OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 100 PELUANG ORANG KETIGA?



Liang Jia mengatur sebuah rencana pertemuan antara Xin Er dan Xiao Jun, hanya saja demi keamanan bersama maka pertemuan itu harus dilakukan di luar area kekuasaan Li San. Ia tidak ingin mengecewakan Xin Er


yang berharap penuh agar kesempatan itu ada untuk dirinya dan putranya.


“Aku sudah aturkan pertemuan kalian di Guangzhou, hanya itu cara agar Li San tidak curiga. Bulan depan jadwalmu kontrol ke sana, nanti aku sampaikan pada putramu.” Ujar Liang Jia setelah beberapa hari memikirkan


strategi pertemuan rahasia itu.


Xin Er bersujud bahagia, airmatanya bahkan menetes saking girangnya. “Terima kasih Nyonya, maaf telah merepotkanmu. Semoga nyonya panjang umur, panjang umur!”


“Ai yuuu… apa yang kau lakukan, bangunlah! Jangan formal, aku tidak gila hormat.” Liang Jia menarik Xin Er bangun, bagaimana bisa ia membiarkan seorang wanita yang lebih tua dan lemah darinya berlutut seperti itu.


“Nyonya, jika kelak ada kehidupan lagi, aku akan mengabdi padamu.” Seru Xin Er, hutang budinya terlalu besar pada wanita yang baik dan berperasaan itu.


“Jangan begitu, jika ada kehidupan lagi lebih baik kita jadi saudara kandung. Tidak perlu mengabdi tapi saling melindungi dan mengasihi.” Liang Jia sangat bijak, yang ia lakukan demi menebus rasa bersalahnya pada Wei dengan melindungi keluarganya yang tersisa.


“Tapi yang aku heran, tumben Xiao Jun inisiatif minta ketemu. Tidak biasanya dia seterus terang itu mengungkapkan rindu.” Tanya Liang Jia, ketika mendengar Xin Er memohon bantuannya. Ia hampir tak percaya


Xiao Jun yang inisiatif bertemu. Jika bukan karena urusan penting, untuk apa ia berani spekulasi hanya demi rindu?


“Ah… itu… katanya ada yang ingin dia kenalkan padaku.” Xin Er bicara pelan dan hati-hati, khawatir bila ada yang menguping pembicaraan mereka.


Liang Jia membekap mulutnya sendiri, seorang pria muda mendesak bertemu ibunya untuk mengenalkan seseorang. Xiao Jun pasti sedang jatuh cinta dan serius dengan hubungannya. “Kedengaran menarik. Akhirnya gunung es itu mencair! Dia bisa juga jatuh cinta hahaha…” Liang Jia terlalu senang sampai lepas mengontrol suara. Xin Er memberi isyarat agar sang nyonya tidak keceplosan lagi.


“Kita akan segera punya menantu perempuan.” Goda Liang Jia sambil berbisik ke Xin Er. Kedua ibu paruh baya itu tersenyum, membayangkannya saja sudah sangat menyenangkan apalagi sampai menjadi kenyataan.


***


Suasana kantor yang sangat riuh dan sibuk, tidak seorangpun yang bisa bercanda dalam kondisi ini. Kejar tayang sinetron kembali jadi rutinitas sehari-hari Weini, tak hanya itu ia harus merubah penampilan demi tuntutan sebagai brand ambassador produk kecantikan. Rambut hitam lurusnya terpaksa harus diwarnai lebih coklat dan curly.


“Wow… non, kamu kayak Elsa.” Puji Dina terpukau, ia tidak mau tahu model pembandingnya terlampau jauh berbeda dan terkesan maksa disamakan.


“Mana ada Elsa berambut coklat.” Jawab Weini sembari melirik sewot ke Dina. Lima jam duduk dan pasrah dimainkan kepala dan rambutnya oleh penata rias nyaris mematahkan punggungnya. Ditambah Dina mengekspresikan hasil akhirnya dengan asal bunyi, makin membuat Weini bête dan ragu. Ia tidak percaya diri dengan penampilan barunya, terlihat seperti gadis yang lebih dewasa dan kelewat feminim.


“Adaaa… Elsa yang habis ke salon ngecat ubannya. Hahahaha” gelak tawa Dina yang garing itu tidak membuat Weini ikut tertawa. Ia malah manyun sembari mematut diri di depan cermin, meraba helai rambut yang berwarna


coklat muda dan bergelombang besar.


Apa dia suka? Batin Weini, ia was-was dengan tanggapan Xiao Jun. Cantik di mata Dina belum tentu cantik bagi Xiao Jun. Bagaimana jika selera Xiao Jun berbeda dan lebih suka dirinya yang dulu?


“Tuan, coba lihat nona cantik kaaaaan?” Dina mengarahkan kamera pada Weini yang masih bengong di kaca.


Saat mendengar suara Dina yang cempeng dan nyaring menyebut kata ‘tuan’, Weini terkejut dan sontak berbalik memastikan si ‘tuan’ itu. Rasanya ia ingin membanting ponsel Dina yang tanpa ijin menyorotinya.


