
Suasana masih riuh meskipun syuting terpaksa diistirahatkan sejenak, sutradara dan beberapa kru tampak uring-uringan dan saling menyalahkan.
“Ini pasti karena kita nggak selamatan dulu sebelum syuting. Kacau banget nih bos, baru dua hari kerja berturut-turut ada artis yang celaka.” Tuding salah satu asisten produser yang dikabari berita tak sedap di lokasi syuting kemudian buru-buru menghampiri.
Sutradara tampak kesal dan menjambak rambutnya sendiri, tak tahan dengan pikiran kacau, ia pun menyulut sebatang rokok kemudian menghisapnya. “Trus, gimana kondisi dia? Udah sadar belum?”
Seorang kru penata lampu yang baru saja kembali dari ruangan Stevan menggelengkan kepala, “Belum, nggak sebaiknya panggil ambulance aja?”
“Gila lu, dua hari berturut-turut manggil ambulance ke sini? Lama-lama wartawan bakal tahu, apalagi ini aktor tenar yang cidera. Bisa anjlok pasaran film ini sebelum debut. Biarin aja, paling pingsan kecapekan, pokoknya jangan bawa ke rumah sakit dulu. Bisa bungkus film ini sebelum tayang.” Pekik sutradara dengan kesal.
Grace menghela napas, ia mendengar semua pembicaraan itu dan ikut gusar. Ini adalah awal kariernya, jika hasilnya tidak sesuai ekspektasi maka kariernya akan dipertaruhkan juga. Ia menatap resah pada pintu keluar studio, berharap ada kabar baik yang disampaikan dari mereka yang masuk dan syuting kembali jalan. Tetapi sedetik kemudian, ia merutuki dirinya. Sekali lagi, untuk apa ia menaruh perhatian pada apa yang terjadi pada mereka, terutama pria itu.
***
“Aku nggak habis pikir deh, kok daya tahan tubuh dia jadi lemah banget. Yang lebih capek kan non, kok dia yang pingsan ya?” Dina tak tahan lagi, sedari tadi ia berusaha tidak panik namun karena Stevan tak kunjung sadar, ia tak bisa bungkam lebih lama lagi.
Weini menatap wajah Stevan yang belum sadarkan diri, ia sangat tahu apa penyebabnya. Dan biang keroknya adalah Weini, tubuh gadis itu yang tadinya mulai lelah kini terasa sangat berenergi. Sebaliknya, Stevan jatuh sebagai korbannya untuk kedua kali.
“Kak, bisakah kau keluar mencarikan minyak angin dan minuman untuk kami. Kalau dia sadar, kita harus memberinya minum kan.” Weini mengusir Dina secara halus, percuma menyalahkan orang yang tak bersalah, Stevan hanya korban dan Dina tidak tahu itu.
Dina agak canggung, ia sadar terlalu blak-blakan bicara. “Okelah, Non jaga dia ya.”
Setelah Dina keluar, Weini menoleh ke pintu untuk memastikan tidak ada siapapun di sana. Ia perlu melakukan sesuatu yang sangat rahasia, namun suara Stevan justru mengejutkannya.
“Lu udah enakan?” Ujar Stevan lirih, ia tersenyum begitu Weini menatapnya dengan bahagia.
“Harusnya aku yang tanyakan itu. Maaf kak, lagi-lagi kamu ….” Weini berhenti bicara, tak sanggup melanjutkan.
Stevan tersenyum, “Nggak apa-apa, gue udah nggak kaget, udah pengalaman.” Canda Stevan.
Weini tersenyum nyengir kemudian kembali fokus, “Aku harus melakukannya dengan cepat, sebelum ada yang datang.” Ia meraih tangan Stevan, menggenggamnya dengan sangat erat sembari memejamkan mata. Apa yang
dipinjam harus dikembalikan, itu prinsipnya.
Dina memang berhasil dibuat pergi, namun bukan dia satu-satunya penghalang. Di saat Weini mengerahkan tenaganya untuk mentransfer balik energi Yang milik Stevan, ada seseorang yang juga peka dengan sihir itu merasakannya.
Xiao Jun baru saja tiba, semula pria itu beralasan mencari Grace yang masih sakit agar diijinkan masuk ke studio. Langkahnya baru menaiki lift gedung menuju studio bawah tanah, ketika ia merasakan tanda sihir ayahnya begitu kuat di sekitar sana. Xiao Jun menajamkan perasaannya, mendeteksi darimana sumbernya lalu berlari keluar lift mengikuti sinyal sihir itu.
Itu pasti kamu, Weini!
***
“Gimana? Sudah enakan sekarang?” Tanya Weini, ia tetap cemas meskipun berhasil mengembalikan energi Stevan.
