OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 315 BIARKAN MEREKA BAHAGIA LEBIH LAMA LAGI



Hari H resepsi pernikahan Li An


“Kamu cantik sekali Li An, selamat ya.” Liang Jia terpukau melihat kecantikan Li An yang paripurna. Kendati tidak bisa mengucapkan pujian itu secara langsung, namun Liang Jia sudah cukup puas bisa menyaksikan putri Xin Er yang kini sudah cantik sebagai pengantin wanita lewat video call.


Li An tersipu malu, “Terima kasih nyonya Li. Aku sangat bahagia mendapatkan ucapan darimu, dan terima kasih atas hadiahnya.” Ungkap Li An, kini ia sudah mengenakan gaun panjang berwarna putih dan sesaat lagi wajahnya akan ditutupi veil (kerudung putih) oleh Haris dan Xin Er secara bersamaan (sesuai tradisi pernikahan).


“Maaf hanya memberimu hadiah itu, syukurlah kamu menyukainya.” Ujar Liang Jia, ia pun puas sudah memberikan hadiah yang menurutnya pantas untuk Li An. Meskipun ia tahu dengan status Li An sebagai istri seorang pengusaha kaya raya, perhiasan seperti itu pasti sangat mudah ia dapatkan.


Li An mengangguk sembari tersenyum, kini di sampingnya berdiri Li Mei yang turut menyapa nyonya Li lewat panggilan video dari ponsel Xiao Jun. Liang Jia takjub ketika melihat bayi dalam gendongan Li Mei, betapa ia menginginkan seorang bayi hadir dalam keluarganya.


“Aku merasa iri kepada Xin Er, dia lebih dulu menjadi seorang nenek.” Gumam Liang Jia tertawa.


“Nyonya juga pasti segera dikaruniai cucu, saya doakan yang terbaik untuk keluarga nyonya.” Seru Li Mei, ia tidak punya alasan untuk membenci keluarga Li sekalipun tindakan Li San telah memecah belah keluarganya. Namun berkat Li San pula, ia mendapatkan jodoh yang baik dan hidup berkecukupan meskipun tidak bisa dikatakan kaya, namun suaminya adalah pekerja keras dan sangat bertanggung jawab.


Mata Liang Jia mulai berkaca-kaca, Xin Er dan Wei sangat berhasil mendidik anak mereka. Ketiga anak itu tumbuh dewasa dengan pemikiran yang matang, berhati lapang dan tanpa dendam. Sungguh sebuah keluarga harmonis yang diidamkan Liang Jia. Nyonya besar itu mengangguk, sekejab ia tak bisa berkata-kata.


“Jaga ibu kalian baik-baik, terutama Li An … untuk sementara Xin Er tidak perlu pulang. Aku harap seterusnya dia bisa tinggal bersamamu.” Ungkap Liang Jia lirih, walau berat rasanya berpisah dengan seorang teman sebaya yang sudah puluhan tahun menemaninya. Tetapi ini demi kebaikan mereka, Xin Er sudah sangat menderita dan ini saatnya ia menikmati sisa hidup dengan nyaman bersama anak dan cucunya.


Xin Er mendengar perintah Liang Jia barusan, ia yang sudah selesai dirias pun berjalan mendekati kedua putrinya. Percakapan via video itu masih berlanjut dan Xin Er langsung mengutarakan perasaannya. “Nyonya, apa benar tidak apa-apa? Aku tidak mau membuatmu bermasalah dengan tuan besar gara-gara aku.” Xin Er bertanya dengan serius, Li San memang mengijinkannya datang tetapi hanya untuk kepentingan resepsi pernikahan. Setelah ini, ia tidak punya alasan untuk meminta ijin tinggal lebih lama di rumah Li An. Penguasa klan Li itu tidak mungkin berwelas asih memberinya kesempatan bersenang-senang lebih lama, mengingat status Xin Er adalah istri dari seorang


pelayan yang mengkhianati tuannya.


Liang Jia tersenyum tipis, raut wajahnya tampak sedih saat menatap Xin Er. Sebuah ekspresi wajah yang sulit ditebak, bahkan oleh Liang Jia sekalipun. Di satu sisi ia sangat senang melihat Xin Er tampak cantik dan raut wajah yang merona bahagia, di sisi lain Liang Jia merasa sangat kesepian dan ketakutan hidup dalam rumahnya sendiri.


