.
"Xin Er, apa kabarmu di sana?"
"Aku sudah membaik nyonya, bagaimana keadaan nyonya dan tuan di sana?" Tanya Xin Er mengulang pertanyaannya.
Liang Jia sempat terdiam sesenggukan, namun ia tidak akan bisa bungkam lebih lama lagi. Cepat atau lambat semua akan terbongkar.
"Tuan besar... Dia... Dia koma...."
Xin Er menutup mulutnya sakit shock mendengar kabar buruk itu, ia bisa membayangkan betapa hancurnya perasaan Liang Jia saat ini. Apalagi Xin Er tahu bahwa anak-anak Liang Jia tidak ada di sana, hati kecil Xin Er tak tega membiarkan Liang Jia menghadapi masalah sebesar itu sendirian.
❤️❤️❤️
Liang Jia tak sanggup lagi berkata-kata, tubuhnya bersandar di dinding dan melorot begitu lemas. Tangisannya makin pecah, jika bukan karena berbagi rasa pada Xin Er, mungkin ia masih bisa memendamnya walau menyakitkan. Ponsel di tangannya masih tersambung dengan Xin Er tetapi ia sudah tak ingin berbicara lagi.
Tubuh Li San terbaring tak sadarkan diri, hidupnya mengandalkan alat-alat yang terus berbunyi setiap detik. Entah sampai kapan ia akan bertahan, Liang Jia pun belum siap menghadapi kehilangan.
"Mengapa terlalu berat hidupku ini? Mengapa tak bisa biarkan dia punya kesempatan bertemu Yue Hwa lagi? Keluarga kami masih harus disatukan kembali." Teriak Liang Jia dalam keputus-asaannya.
Liang Jia mendongakkan kepala, memandangi tubuh pria tua itu kemudian bergegas bangun menghampirinya. Liang Jia mulai gelap mata, ia mengguncang lengan Li San hingga selang infus dan alatnya ikut bergoyang.
"Bangun! Kenapa tidur terus? Di mana wibawa yang selalu kamu jaga itu? Di mana tubuh kuatmu serta ambisi hidupmu yang sangat tinggi itu? Bangun! Yue Hwa masih ingin bertemu kamu... Aku... Aku tak sanggup kehilangan kamu...." Pekik Liang Jia histeris.
Yue Fang baru saja kembali setelah mengurus beberapa keperluan ayahnya, begitu masuk ke dalam ruangan itu, ia menjerit histeris melihat tindakan ibunya yang bisa membahayakan nyawa Li San.
"Ibu... Hentikan!" Pekik Yue Fang yang langsung berlari menarik ibunya agar menjauh dari bangsal ayahnya.
Liang Jia mulai sadar ketika melihat Yue Fang, ia masih sesenggukan lalu memeluk putrinya.
"Suruh ayahmu bangun! Dia tidak boleh mati... Tidak boleh!"
Yue Fang hanya bisa membalas pelukan ibunya, ia tak berdaya, bukan kuasanya membangunkan ayahnya sekalipun ia sangat menginginkan itu.
Hidup terkadang tak pernah sesuai yang kita inginkan, kadang kejam, kadang terasa tak adil, tapi hidup dan segala dramanya tak pernah datang begitu saja, ada sebab yang menjadikan akibat.
🎬🎬🎬
Ada yang mewek nggak nih?
Oya, kenalan dulu sama nyonya Wen Ting ya, alias Wei Li An. Semoga sesuai ekspektasi kalian, susah ternyata cari visual peran. Hiks... Maafin author ya 😭 Weini ama Xiao Jun ntar dulu ya, aku takut ditimpak batako sama kalian kalau visualnya nggak klop.