
Fang Fang membukakan pintu pada tamu tengah malam yang diundang nonanya. Grace sudah tak sabar menanti kedatangan mereka, dan sigap menunggu di ruang tamu. Penampilannya cukup rapi namun tak bisa
menyembunyikan wajah sembab dan mata bengkaknya.
“Boleh tinggalkan kami berdua saja?” Pinta Grace begitu melihat Lau dan Fang Fang berdiri di dekat mereka.
Kedua pelayan itu tahu diri dan segera pamit keluar dari apartemen. Tinggallah Xiao Jun dan grace yang duduk saling berhadapan dengan jarak satu meter terhalang oleh meja di depan sofa. Xiao Jun menatap prihatin pada Grace, tubuh gadis itu tampak lebih kurus dari sebelumnya. Ia tahu gadis itupun sama tak bahagia seperti dirinya.
“Apa yang dia lakukan padamu?” Tanya Xiao Jun serius. Tujuan mereka bertemu memang untuk membahas masalah, jadi tak perlu basa basi lagi.
Grace menghela napas, ia memindahkan kotak yang ditaruh di bawah meja lalu menyerahkannya pada Xiao Jun. tanpa mengeluarkan sepatah kata, Grace mengangguk saja mempersilahkan Xiao Jun membuka kotak itu.
Xiao Jun mengernyit heran namun tangannya pun cekatan membuka kotak itu, ia cukup terkejut namun masih sanggup mengontrol emosinya. Dilihatnya satu persatu foto dalam kotak itu, cukup banyak mungkin kisaran tiga puluhan foto yang menampilkan Stevan dalam berbagai kesempatan bersama Grace namun hanya Stevan yang ditandai darah.
“Dia menjadikan Stevan sebagai ancaman untukku. Tujuannya hanya satu ….” Lirih Grace yang belum selesai bicara namun sudah dipotong oleh Xiao Jun.
“Memaksa kita menikah.” Ujar Xiao Jun.
Grace memincingkan matanya, “Apa yang mereka ancamkan padamu?”
Xiao Jun menatap Grace tak kalah tajam, terdengar helaan napas lelahnya. “Paman Lau dan Ibuku jadi korban racun yang penawarnya hanya ada pada dia.”
“Keterlaluan!” Grace naik pitam mendengar itu, ia menggertakkan gigi saking kesalnya pada tindakan saudara laki-laki dan ayahnya itu.
Xiao Jun tak merespon, tatapannya masih terpaut pada Grace. Sepintas penilaian Xiao Jun, gadis di hadapannya ini kurang lebih bernasib sama dengan Weini. Sama-sama tidak dianggap oleh keluarganya, hanya saaja Grace jauh lebih beruntung daripada Weini.
“Jadi apa rencanamu, Jun?” Tanya Grace serius.
Xiao Jun melipat tangan kemudian menyandarkan punggung di sofa. “Aku ingin mendengar pendapatmu dulu, Grace.” Jawab Xiao Jun mencoba tetap tenang.
Grace menopang dagu, ia tampak ragu untuk mengatakan apa yang terlintas di benaknya. “Apa kau akan marah padaku kalau aku bilang kita lebih baik menuruti kemauan mereka?” Ujar Grace ragu-ragu, ia menatap Xiao
Jun dengan raut yang serba salah saking bingungnya.
“Ya, kita menikah saja.” Xiao Jun memperjelas keputusannya dengan anggukan mantap.
“Hah? Serius? Bagaimana dengan Weini?” Pekik Grace terkejut setengah mati, ia tak menyangka Xiao Jun begitu transparan mengatakan itu padahal Grace saja tak berani menyebutkan langsung. Ia takut Xiao Jun marah tapi sebaliknya pria itu tampak sangat yakin dengan keputusannya.
“Bagaimana juga dengan Stevan?” Tanya Xiao Jun yang terkesan menggelindingkan bola panas pada Grace.
Grace tersudutkan dengan pertanyaan itu, ia menunduk sedih. “Ng, apa harus sampai menikah Jun? Apa kau tak bisa melawannya? Sebelumnya kau pernah mengalahkan kakakku kan, kalahkan lagi dia kali ini.”
“Ini juga sebuah usaha perlawanan, dia pegang kartu Asku. Nyawa ibu dan pengawalku dipertaruhkan, aku tidak bisa main frontal seperti waktu itu. Kau paham?”Jawab Xiao Jun dengan tenang.
