
Weini mengunjungi paviliun Xiao Jun untuk menjumpai kedua calon kakak iparnya sebelum mereka pulang. Baru saja ia dan Liang Jia melangkah masuk, mereka bertemu di tengah halaman, di saat itu juga Xin Er dan kedua putrinya hendak ke aula utama mencari Weini untuk berpamitan.
"Salam hormat pada Gong Zhu dan nyonya besar, kami baru saja ingin ke aula utama menemui anda, ternyata panjang umur kita berjumpa di sini. Terima kasih Gong Zhu dan nyonya besar menghampiri kami kemari." Ucap Xin Er memberi salam, disusul kedua anaknya yang ikut membungkuk hormat.
Weini menarik tangan Xin Er agar menyudahi penghormatan itu. Ia tersenyum ramah pada wanita tua itu dan melakukan hal yang sama pada kedua kakak Xiao Jun.
"Ibu, kakak pertama dan kakak kedua, tidak perlu sungkan. Aku dan ibu khusus datang untuk mengucapkan terima kasih pada kalian, atas kesediaan kakak kakak mengikuti prosesi pemakaman dari awal sampai selesai. Maaf jika pelayanan kami ada yang kurang mengesankan kalian. Sekaligus kami ingin mengantar kedua kakak kembali nantinya." Ucap Weini sopan, senyumannya membawa kesejukan di hati siapapun yang menatapnya.
Li An begitu mengidolakan Weini, selain sangat cantik dan berkharisma, Weini sosok wanita yang kuat dan istimewa. Li An selalu merasa adik laki lakinya adalah pria paling beruntung yang bisa mendapatkan hati Weini.
Xin Er dan Liang Jia sama sama tersenyum mendengar maksud hari Weini, Xin Er khusus mendekati Weini lalu menjawabnya dengan sopan. "Tidak perlu berterima kasih, Gong Zhu. Kami memang pantas memberi penghormatan pada tuan besar, dan merasa mempunyai kewajiban untuk mengantar kepergiannya ke pengistirahatan terakhir." Gumam Xin Er.
"Gong Zhu, terima kasih atas pelayanan yang anda berikan pada kami. Semoga kita segera bertemu lagi dalam suasana yang lebih baik ya." Seru Li An yang kata katanya sarat akan pertanda bahwa ia tak sabar lagi menanti saat di mana Weini resmi menjadi adik iparnya.
"Li An...." Desis Xin Er mengingatkan putrinya agar tidak keceplosan.
Li An dan Li Mei senyum senyum saja, bukan rahasia lagi bagi mereka bahwa Xiao Jun pasti melamar Weini dalam waktu dekat, tapi tampaknya gadis penguasa itu masih polos, dia belum tahu apapun tentang rencana itu.
Liang Jia ikut tersenyum, sama halnya dengan dua putri Wei, Nyonya besar itu pun tak sabar lagi menunggu Weini menikah dengan Xiao Jun.
"Ah, kenapa aku tidak melihat Jun? Apa dia ada di dalam? Hwa, bagaimana kalau kau menemuinya sebentar? Ibu ingin berbincang sebentar dengan Xin Er dan dua putrinya." Ujar Liang Jia yang dengan halus mengusir putrinya agar berduaan dengan kekasihnya.
Weini mengerutkan keningnya, ia tahu basa basi ibunya, tapi tak mengerti untuk apa mereka repot-repot menyetting agar ia bertemu Xiao Jun.
"Baiklah ibu, aku cari Jun dulu di dalam."
Weini mengangguk pelan saat berpamitan dari hadapan para wanita di sana. Ia berjalan dengan tanda tanya besar, tapi memang ada baiknya ia bertemu Xiao Jun saat ini. Weini masih cemas dengan kondisi Xiao Jun yang aneh dan memerah wajahnya kemarin. Mungkin Xiao Jun masih kurang enak badan sehingga yang lainnya begitu mendukung Weini untuk menemuinya.
❤️❤️❤️
Xiao Jun tengah mengemasi barang yang akan dibawanya ke Jakarta. Setelah selesai merapikan semua ini, ia baru berencana menemui kekasihnya. Sulit baginya untuk menyampaikan perpisahan sementara ini, Xiao Jun tidak mengira hari ini kediaman Li akan terasa sepi lagi dengan kepergian Li An, Li Mei, Wen Ting kemudian Dina, Stevan yang akan ikut pulang ke Jakarta bersama Xiao Jun dan Lau.
"Kamu pasti kesepian ditinggal orang-orang terdekatmu." Lirih Xiao Jun tak tega memikirkan Weini.
Lamunan Xiao Jun buyar saat mendengar suara ketukan pintu. Ia menatap ke arah sana lalu berteriak tanpa berniat membukakan pintu itu.
"Masuklah, paman." Seru Xiao Jun, kalau hanya Lau saja yang datang, ia tak perlu sungkan, terlebih Xiao Jun bergegas menyudahi kesibukannya agar bisa segera menemui Weini.
Sepasang kaki melangkah masuk dengan gemulai, membuat perhatian Xiao Jun teralihkan. Bukan suara langkah sepatu Lau yang bunyinya tegas, melainkan langkah kaki ringan yang nyaris tak bersuara. Xiao Jun menjeda kegiatannya, ia menatap ke depannya dan terkesiap mendapati siapa yang datang.
