
Alarm dari ponsel berdering kesekian kali pengulangan lantaran belum dimatikan oleh sang pemilik. Mata Weini masih terasa berat membuka walau sekedar mengintip, ia baru tertidur ketika adzan subuh berkumandang. Tangannya meraba sekitar kasur untuk menemukan sumber bunyi, dan ponsel itu terselip dalam selimut tipisnya.
“Weini, buruan bangun! Kau harus syuting ke Bogor siang ini.” Haris mengetuk pintu dan berteriak dari luar. Pria itu tahu Weini masih betah menikmati empuknya kasur.
“Udah banguuun.” Pekik Weini dari dalam selimut. Bahkan ketika sudah menanggalkan seragam putih abu-abu, ia masih harus bangun pagi untuk kerja.
Ia memincingkan mata demi mengintip layar ponsel, puluhan notif tercantum di sana. Dipencetnya aplikasi whatsapp, barangkali sudah ada balasan dari Xiao Jun. Sayangnya harapan itu pupus saat melihat pesan yang mencapai ratusan chat iu didominasi oleh grup sinetronnya. Pesannya untuk Xiao Jun sejak tadi malam bahkan belum terbaca.
“Zao An (selamat pagi). Ni hao ma? (Apa kamu baik-baik saja?)”
Weini mengirim pesan singkat itu ke Xiao Jun sebelum ia bangkit dari kasur. Jika tidak segera beranjak, bisa dipastikan ia akan terjebak macet nantinya.
Selang beberapa menit kemudian, Weini meraih ponsel yang tergeletak di atas kasur untuk memeriksa kembali. Lagi-lagi ia kecewa, pesan itu hanya centang satu. Xiao Jun tidak mengaktifkan ponsel dan ini belum pernah terjadi.
Weini kian gusar, tidak biasanya sang kekasih melewatkan sapaan selamat pagi. Perasaan Weini semakin tidak enak, ditelponnya nomor telepon Xiao Jun yang lain. Selain nomor WA, Xiao Jun memberikan nomor telepon pribadi yang hanya diketahui orang terdekatnya. Weini tak bisa bersabar lagi, ia tidak peduli tubuhnya masih
setengah basah dengan handuk yang masih melilit. Kepastian itu lebih penting daripada apapun saat ini, namun malangnya nomor yang ia tuju justru tidak dapat terhubung.
“Kamu kenapa, Xiao Jun?” lirih Weini sembari menggenggam ponselnya. Hati kecilnya masih mencoba berpikir positif, mungkin saja pria itu ada urusan kantor yang mendadak dan lupa mengaktifkan ponsel. Tapi mengapa tidak membalas chat malam kemarin? Apa ini ada hubungannya dengan telpon dari Lau? Weini mencoba memikirkan sumber masalah yang lebih masuk akal dan ini fix pasti ada sangkut pautnya dengan Lau.
Weini menghubungi nomor Lau, semakin cepat mendapat kepastian maka ia bisa lebih tenang beraktivitas. Nomor Lau aktif, bunyi nada sambungnya menggetarkan hati Weini. Belum pernah ia harap-harap cemas seperti ini, hingga panggilan itu terputus dengan sendirinya dan mulai mematahkan semangat Weini.
Dicobanya lagi dan lagi hingga enam kali panggilan dengan hasil yang sama, Lau ikut hilang entah kemana. Weini membanting ponselnya ke atas kasur, pikiran sekacau benang kusut membuat nalarnya tak mampu mengendalikan segala keburukan yang terlintas. Bayangan wanita yang tidak dikenal itu terus menghantui, menampilkan cuplikan kebersamaan Xiao Jun wanita itu hingga Weini menjatuhkan diri ke atas kasur dan membenamkan wajahnya di bantal.
Bagaimana harus kuat, jika aku tidak menemukan alasan untuk bertahan?
Bagaimana harus percaya, jika yang ingin dipercayai justru mengaburkan kepercayaan itu.
Apa aku yang terlalu mencintai sehingga mudah tersakiti?
Atau dia yang lebih mudah berpaling hati dan melupakan ikatan ini?
