
Weini tengah mengucapkan sumpahnya sebagai penguasa baru, di hadapan para petinggi, tamu, keluarga serta seluruh penghuni kediaman Li. Hati Weini bergetar, ia tak pernah seserius itu dalam hidupnya. Ketika beban baru itu diembankan di pundaknya, menjadi tulang punggung sekaligus penerus kelangsungan klannya, Weini telah
mendapatkan restu dari semuanya dan semestinya tidak ada yang perlu ia ragukan lagi.
Prosesi berjalan sakral lantaran pengangkatan jabatan Weini berlangsung di hadapan jenasah ayahnya. Semua itu tidak perlu terjadi andai Li San emlengserkan jabatannya semasa ia hidup, ini kali pertama bagi klan Li harus melaksanakan penyerahan kekuasaan dalam upacara kematian.
Liang Jia berdiri di samping anak-anaknya yang lain, ia merasa bangga melihat putri bungsunya memimpin kelangsungan keluarga mereka. Hidup yang tidak pernah bisa ditebak, andai saat itu Liang Jia lemah, pasrah dan membiarkan Li San menghabisi nyawa Weini, entah seperti apa nasib keluarga mereka sekarang. Kini ia ikut tegang lantaran setelah ini, Weini akan mengutarakan hadiah tak terbantahkan dari para petinggi. Sebuah tradisi turun temurun yang mereka jalankan dan paling menegangkan, karena mereka harus menuruti permintaan itu meskipun bertentangan dengan hati nurani.
“Pelantikan pemimpin baru telah sah di hadapan para petinggi dan tamu kehormatan, mulai saat ini kami memberikan gelar kehormatan kepada nona ke-lima, Li Yue Hwa dengan sebutan Li Gong Zhu 李公主 tuan putri Li. Semoga Li Gong Zhu panjang umur... panjang umur.” Teriak penasehat He diikuti oleh semua yang hadir di sana.
Weini membalas penghormatan mereka dengan anggukan pelan, senyumnya yang penuh kharismatik terpancar hanya dengan seulas senyum yang tipis. Didukung dengan dandanannya serta jubah kebesaran yang ia kenakan, penampilan Weini memang sangat sempurna. Pertama dalam sejarah keluarga Li mengangkat pemimpin wanita, muda dan sangat cantik.
“Li Gong Zhu dipersilahkan menyampaikan satu permintaan tak terbantahkan.” Penasehat He memekikkan dengan lantang.
Seisi ruangan yang sejak tadi hening, semakin terasa hening mencekam dan dingin. Semua penasaran dengan permintaan yang ingin diutarakan oleh seorang gadis yang dulu pernah dibuang namun kini kembali menjadi pemimpin. Entah ada perasaan dendam atau masalah lain yang belum terselesaikan, yang pasti dalam permintaan tak terbantahkan itu, sang nona punya kesempatan besar untuk memanfaatkan kehendaknya.
Grace menatap cemas pada Weini, seperti yang mereka bincangkan kemarin membuat Grace menaruh
harapan besar agar Weini tidak berubah pikiran. Hidup mati ayahnya sungguh ada di tangan Weini, jika gadis penguasa itu tidak konsisten dengan ucapannya, maka bisa dipastikan Kao Jing akan menjalani hukuman penjara seumur hidup sesuai aturan hukum yang berlaku di sini.
Weini terdiam sejenak, perlu hati yang tertata baik untuk menyuarakan dengan lantang. Kebesaran hatinya untuk memaafkan, serta melupakan kenangan buruk di masa lalu yang terjadi karena campur tangan Kao Jing.
“Hanya satu kesempatanku dalam permintaan khusus itu, aku sudah memikirkannya dengan matang, tanpa penyesalan, dan berharap kalian pun menyetujuinya tanpa beban. Aku tahu kesetiaan kalian terhadap keluarga kami, dan pastinya kalian paham betul seluk beluk keluarga ini. Aku sangat berterima kasih atas segala pengabdian
kalian, dan berharap bisa menjadi pemimpin yang membanggakan kalian. Yang kuinginkan hanya satu, menghormati leluhur sama dengan menjaga keturunannya tetap akur, itu pula yang membuatku berpikir untuk memberi pengampunan kepada salah satu keturunan Li. Di hari penobatanku, aku titahkan pula pengampunan tanpa syarat kepada pamanku, Li Kao Jing.” Tegas Weini yang menyuarakan permintaannya.
