OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 228 KAU TAK AKAN TERGANTI



Grace menatap sekali lagi kamar yang ia tempati, mulai malam ini ia tidak akan tidur di sana lagi. Pelayannya dan juga Fang-Fang membawa koper Grace menuju mobil, sementara ia masih betah duduk di atas ranjang. Kao Jing dan Chen Kho masuk ke dalam, hendak mengantar kepergian Grace namun hanya sebatas pertemuan di kamar. Kedua pria itu enggan bertatap muka dengan Xiao Jun. Mereka terpaksa mengundur jadwal pulang ke Amerika demi


memastikan Grace berangkat lebih dulu.


“Putriku …” Kao Jing memanggil dengan suara lembut, membuat Grace menoleh kepadanya.


Grace langsung berdiri dan melebarkan kedua tangannya, bersiap menerima pelukan hangat sang ayah. Sementara Chen Kho yang masih punya masalah pribadi sebelumnya dengan Grace, hanya diam membisu melihat keakraban ayah dan adiknya.


“Daddy, aku kira tidak akan bertemu kalian lagi. Terima kasih sudah menemuiku sebelum aku pergi.” Seru Grace sedih. Teringat saat pertama ia menempati kediaman bak istana ini, ia datng dengan dukungan sang ayah. Dan sekarang, ia harus mengandalkan diri sendiri untuk memperjuangkan cinta.


“Tentu saja, ayah pun tak sampai hati membiarkanmu pergi begitu saja. Putriku, ingat taruhan kita, waktumu sudah berkurang lumayan banyak.” Kao Jing masih mencoba mempengaruhi tekad putrinya, ia tahu penolakan Xiao Jun, tahu betul perasaan Grace namun tetap berusaha menyemangati Grace agar terus mendapatkan cinta Xiao Jun. Mereka harus menikah sesuai rencana, itulah yang diharapkan Kao Jing.


Grace menghela napas, “Daddy, sudahlah aku mengaku kalah taruhan. Tidak perlu satu tahun, aku sudah jatuh cinta padanya.”


Chen Kho memalingkan wajah ketika mendengar pengakuan Grace, terlebih Grace sengaja melirik Chen Kho ketika bicara demi melihat kakaknya.


“Baguslah, jadi ayah tidak merasa bersalah memaksamu tunangan. Habis ini kamu pasti punya banyak waktu pendekatan dengannya, cinta akan tumbuh karena terbiasa. Kalian akan tinggal bersama, pandai-pandailah


mengambil hatinya.” Seru Kao Jing bersemangat.


Grace mengangguk mantap, “Aku tidak akan mengecewakan daddy.”


Kao Jing tertawa kecil, jawaban itulah yang ia harapkan. “Sering-seringlah menelpon ayah. Kalau ada apa-apa langsung kabari, ayah pasti membantumu.”


Chen Kho yang berdiri di belakang Kao Jing hanya menggeleng pasrah, terus terang saja andai dia bukan anak kandung Kao Jing, ia tak akan bersedia diperlakukan bak kerbau dicolok hidungnya. Hati kecilnya selalu bertentangan dengan ambisi Kao Jing, dan sekarang ayahnya sudah mulai meracuni Grace.


“Tenang, daddy. Aku pasti menelponmu. Ah, waktunya sudah sampai, aku harus berangkat dulu. Love you, daddy … take care!” Grace memeluk ayahnya dengan akrab, matanya terpejam merasakan kasih sayang itu. Kao Jing


membalas pelukan putrinya dengan erat, sekaligus ia sangat bergembira dengan kemantapan hati Grace memperjuangkan cinta.


Grace melepaskan pelukan, kali ini ia harus berpindah pelukan ke Chen Kho. Meskipun masih ada rasa kesal karena kejadian beberapa hari lalu, namun sebagai saudara sekandung dan sedarah, ia harus mengesampingkan perasaan itu dan menyapa duluan. Bagaimanapun ia tetap seorang adik, sudah sepatutnya menyapa yang lebih tua duluan. Itulah hasil pendidikan moral  yang diajarkan Bibi Gu kepadanya.


“Kakak, aku pergi dulu. Take care!” Grace memeluk Chen Kho, ada rasa segan dan janggal tetapi ia hempaskan rasa itu.


Chen Kho tersenyum di balik pelukan adiknya, betapa ia menyayangi dan tak rela satu-satunya adik perempuannya disakiti. Ia menggerakkan tangan memeluk Grace juga, “Ingat pesanku, kamu masih punya kesempatan merubah


nasib.  Jangan cari masalah dengan gadis bernama Weini, selama kamu tak sanggup mengunggulinya.”


