
Mobil Chen Kho sudah berhenti di depan rumah Li An, sepanjang perjalanan mereka lebih memilih diam. Li An masih meringis menahan sakit karena bibir bawah yang lecet. Meskipun sedih, ia tidak berani protes atas perlakuan
Chen Kho yang mulai terbawa emosi dan bukan cinta lagi yang ia rasakan. Li An terus berpikir apakah kedatangannya ke kantor sangat tidak diharapkan?
“Aku minta maaf…” Li An mengucapkan kata-kata yang tak seharusnya, yang lebih tepat meminta maaf adalah Chen Kho. Ia lagi-lagi mengalah hanya demi menyenangkan pria itu.
“Sudahlah. Buru masuk!” ujar Chen Kho, ia ikut melepas sabuk pengaman dan turun terlebih dulu.
“Kamu mau masuk? Bukannya masih jam kerja?” Li An tak enak hati jika Chen Kho ia sita terlalu lama.
Chen Kho berjalan menuju pintu dan menunggu Li An membukanya. “Jadi aku nggak boleh masuk?”
Li An segera mengeluarkan kunci dan membuka pintu, jangan sampai mendapat hukuman kedua lagi. Rumah yang lebih layak disebut gubuk itu kondisinya makin memprihatinkan dari sebelumnya. Kerja part time yang ditekuni
Li An hanya cukup untuk menyambung nyawa, tidak bisa disisihkan untuk renovasi bangunan.
Di atas kursi rotan reot, Chen Kho duduk menyilang kaki. Dibiarkannya Li An yang sibuk menyiapkan teh di belakang. Ia perlu mempertimbangkan dengan mantap agar tidak ada penyesalan memutuskan hubungan
dengan gadis yang sudah tidak berguna, kecuali masih ada yang bisa dimanfaatkan darinya.
Seekor tikus hitam berlari melintasi bawah kaki Chen Kho, reflek ia mengangkat kedua kakinya ke atas kursi. Antara rasa geli dan jijik, Chen Kho melihat kemana tikus itu menghilang di balik dinding bambu ruang gelap
di samping kamar Li An. Chen Kho mengernyitkan mata, ia mempertajam feelingnya dan berfokus pada ruang itu. Sebuah sensasi getaran gaib terdeteksi oleh kepekaan Chen Kho. Ia bergegas menyusup ke dalam ruangan itu, setelah mengintip Li An yang masih sibuk mendidihkan air dari atas tungku kayu.
Selangkah masuk ke dalam ruangan sempit, gelap dan pengap itu Chen Kho langsung menutup hidung. Hawa dingin dari energi sihir yang kuat berbenturan dengan unsur panas aura gaibnya. Chen Kho belum berani melanjutkan langkah, kekuatan musuh yang belum tertebak mungkin saja bisa membuatnya terjebak.
Ia memberanikan diri maju satu langkah meski dengan waspada, tiba-tiba ruang sempit dan gelap itu berguncang. Chen Kho berpegangan pada sudut meja agar tidak terombang-ambing bersama guncangan itu.
“Heh? Tempat apa ini?” usai guncangan yang mirip gempa, ruangan semula gelap berubah menjadi terang dan luas. Sebuah kursi dan meja dari kayu jati tertata seakan khusus untuk ditempati seseorang. Wewangian seperti
dupa begitu pekat tercium, Chen Kho menutup hidupnya lantaran takut terbius wangi yang tidak jelas asal usulnya.
“Sihir putih.” Chen Kho berhasil mengidentifikasi aliran sihir yang menguasai tempatnya berpijak. Selama dekat dengan Li An, ia sudah beberapa kali masuk ke rumah ini namun belum mengetahui ada ruang rahasia yang menakjubkan. Li An belum pernah bercerita tentang keluarganya, sihir andalan klannya serta informasi tentang ayahnya. Chen Kho mulai berubah pikiran, ia tidak boleh membuang gadis itu sekarang.
“Astaga, aku kira kamu sudah pergi rupanya sembunyi di sini.” Li An muncul membawa nampan berisi segelas teh dan setoples kecil cemilan.
Begitu Li An masuk dan bersuara, ruangan besar dan terang itu kembali pada wujud semula. Chen Kho sempat pusing dengan perubahan drastis itu. “Ini ruang apa?” tanya Chen Kho tanpa menghiraukan pertanyaan Li An
sebelumnya.
Gadis itu tersenyum, “Ah… ini ruang ayahku. Dulu ayah sering menghabiskan waktu di sini, katanya sih kekuatan leluhur kami terpusat di ruang ini.”
Chen Kho mengernyitkan dahi, ia bingung namun mulai tertarik menggali lebih lanjut mumpung arah pembicaraan mereka masih hangat tentang ini. “Kekuatan leluhur? Maksudmu hantu?” Chen Kho pura-pura polos agar Li An
terpancing memberitahu lebih banyak sesuai yang ia harapkan.
resmi ditunjuk ayah sebagai pewaris ilmu. Ayah keburu pergi meninggalkan kami…” Li An terhenti, meneruskan cerita itu terasa sangat menyakitkan seperti mengorek luka lama.