Grace terlihat pasrah, “Kau harus berhasil, aku tidak mau menjadi jandamu saat menikah dengan pria yang tepat.” Ancam Grace, dulu ia sangat mengharapkan pernikahan ini terealisasi tetapi sekarang rencana itu menjadi momok yang sangat menakutkan. Ia tidak ingin lagi menjadi bagian terpenting dalam hidup Xiao Jun, karena akhirnya Grace sadar ada cinta dari seseorang yang jauh lebih berharga untuk diterima. Beberapa saat kemudian ia tertawa melihat ekspresi wajah Xiao Jun.
“Kapan kita berangkat?” Tanya Grace mengalihkan topik agar dia tidak dijadikan lelucon lagi.
Xiao Jun kali ini berubah serius, “Lusa. Kita bereskan tanggungan di sini besok, sekaligus pamitan pada mereka.” Gumam Xiao Jun.
“Jun, apa Weini tidak apa-apa dibiarkan tidak tahu kekacauan ini? Aku takut dia salah paham denganku kalau kita pamit pulang bersama.” Grace menyuarakan kecemasannya, ia lebih memikirkan perasaan Weini.
“Bukankah segala sesuatu ada waktunya yang tepat? Kalau dia belum diijinkan tahu sekarang, berarti ini belum saatnya. Tenanglah, aku yakin bisa menyelesaikan ini tanpa ketahuan olehnya. Setidaknya begitu dia tahu yang sebenarnya, kondisi sudah kondusif.” Jawab Xiao Jun meyakinkan kecemasan Grace.
Grace memilih percaya pada pria itu, ia mengangguk mantap dan sorot mata yang penuh harapan besar pada Xiao Jun.
***
Xiao Jun kembali ke apartemennya, hari-hari yang sangat melelahkan semenjak kembali dari Beijing. Masalah seolah tiada henti menerpanya, memaksanya memecah fokus ke berbagai pihak. Kini ia sedang menghubungi Li An,
memantau keadaan Xin Er yang masih terbaring di rumah sakit.
“Kau tak perlu cemas kak, lusa aku akan kembali ke Hongkong bersama Grace. Tolong sampaikan pada kakak ipar untuk memperketat keamanan di tempat kalian, dan tolong pinjamkan pengawal terbaik padaku untuk ikut ke sana.” Pinta Xiao Jun setelah percakapan mereka masuk ke pembahasan penting itu.
“Apa kau sungguh akan menikahi Grace? Apa ayah tetap diam saja?” Tanya Li An sedih.
Xiao Jun menghela napas, “Apa boleh buat, aku hanya bisa mengikuti alur musuh. Ayah juga mengambil sikap kak, diam itu juga sebuah sikap. Dan mungkin itu yang terbaik sesuai rencananya.” Gumam Xiao Jun, wajar jika Li An merasa Haris terlalu pasif dan tak punya inisiatif, namun setelah makan malam tadi Xiao Jun mulai memahami ayahnya.
Li An terdengar menghela napas, “Baiklah, akan kusampaikan pada Wen Ting. Aku sangat mengandalkanmu Jun, kasihan ibu.” Lirih Li An.
Xiao Jun mengangguk mantap, “Terima kasih kakak, tenanglah dan bantu doa.”
Percakapan itu diakhiri, tepat saat Lau masuk membawakan makanan yang diminta Xiao Jun. Ia terpaksa harus lembur mempersiapkan segala hal sebelum meninggalkan kantor dalam waktu yang belum dipastikan sampai kapan.
“Silahkan tuan.” Lau meletakkan piring berisi cemilan serta minuman pesanan Xiao Jun. Ia prihatin melihat kesibukan Xiao Jun yang sangat menguras waktu dan pikiran.
“Terima kasih paman. Ada satu kerjaan yang harus paman selesaikan malam ini, setelah itu istirahatlah karena besok kita akan sibuk.” Perintah Xiao Jun yang menjeda ketikan di laptop untuk melirik pengawalnya itu.
“Saya mengerti, tuan.” Seru Lau setelah paham pekerjaan apa yang ditugaskan padanya.
***
Di tengah keheningan malam yang begitu larut itu, masih terdengar tawa puas Chen Kho yang tengah menerima panggilan masuk dari orang yang dinantikannya.
“Tuan Xiao Jun dan nona Grace sepakat untuk menikah. Mereka akan kembali ke Hongkong lusa.”
“Kerjamu bagus pengawal tua. Akhirnya mereka sadar siapa yang paling berkuasa di sini.” Gumam Chen Kho dengan tawa khasnya.
***