
**Tak ada yang sanggup menebak hati siapapun
Kau boleh saja tertawa seakan tiada yang membebani pikiranmu
Kau boleh bohongi siapapun yang bersamamu dan mengira kamu bahagia
Tetapi kau tidak akan pernah bisa membohongi dirimu...
Bahwa kamu tidaklah sebahagia itu....
_Quote of Weini aka Yue Hwa**_
❤️❤️❤️
Weini menatap Chen Kho dengan iba, jika ia tidak memalingkan wajah padanya, jelas ia akan salah mengira bahwa pria itu tengah tertawa mengejeknya. Tetapi saat Weini melihatnya lebih dekat, barulah ia sadar bahwa Chen Kho sedang tertawa dalam tangisan, menertawakan dirinya sendiri.
Walaupun Weini tidak bisa membaca perasaan pria itu, tetapi ia bisa merasakan kepedihan hati yang dipendam pria itu dalam-dalam. Ada rasa tertekan, kesiapan, dan ambisi yang campur aduk mengguncang hatinya.
"Tak perlu mengasihiku, aku tidak perlu dikasihani siapapun." Gumam Chen Kho yang tahu bahwa ia sedang disorot.
Weini menyudahi pikirannya, ia cemas jangan-jangan justru Chen Kho lah yang bisa membaca pikirannya.
"Aku mau tidur, jangan menggangguku." Ujar Weini yang sudah mengubur simpatinya untuk Chen Kho karena mendengar dia tidak perlu dikasihani.
Chen Kho langsung terlihat sedih, nampak dari raut wajahnya yang sendu. Ia menunduk sesaat seperti berpikir sesuatu, kemudian kembali bersuara.
"Temani aku bicara sebentar, setelah itu aku janji tidak akan mengganggumu." Pinta Chen Kho bersungguh-sungguh.
Weini terdiam sejenak, melihat keseriusan dari binar mata pria itu, sebagai pertimbangan ia bisa dipercaya.
"Oke, tapi bicara di luar saja." Jawab Weini lalu keluar dari kamarnya dan menutup pintu.
Chen Kho mengangguk menyetujui, ia pun berjalan mengikuti Weini dari belakang. Hingga Weini berhenti dan duduk di sebuah sofa tunggal, lalu Chen Kho duduk di hadapannya di sofa lain.
"Bicaralah...." Ujar Weini singkat, ia tetap menjaga sikapnya agar tidak terlalu menampakkan kepedulian, padahal hatinya sedikit tersentuh saat melihat Chen Kho menangis.
Chen Kho tersenyum menyeringai, ia kembali meneguk minuman alkoholnya dari botol yang ia pegang. "Apa kau pernah menyesal?"
Weini menyipitkan matanya saat mendengar pertanyaan aneh Chen Kho. Ia pikir pria itu akan bercerita tentang dirinya, namun justru rasanya Weinilah yang akan diinterogasi.
Chen Kho tersenyum sendiri, ia bahkan tidak melihat wajah Weini. Tatapannya tertuju pada botol di tangannya.
"Apa kau pernah merasa menyesal dilahirkan dari keluarga yang kacau itu? Keluarga yang hanya tahu menuntut dan tidak pernah sepenuhnya menyayangimu?" Chen Kho melanjutkan pertanyaannya.
Weini terkesiap, pertanyaannya itu cukup dalam dan ia enggan membahasnya.
"Aku pikir kau meminta waktuku untuk mendengar ceritamu, ternyata aku hanya buang waktu saja. Simpan pertanyaanmu, aku lebih baik kembali tidur." Kesal Weini, ia melipat tangannya dan menatap jengkel pada Chen Kho.
"Aku sedang bertanya pada diriku! Ini tentang aku!" Pekik Chen Kho berang dan menatap Weini, tapi saat melihat reaksi Weini yang terkejut, ia malah menunduk menyesal.
Weini terkesiap, ia salah sangka karena tidak tahu cara Chen Kho bercerita seperti itu. Akhirnya Weini memilih diam, dibiarkannya suasana seperti itu hingga Chen Kho bisa menenangkan dirinya.
"Dia bilang dunia bisa digenggam kalau aku punya kekuatan, dia memaksaku mempelajari apa yang tidak aku sukai, termasuk ini." Chen Kho menggerakkan tangannya kemudian mengarahkan pada dinding, seketika itu pula lukisan yang tergantung di sana terjatuh lalu terbakar.
Weini terkesiap, ia tak menyangka Chen Kho akan memamerkan kekuatannya.
"Dan ini...." Pekik Chen Kho lagi lagi menggerakkan tangannya ke arah Weini hingga sofa yang Weini duduki melayang.
Meskipun agak terkejut, tetapi Weini diam saja. Perlahan efek sihir itu hilang, sofa yang didudukinya pun kembali ke tempat semula dengan mendarat ke lantai secara perlahan.
