
Kao Jing menatap semangkuk makanan yang dibawa untuk jatah makannya hari ini. Tidak banyak, hanya seporsi dengan lauk yang lumayan namun tidak berhasil menggugah selera Kao Jing. Ditatapnya lesu nasi serta lauk sepiring di dekatnya. Tiba tiba mata Kao Jing berbinar, seperti mendapatkan sesuatu yang menyenangkan. Perhatiannya tertuju pada garpu di atas piring sayur. Perlahan tangannya menjulur demi mengambil garpu itu.
Pikirannya kian kosong, garpu itu ia angkat dan diterawang pada cahaya yang masuk dari celah tembok berlubang.
"Ha ha ha ha ha...." Tawa Chen Kho pecah, entah apa yang lucu baginya hingga tertawa sekencang itu. Hingga tawa berubah menjadi tangisan, pria tua itu menjerit-jerit dengan suara yang memilukan. Perlahan dan tanpa keraguan ia mengayunkan garpunya dan....
🌹🌹🌹
Weini menjamu para tamunya di villa keluarga yang cukup mewah dan memiliki banyak kamar. Beberapa pelayan pun sudah ditempatkan di sini untuk melayani mereka. Kini Weini dan yang lainnya duduk bersila di pendopo, bertemankan hidangan lezat yang disuguhkan di atas meja.
"Kalian pasti sudah lapar selama perjalanan, mari sambil dinikmati." Ujar Weini lembut mempersilahkan tamunya makan.
Dina yang paling bersemangat merespon, anggukan kepalanya diulang berkali-kali dan sangat kencang. "Nona paling tahu deh urusan perut kita. hehe... aku makaaan." Ujar Dina tanpa malu-malu. Ia mengambil sumpitnya, walaupun ini kali pertama tapi menurutnya bukan hal sulit. Dina sering menonton di drama China dan melihat mereka makan dengan sumpit begitu mudah.
Tetapi kepercaya dirian Dina terpatahkan ketika ia menyumpitkan nasi di mangkuknya, yang ada sepasang sumpit itu meleset tanpa berhasil menyumpit sebutir nasipun. "Eh?" Celetuk Dina spontan, semangat membaranya mulai padam, berganti rasa kesal karena ternyata tak semudah itu menaklukkan sumpit.
Lain cerita dengan Stevan, ia dengan luwes menjepit sayur lalu makan nasi di mangkuknya. kepiawaiannya itu tak luput dari pengamatan Dina yang seketika itu juga protes.
"Kok lu bisa sih? Sumpit lu ada lemnya kah?" Protes Dina.
Stevan tertawa kecil mendengarnya, begitupun Grace dan Fang Fang yang duduk di sebelah Dina pun mengulum tawa, kasihan jika mereka secara terang-terangan menertawakan kepolosan Dina.
"Ya, gue belajar lah. Mana ada lemnya, semua sumpit sama kok." Ujar Stevan kemudian kembali melahap makanan.
Weini tersenyum melihat tingkah temannya, sungguh sebuah kehangatan persahabatan yang ia rindukan. Tak terasa persahabatan antara ia, Stevan dan Dina yang dulu juga sering diwarnai dengan tingkah lucu mereka saat beda pendapat, dan semua perhatian pada Weini, sayangnya sudah sampai pada batasnya. Mulai saat ini, semua tidak akan sama. Weini harus terpisah dari mereka dan menjalani kehidupannya yang sesungguhnya.
"Seperti ini caranya, coba ikuti saya ya." Fang Fang mencolek Dina kemudian memperagakan cara memegang sumpit dan memakainya.
Dina antusias menyimak, apalagi melihat Fang Fang dengan enteng menggunakannya. Ia pun mencoba mempraktekkan apa yang barusan ia pelajari.
"Pelan pelan, kontrol tenagamu saat menyumpit, jangan terlalu keras dan jangan terlalu lembut." Ujar Fang Fang.
Dina mengangguk paham kemudian mencobanya, ia menyumpit sayur yang ada di piring dan berhasil. Segera ia masukkan ke dalam mulutnya lalu menyumpit nasi seperti yang sedang Fang Fang peragakan.