“Meninggalkanmu? Kenapa?” Chen Kho memeluk Li An dari belakang seakan menenangkannya.
Li An merasa Chen Kho mulai memperhatikannya, pelukan dari belakang itu terasa begitu mendebarkan hatinya. Ia mengira Chen Kho mulai prihatin dengan pengalaman pahitnya dan melupakan kekesalan sebelumnya. Hubungan mereka pasti akan menghangat lagi jika Li An lebih terbuka.
“Itu… karena nona Yue Hwa. Ayah membawanya kabur entah kemana demi melindungi nyawa anak bungsu keluarga Li itu.” Li An tertunduk sedih, saat ayahnya pergi ia masih seorang anak gadis kecil yang lugu. Dalam sekejab kehilangan kasih sayang dan terpisahkan dari ayah dan ibu, dikirim ke daerah perbatasan yang serba kekurangan dan berjuang hidup hingga dewasa bersama kakak sulungnya. Kesedihan itu seketika buyar saat ia sadar sedang menjelekkan keluarga kekasihnya.
“Ah maaf… maafkan aku tidak bermaksud menjelekkan sepupumu.” Li An gusar, jika ia membuat Chen Kho marah lagi mungkin hubungan mereka akan berakhir sampai di sini.
Chen Kho memutar badan Li An hingga saling berhadapan, jarak di antara mereka terhalangi nampan yang masih dipegang gadis itu. Diraihnya nampan itu lalu menggeletakkan begitu saja di lantai. Sesaat kemudian Li An sudah
ditarik dalam pelukannya.
“Nggak usah takut, aku nggak akan marah. Kamu kan tahu aku berbeda dengan mereka, walaupun kami saudara tapi aku tidak sekejam mereka. Kamu pasti sudah mengalami banyak hal buruk di masa lalu, ceritakan saja aku tidak akan meninggalkanmu!”
Li An mengangguk dalam pelukan Chen Kho, tangannya sudah melingkar di pinggang pria itu. Sesaat ia merasakan kenyamanan dari pelukan dan kembali melanjutkan curhat, “Aku dan kakak sampai sekarang yakin bahwa ayah
masih hidup. Seorang pewaris sihir klan Wei tidak mungkin mati semudah itu. Yang sangat kami sayangkan, kenapa ayah tidak kembali menolong kami? Dia malah memilih melindungi anak gadis Li.”
“Jadi ayahmu masih hidup? Lalu dimana ia sekarang?” tanya Chen Kho makin penasaran.
“Entahlah, kami tidak peka pada sihir. Tidak akan mudah menemukan tempat persembunyiannya jika tidak punya basic sihir.” Li An pesimis, ia menghela napas begitu dalam.
“Sihir klan Wei sudah turun temurun, pasti ada penerusnya yang mewarisi bakat sejak lahir. Kalo kamu tidak bisa, apa mungkin kakakmu yang bisa?” Chen Kho memancing Li An membocorkan lebih dan lebih apa yang ia ketahui.
Li An menggeleng kencang, “Anak perempuan tidak bisa menjadi pewaris. Kalau adikku berbakat, mungkin dia yang lebih peka. Tapi apa gunanya dia? Setelah ayah pergi, dia malah jadi anak keluarga Li. Sekarang ia malah tinggal dan betah di luar negri.” Celetuk Li An, saking rindunya pada adik bungsu yang terakhir ia lihat sewaktu berusia 7 tahun. Sekarang entah seperti apa wajahnya, Li An sangat ingin bertemu.
“Oh… Li Xiao Jun yang mewarisi ilmu klan Wei?” tanya Chen Kho cepat.
“Seharusnya begitu. Ia hanya formalitas penerus tapi tanpa ayah yang mengajarkan langsung padanya, rasanya sulit jika ia bisa menguasai semua sihir.”
Jadi seperti itu… aku terlalu meremehkan Xiao Jun. Mungkin bisnis di Jakarta hanya alasan yang ia karang, mungkin di sanalah tempat persembunyian Wei dan ia menurunkan ilmu pada Xiao Jun. Chen Kho menggertakkan gigi, ia melepas pelukan dan menatap Li An dengan lembut.
“Sayang, aku harus balik ke kantor lagi. Ada rapat penting yang tidak bisa diwakilkan.”
Li An melepas kepergian Chen Kho dengan tatapan cemas, namun kebersamaan yang cukup lama dengan kekasihnya itu sangat menghibur hati.
Sesampai di mobil, Chen Kho segera menghubungi tangan kanannya. “Cari intel untuk mengawasi Xiao Jun mulai sekarang!”
***