OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 267 XIE XIE NI DE AI ‘TERIMA KASIH ATAS CINTAMU’



Pepatah yang menyebutkan bahwa dinding punya telinga memang bukan hanya kiasan semata, terbukti saat Haris yang tidak serius pergi jauh dari rumah dan berdiri di samping mobil Xiao Jun sebagai sandaran dan markas untuk menguping. Bibir pria itu itu menarik seulas senyum puas, terlebih saat dua anaknya sedang menikmati


kebersamaan yang begitu hangat. Xiao Jun ternyata pintar mencari celah untuk menarik perhatian Weini dan menggiringnya larut dalam suasana romantis tanpa perlu berlebihan.


Haris masih berdiri sembari memangku tangan, nyanyian Weini baru saja berhenti seiring suara petikan kecapi yang juga sampai di penghujungnya. Haris tak tertarik ingin tahu kelanjutannya, ia harus menyiapkan sesuatu untuk bekal pulang demi menunjang alibinya yang keluar demi membeli cemilan.


“Kesempatan di depan mata, selanjutnya terserah kalian saja.” Ujar Haris sembari melangkah menjauh dari sekitar rumahnya.


***


Dua gelas teh yang dituangkan oleh si gadis pemilik rumah masih mengebulkan uap dan utuh belum tersentuh. Setelah konser dadakan yang menghangatkan suasana hati mereka, sepasang kekasih itu kembali diam meskipun duduk berdekatan. Mereka berdua hanya saling menunggu siapa yang lebih cepat buka suara. Hingga Weini mulai gerah dengan atmosfir di ruangan ini yang terasa tak nyaman, ia pun memutuskan untuk angkat bicara.


“Tehnya keburu dingin.” Ujar Weini.


“Gimana kabarmu?” Tanya Xiao Jun bersamaan dengan Weini yang mempersilahkannya minum. Keduanya terkejut


dan saling bertatapan, sesaat kemudian mereka saling melempar senyum canggung. Weini menggerakkan tangannya, meminta Xiao Jun mencicipi apa yang sudah dihidangkan untuknya. Pria itu tidak ada alasan menolak lagi, ia mengangkat gelas lalu menyeruputnya perlahan.


“Kabarku tidak ada yang istimewa, seperti yang kau lihat sekarang.” Weini menjawab pertanyaan itu dengan lirih, namun tetap dengan sorot mata yang tenang.


Gelas berisi teh melati itu masih digenggam Xiao Jun, ia tak ingin suasana kembali dingin, bila perlu selalu sehangat minuman dalam gelas itu. “Weini, terima kasih bersedia menemuiku. Aku tahu kamu pasti membenciku, kupikir akan diusir dari sini.” Xiao Jun tertawa kecil, ia memang tidak menyangka mendapat sambutan hangat setelah kekacauan sekian lama. Baik Haris maupun Weini masih bersikap baik terhadapnya.


“Mau sampai kapan juga terus menghindar, saatnya hadapi ya hadapi saja.” Weini menyilangkan kaki dengan raut


yang tetap dipertahankan ketenangannya.


Xiao Jun menaruh gelas ke atas meja, ia melonggarkan sedikit posisi kakinya hingga kontras dengan bahasa tubuh Weini yang berusaha menutup diri. “Kalau kamu masih ingin diam, aku tak keberatan menunggu lagi. Tapi aku akan tetap mencari kabarmu, menghubungimu meski kau acuhkan.”


Weini berdecak, pria itu sedang berusaha menyindirnya yang selalu mengabaikan pesannya. “Aku tak sampai hati menggantung hati orang terus-terusan. Jadi, apa keputusanmu?”


Xiao Jun tertegun, gadis itu masih bersikukuh menagih keputusannya. Ia memalingkan wajah sejenak untuk berpikir, “Sementara tetap sama, meminta pengertianmu untuk menunggu. Weini, bisakah kau sedikit mempercayaiku? Aku pasti cari jalan tengah agar dia bisa terima kenyataan dan tidak terluka. Ya … Sedikit terluka pastinya.”


Weini tersenyum nyengir, jawaban itu terdengar labil. Xiao Jun memintanya percaya namun ia bergegas meralat di akhir pernyataannya. Ia menatap tajam pada Xiao Jun yang raut wajahnya mulai melunak, pria itu tak setenang beberapa detik lalu. Mereka masih terjebak diam dalam pikiran masing-masing.


“Aku bukan orang tanpa perasaan, dan sering sungkan berbahagia di atas patah hatinya orang. Tapi,semakin kupikirkan ternyata aku pun menyakiti hatiku sendiri, dan kamu tentunya.” Weini memberi jeda pada dirinya, ia menarik napas panjang hanya untuk melanjutkan kata-kata yang belum tuntas. Sementara Xiao Jun begitu tegang menatap gadisnya, ia terlihat tak sabar menunggu Weini kembali bicara.


“Aku hanya menghindar dari masalah yang sebenarnya bukan masalahmu saja, ini masalah kita. Tentang dia, aku turut bertanggung jawab untuk menyelamatkannya dari cinta yang menyakitkan dia. Jangan biarkan dia berlarut dalam kesedihan, aku sudah merasakan pahitnya, dan ini karenamu juga. Lucu juga, dua wanita menangisi seorang pria yang sama. Apa dunia sungguh kekurangan pria?” Ungkapan hati Weini yang serius malah berakhir dengan


candaan, ia tertawa kecil membayangkannya.