"Yeeeee... berhasil, makasih ya Fang Fang." Seru Dina setelah mengunyah makanannya.
"Yeee... Selamat, kamu lulus tahap pertama seleksi calon menantu. Kalau mau jadi menantu orang Tiongkok, harus bisa makan pake sumpit loh Din." Celetuk Stevan dengan entengnya tetapi malah ditanggapi serius oleh Dina.
"Serius tuh? Asyikkk... berarti aku gampang dong dapat restu he he he...." Jawab Dina dengan hati berbunga-bunga dan wajah merona merah. Pokoknya apapun yang berkaitan dengan Ming Ming, dia pasti langsung baper.
Weini mengerutkan dahinya mendengar ranah pembicaraan Stevan dan Dina yang tidak ia mengerti. "Calon menantu orang Tiongkok? Kak Dina lagi pacaran sama orang Tiongkok?"
"Yup, lu kudu tahu... Eh... maaf." Stevan langsung meralat kata-katanya setelah mendapat delikan dari Grace.
"Maksudku nona harus tahu kalau Dina itu lagi jatuh cinta. Waktu kita lagi bermasalah, dia malah liburan ke luar negeri trus dijaga sama pengawal ganteng. Nah hasil liburannya itu, diembatlah tuh cowok sama Dina. Bener kan Din?" Goda Stevan setelah memperhalus bahasanya pada Weini.
Weini menatap Dina dengan senyuman, turut senang mendengar kabar baik itu. "Selamat ya kak Dina, akhirnya ketemu jodohnya. Kalau ada apa apa jangan segan cerita ya." Ucap Weini.
"Makasih ya non, nona nggak mau nanya gitu gimana ceritanya aku bisa jadian? Aku bersedia cerita loh ke nona. he he he...." Ujar Dina tak sabar buat pamer kisah cintanya yang baru seumur jagung.
Weini mengangguk, "Nanti kita atur waktu ya kak. Aku siap dengerin kok." Gumam Weini.
Grace lebih dulu menyudahi makannya, sesekali ia menatap pada Weini dengan tatapan sendu. Weini yang punya perasaan peka pun menyadari ada sesuatu yang ingin dikatakan Grace padanya. Weini langsung menatap sepupunya dengan lembut dan berkata, "Grace, bisa ikut aku sebentar?"
"Kalian teruskan saja makannya, jika kurang beritahu pelayan untuk menambah porsinya. Aku dan Grace bicara sebentar ya." Ucap Weini kemudian berdiri dan berjalan meninggalkan pendopo disusul oleh Grace.
🌹🌹🌹
"Terima kasih, kamu paham kalau aku mau bicara." Gumam Grace pelan.
Dua gadis itu berpindah ke kolam ikan, langit malam mulai gelap namun mereka lebih nyaman berada di sana.
"Tak perlu, aku pun ingin bicara denganmu. Kamu dulu saja, apa yang ingin kamu sampaikan?" Ujar Weini.
Grace tertegun sejenak, lalu menata kata-kata yang ingin ia sampaikan. "Ini tentang ayahku... nona, apa rencana mu tentang hukuman ayahku selanjutnya? Maaf... aku tidak bermaksud meminta yang berlebihan, tapi aku harap bisa mohon keringanan padanya."
Sorot mata Grace menaruh harapan penuh pada Weini. Hanya ini yang bisa ia lakukan sebagai anak, bagaimana pun perlakuan ayahnya, sekalipun ia tidak lagi dianggap namun Grace hanya memiliki satu keluarga yang tersisa sekarang.
Weini menghela napas, ia menatap teduh pada Grace. "Aku juga ingin membahas masalah ini padamu. Kau tahu bahwa aku baru saja ditunjuk sebagai penerus, namun aku belum diangkat secara resmi. Aku sudah menemui ayahmu kemarin, melihat kondisinya secara langsung jujur saja aku tak tega membiarkan dia menghabiskan masa tua di sana." Lirih Weini.