Keheningan langsung pecah dengan suara bisikan dari banyak orang di sana yang bergunjing. Haris mempertajam telinganya, mendengar komentar dari berbagai sisi yang banyak tercetus pro dan kontra. Sebagian menganggap Weini sangat berbudi luhur dan menghormati tetuanya, sebagian lagi menuduing Weini terlalu lunak dan tidak
bisa menjalankan aturan secara tegas.
“Interupsi Li Gong Zhu, permintaan ini terlalu berat untuk diterima tanpa bantahan. Terlepas dari ikatan kekeluargaan, anda harus ingat kesalahan fatal yang dia perbuat sehingga dijatuhi hukuman itu. Tidak ada pengampunan bagi seorang pemberontak, mohon Li Gong Zhu pertimbangkan kembali.” Ujar penasehat He tegas menyuarakan keberatan.
Grace merasa lututnya bergetar, saking tegangnya mendengar bantahan penasehat He hingga ia merasa
gentar. Permintaan yang tak terbantahkan itu seakan hanya isapan jempol, nyatanya Weini sedang mendapatkan bantahan dari tetua kepercayaan pemimpin terdahulu. Grace tak yakin apakah masih bisa menaruh harapan pada Weini, jika melihat situasi yang tegang saat ini.
Weini menyeringai, apa yang terjadi sekarang sudah masuk perhitungannya. “Apa yang anda cemaskan dapat saya terima, penasehat He. Status pengkhianat, pemberontak, hanya bisa dilabeli ketika orang itu diakui sebagai bagian dari kita bukan?”
Grace tercengang, begitupun dengan Liang Jia, Haris, Xiao Jun, serta para tetua lainnya. Tidak ada yang menyangka Weini bisa mengatakan hal seperti itu, dan entah apa yang ia maksudkan dari kata-kata menohoknya itu.
“Maaf Li Gong Zhu, sebelumnya anda menyinggung tentang leluhur namun sekarang anda mencetuskan
seolah anda tidak ingin mengakui paman anda sebagai bagian dari keluarga ini?” Penasehat He menyela Weini.
Weini tersenyum seringai, ia tahu semua jalan pikiran orang di sana pasti beranggapan demikian. “Jika memang pengampunan tanpa syarat terlalu memberatkan pihak lainnya, aku juga harus mempertimbangkan dari sisi keberatan kalian. Permintaan ku tetap itu, dan hanya itu jalan tengah agar bisa memuaskan banyak pihak. Anggap saja hukuman penjara seumur hidup itu ditukar dengan cara pengasingan dia ke luar. Aku tidak bermaksud memutuskan hubungan persaudaraan, bagaimanapun darah lebih kental daripada air. Dengan keputusan seperti itu, apa masih memberatkan pihak tetua?” Tanya Weini serius.
Penasehat He tampak berpikir serius, pun banyak bisikan di belakang yang menimbang kembali pernyataan Weini. Sementara Haris mulai tersenyum tenang, ia tahu jalan pikiran Weini dan patut mengacungkan jempol atas kecerdasannya.
Weini tersenyum tipis seraya menganggukkan kepala, “Benar, tepat seperti yang anda katakan, penasehat He.”
Penasehat He mengangguk paham, sebagai penengah dari pihak luar dan pihak dalam keluarga Li, ia pun mendiskusikan bersama para tetua lainnya. Di tengah diskusi itu, yang tampak sangat tidak tenang adalah Grace. Gadis itu terus menatap ke arah Weini, berharap Weini menatap balik ke arahnya tetapi Weini tetap terfokus pada apa yang ia hadapi sekarang. Weini tak memperdulikan keluarga serta temannya, yang ada dalam benaknya adalah menghadapi para tetua dengan serius agar keinginannya tercapai.
