
Weini berdiri dalam sebuah ruangan pengap, lampu pijar 9 watt dalam ruang itu hidup nyala silih berganti memusingkan kepala. Ia terjebak di sana, seorang diri dalam ruang tanpa pintu. Weini memegang wajahnya, perih dan gatal tidak tertahankan hingga ia menggaruk dengan kedua tangan. Ia mulai berteriak kesakitan, garukan itu merusak kemulusan kulitnya namun rasa perih dan gatal tak kunjung hilang.
“Aaaarrrrgghhhh!” pekik Weini kencang, tak ada seorangpun yang datang menolong.
Dalam keremangan lampu yang ababil, Weini melihat tembok yang memenjarakannya berubah menjadi ruangan penuh cermin. Ia terperanjat, mendapati bayangan dalam cermin yang terlihat begitu asing. Hanya ada satu bayangan di sana, sama halnya dengan ia yang tengah sendiri. Weini mulai menggerakkan tangan, memegang wajahnya dan bayangan dalam cermin itu mengikuti gerakannya. Berkali-kali ia melakukan gerakan lain, bayangan itu tetap menirunya.
“Siapa?” tanya Weini.
“Inikah aku?” Weini menatap lekat wajah itu, sayangnya semakin ia membuka lebar mata, bayangan itu malah blur.
“Tunjukkan wajah aslimu, Li Yue Hwa!” pekik Weini kencang pada bayangan di cermin itu. ia geram karena tak dapat melihat jelas seperti apa wajah di sana.
“Tunjukkaaaan!” teriak Weini. seketika itu pula ia terbangun dengan masih berteriak mengguncang hingga terdengar oleh Haris di kamar lain. Napasnya tersengal, lagi-lagi ia mengalami mimpi buruk. Sudah tidak terhitung mimpi buruk yang terasa seperti nyata itu menjadi bunga tidurnya.
Weini mengusap wajahnya kemudian berlari mematut diri di depan cermin. Wajahnya masih seperti biasa, ia menepuk jidatnya. “Kenapa heboh begini, itu hanya mimpi.”
Gadis itu menarik kursi belajarnya dan duduk mematung, pikirannya menerawang jauh memikirkan makna mimpi itu. “Apa ini pertanda, aku harus melepas topeng ini? Tapi gimana caranya?”
Kantuk Weini hilang total, meskipun malam masih sangat panjang, ia bergegas bangkit dan keluar dari kamar. Saatnya meminta kepastian pada sang ahli yang ia yakini masih terjaga. Weini mendatangi kamar Haris, begitu hendak mengetuk pintu justru pria itu lebih dulu keluar dari kamar.
“Habis mimpi buruk lagi kan?” Tanya Haris yang sudah hapal dengan kebiasaan Weini. Ia menggiring Weini menuju halaman belakang rumah, hujan yang awalnya hanya gerimis kini makin terdengar deras. Walau demikian, Haris tetap membuka pintu belakang dan membiarkan angin dingin berhembus masuk.
“Ayah, kapan kita buka topeng ini? Aku barusan mimpi aneh … tentang … wajahku.” Weini memegang wajahnya, ia sampai terbata-bata saking bingung.
Haris menatap Weini lekat, ia tahu keresahan gadis itu. “Apa kamu sudah siap?” tanya Haris serius.
Weini mengernyitkan dahi, Haris benar-benar serius. Tidak biasanya pria itu menyikapi mimpi buruknya dengan tampang setegang itu. Tapi baguslah, mungkin ini sudah saatnya topeng dibuka. “Siap ayah.” Weini mengangguk mantap .
Haris menghela napas, memalingkan wajah dari anak gadisnya. “Cepat atau lambat, semua akan terbongkar. Hanya masalah waktu, apa salahnya kita anggap ini waktu paling tepat.” Ujarnya sembari menatap rinai hujan deras.
“Aku siap ayah, lebih baik hidup dalam kenyataan walau menyakitkan daripada bersembunyi di balik kepalsuan. Aku takut semakin lama kita memakai topeng, di masa depan akan terjadi hal yang lebih menakutkan.” Kekhawatiran Weini bukan tanpa alasan, feelingnya mengatakan demikian.
Haris mengangguk setuju, ia meminta waktu sebentar pada Weini untuk mengambil peralatan sihirnya. Bukan hal kecil untuk mematahkan sihir yang ia tanam belasan tahun lalu, tidak semudah memasukkan ke dalam tubuh, mengeluarkannya jauh lebih beresiko. Haris keluar dengan membawa pedang sihir yang ia simpan dalam dimensi lain, serta beberapa benang merah yang menyala oleh kekuatan gaib.
