
Suara knalpot motor yang terdengar sumbang dan nyaring mengusik tidur Weini, dengan setengah terpaksa ia mengucek kedua mata dan berusaha membukanya. Kantuk yang berat itu menyulitkannya berpisah dengan kasur. Matanya mulai menyipit melirik ponsel, ia langsung terbelalak ketika menyadari hari sudah sangat siang. Kedua
kaki jenjangnya meraih sandal rumahan yang ia lepaskan di sisi bawah kasur.
Weini mendorong pintu kamarnya dengan kasar, ia terbirit-birit keluar mencari Haris. Tidak biasanya pria itu membiarkannya tidur hingga matahari tepat di atas kepala, apapun alasannya bangun pagi itu aturan di rumah ini kecuali kepala keluarga tidak berada di tempat.
“Ayah? Ayah?” Dua kali Weini memanggil Haris namun terasa tidak ada tanda kehidupan. Sunyi senyap di dalam rumah, ia celingukan sekeliling ruangan dan hasilnya kosong. Samar-samar pendengaran Weini menangkap suara tawa yang familiar dari luar rumah, ia berlari ke teras untuk memastikan. Dua orang yang ia kenal sedang berjalan masuk beriringan, Weini tercengang mendapati kehadiran Dina.
“Eh, Non sudah bangun. Bisa tidur nyenyak kan non?” Dina segera menghampiri Weini yang masih mengenakan baju tidur. Wajah polos Weini ketika baru bangun tidur terlihat sangat imut, alami dan menarik. Dina baru pertama kali melihat wajah polos Weini saat bangun tidur.
“Ini hari libur kita kan, kok kak Dina ke sini?” Weini takut salah mengingat jadwal liburnya, ia masih jauh dari kata siap untuk berangkat kerja sekarang.
Dina tertawa kecil, ekspresi Weini yang gelagapan terlihat manis. “Nyawa non belum kumpul semua kayaknya. Ini memang libur, aku ke sini buat nemenin non.”
Haris menunjukkan dua kantong belanjaan, Weini yakin mereka habis dari pasar Grogol. “Aku mau masak enak, kalian santai aja.” Haris melenggang masuk sambil bersenandung ria, siulannya masih terdengar ketika ia berada di dapur.
Weini tercengang mendapati orang terdekatnya begitu ceria, seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Seakan semua kesulitan kemarin hanya halusinasi, ia bahkan mencubit lengannya untuk memastikan ia sudah terbangun dari tidur.
Dina menarik tangan Weini demi menghentikan aksi anehnya. “Non ngapain? Ntar biru loh cubit kayak gitu.”
“Jadi ini bukan mimpi ya? Kenapa kalian bisa sesenang itu? tertawa, bersiul, hanya aku saja yang masih merasa sakit di sini.” Weini mendekap dadanya, ada perih dan sesak yang sulit diungkapkan. Harga dari sebuah rasa mencintai namun terhalang untuk saling memiliki. Ia belum sanggup beradaptasi dengan rasa sakitnya.
Bibir Dina auto manyun, dari sorot matanya terpancar rasa iba. “Bukan gitu non, kami cuman mau menghibur non. Kalau yang hibur aja sedih gimana non bisa terhibur, ya toh?” Dina memeluk Weini, pemandangan dramatisir itu berlangsung di depan teras dalam kondisi siang bolong dan ramai lalu lalang orang. Untung saja Dina segera menyadari sikapnya yang berlebihan dan segera menarik Weini masuk sebelum adegan mereka diabadikan orang iseng.
Weini enggan bersuara, raut kegalauan masih sangat kentara di wajah cantiknya. Dina mengerti betul perasaan itu, terombang ambing tanpa kepastian, memiliki tapi tak bisa bersama. Meskipun terlalu dini disebut patah hati, namun perihnya bisa menyaingi kondisi itu.
“Thanks kak, I’m fine. Sorry aku terlalu berlebihan tadi.” Weini mencoba tersenyum, sayangnya lengkungan bibir itu malah terlihat seperti meringis. Sekeras apapun ia berusaha, senyumnya masih terlihat berat.
“Its okay. Ntar kita jenguk Stevan ya non. Sekarang mending non urus diri dulu, aku mau bantu om Haris masak deh.” Dina menarik Weini ke kamarnya agar segera mandi dan merapikan diri. Setelah memastikan target telah dikurung dalam kamar mandi, Dina jingkrak keluar menuju dapur. Haris mengiming-iminginya belajar masak tom
yam yang super enak.