_Quote of Weini_
***
Dina mengetuk pintu kamar Weini setelah Haris memintanya datang. Biasanya supir yang akan mengantar Weini berangkat kerja, namun Haris tahu sesuatu yang buruk akan menimpa putrinya dan ia perlu teman yang bisa diandalkan.
“Non, ini aku. Buka pintu dong, ini udah waktunya berangkat loh.” Seru Dina sembari menciptakan bunyi ketukan dengan tempo, layaknya ketukan lagu.
Pintu mendecit dan terbuka, Dina hendak menyapa Weini namun gagal lantaran ia keburu ditarik masuk. Pintu kembali terkunci dan Dina menganga lebar melihat Weini masih jauh dari kata siap. Handuk pink masih terlilit dengan memamerkan lekuk tubuh indah sang artis.
“Yang bener aja non, jam segini masih belum siap? Aduuuhhh kita bisa bikin darah tinggi Bams kumat kalau gini.” Dina berlari menuju lemari dan menghamburkan isinya demi mencari pakaian yang cocok untuk Weini.
“Nih…” Disodorkannya blouse warna peach dan celana jeans biru dongker pada Weini kemudian Dina bergegas meraih alat make up. Saat ia menoleh ke belakang memegang spoon foundation, ia mematung shock melihat Weini masih terdiam memegang pakaiannya.
“Non, nyawamu belum kumpul semua? lah kok malah bengong bukannya dipake bajunya.” Dina heran melihat kelakuan Weini yang lain dari biasa. Kemarin malam mereka masih ceria, belum ada dua puluh empat jam berpisah malah Weini sudah berubah drastis.
“Kak Dina, coba hubungi Xiao Jun atau paman Lau. Siapa tahu mereka mau mengangkat telponmu.” Ujar Weini lirih, ia malah tak menggubris ocehan Dina yang menyebutnya lemot.
“Eh? Bos muda dan paman kenapa?” sekarang Dina paham penyebab lesunya Weini, hanya urusan cintalah yang bisa menjadikan orang kuat menjadi lemah, orang ceria menjadi pemurung, orang baik menjadi jahat jika dalam keadaan dikecewakan.
“Oke aku telpon mereka sekarang tapi non sambil pakai baju ya.” Dina mengingatkan lagi sebelum ia fokus dengan bunyi nada dering Lau.
Hasil yang sama juga dialami Dina, beberapa kali ia menghubungi Lau namun tidak ada respon dari sana. Begitu pula dengan ponsel Xiao Jun yang di luar jangkauan terus bunyinya. Ia menatap Weini yang terlihat hendak menangis namun ditahan, wajah yang begitu sedih itu belum pernah Dina lihat selama ia mengenal Weini.
“Non, aku tahu ini pasti sulit tapi plis balik fokus. Kerjaanmu menuntut profesionalitas, nggak peduli sehancur apapun perasaanmu ketika dituntut berperan senang ya kamu harus bisa, gitu juga sebaliknya. Kamu kerja gini karena suka kan? Ini passionmu kan? Plis, dunia hiburan itu panggung sandiwara, anggap saja lagi pake topeng buat tutupin kesedihanmu sekarang.” Dina mengguncang pundak Weini untuk menyadarkannya. Kondisi yang menakutkan adalah ketika seseorang yang ceria dan optimis mengalami tekanan batin, dan ia tidak mau hal
itu terjadi pada Weini.
Topeng? Kak… aku tiap hari pake topeng, aku sudah munafik sejak kecil. Cecar Weini dalam batin. Mendengar kata topeng diucapkan oleh Dina akhirnya bisa menguatkannya, ia lagi-lagi terancam kehilangan orang yang paling dicintai. Setelah dicampakkan keluarga sejak kecil lalu bersembunyi di balik topeng, sekarang ia terancam kehilangan orang yang dicintai dan apesnya orang itu sangat berarti. Ia tidak punya topeng untuk bersembunyi lagi, inilah kenyataan yang harus ia hadapi.
“Kita hubungi mereka lagi di perjalanan, come on fighting!” Dina memeluk Weini, memberinya sebuah kehangatan yang lebih dari persahabatan. Ia mulai menyayangi Weini layaknya saudara, ikut bahagia saat melihatnya senang dan ikut sedih ketika melihatnya terpuruk seperti saat ini.
***