
“Selamat ya non, akhirnya bisa hirup udara segar.” Dina mengemasi pakaian dan barang Weini ke dalam koper. Mereka kembali merasakan nikmatnya kasur di rumah setelah hampir satu minggu menginap di rumah sakit.
“Hari yang indah!” Weini melemaskan otot tangannya, ia bersenam sejenak pasca diijinkan pulang oleh dokter.
“Bye-Bye kasur sempit. Bye-bye kostum pasien.” Begitulah Weini mengutarakan kegirangannya. Terkungkung sebagai pasien membuatnya seperti kelinci dalam kandang. Ia tak sabar melampiaskan keinginan yang tertunda begitu tiba di rumah.
Haris tanpa berkomentar saja terlihat jelas sangat senang. Penangkapan Lisa yang terbukti sebagai otak kejahatan berencana otomatis membersihkan nama baik Weini. Ia mulai menaruh respek lebih pada Xiao Jun yang memang bisa diandalkan.
“Non, ikut mobilku ya!” Seru Dina menawarkan jasa antar. Ditangannya sudah nangkring 2 ransel besar miliknya dan Weini.
“Nak Dina tidak perlu repot. Kami sudah menyusahkanmu beberapa hari, sebaiknya kita langsung pulang ke rumah
masing-masing dan istirahat.” Haris menolak tawaran Dina dengan halus. Ia salut dengan Dina yang sangat bertanggung jawab menemani Weini.
Dina mendadak kecewa, ia merasa masih kuat menemani Weini sampai rumah. “Eh, nggak apa apa sih Om. Gimana kalian pulang kalau nggak kuanter?”
Awalnya Haris berencana membawa mobil, tapi ia baru sadar SIMnya sudah tidak berlaku. Terpaksalah mobil yang ia beli hanya jadi pajangan di rumah.
“Mereka ikut mobilku saja.” Xiao Jun tahu-tahu muncul memotong pembicaraan mereka. Ia bahkan merebut perhatian enam pasang mata dalam ruang tersebut.
“Apa kabar paman? Hai Weini, Dina.” Xiao Jun membungkuk hormat pada Haris kemudian beralih pandang menyapa dua gadis di sana.
Dina langsung menangkap isyarat Xiao Jun, “Ahahahaha… bener juga, tuan Xiao Jun lebih cocok nganterin kalian. Kalo gitu aku pulang duluan yaa! Daaaaah!” Dina langsung menarik diri dari perkumpulan calon keluarga itu.
“Anak muda, kami tidak mau merepotkanmu.” Lagi-lagi Haris jual mahal.
Xiao Jun mengangkat ransel yang ditinggalkan Dina kemudian memakainya. “Aku tidak merasa direpotkan. Mohon paman tidak menolak permintaanku. Aku antarkan kalian pulang dan tidak akan mengganggu waktu
istirahat Weini.
Haris tidak punya pilihan menolak, ia ikuti saja alur cerita dua anak muda itu. Meskipun Weini lebih pasif jika ada Xiao Jun, namun sorotan matanya tidak bisa menutupi perasaan. Xiao Jun sangat berarti baginya.
Xiao Jun menjulurkan tangan untuk menggandeng Weini, awalnya Weini malu-malu apalagi ada Haris di antara mereka.
“Ehem… aku jalan duluan ke parkiran.” Haris tahu diri dan inisiatif memisahkan diri segera. Tanpa melihat ke belakangpun ia tahu dua anak muda itu menatap punggungnya dengan perasaan serba tak enak tapi
sekaligus senang.
Xiao Jun sengaja mengibaskan tangannya masih terjulur menanti sambutan dari Weini. Penantian itu tidak sia-sia saat Weini memberikan tangannya untuk digandeng, meskipun dengan wajah yang hangat menahan malu.
“Thanks.” Weini berbisik pelan menundukkan wajah.
Xiao Jun menatapnya sambil menyelaraskan langkah, diremasnya erat jemari lentik dalam genggaman. “不客气 Bu qe zi (tidak perlu sungkan). Sudah seharusnya melindungimu.”
Perasaan Weini membumbung, baru kali ini ia tahu ada perasaan sebahagia jatuh cinta. Ketika ada pundak untuk bersandar, ada kehangatan cinta yang mengisi kekosongan hati. Meskipun ini hanya sementara, tidak akan ada
penyesalan pernah mencintainya.