"Apa aku mengganggumu?" Tanya Weini tak enak hati setelah melihat wajah Xiao Jun yang terkejut mendapati ia yang datang. Weini mendengar Xiao Jun memanggilnya paman, dan ia tahu Xiao Jun pasti mengira dia adalah Lau.
Xiao Jun menggeleng cepat, "Ti... tidak... kamu nggak ganggu kok. A... aku hanya kaget kirain paman Lau yang datang. Ah, duduklah...."
Sial, kenapa aku harus gugup begini?
Weini tersenyum lembut berusaha menenangkan Xiao Jun yang nampak betul paniknya. "Aku sudah duduk, kamu ikut duduklah di sini. Hmm... apa kau sedang sibuk sekarang? Apa aku mengganggumu?" Weini memborong banyak pertanyaan sekaligus yang hanya mendapatkan satu jawaban saja dari Xiao Jun.
"Tidak...." Jawab Xiao Jun cepat kemudian ia mengambil posisi duduk di sebelah Weini, sesuai permintaan gadis itu.
"Aku kemari untuk bertemu kakakmu sebelum mereka pulang. Sangat disayangkan, rumah besar ini kembali sepi setelah mereka pulang." Gumam Weini yang memang tampak sedikit sedih memikirkan perpisahan.
Xiao Jun jadi tidak enak hati, masalahnya bukan hanya mereka yang akan pergi, tapi Xiao Jun pun sebentar lagi akan pergi sementara dari sini.
Hening sejenak, mereka berdua larut dalam pikiran masing-masing.
"Hwa... aku... aku juga harus kembali ke Jakarta." Lirih Xiao Jun yang sangat berat hati mengatakan itu.
Deg! Weini merasa kaku sejenak, tubuhnya terasa dingin saat mendengar apa yang Xiao Jun sampaikan. Pria di sebelahnya pun ikut terdiam sejenak, memperlihatkan bebannya yang berat mengatakan semua kenyataan itu.
"Kapan?" Tanya Weini singkat dan lirih.
Xiao Jun menghela napasnya, mau tidak mau ia harus mengungkapkan. "Hari ini...."
Mata Weini membulat tak percaya, "Secepat itu? Kenapa mendadak sekali?" Suara Weini meninggi, seolah ingin menahan Xiao Jun dengan isyarat tersembunyi.
Xiao Jun mengangguk pelan, "Ada urusan bisnis yang tidak bisa diwakilkan, paman Lau memintaku untuk menemui calon klien secara langsung. Aku tidak bisa mengabaikannya, ini demi masa depan bisnis di sana."
Hening... mereka perlu waktu untuk menetralkan perasaan. Weini bahkan tak menyangka, harus melepaskan banyak orang pergi sekaligus di hari yang sama.
"Ng... tapi aku akan mengelarkan secepatnya kok. Aku akan pulang setelah kerjasama disepakati. Aku janji...." Xiao Jun buru-buru memberi penjelasan, sikap diam Weini membuatnya tidak tahan dan serba salah. Ia tak mau membuat Weini bersedih lagi, tapi ini sangat terpaksa ia lakukan.
"Tak apa, aku tidak masalah. Selesaikan saja, tidak perlu buru-buru kembali. Kamu membangun bisnis itu dengan susah payah, saat sudah ada hasilnya jangan disia-siakan." Jawab Weini seraya tersenyum menunjukkan keihklasannya.
Entah mengapa melihat senyuman Weini yang seperti itu malah terasa melukai hati Xiao Jun.
Jika dipikir, Xiao Jun sudah berulang kali pamit pada Weini, dan setiap kali pamitan itu selalu ada masalah yang hadir.
Weini terkesiap, tanpa ia sangka Xiao Jun menariknya dalam pelukan. Hangat dan erat hingga Weini merasa nyaman dan memejamkan matanya. Biarlah sebentar saja menikmati kehangatan pelukan prianya, pelukan yang memberikan Weini kekuatan untuk bertahan.
"Maaf... aku sering pergi meninggalkanmu. Maaf... setiap kali aku pergi, ada saja masalah yang harus ku selesaikan dan terpaksa membohongi mu. Tapi kali ini percaya lah, aku tidak akan lama, aku tidak berbohong dan pasti akan kembali secepatnya. Aku tidak mau terpisah jauh dan lama darimu. Kamu percaya padaku kan?" Lirih Xiao Jun, ia memejamkan matanya sambil mengucapkan isi hatinya.
Weini mengangguk pelan, matanya masih terpejam namun mata hatinya terbuka jelas untuk melihat kesungguhan Xiao Jun. Mungkin kesempatan belum berpihak padanya, tapi ia tetap punya rasa percaya yang besar pada kekasihnya.
"Aku percaya...."
Hwa, tunggulah aku kembali... Aku janji setelah itu kita tidak akan terpisahkan lagi. Kita akan hidup bersama... selalu berdekatan dan aku tak akan membuat mu menangis lagi. Aku.... Wei Li Jun serius mencintaimu dan akan memintamu sebagai pendamping hidup ku setelah aku kembali lagi. Tunggulah aku, Li Yue Hwa....
❤️❤️❤️