OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 375 MENYADARI YANG TERLUPAKAN



Di waktu yang sama dengan pemakaman Haris yang penuh ratap tangisan, situasi yang kontras justru terjadi di kediaman Li.


Grace dan Liang Jia masih saling menyemangati dengan genggaman jemari mereka yang erat, hingga tiba-tiba bunyi pintu terbuka mengalihkan perhatian mereka. Dua pasang mata wanita itu spontan berkaca-kaca melihat siapa yang mendatangi mereka.


“Suamiku!” Jerit Liang Jia relfek saking terkejutnya melihat Xiao Jun memapah Li San yang tampak lunglai. Wanita itu berlari menghampiri dan melihat apa yang bisa ia lakukan.


“Cepat hubungi dokter Chen!” Perintah Liang Jia tegas pada pelayannya.


“Tenang ibu, paman Lau sudah mengutusnya kemari. Sebentar lagi dokter Chen pasti sampai. Apa ibu tidak keberatan kalau ayah dirawat di sini saja? Dalam kondisi seperti ini lebih baik kita berkumpul di satu tempat.” Ujar Xiao Jun mencoba menenangkan Liang Jia. Begitupun Grace yang menyusul Liang Jia kemudian mengelus pundak wanita itu untuk menenangkannya. Perhatian Grace itu tak luput dari perhatian Xiao Jun, ia hanya tersenyum tipis


lalu mengangguk sebagai ungkapan terima kasih atas pengertian gadis itu.


Wen Ting dan Lau yang ikut masuk ke dalam kamar Liang Jia juga mengangguk hormat pada nyonya rumah itu, sekaligus sebagai isyarat permintaan ijin memasuki ruang pribadinya.


Liang Jia mengangguk tanda setuju kemudian bergegas mengijinkan Xiao Jun merebahkan tubuh Li San di atas ranjangnya. “Apa yang terjadi padanya? Di mana kau menemukannya Jun?” Tanya Liang Jia yang miris melihat kondisi tubuh Li San yang tidak terawat, pakaian sang penguasa itu bahkan terlihat lusuh karena sekian lama tidak diganti.


“Ceritanya panjang ibu, yang pasti ini semua berkat campur tangan ayahku, Wei Ming Fung.” Jawab Xiao Jun berkata sebenarnya.


“Wei… Dia yang mem… bantuku?” Lirih Li San terbata-bata, ia sebenarnya sadar hanya saja terlalu lemah untuk membuka mata dan bersuara. Tetapi setelah mendengar penjelasan Xiao Jun, ia akhirnya angkat bicara.


Semua yang ada di ruangan itu menatap lekat pada Li San, terutama Liang Jia yang senang karena suaminya sudah sadarkan diri. Liang Jia segera duduk di sisi ranjang, menatap Li San dengan raut cemas.


Li San mengernyit heran melihat kehadiran Grace, ia baru sadar keponakannya ikut berada di sini. Selain itu kostum yang dikenakan Grace pun membuat Li San terkejut. “Grace? Kamu ikut pulang? Jangan bilang kalau kalian jadi menikah!” Seru Li San terkejut, ia tahu betul bahwa Xiao Jun dan Grace tidak saling mencintai. Apalagi rencana perjodohan mereka juga karena hasutan Kao Jing dan Chen Kho.


Xiao Jun menghampiri Li San, berniat menceritakan segalanya tentang peran serta Haris dalam kemenangannya hari ini dan mengapa ia serta Grace memakai kostum pengantin. “Seperti itulah ceritanya, ayah.” Ujar Xiao Jun setelah panjang lebar bercerita.


Li San terlihat sangat sedih, raut penyesalan terpancar jelas di wajahnya. “Aku sungguh menyesal telah memperlakukan Wei dan putriku dengan buruk. Xiao Jun… Tolong hubungkan aku dengan ayah kandungmu, aku


ingin berterima kasih langsung padanya.” Lirih Li San, terkurung di ruang bawah tanah berhari-hari telah menyadarkannya tentang kekhilafan serta kekejamannya di masa lalu.


“Suamiku, aku mohon setelah ini ijinkan Yue Hwa dan Wei kembali. Mereka sudah terlalu lama hidup menderita karena kesalahan kita.” Pinta Liang Jia bersungguh-sungguh.


Li San bergeming, tatapannya lemah menyoroti istrinya. “Aku yang membuat mereka menderita, kamu sudah melakukan hal yang tepat, jika tidak… Mungkin putri kita sudah terbunuh olehku.”  Lirih Li San sangat menyesal.


“Sambungkan aku dengan putriku dan pengawal Wei, aku akan meminta mereka kembali dan menyatakan permohonan maafku secara langsung.” Ucap Li San serius meskipun dengan nada lemah. Semua yang mendengar penyesalan Li San saat itu hanya menundukkan kepala, setelah sekian lama memang inilah yang diharapkan semua pihak. Weini dan pengawal Wei kembali diterima di tempat asal mereka.


Xiao Jun menghela napas lega, ia merasa menjadi orang yang paling bahagia mendengar kebijakan Li San. “Paman, tolong ambilkan ponselku. Aku harus menyampaikan kabar baik ini pada mereka.” Perintah Xiao Jun dengan senyum sumingrah.