Weini membasahi rambutnya dengan membiarkan shower kencang mengguyur kepala. Kala sendiri dalam kondisi seperti ini – mandi sambil merenungi kesalahan – Weini mencoba jujur pada diri sendiri. Betapa dalam perasaannya pada Xiao Jun, ia bahkan tidak bisa mengukurnya, yang ia ketahui semakin mencintai maka semakin
terpuruk ketika disakiti. Masalah cintanya tidak sesederhana yang dibayangkan, bukan hanya melibatkan dirinya sebagai orang yang terluka namun telah jatuh korban yang tidak ada sangkut pautnya. Semua karena Weini yang terlalu menampakkan kerapuhannya, andai ia bisa berkeras hati sedikit dan menghadapi masalah dengan
tenang, tidak mudah panik, mungkin Stevan tidak akan terbaring oleh luka bekas pecahan piring yang menancap di punggungnya.
bisa bertindak agresif yang mungkin akan memperkeruh situasi.
“Semangat Weini! Semangat!” Weini memotivasi diri bersamaan dengan selesainya ritual mandi pagi di siang bolong. Dipilihnya pakaian terbaik dalam lemari dan tak ketinggalan merias wajahnya hingga terlihat segar natural. Bibir manisnya diulas dengan lipmatte warna peach yang semakin menegaskan wajah berseri. Kesedihan kemarin masih membekas tegas dalam hati, namun ia perlu merubah cara menghadapi masalah. Haris memintanya menangis sepuasnya lalu kembali mengingat cara tersenyum.
Weini mulai mengerti maksud ucapan Haris, bahwa seterpuruk apapun ia tetap harus terlihat kuat dari luar. “Jangan mewek, jangan sedih! Senyum … senyum … menangis di saat sendiri, tertawa dan bahagia saat berhadapan dengan orang lain. Ini masalahku sendiri jangan bikin orang lain mencemaskanku!” Weini menepuk pipinya sembari merapalkan doa penyemangat. Ia bertekad ketika keluar dari kamar ini, ia kembali jadi Weini yang biasa, ceria dan keras kepala.
Huft… Weini menarik napas dalam lalu melangkah menyusul Dina dan Haris di dapur. Ada secerca harapan yang ia tanamkan dari sikap yang ia ambil sekarang, bahwa ia tak boleh lupa siapa jati dirinya. Darah yang mengalir di tubuhnya dari keturunan yang punya kuasa, ia pun harus mewarisi sifat leluhurnya yang tegas, kuat, mandiri dan bisa menakhlukkan dunia. Ya … setidaknya ia bisa menakhlukkan dirinya yang tengah gusar, itu saja sudah cukup bagi Weini.
“Kalian udah selesai masaknya? Mau dibantu?” Weini muncul mengejutkan Dina yang tengah mengiris wortel, sementara Haris tersenyum lebar melihat anak gadisnya sudah kembali waras.
Dina nyaris mengiris jarinya saking takjub dengan penampilan Weini yang bersinar. “Wow … non, cakep bangeet! Tumben dandan waktu libur, itu warna lipsticknya cocok buat non.” Dina mengacungkan dua jempol memuji kebolehan Weini berdandan.
“Selamat datang kembali, Weini.” seru Haris tersenyum lega kemudian kembali mengaduk kuah tom yam yang mulai mengeluarkan aroma sedap.
Weini mengangguk dan tersenyum lebar untuk Haris, sang penyemangat hidupnya. “Thank ayah, thanks kak Dina.”
Dina bertepuk tangan kegirangan, rasa kagumnya makin besar pada sang artis. Tidak perlu waktu lama untuk terpuruk, ia bisa berdiri tegar dan semakin bersinar.
“Dinaaaa … udah belum irisnya? Kuahnya sudah mendidih dari tadi loh.” Haris mengingatkan Dina, ia sendiri yang request membantu menyiapkan bahan – bahan masakan namun leletnya minta ampun.
Dipelototi seperti itu oleh Haris langsung membuat Dina konsentrasi lagi dengan sebatang wortel yang baru separuh diiris. Tiba-tiba Weini datang menyerobot kerjaan Dina, melihat lambannya cara kerja Dina mungkin sayur itu baru matang dua jam kemudian.
“Aku aja, Kak Dina bantu yang lain ya.” Ujar Weini tersenyum ramah sehingga ia terkecoh dan membiarkan Weini menyelesaikan tugasnya.
***
Makan bertiga dengan menu tom yam jamur dan tempe goreng kriuk sangat memuaskan Dina. Weini bahkan menambah sepiring jatah makannya, selera makannya sedang bagus terlebih ia dikaruniai tubuh proporsional tanpa perlu diet dan tak mungkin gemuk walau makan banyak.
“Non, aku barusan hubungin Stevan katanya dia udah keluar rumah sakit tadi pagi. Kita ke rumahnya aja sekarang.” Dina menghampiri Weini setelah memisahkan diri ke ruang tamu untuk menelpon.
“Eh, secepat itu dia keluar. Kak Dina tahu rumahnya?” tanya Weini sambil merapikan meja makan.
Dina mengangguk, ia tentu tahu di mana saja rumah artis yang satu managemen dengan Weini. Mereka berpamitan dan Haris menitipkan sesuatu untuk Stevan. Meskipun penasaran dengan isinya, namun Weini enggan kepo mengintip sesuatu yang bukan miliknya.
***