
Haris berdiri di depan kolam teratai yang masih terletak di pelataran paviliunnya. Angin malam ini cukup dingin, meskipun ia sudah mengenakan mantel tebal namun dingin itu tetap terasa menusuk hingga masuk ke dalam kulitnya. Bukan tanpa alasan ia berdiri di tengah kesunyian malam, dengan tangan yang disembunyikan di belakang, ia menunggu waktu berlalu. Waktu yang akan mempertemukan ia dengan seseorang.
Senyum Haris mengembang, dari kejauhan pun sudah terdengar suara langkah kaki ringan menuju kediamannya. Dan semakin mengembang penuh senyuman itu saat yang ia nantikan telah muncul tepat di hadapannya.
“Selamat malam Gong Zhu, salam hormat untuk anda.” Ujar Haris sembari membungkuk hormat.
Weini terkesiap, niat kedatangannya memang ingin menemui Haris, namun tidak disangka pria tua itu justru sudah berdiri di depannya seakan tahu ia akan datang. “Jangan sungkan ayah, ku mohon panggillah namaku saja.” Pinta Weini sedikit protes, ia tidak terbiasa mendengar orang terdekatnya memanggilnya dengan formal.
Haris tersenyum tipis, ia menatap lembut pada Weini. “Saya akan menganggap ini sebagai perintah, jika memang ini lebih membuat anda tenang, Yue Hwa.”
Puas rasanya Weini mendengar panggilan itu terlontar dari ayahnya. Ia mengangguk sembari membalas senyuman Haris dengan lebih lebar. “Terima kasih ayah, tapi apa yang ayah lakukan di sini? Sudah malam mengapa ayah berdiri di luar?” Tanya Weini heran, pertanyaan yang ia simpan sejak tadi karena teralihkan perilaku formal Haris.
“Aku tahu akan dikunjungi putriku, aku hanya berjaga-jaga untuk menyambutnya.” Jawab Haris dengan santai, ia selalu bisa membawakan diri dengan tenang dan itulah keistimewaan pria itu.
Weini tersenyum lebar, menyayangkan dia yang bisa melupakan kemampuan ayahnya memprediksi sesuatu. “Oh, aku lupa bahwa ayahku penyihir sakti di muka bumi ini.” Gumam Weini tertawa kecil.
“Kamu juga jangan lupa bahwa kamu pun gadis penyihir paling sakti di muka bumi ini.” Timpal Haris dan ikut tertawa.
“Aku berguru padamu, ayah.” Ujar Weini merendahkan dirinya.
“Tidak jaminan guru lebih unggul daripada murid, hanya murid yang berbakatlah yang akan mengungguli gurunya. Lalu apa keputusanmu sekarang?” Tanya Haris yang tak ingin berbasa basi lagi, walaupun ia tahu namun ia ingin mendengarkan jawaban langsung yang terlontar dari Weini.
“Bukankah ayah sudah tahu?” Canda Weini, ia berjalan mendekati tepi kolam. Menatap ke dalam kolam yang diterangi pencahayaan lampu kuning.
“Aku ingin mendengarkan langsung, belum afdol jika belum mendengarnya.” Seru Haris mantap.
Weini tampak serius menatap Haris, basa basi mereka sudah cukup. “Aku setuju untuk segera menggelar konferensi pers. Mohon bantuan ayah untuk mengaturnya.”
Haris mengangguk mantap, ia puas dengan keputusan Weini yang bijak. “Pasti! Persiapkan diri saja untuk menghadapi keterkejutan mereka. Jangan panik, ada aku yang akan membantu setiap waktu.”
“Aku percaya pada ayah, terima kasih selalu memberiku pengarahan yang tepat.” Ungkap Weini mantap.
Pembicaraan mereka tak berjalan lama, Weini cukup tahu diri untuk tidak mengganggu waktu istirahat Haris. Meskipun ia tahu kebiasaan ayahnya yang sering tidur menjelang subuh, namun kondisi saat ini sepenuhnya berbeda, ada Xin Er yang pastinya selalu menantikan Haris. Weini tak akan mengganggu pasangan tua itu untuk kembali merasakan kebahagiaan yang sekian lama terpisahkan.
❤️❤️❤️
“Sepertinya memang tidak muat, saya tidur di kamar saya saja ya nona.” Fang Fang memeluk selimutnya dan ragu ikut bergabung di atas ranjang Grace yang sudah dihuni Dina dan si pemilik kamar. Ia segan menolak permintaan Grace yang menginginkan ia dan Dina nginap di kamarnya malam ini, jika dilihat dari kondisi yang tampak tidak memungkinkan, mereka akan tidur berdesakkan andai dipaksakan.
Grace dan Dina menatap Fang Fang bersamaan, ada rasa tidak rela membiarkan gadis itu lolos dari incaran mereka. “Masih muat kok, kamu di tengah aja Fang biar lebih luas.” Gumam Grace yang tetap berusaha meyakinkan Fang Fang.
Dina menggeser posisinya ke sisi ranjang lalu menepuk tempat kosong di tengah, “Sini Fang, kan tumben tumben aku bisa nginap di sini. Jangan sia-siakan kesempatan!” Seru Dina bersemangat.
Fang Fang tak punya pilihan lain, dari gelagat dua gadis itu terlihat jelas motif terselubung yang akan mereka lakukan. Terlebih ada Dina yang selalu punya bahan cerita, tampaknya mereka bertiga akan menghabiskan malam tanpa tidur. Fang Fang pun menempati tempat yang disediakan untuknya.