Grace terkesiap, ia semakin penasaran dengan kondisi ayahnya. Tanpa sadar saking bersemangatnya, ia mendekati Weini dan menggenggam tangan Weini dengan kedua tangannya.
"Bagaimana keadaan ayahku? apa dia baik? Apa dia cukup makan? apa dia bisa tidur?" Pertanyaan itu keluar tak beraturan dari Grace, matanya membulat bahkan berkaca-kaca. Mengungkit apapun tentang orang terdekatnya memang rentan mengundang air matanya.
Weini mempererat genggamannya, ia tersenyum lembut sebagai balasan demi memenangkan Grace. "Kondisinya kurang baik, aku terpaksa harus jujur padanya tentang kak Chen Kho. Bagaimana pun, paman harus tahu kenyataan itu. Dia punya perasaan yang peka, dia tahu kalau kak Chen Kho sudah tiada."
Grace terasa gentar, lututnya lemas seketika hingga nyaris terkulai, beruntung Weini sigap menariknya hingga tidak sampai tersungkur di tanah. Air mata berlinang dari dua mata Grace, sedikit isakan pun terdengar jelas di keheningan malam.
"Aku harus bagaimana lagi sekarang? Aku tidak bisa berbuat banyak padahal tahu ayahku menderita. Aku putrinya yang tidak berguna." Tangis Grace dalam ketidak sanggupnya.
Weini memeluk Grace, menepuk pelan punggungnya. Ia mengerti betul apa yang Grace rasakan, terlebih ia tahu bahwa pamannya tidak sepenuhnya bersalah.
"Kamu percaya padaku kan? Kamu percaya kalau aku pasti menolong paman."
Grace terisak namun ia masing kuat menganggukkan kepalanya.
"Tunggu saat hari pengangkatan ku tiba, saat gelar penguasa sudah resmi aku dapatkan, ada satu permintaan yang tidak terbantahkan sebagai hadiah sang penguasa baru. Di saat itu, aku akan minta pengampunan untuk paman. Kamu harus paham posisiku, meskipun ayahku menobatkan ku sebagai penggantinya, tapi tidak sedikit petinggi yang tak setuju. Apalagi masalah paman yang dianggap memberontak sudah tersebar ke seluruh negeri, aku tidak bisa sembarang melepaskan tanpa persyaratan kuat. Jika tidak, mereka akan menganggap aku tidak tegas atau tidak pantas menjadi pemimpin. Kita sama sama dari klan Li ini, aku tidak akan membiarkan siapapun meremehkan kita. Jadi kumohon bersabar lah, dan tunggu aku menyelesaikan sesuai rencana ku." Gumam Weini panjang lebar yang cukup dimengerti oleh Grace.
"Nona, aku tidak menyangka kamu bisa berpikir sematang ini. Kamu sangat bijak dan dewasa, aku sungguh menaruh hormat padamu. Aku bangga melihat kamu memimpin klan kita. Salam hormatku, panjang umur panjang umur." Grace melepaskan diri dari pelukan Weini lalu memberikan penghormatannya.
Weini menolak penghormatan itu, ia segera menyudahi aksi berlutut Grace. "Sudahlah, tidak ada siapapun di sini, jangan terlalu formal. Ayo bangun." Pinta Weini sambil membantu Grace berdiri.
Di saat bersamaan, datang dua orang pengawal yang mencari Weini sejak tadi.
"Hormat kepada nona Yue Hwa." Dua pengawal itu kompak berlutut.
Grace dan Weini segera memperbaiki posisi mereka, tak enak menjadi tontonan orang lain seperti ini.
"Bangunlah, ada kepentingan apa kalian kemari?" Tanya Weini yang membuat Grace takjub karena bisa sangat berwibawa ketika berhadapan dengan pengawal, namun bisa lembut dan bersahabat saat bersama Grace dan teman-temannya.
"Ada berita kurang baik yang terjadi, ini tentang Tuan Kao Jing, Nona." Ujar salah satu pengawal.
Grace terkesiap saat mendengar laporan itu, "Ayahku kenapa? Apa yang terjadi?" Pekik Grace panik, ia lebih duluan mengambil sikap mendahului Weini.
🌹🌹🌹