"Tapi nyatanya? Aku tetap tidak bisa menghidupkan ibuku lagi. Dia... Dia yang membuat ibu meninggalkan kami!" Pekik Chen Kho histeris.
Weini mengernyitkan dahinya, kata-kata 'mati' atau kehilangan masih sangat sensitif di hatinya. Ia juga baru saja kehilangan seseorang yang sangat berarti, dan semua itu karena ulah pria yang ada di hadapannya. Sontak Weini menatapnya tajam, rasa sakitnya pun terungkit kembali.
Mereka terdiam agak lama, hanya adu tatapan tajam yang menyakiti mata lantaran tanpa kedipan.
Chen Kho tampak ketakutan, ia menggeleng dengan cepat.
"Tidak... Tidak... Bukan aku yang membunuhnya tapi dia... Dia yang menyuruh aku menghisap energinya."
Weini terkejut, ia tak menyangka Haris meninggal mengenaskan karena disedot energinya. Weini baru menyadari ternyata bukan hanya dia yang menguasai sihir penghisap energi. Namun Chen Kho justru lebih menakutkan.
"Dia siapa?" Tanya Weini antusias, ia menatap serius pada Chen Kho yang masih belum menguasai dirinya agar tenang.
Chen Kho melirik Weini, sorot mata itu menampakkan ketakutan.
"Dia... Dia membisikkan padaku agar menyedotnya, aku tidak bisa menolak. Dia... Dia menguasai aku...." Teriak Chen Kho kemudian ia berteriak kencang menutupi telinganya.
Weini terkejut melihat Chen Kho yang meringkuk berteriak seperti sangat tersiksa, ia tidak tahu harus berbuat apa padanya. Di sela teriakan Chen Kho, ia mengangkat kepala menatap ke arah Weini.
"Pergi! Pergi dari hadapanku, dia... Dia menyuruhku membunuhmu." Teriak Chen Kho, tangannya mulai lepas kendali dan menggerakkan meja ke arah Weini.
Untung saja Weini cukup cekatan dan lincah menghindari serangan itu, tanpa bertanya lagi, ia segera berlari kembali ke kamarnya untuk bersembunyi.
Chen Kho masih terus mengamuk dan menghancurkan apa saja yang ada di sekitarnya. Ia setengah mati melawan kehendak dalam dirinya untuk berdiri dan menyusul Weini, antara kesadaran yang separuh-separuh itu, Chen Kho berjuang keras mengendalikan pikirannya dari bisikan gaib. "Aaaarrrghhh!"
Weini berhasil kembali ke kamarnya, jantungnya berdetak sangat kencang. Ia tak menyangka akan terjadi seperti itu. Weini memastikan kamarnya terkunci, bahkan ia mendorong meja untuk menghalangi pintu.
"Dia siapa? Kenapa pria itu terlihat seperti dikendalikan sesuatu?" Weini bertanya sendiri,
meskipun tenaganya belum pulih namun kepekaannya masih berfungsi. Ia bisa merasakan aura negatif yang sangat besar di sekelilingnya. Aura itu terasa seperti hendak membunuh.
❤️❤️❤️
Jet yang membawa Xiu Fung dan seorang pengawal Chen Kho itu akhirnya mendarat di Jakarta. Xiu Fung melihat ke luar jendela, suka tidak suka ia harus menghadapinya.
"Cepat, aku masih harus kembali ke Hongkong!" Bentak pengawal itu, tangannya setengah menyeret Xiu Fung turun.
Xiu Fung terus berjalan tanpa sepatah kata, ia hanya berjalan menatap lurus punggung kekar pria itu. Ia sudah mengambil keputusan, resiko terburuknya hanyalah mati.
"Berikan catatannya padaku!" Perintah pengawal itu tegas.
Xiu Fung menyodorkan kertas dari Weini kepada pengawal itu. Saat membaca tulisannya, pria itu tampak mengerutkan dahi.
"Barang-barang ini harus dibeli di mana?"
"Dia bilang di dekat sebuah apartemen." Jawab Xiu Fung acuh.
"Hmmm...." Reaksi pengawal itu datar.
Mata Xiu Fung menunduk, tak berani melihat pria itu. Ia terlalu takut gerak-geriknya terbaca saat ia gugup.
"Berikan lagi catatan yang satunya!" Timpal pengawal itu, kali ini ia menodongkan pistol ke kepala Xiu Fung.
Xiu Fung nyaris sesak napas saking takutnya dengan ancaman itu. Terlebih di saat pengawal itu mengisi senjatanya lalu kembali membidik tepat di samping kepala Xiu Fung. Ia menelan ludahnya, ternyata prediksinya meleset, kematian nyatanya lebih cepat menghampiri daripada yang ia duga.
❤️❤️❤️
Hi all, update lagi nih. Kali ini author akan munculkan visual Liang Jia ya.
Semoga suka ❤️