“Gitu dong Fang, kan kompak kita. Eh... btw, aku baru perhatiin, ternyata kamu doang yang masih single nih Fang. Duh... gimana dong nanti kalau aku udah merid, Grace merid... kamu gimana? Hmm....”
Dan benar saja apa yang dikhawatirkan Fang Fang, firasat buruknya mengatakan bahwa ia yang akan jadi sasaran pembahasan mereka malam ini. Kini ia tersudutkan dengan posisi yang sulit, entah apa yang harus ia jawab. Apalagi Grace sedang menatapnya dan terlihat antusias menantikan jawaban. “Ng... aku akan tetap ikut nona ke manapun berada. Aku kan pelayannya.”
Grace menggeleng lemah, jawaban yang mengharukan namun bukan itu yang ia harapkan. “Fang, aku terharu dengan kesetiaanmu. Sungguh susah mencari teman sebaik kalian, terutama kamu Fang. Tapi aku lebih lega dan bahagia jika melihat kamu juga menemukan kebahagiaanmu sendiri. Nanti kalau sudah ketemu pria yang cocok, jangan hiraukan aku. Pacaranlah dan menikahlah! Wanita akan lebih sempurna kalau sudah menjadi ibu rumah tangga, oke.”
Fang Fang tak menjawab lagi, ia hanya mengangguk pelan. Entah apa yang ia pikirkan, Grace dan Dina tak bisa menebak apakah dia senang atau terpaksa mengangguk.
“Duh, andaikan saja malah seperti ini datang lebih cepat ya, selagi masih ada kesempatan. Kan lebih lengkap kalau ada non Weini, hmm... kenapa sih dulu kita akurnya nggak lebih cepat aja.” Gumam Dina sedih.
Grace tersenyum tipis, “Benar juga katamu, kenapa dulu kita tidak lebih cepat akur saja. Ketika sudah akur malah tidak ada kesempatan lagi seperti ini.”
Dina manggut-manggut, ia tak menampik bahwa saat ini ia merindukan Weini. “Nona lagi apa ya? Apa sudah tidur? Ah, pasti dia tidak berani tidur malam-malam, tugasnya di pagi hari kan banyak.” Dina bertanya sendiri lalu menjawabnya sendiri padahal Grace baru saja ingin nimbrung.
“Ya... dia pasti sangat sibuk, apalagi baru awal menjabat.” Timpal Grace.
“Aku kangen dia....” Lirih Dina. Sejenak suasana menjadi hening, dan Fang Fang mengira inilah kesempatannya untuk segera tertidur.
Tiba tiba dering telpon Dina nyaring memecah kesunyian, bergegas ia beranjak dari ranjang dan meraih ponselnya. “Pasti Ming Ming.” Ujar Dina seraya tersenyum.
Grace tersenyum, senang saja melihat Dina sudah tidak jomblo lagi.
“Eh? Bukan... ya ampun panjang umurnya, non Weini yang nelpon.” Pekik Dina jingkrak setengah berjingkrak.
“Oya? Cepat diangkat.” Seru Grace yang reflek mendekat pada Dina, ingin ikut mendengarkan telpon dari Weini.
“Nona... nona belum tidur?” Seru Dina yang melewatkan salam pembuka yang tak lagi penting.
“Ng... kamu sudah tidur ya kak?” Tanya Weini agak segan, ia tahu ini bukan waktu yang tepat untuk menelpon, tapi ia pun yakin Dina tidak tidur secepat itu.
Dina menggeleng cepat, lalu meminta panggilan beralih menjadi panggilan video dan Weini menerimanya. Terlihat sudah wajah cantik Weini yang sedang berada di kamar dan Dina melambaikan tangan ke arahnya. “Belum non, tahu sendiri kan aku insom parah. Ha ha ha....”
Weini tersenyum tipis, managernya itu bukan insom tapi orang yang keponya parah.
“Yue Hwa....”
Weini mengernyit saat mendengar namanya dipanggil dari suara yang ia kenali. “Kak Dina lagi sama Grace?”
Dina mengangguk, “Iya non nih dia. Aku disuruh nginap di sini biar rame.”
“Yue Hwa....” Grace melambai pada laya ponsel yang menampakkan wajah Weini. Sejenak tiga gadis itu tertawa bersama, melupakan Fang Fang yang beneran terlelap sekarang. Hingga Weini mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan apa yang memang menjadi tujuan utamanya menelpon.
“Kak Dina, aku mau minta bantuanmu.” Ujar Weini serius.
Dina mengangguk mantap meskipun belum tahu apa yang Weini inginkan darinya, namun mendapat kepercayaan lagi dari Weini saja sudah membuatnya sangat bahagia. “Siap nona, apapun itu pasti aku lakukan.” Seru Dina penuh semangat, kobaran semangatnya terpancar dari binar matanya.
Weini tersenyum tipis, kesiapan Dina saat ini mengingatkannya pada masa gadis itu masih menjadi managernya. Dina selalu bisa diandalkan dan dipercaya. “Kak, aku akan segera menggelar preskon di sini. Tolong aturkan agar media di sana bisa menyaksikannya secara live. Aku hanya klarifikasi satu kali dan tidak akan mengungkit masalah ini di kemudian hari.”
Keputusan bulat Weini yang mendapatkan respon positif dari Dina, saking senang dan bangganya ia langsung berseru dengan lantang, “Siap nona, laksanakan!”
❤️❤️❤️