***
Penangkapan Lisa mewarnai drama perseteruan antara Artis papan atas Weini dan anak pengusaha terkemuka. Lisa yang malang disebutkan menjadi korban pengalihan issue yang mencoreng nama baik Weini. Fans Lisa meragukan beredarnya video percakapan Lisa dan Metta serta keterlibatan Lisa yang membayar seorang kru
Bams mematikan TV dan melempar remote, kebiasaan buruknya yang tidak bisa hilang ketika menonton berita yang menjengkelkan. “Berita sampah!”.
“Kabar buruknya lagi, mereka menyerang Weini di sosmed.” Sela Stevan yang serius membaca satu persatu komentar pedas netizen yang menghakimi Weini. Otaknya serasa diremas panas, ia tak tahan lagi jika
hanya tinggal diam. Dibalasnya komentar yang menurutnya paling buruk dan ia membela Weini habis-habisan.
“Kacau kalo gitu terus, bisa pengaruh ke rating sinet kita.” Seru Bams tetapi tidak mendapat respon dari Stevan hingga ia melirik ke aktor itu.
“Hei lu ngapain?” Bams merebut ponsel Stevan lantaran melihatnya serius menulis pesan. Betapa terkejut Bams melihat banyaknya komentar yang ditulis Stevan sebagai balasan dari komentar buruk netizen. Stevan langsung merebut kembali ponselnya.
“Lu hapus semua buruan!” Bams berusaha merebut lagi ponsel dalam genggaman Stevan namun gagal. Stevan berhasil lolos dan kabur menuju pintu.
“Lu hapus woiii… jangan nambah masalah buat kantor.” Pekik Bams. Ia tak kuasa mengejar Stevan.
Perintah Bams seakan masuk dari telinga kiri dan keluar dari telinga kanan, Stevan tak berniat menghiraukannya. Ia tetap berperang komentar dengan netizen, hanya ini cara yang bisa ia lakukan untuk melindungi Weini dari penilaian negatif publik.
***
Xiao Jun menurunkan semua barang Weini dari bagasi mobilnya. Saat ia hendak membawa semua ke dalam rumah, Haris muncul dan mengambil alih kerjaan itu.
“Nggak apa-apa, biar saya aja. Paman temani Weini masuk rumah saja.” Xiao Jun mempertahankan barangnya dari jangkauan Haris, sayangnya Haris mengambil celah dengan trik dan memelintirkan tangannya hingga
Xiao Jun hilang kewaspadaan. Sekali sadar, barang-barang sudah berpindah tangan ke Haris.
“Tamu dilarang memikul barang tuan rumah, silahkan masuk dengan Weini.” Haris tersenyum dengan entengnya, padahal Xiao Jun masih heran trik apa yang dipakai Haris hingga bisa mengalihkan perhatiannya walau
sekejab. Sepertinya ia terlalu menganggap ayah Weini sebagai orang biasa, nyatanya ada hal menarik dalam dirinya yang membuat Xiao Jun penasaran.
“Baiklah, permisi paman.” Xiao Jun hanya bisa menurut, ia mendekati Weini yang masih berdiri menatap mereka. Xiao Jun mengantar Weini hingga pintu depan dan menunggunya membuka pintu, sementara Haris menyusul di belakang mereka.
“Paman, Weini, maaf aku pamit dulu. Ada rapat di kantor yang tidak boleh aku lewatkan siang ini.” Xiao Jun sungguh kecewa harus mengucapkan kata-kata itu, setelah sekian lama ingin bertamu dan kesempatan itu
datang, sayangnya masih ada kendala yang menghalangi niatnya.
“Eh, nggak masuk bentar dulu?” Weini rada kecewa juga, tapi ketulusan kekasihnya begitu sibuk dan masih menyempatkan diri menemaninya pulang sudah membuatnya merasa diperhatikan.
“Pulanglah.” Ujar Haris singkat, walau terdengar seperti mengusir bagi Weini. Ia kaget ayahnya begitu blak-blakan pada tamu.
Xiao Jun tersenyum karena respon Haris, ia segera membungkuk hormat sebelum berlalu. Haris langsung masuk memboyong barang-barangnya ke dalam rumah.
“See U Weini, aku masih ada janji mengajakmu jalan setelah keluar rumah sakit.” Ujar Xiao Jun lembut sembari mengacak rambut Weini.
“Ok. Aku tunggu. Hati-hati…” Weini melambaikan tangan saat Xiao Jun berjalan menuju mobil. Hatinya berbunga-bunga yang pantang layu, senyumnya mengembang lebar seakan lupa cara mengatupnya kembali.
Haris hanya menggeleng kepala dari dalam kamarnya, anak muda yang jatuh cinta dunia terasa milik mereka.
***