Setelah Lau berlalu, keadaan kembali hening sejenak hingga Wen Ting membuka topik pembicaraan.


“Tuan Li, maaf kalau saya harus bernegosiasi denganmu dalam kondisi ini. Setelah konflik internal ini selesai, saya harap anda membebaskan ibu mertuaku dari hukumanmu. Mulai sekarang saya yang akan mengurus kedua mertuaku dan tinggal bersamaku di Beijing.” Ujar Wen Ting tegas. Ia lebih terdengar menyampaikan keputusannya ketimbang meminta persetujuan.


Xiao Jun menatap Wen Ting kemudian menatap Li San, ia pun berharap tuan besar itu mengabulkan permintaan kakak iparnya.


Liang Jia, Xiao Jun dan Grace kompak tersenyum lega, luluhnya hati dingin sang penguasa bagaikan mukjijat. Li San masih bisa disadarkan dan memperbaiki keadaan. Kini tinggal mengatur waktu untuk menyambut kepulangan Weini dan Haris.


“Tuan….” Lau membungkuk hormat pada Xiao Jun sebelum menyerahkan ponsel milik tuannya.


“Terima kasih paman.” Xiao Jun menerima ponselnya dan langsung memencet tombol menyalakan layar ponselnya. Ada beberapa pesan masuk dari Weini dan Haris yang membuat Xiao Jun mengangkat satu alisnya. Ia awalnya berencana menelpon ayahnya dulu, tetapi chat beruntun itu membuatnya penasaran dengan apa yang dikirim Weini dan Haris.


Hati Xiao Jun tak karuan saat membuka chat Weini, tangannya terasa bergetar dan dingin begitu tahu bahwa Weini sudah mengungkap kebenaran yang ditutupinya. Dengan panik, Xiao Jun segera menghubungi Weini. Bicara lewat


telpon lebih jelas dan cepat ketimbang harus membalas pesan itu. Xiao Jun kian gusar sehingga reaksi cemasnya terlihat jelas oleh orang-orang yang satu ruangan dengannya.


Lau hendak bertanya namun Xiao Jun segera melarangnya dengan mengangkat satu tangan, sebagai isyarat agar Lau diam. Semua yang ada di situ hanya bisa menatap Xiao Jun dengan tegang dan menunggu penjelasan darinya. Dilihat dari ekspresi Xiao Jun, mereka bisa menebak bahwa ada sesuatu yang tidak beres.


Gagal menghubungi Weini setelah puluhan kali menelpon, Xiao Jun beralih menghubungi Haris. Tetapi hasilnya sama saja, dua orang itu entah kenapa bisa kompak sulit dihubungi. Hati Xiao Jun kian resah apalagi setelah membaca pesan dari Haris yang waktunya ternyata bersamaan dengan pesan Weini yang menyampaikan padanya bahwa Haris adalah ayahnya.


Seterusnya aku percayakan padamu, jaga nona Yue Hwa!


Xiao Jun tidak menangkap maksud pesan ayahnya, jelas-jelas Haris selalu bersikeras melindungi Weini. Bahkan lebih memilih berada di dekat Weini ketimbang datang menjenguk Xin Er yang keracunan, lalu sekarang tiba-tiba mengembankan tugas itu pada Xiao Jun.


“Aaarrgghhh!” Pekik Xiao Jun setelah frustasi gagal menghubungi Weini dan Haris.


Semua yang mendengar teriakan kesal Xiao Jun pun terkejut namun masih memilih bungkam sebagai penonton dengan rasa tegang. Xiao Jun tak kehabisan akal, di tengah kebingungannya itu ia masih punya orang terdekat Weini yang mungkin bisa diandalkan. Bergegas ia menghubungi manager Weini yang sekaligus juga bekerja untuk Xiao Jun.


“Halo Dina, Kamu bersama Weini?” Tanya Xiao Jun to the point.


“Tidak, justru aku juga bingung mereka ke mana. Seharian aku menghubungi non Weini, tapi tidak dibalas. Lalu aku pergi ke rumahnya, tapi rumahnya kosong. Bahkan om Haris saja tidak di rumah.” Jawab Dina panjang lebar karena ia pun sama bingungnya dengan Xiao Jun.


Xiao Jun menjambak rambutnya saking frustasi, mengapa di saat ia menangani kekacauan di sini, justru di tempat yang dikiranya aman pun terjadi kekacauan? Weini dan Haris yang tidak bisa dihubungi, entah apa alasannya benar-benar meresahkannya.


“Cari dia, hubungi siapapun bahkan bila perlu lapor polisi. Dina, aku percayakan kamu handel masalah ini sampai aku datang.” Ujar Xiao Jun serius.


“Kapan tuan pulang?” Tanya Dina memastikan, ia pun punya firasat tak baik tentang Weini dan Haris meskipun terlalu berlebihan mengkkhawatirkan dua orang itu karena bisa saja mereka hanya pergi keluar bersama. Tetapi hati Dina tak bisa diajak tenang, tetap saja ia mencemaskan nonanya.


“Hari ini juga!” Jawab Xiao Jun singkat dan tegas.


***


Andai mereka tahu penyesalan Li San terlambat sudah…


Huft….