“Tidak masalah, aku pasti bisa meyakinkan dia. Lagipula di sini tidak lagi aman, kedua orang itu datang lagi di hari kamu berangkat ke Beijing.” Ungkap Liang Jia, demi menyampaikan berita itu, ia memelankan suaranya hingga separuh berdesis.


Ketiga wanita yang mendengar berita yang disampaikan Liang Jia itu tahu siapa orang yang dimaksud. Xin Er bahkan langsung memegang pundak Li An untuk menguatkannya, putrinya itu masih sedikit menyisakan trauma


tiap teringat mantan kekasihnya. Namun Chen Kho sepertinya tidak pantas disebut mantan, lantaran sejak awal pria itu mendekati Li An hanya untuk memanfaatkan perasaan dan kepolosannya.


Liang Jia menggelengkan kepala, “Entahlah, yang jelas kalian pun harus berhati-hati. Aku rasa dia mulai mengincar posisi Xiao Jun.” Bisik Liang Jia.


Tepat saat mengatakan itu, suara ketukan pintu dari kamar Liang Jia terdengar. Wanita itu menoleh ke arah pintu dengan mimik terkejut, kemudian ia menatap layar ponsel lagi dan berujar dengan terburu-buru. “Sudah dulu ya, jaga dirimu di sana. Dan kamu Li An, semoga selalu bahagia.” Liang Jia menutup panggilan tanpa mendengar balasan dari lawan bicaranya.


Xin Er gusar, ia meremas jemarinya yang mulai berkeringat dingin. Bawaan penyakitnya yang belum sembuh total itu kadang masih muncul dengan gelaja seperti itu di saat ia cemas atau tidak tenang pikiran. “Apa sungguh tidak apa-apa membiarkan nyonya menanggung ini semua?” Tanya Xin Er ragu. Jika masalahnya hanya karena pertengkaran suami istri saja, Xin Er tidak perlu secemas ini. Namun resiko yang Liang Jia hadapi ini sebagian dikarenakan Xin


Er, ia tak sampai hati membiarkan Liang Jia menghadapi semua sendiri.


“Kurasa tuan besar tidak akan berani mencelakakan nyonya, kalau ia mau sudah sejak dulu terjadi. Tapi semarah apapun tuan Li pada nyonya, paling hanya hukuman kurungan di kamar yang diberikan. Jadi, ibu tenang saja … Aku yakin nyonya besar akan baik-baik saja.” Ujar Li An, gantian ia yang memegang tangan ibunya untuk menguatkan. Li Mei pun nimbrung memberikan rangkulan di pundak dari samping ibunya.


***


Xiao Jun mengenakan setelan jas formal berwarna hitam, yang pasti bukan penampilan yang luar biasa, mengingat ia nyaris setiap hari mengenakan pakaian formal seperti ini saat bekerja. Hanya saja, kali ini momennya begitu spesial sehingga ia merasa ketampanan dan kegagahannya bertambah beberapa kali lipat. Xiao Jun berjalan menghampiri ayahnya yang juga mengganti pakaian di ruang sebelah dalam satu kamar. Penghubung kamar itu hanya disekat dengan sebuah pintu, ia meraih gagang pintu dan terkesiap mendapati pria berusia paruh bayah yang tampak sangat gagah dengan jas hitam kebesarannya. Ini kali kedua Xiao Jun melihat Haris dengan penampilan formal dan yang sekarang tampak lebih sempurna.


Haris melirik Xiao Jun dan menarik seulas senyum, “Gimana? Ganteng kan ayahmu?” Canda Haris lalu tertawa kecil.


Xiao Jun ikut tertawa, ayahnya punya sisi humoris dan narsis secara bersamaan. “Kalau aku bilang tidak ganteng, aku takut tidak diakui sebagai anak lagi, ayah.” Jawab Xiao Jun tak kalah lucunya dibanding Haris.


Ayah dan anak itu saling pandang lalu tertawa bersama. Haris memimpin jalan menuju pintu keluar, waktu berpesta telah tiba. Dan ini saatnya Haris melaksanakan kewajibannya sebagai kepala keluarga sekaligus seorang ayah, ia siap menyerahkan kehidupan Li An seutuhnya pada pria yang sudah putrinya pilih.


“Saatnya berpesta ….” Seru Wen Ting girang saat melihat Haris dan Xiao Jun datang menghampirinya.


Dan biarkan mereka bahagia lebih lama lagi ....


***