Bisikan Chen Kho barusan terdengar menyakitkan, Grace bergegas melepaskan pelukan. Ketika ia mencoba berdamai dengan perasaan dongkol, kakaknya masih saja mengoyak luka yang sama.


***


“Apa yang membuatnya begitu lama?” Tanya Xiao Jun, ia mulai tak sabaran. Grace terlalu lelet mereka akan tertinggal pesawat jika gadis itu tidak segera muncul.


“Apa perlu saya susul dia, tuan?” Tanya Lau.


“Tidak usah, biarkan saja!” jawab Xiao Jun dengan cepat.


Lau tersenyum dan mengangguk, “Baik tuan. Maaf tuan … saya tidak mengerti mengapa anda memilih penerbangan umum? Jet pribadi anda malah dibiarkan kosong menuju Jakarta.” Lau tak kuasa lagi menahan rasa


penasaran, sejak awal ketika Xiao Jun menugaskannya membeli tiket pesawat. Mereka tentu lebih leluasa berpergian dengan pesawat pribadi tetapi Xiao Jun malah memilih yang ribet.


Xiao Jun tersenyum tipis, ia tak mengira pengawalnya akan sekepo itu. “Karena ada kenangan yang tidak mau kunodai di sana.” Jawab Xiao Jun mantap. Ia tahu Lau pasti mengerti maksudnya, tidak perlu ia perjelas kenangan apa. Lagipula di belakang ada orang baru yang belum tahu kisah apa yang pernah terjadi di Jakarta.


Lau ikut tersenyum, “Saya paham sekarang, tuan.” Lau tak mengira tuan muda itu punya sisi lain yang begitu menarik. Jangankan diminta menggantikan gadis yang ia cintai dari posisi hatinya, hanya untuk sekedar menggunakan barang yang memiliki kenangan bersama Weini pun tampak mustahil. Gadis lain tak akan sanggup menyentuh area itu.


“Saya juga sudah menyiapkan unit apartemen di dekat unit anda untuk nona Grace. Sesuai yang anda minta, Tuan.” Timpal Lau. Tuan mudanya sudah antisipasi lebih dini agar Grace tinggal di tempat lain, ia enggan berada


satu ruangan tempat tinggal bersama gadis itu. Dan semua rencananya jelas tanpa sepengetahuan Grace.


“Bagus. Terima kasih, paman.” Ucap Xiao Jun.


“Hmm … tuan, apa anda akan segera menemui nona Weini?” Lau menjaga volume suaranya, selain karena takut menanyakan masalah ini, ia pun tak ingin Fang-Fang menguping terlalu banyak. Ya, meskipun pengawal wanita itu adalah bayaran Xiao Jun dan orang pilihan Lau, namun masalah pribadi ini bukan konsumsinya.


Xiao Jun yang tengah memainkan ponselnya langsung berhenti sejenak, ia perlu berpikir ulang sebelum melontarkan jawaban. “Belum tahu.” Jawabnya singkat lalu meneruskan sibuk dengan ponsel, ia hanya mencoba


menyibukkan pikirannya.


Weini yang barusan diungkit oleh Lau, nyatanya mengantarkan alam bawah sadar Xiao Jun untuk menggiring jarinya mencari kontak whatsapp gadis itu. Chat terakhir gadis itu hanya dibaca oleh Xiao Jun, terlihat gadis itu tengah online. Xiao Jun tersenyum tipis, ada getaran rindu yang menggoda untuk sekedar menyapa. Ia klik foto profil Weini, melihat wajah cantik dengan senyum ceria yang terpajang di sana.


Jemarinya mulai mengetik sesuatu di kolom chat Weini, kemudian dihapus. Wajah Xiao Jun mulai mengerut, ia mencoba mengetik pesan lagi namun kembali dihapus. Berulang kali demikian, hingga ia mengetikkan kata-kata yang lebih singkat. Hanya menuliskan pesan saja sudah membuat jantungnya berdebar dua kali lipat lebih kencang. Ia sudah lama tak segugup ini.


Pintu mobil dibuka, Grace masuk dan mengejutkan penumpang lain karena suara penuh semangatnya. “Sorry, kalian jadi nunggu kelamaan.”


Xiao Jun tak siap dengan kedatangan Grace, pikirannya buyar seketika sehingga jarinya reflek memencet tombol enter tanpa ia sadari. Ia malah bergegas memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. Status pesan itu luput dari pantauannya, Satu pesan terkirim!


***


Hi readers, apa ya isi pesan terkirim dari Xiao Jun untuk Weini? Hihihi…