“Cantik!” komen Xiao Jun polos yang langsung menghentikan kebrutalan otak jahat Weini.


“Mm… Makasih apanya, kamu nggak sopan main lapor ke dia.” Cecar Weini sebagai jurus menutup rasa malu dan canggung.


“Weini, penampilan baru cocok denganmu. Terlihat lebih segar dan cantik.” Xiao Jun kembali melontarkan pujian manis, lama-lama Weini bisa dikerumuni semut jika pria itu tidak menghentikan kebiasaan gombalnya.


Sayangnya Bams muncul di saat Weini belum mengungkapkan rasa terimakasih. Pak sutradara itu telah menjemput artisnya untuk kembali bekerja. Weini harus menjalani sesi syuting iklan seharian dan ia terbebas dari rasa tak enak pada Stevan. Pria itu masih menutup diri pada Weini, hanya saja ucapannya beberapa waktu lalu masih terngiang. Ah… tepatnya itu sebuah ancaman.


“Gue gak mau ucapin selamat atas jadian elu berdua. Gue ingatin aja kalo dia nyakitin lu, gue bakal rebut lu dari dia tak peduli lu suka gue atau tidak. Jangan beri gue kesempatan buktiin tekad itu!”


Huft… terdengar mustahil bagi Weini. Meskipun ini pengalaman pertamanya mempunyai kekasih dan Xiao Jun selama ini masih memperlakukannya dengan baik namun bukan berarti hubungan mereka selamanya akan mulus. Selama masih saling mencintai, serumit apapun jalan mereka kelak, Weini bertekad untuk berjuang sampai ia mendapat pengakuan dari keluarga Xiao Jun. Ia mantap dengan keputusannya dan tidak akan memberi peluang pada orang ketiga masuk dalam hubungan mereka.


“Perhatian! Sebelum kita mulai syuting ini, gue mau bilang ama Weini kalo kita udah terima undangan dari sekolah lu buat acara jumpa fans waktu prom night sabtu depan. Lu dan Stevan bakal jadi tamu istimewa di sana, dan ini fix udah gue ambil.” Seru Bams yang menyampaikan info tanpa berniat mendapat pertanyaan.


Weini tercengang, trik apalagi ini? Sekolah yang terasa mengucilkannya kenapa bisa mengundangnya sebagai bintang tamu? Ia bahkan tidak berencana hadir, tapi malah diwajibkan datang bekerja.


“Job descnya ngapain di sana pak?” tanya Dina selaku manager, ia wajib mencatat seluruh job yang masuk ke agenda si artis.


“Tanda tangan, foto bareng dan dansa. Ya gimana lah yang biasa anak-anak SMA lakuin waktu prom. Lu kayak ga pernah SMA aja!”


Makin pusing kepala Weini, setelah diubek-ubek rambutnya selama lima jam dan masih meninggalkan aroma tonic yang menyengat, sekarang ditambah dengan wajib dansa? Mendadak ia ingin protes pada Authornya yang seenak udel menulis alur cerita seperti itu.


*Weini : “Nggak ada yang lebih kejam dari itu??? woi Author jangan kasih masalah baru lagi!”


*Author : “Tenang, masalahmu bakal setumpuk gunung ke depannya sampai pembaca tahu wajah aslimu!”


*Weini : *###***^^!!!!


“Aku nggak bisa dansa.” Weini ingin nangis mengakui kelemahannya. Ia tidak tertarik dengan tari gemulai apalagi berpasangan, jiwanya lebih tertarik pada seni beladiri.


“Habis ini belajar! Masih ada seminggu, lu dan Stevan bisa latian tiap hari mulai sekarang.” Perintah Bams, ia sangat bersemangat mengembalikan reputasi dan rating sinetron mereka setelah terkena dampak kasus hukum gara-gara Lisa.


Stevan muncul begitu saja seolah sudah siap menanti latihan padahal Weini masih dijadwalkan syuting iklan. Ia menyembunyikan kegirangannya, Xiao Jun memang kekasih Weini namun ia lebih mendapat banyak kesempatan bersama setiap hari selama masih terikat kerjaan.


“Apa nggak bisa dicancel? Aku nggak nyaman kak ambil job itu.” keluh Weini pada Dina, ia baru bernapas lega keluar dari sekolah itu namun sekarang harus pura-pura merasa diterima oleh mereka. Mungkin ini justru


sebuah rencana pembalasan dari Metta untuk mempermalukannya lagi.


Dina tidak bisa memberi jawaban apapun, yang ia tahu hanya segera mengabari tuannya. Tuaaan, cewekmu bakal diculik Stevan.


***


TERIMA KASIH PADA PEMBACA YANG SETIA MENGIKUTI KISAH WEINI HINGGA TIDAK TERASA SUDAH MEMASUKI EPISODE 100. NANTIKAN SAAT-SAAT DIA MELEPAS TOPENGNYA YA. KALIAN BISA KASIH MASUKAN, KIRA-KIRA XIAO JUN HARUS TAHU HARIS AYAHNYA NGGAK? GIMANA CARA WEINI MELEPAS TOPENGNYA?


XIE XIE ^^