“Kami telah mendiskusikannya, Gong Zhu. Permintaan tidak terbantahkan anda akan kami sepakati. Pengampunan kepada Li Kao Jing akan resmi tercetus sesuai titah anda.” Jawaban dari Penasehat He akhirnya terdengar setelah hampir lima belas menit ia membahasnya bersama tetua yang lain.
Grace tersenyum penuh syukur, hal yang dikiranya mustahil ternyata bisa terselamatkan berkat kecerdikan Weini. Ia terus menatap Weini meskipun tanpa balasan, sampai kapanpun Grace akan terus menunggu kesempatan agar dapat menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Weini.
“Baiklah, saya putuskan pembebasan Li Kao Jing resmi setelah pemakaman ayahku selesai. Selama masa berkabung, ia pun diberi kesempatan untuk datang memberikan penghormatan terakhir, dan selanjutnya ia akan meninggalkan negara ini serta kehidupannya tidak ditopang oleh klan Li lagi.” Ujar Weini tegas menyatakan keputusannya.
Semua pihak yang mendengar merasa lega dan Weini bisa bertindak bijak tanpa memandang status Kao Jing sebagai pamannya serta masalah pribadi di masa lalu mereka.
“Terima kasih, Li Gong Zhu... Wan sui wan sui....”
Grace menyuarakan dengan lantang rasa terima kasih sekaligus doa agar Weini senantiasa panjang umur.
Doa yang benar-benar tulus ia ucapkan pada sepupunya, Grace sangat berpuas diri meskipun ayahnya harus terusir dari sini. Setidaknya itu jauh lebih baik ketimbang membiarkannya menghabiskan masa hidupnya di dalam penjara.
***
Kao Jing terbaring dengan selang infus yang menancap di tangannya. Beberapa perawat serius memeriksanya sesuai arahan dokter. Mereka harus menyimpan rahasia ini dari siapapun yang tidak berkepentingan, atau hukuman serius mengancam mereka sebagai sanksi.
“Bagaimana kondisi ayahku?” Tanya Grace saat masuk ke dalam memeriksa ayahnya. Seorang perawat
memberi hormat pada Grace sebelum memberika jawaban padanya.
“Kondisinya sudah stabil nona, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kita hanya perlu menunggunya sadar saja.” Ujar perawat itu kemudian membungkuk hormat dan berlalu dari sana.
Tinggallah Fang Fang yang setia berdiri di belakang Grace. Ia menatap iba pada nonanya yang secara tak langsung akan diusir dari kediaman ini.
“Fang, tunggu di luar sebentar, aku ingin bersama ayahku.” Pinta Grace saat menoleh pada pelayannya.
Fang Fang tak bisa menolak meskipun ia ingin tetap menemani Grace, ia membalikkan tubuh dan menunggu di luar pintu.
Grace duduk lalu meraih jemari tangan ayahnya, ditatapnya lekat wajah ayahnya yang tampak lebih segar ketimbang semalam. Diagnosa perawat tadi telah membuktikan bahwa pertolongan pertama yang Haris lakukan memang tepat, seharusnya Grace tak perlu meragukan itu.
“Ayah, setelah ayah bangun, Grace akan membawa ayah pergi jauh. Kita akan tinggal bersama seperti dulu lagi. Ayah mau ke mana? Kita pulang saja ke Amerika? Ah....” Grace teringat keputusan Weini yang menyatakan tidak menopang kehidupan Kao Jing lagi, sama artinya dengan Grace dan Kao Jing tidak bisa kembali tinggal di
Amerika. Seluruh aset di sana adalah milik keluarga Li yang diberikan pada ayahnya. Grace merasa tak punya muka lagi untuk meminta belas kasih Weini agar bisa tinggal di sana.
“Atau kita tinggal di tempat lain, di manapun asalkan bersama ayah, Grace akan ikut.” Ralat Grace yang tidak mau memberi janji palsu pada ayahnya.
Jemari Kao Jing bergerak hingga disadari Grace yang sedari tadi menggenggamnya. Grace tercengang, ia tak percaya apa yang dirasakannya sampai saat ia melihat wajah Kao Jing. Sepasang mata tua yang sejak kemarin tertutup itu, kini telah menatapnya dengan lirih.
***