Sepasang bola mata Xiao Jun membesar, ia tertegun sejenak dan belum bisa berucap apapun. Barusan ia mendengar bahwa Weini memberinya kesempatan, Weini membuka hatinya untuk menghadapi masalah ini bersama. Xiao Jun masih perlu mencerna sejenak pernyataan itu, ia begitu bahagia, sangat!


“Xie Xie, Weini.” Bisik Xiao Jun pelan, walaupun tidak tepat di telinga Weini, namun gadis itu mendengar jelas apa yang diucapkan Xiao Jun. Begitu singkat dan menggelegar hatinya, Xiao Jun bisa berterima kasih atas kesempatan yang Weini berikan kepadanya.


Weini mengangguk pelan, tiada lagi yang perlu ia lontarkan. Sebuah anggukan dan senyuman sudah mewakili isi hatinya. Senyuman yang tak perlu menunggu lama untuk mendapat balasan, senyuman yang menggoda akal sehat Xiao Jun untuk menahan dirinya. Dalam senyuman pula, Xiao Jun dengan tegas menarik Weini ke dalam pelukannya. Detik pertama tentu sangat mengejutkan bagi Weini, ia tak siap mendapat serangan dadakan. Namun detik selanjutnya, kedua tangannya bergerak pelan dan melingkari punggung kekar pria itu, begitu erat, begitu rapat.


Sekian lama sudah ia merindukan hangatnya pelukan ini, di mana Weini dapat merasakan detak jantungnya dan Xiao Jun yang saling berpacu seperti perlombaan pacu kuda. Matanya terpejam, kepalanya ia topangkan ke pundak Xiao Jun, hanya dengan diam saja mereka sudah saling melepas kerinduan. Begitu lekatnya hingga tak satupun dari mereka yang bersedia melepaskan, Xiao Jun mencium wangi dan lembutnya rambut Weini yang menempel di


dagunya, tangannya kembali bergerak untuk mengusap helai mahkota gadis itu.


Ini kali kedua mereka berpelukan setelah Xiao Jun kembali, namun luapan sayang yang terjadi sekarang adalah yang sesungguhnya, tanpa paksaan dan dilakukan atas dasar suka sama suka. Weini bersedia kembali ke sisi Xiao Jun, memperjuangkan cinta dan masa depan mereka yang masih panjang.


“Ng, nanti ayah pulang.” Weini tertawa kecil seraya melonggarkan pelukan, bukan karena gerah namun ia tak siap malu andai Haris tiba-tiba muncul memergoki kemesraan mereka.


Xiao Jun melepaskan Weini dari pelukan, namun senyumannya tak lepas menghiasi wajah tampannya. Malam ini bagaikan mimpi indah yang tak ingin ia akhiri, namun ia jelas lebih indah dari sekedar mimpi, ini kenyataan. Ia meraih tangan Weini untuk digenggam, Weini terkesiap dibuatnya. “Kalau gini nggak apa-apa kan kalau ketahuan ayah.” Canda Xiao Jun sembari tersenyum menggoda kekasihnya.


“Makasih, atas segalanya. Xie xie ni de ai, Weini.” Bisik Xiao Jun tepat di daun telinga Weini, membuat darah gadis itu mendesir kencang dan ia menyembunyikan wajah bersemu merahnya dengan menundukkan kepala.


Xiao Jun tak berhenti sampai di situ, semakin bersemu wajah Weini semakin membuatnya senang. Ia meronggoh saku jasnya untuk mengeluarkan sebuah kotak perhiasan merah, Weini mungkin belum menyadarinya lantaran masih memalingkan wajah ke samping dan menunduk malu. Xiao Jun membuka kotak itu lalu menyodorkan ke arah tatapan gadis itu, membuat Weini seketika mendongak menatapnya dengan bibir yang sedikit terbuka.


“Untukmu, emm … Ini sebenarnya dari kakakku, baru dapat aku sampaikan padamu.” Ujar Xiao Jun yang langsung menjelaskan tanda tanya di benak Weini.


Weini mengernyit, lagi-lagi ia dihadiahi perhiasan. Setelah cincin yang aneh, sekarang kalung dengan liontin berlian berbentuk tetesan air. Kendati beralasan pemberian dari kakaknya, Weini tetap ragu untuk menerimanya. Namun Xiao Jun sudah mengeluarkan kalung itu dari kotaknya dan bersiap memakaikan pada Weini.


“Ng, itu … Nanti repot kalau nggak bisa lepas.” Seru Weini, ia masih trauma dengan cincin yang tak bisa keluar dari jarinya dengan cara apapun.


Xiao Jun tertawa kecil, mimik muka Weini yang ketakutan begitu menggemaskan. “Ini dari kakakku, dijamin bisa lepas. Hanya cincin pengikat dariku yang tidak akan lepas dari jarimu, selain itu semuanya hanya perhiasan biasa.”


Tak ada keluhan lagi dari Weini, ia memilih untuk mempercayai Xiao Jun dan memasrahkan lehernya untuk dilingkari kalung itu. Dan untuk kesekian kalinya, Weini memasrahkan hati dan cintanya pada Xiao Jun. Apapun alasannya kini, ia hanya punya satu fokus yakni hadapi bersama.


Mulai saat ini, tidak ada lagi aku dan kamu


Hanya ada kita ….


Cinta kita, masalah kita, semua kita hadapi bersama


_Quote of Weini aka Yue Hwa_


***