Aktor itu tersenyum lalu mengangguk, “Udah bisa lanjut syuting sekarang kalau perlu.”
“Jangan terlalu nyalahin diri, mungkin karna lu lagi nggak fit jadi otomatis tubuh lu nyari chargeran.” Canda Stevan, walaupun mengaku sudah fit namun ia masih betah berbaring.
Weini meliriknya lalu tertawa, “Dikira ponsel harus di-charge?”
“Eh, tapi … Emangnya lu nggak apa-apa kalau lagi dekat si Jun? Nggak ngaruh ke dia gitu? Dia kan juga meluk lu, gendong lu waktu itu. Nggak kesedot kah atau lu bisa kontrol?” Stevan heran, ia baru terpikir pertanyaan itu.
Weini mengernyitkan dahi, ia pun tak pernah terpikir sejauh itu. Memang benar, kedekatan dengan Xiao Jun justru lebih dari Stevan, tetapi sepertinya tidak ada pengaruhnya bagi Xiao Jun. “Entahlah, aku nggak pernah perhatiin juga kak.” Kilah Weini seadanya.
Stevan tertawa kecil melihat raut bingung Weini, “Ya udah sih, nggak usah dipikirin. Tapi gue mau ngomongin lu, lain kali hati-hati jangan gegabah bertindak sok bantuin orang meskipun itu baik. Lu nggak boleh sembarangan bikin keajaiban di depan orang awam, mereka bisa curiga kalau lu terlalu istimewa.”
Weini paham maksud Stevan, pria itu pasti menyinggung soal kesembuhan ajaib Grace. “Baiklah, lain kali kalau kamu dengar ada yang singgung itu, kasih tahu yang mana orangnya nanti ku eksekusi.”
“Maksudnya” Stevan merengut bingung.
Weini tertawa melihat raut bingung temannya, “Lupakan saja, aku hanya bercanda.” Padahal ia serius, Weini tinggal menghapus ingatan orang itu untuk menutupi jejaknya dan masalah selesai.
“Lu mau bikin mereka jadi katak?” Tanya Stevan.
Pembicaraan mereka terhenti ketika mendengar pintu dibuka dengan kencang dari luar, mereka bahkan terkejut karena suara itu. Sepasang mata Weini membesar begitu melihat siapa yang membuka pintu secara kasar, di
depan sana Xiao Jun berdiri dengan mata nanar menatapnya tajam. Napas pria itu tersengal, menandakan bahwa ia habis berlari menuju kemari. Stevan langsung bangun dari posisi tidurnya, ia sama terkejutnya dengan Weini, mengapa pria yang tak ada kepentingan bisa masuk sampai ke ruangan pribadi mereka?
Xiao Jun bergegas mendatangi Weini yang masih duduk diam, air muka pria itu begitu menakutkan sehingga membuat Weini bingung apa yang terjadi pada Xiao Jun? Mengapa ia begitu marah?
Stevan meloncat dari sofa dan menghadang Xiao Jun, sorot mata Xiao Jun seperti hendak menerkam seseorang. “Hei, Hei … Selow man, gue bisa jelasin. Ini nggak kayak yang lu liat, gue habis pingsan dan Weini nungguin gue di sini. Gue baru bangun, woi!” Susah payah Stevan mencegat Xiao Jun tetapi dengan satu dorongan kuat dari pria itu langsung membuat Stevan terhuyung dan menabrak meja.
Kini sasaran Xiao Jun sudah jelas adalah Weini, matanya nanar menatap Weini yang kebingungan dengan sikap Xiao Jun yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Kekasihnya itu begitu menakutkan tetapi Weini memilih diam dan tak lari menghindar. Tangan Weini ditarik kuat oleh Xiao Jun hingga bangun dari tempat duduknya. Didorongnya tubuh Weini hingga bersandar pada dinding, tangan gadis itu masih dicengkeram kuat oleh Xiao Jun. Mata mereka saling beradu tatap tanpa kedipan, Weini tak mampu membaca isi hati priaitu, entah apa yang membuatnya semarah itu.
Grace yang berniat menghampiri mereka tertahan di depan pintu, ia terkejut melihat Xiao Jun yang datang membuat kekacauan. Grace memilih diam, melihat apa yang dipertengkarkan oleh dua orang itu.
Xiao Jun dan Weini tetap diam, posisi mereka bahkan masih sama. Napas mereka saling bersahutan, saking dekatnya jarak wajah mereka. Wajah Xiao Jun memerah, Weini tahu pria itu betul betul marah.
“Siapa kamu?” Pertanyaan itu menghentakkan Weini, kali ini ia sangat ketakutan.
“Weini, siapa sebenarnya kamu!” Pekik Xiao Jun keras, pekikan yang mengguncang nyali Weini menjadi ciut.
***