Gadis itu tersenyum nyengir sembari mengambil handuk itu, ia tahu apa fungsinya. Semacam nostalgia semasa kecil ia disuruh menggigit jas Haris untuk menahan rasa sakit, sekarang pria paruh baya itu masih mengulangnya. “Ayah, bisakah kita pakai obat bius? Jaman sudah canggih, buat apa susah payah menahan rasa sakit.” Weini
masih sempat bercanda, lebih tepatnya ia heran saja mengapa tidak ada cara lain yang lebih praktis dan tidak menyiksa?
Candaan Weini membuat Haris berhenti konsentrasi sejenak, “Weini, jika semua rasa sakit bisa dibius, maka orang yang sakit karena patah hati sudah punah dari muka bumi. Ingat, kau harus jadi anak manis seperti umur 6 tahun. Jangan berteriak!”
Weini mengangguk. Dia tidak punya pilihan selain menurut. Handuk yang disodorkan Haris langsung ia gunakan untuk menyumpal mulutnya. Ia tidak boleh berteriak!
Pedang panjang yang berkilau keemasan itu menjulang dan dipegang erat oleh Haris. Ia menutup mata, berkonsentrasi merapalkan mantera yang langsung bereaksi oleh semesta. Bunyi Guntur menyambar disertai tiupan angin yang makin kencang, kilat menyala di atas atap rumah mereka. semesta seakan mentransferkan energi yang maha dasyat pada pedang Haris, ia siap menghunuskannya ke punggung Weini. Tepat di tempat di mana chip sihir itu ditanamkan.
Weini memejamkan mata dengan kuat, wajahnya mengkerut. Sakit luar biasa mulai merasuki kulit punggungnya, sensasi panas dan seperti terbakar pun makin intens terasa. Ia menggigit kencang handuk dan berusaha mengontrol diri agar tetap sadar dan tidak berteriak. Pedang itu mulai beraksi, ujungnya yang tajam mengoyak baju tidurnya bagian belakang dan mencabik kulitnya.
Haris mengeluarkan seluruh tenaganya, keringat bercucuran bahkan ia menggertakkan gigi saking kuatnya. Ia mulai kebingungan, ujung pedangnya sudah merobek kulit Weini tepat di tempat yang dulu ia tanamkan, namun tidak ada tanda-tanda magic di sana. Haris mengorek lebih dalam dengan hati-hati, ia tahu semakin dalam
pedang itu makin sakit yang Weini rasakan.
“Aaaaarrrghhh…”
teriakan Weini pecah, handuk tidak lagi sanggup jadi pelampiasan. Sakitnya terlalu parah dijelaskan.
Haris berusaha tetap konsentrasi walaupun Weini sudah terlihat sangat menderita. Apa yang terlanjur mereka mulai, harus ada hasilnya atau kesakitan itu berujung sia-sia. “Weini, tahan sebentar lagi!” pinta Haris tegas.
Weini tak mampu lagi memberi respon, yang ia tahu hanya rasa sakit yang seperti meremukkan tulangnya. Ia terus berusaha untuk tetap sadar, jangan sampai pingsan di tengah ritual. Weini paham resiko ritual sihir, jika ia pingsan maka tidak ada kepastian kapan ia akan sadarkan diri lagi. Tapi, rasa sakit ini berpuluh kali lipat dibanding ketika memasukkan chip sihir itu. Weini tak yakin sampai kapan ia mampu bertahan.
Plontak! Bruk! Pedang di tangan Haris terpental tinggi lalu jatuh ke lantai dan hilang kembali ke dimensi lain. Sementara itu tubuh Haris terpelanting oleh kekuatannya sendiri yang terlalu besar lalu jatuh menubruk tembok. Pria itu terkulai lemah, kehilangan nyaris seluruh tenaganya.
Weini tidak kalah naas, bekas cabikan pedang tajam itu memang tidak meneteskan darah karena pengaruh sihir namun sakitnya sangat membekas bahkan ketika pedang itu tak lagi menancap di sana. Gadis itu terpental ke arah berlawanan dengan Haris, lalu meringis kesakitan bercampur ketakutan melihat Haris terkulai lemah di lantai.
“Ayaaaah!”
***