
“Awaaas!”
Xiao Jun merasakan serangan yang diarahkan dari belakang, dengan sigap ia mendorong tubuh Li An ke samping hingga gadis itu terpental jauh dan jatuh. Pertarungan ini belum selesai, ia harus membuat perhitungan lebih atas perbuatan tidak senonoh terhadap kakaknya. Tendangan Chen Kho kian mendekat, Xiao Jun ingat gerakan inilah yang membuatnya pingsan waktu itu. Tanpa disaksikan Li San, tidak ada orang luar yang jadi saksi, Xiao Jun tak akan segan menghabisinya sekarang. Ia memutar badan dengan cekatan kaki musuh yang berjarak 50 cm itu ditangkapnya hingga Chen Kho kehilangan keseimbangan dan terjatuh dengan posisi kepala menggantung di atas permukaan tanah.
Chen Kho terkesiap, jurus yang dulu mempan menumbangkan lawan rupanya dengan cepat sudah dipelajari
kelemahannya. Ia kini tersoak-soak dengan posisi terbalik dan kakinya masih dicekal Xiao Jun. “Sial, lepasin. Kita duel dengan fair!” pekik Chen Kho sembari berusaha melepaskan diri. Keinginan untuk melanjutkan perkelahian masih panas ia rasakan, ia enggan mengalami kekalahan bertubi-tubi da bersiap merebut kembali kemenangan.
Xiao Jun nyengir, tantangan itu terdengar menyenangkan. Tak ada rasa takut menghadapi amukan musuhnya. “Oke, kita lanjutkan sampai salah satu di antara kita tumbang.” Xiao Jun menghempaskan kaki Chen Kho hingga terguling beberapa kali.
Li An menepi, mengambil jarak agar tidak membahayakan diri. Ia merapikan kembali dressnya yang sedikit tersobek paksa oleh tangan si bejat. Perkelahian itu terlihat berimbang, Chen Kho rupanya tidak bisa diremehkan. Li An mulai khawatir, alih-alih menang ia takut justru Xiao Jun lah yang cidera. “Gimana ini? Mereka harus dihentikan, tapi gimana caranya?”
Dari kejauhan Wen Ting yang ngos-ngosan lantaran mengejar kecepatan Xiao Jun akhirnya sampai di tempat yang bermasalah. Sesaat ia bingung apa yang sedang terjadi, ada pertempuran di hadapannya yang salah satunya adalah Xiao Jun. Wen Ting melihat lebih detail, ada seorang gadis cantik berdiri agak jauh dan menatap dengan
panik pada dua pria yang bertarung. Dalam raut penuh ketakutan dan panik itu, justru membuat Wen Ting terkesima. Ia melupakan kejadian sengit yang perlu dileraikan jika tidak mau ada yang jadi korban dari duel itu, seluruh fokusnya tersita pada gadis itu.
Li An mengatupkan kedua tangannya yang gemetaran, ia merasa seperti orang bodoh yang hanya tahu diam membiarkan adiknya dalam bahaya gara-gara dia. Dalam rasa yang campur aduk itu, tiba-tiba ia merasakan ada sesuatu yang menyelimuti pundaknya dari belakang.
“Eh?” Li An melirik ke bawah, mendapati sebuah jas beraroma parfum maskulin menjadi mantelnya. Ia keheranan darimana datangnya dan siapa pemiliknya.
“Tidak baik membiarkan pakaianmu terbuka. Maaf nona, aku hanya bermaksud melindungimu.” Wen Ting menjelaskan kebingungan yang terbaca dari raut gadis di sampingnya. Kini mereka berdiri sejajar dan saling menatap. Bola mata gadis itu yang berbinar ketakutan, bulu mata lentik yang alami, bentuk wajah yang tirus namun sangat cantik, sekejab menghipnotis Wen Ting.
“Maaf, anda siapa?” Li An mengembalikan perhatian Wen Ting, pria itu langsung menunduk menyembunyikan rasa malu. Namun Li An masih perlu jawaban itu, ia tak tahu menahu asal usul pria yang tahu-tahu muncul menutupinya dengan jas dan berkata manis.
“Ah, aku lupa bagian pendahulunya, perkenalan yang manis di awal pertemuan. Perkenalkan, aku Lo Wen Ting, rekan bisnis tuan Xiao Jun. Tadi dia menyambutku, kami sedang menuju kediamannya tapi dia memintaku menunggu dan pergi tergesa-gesa. Rupanya ada kejadian sengit di sini. Nona baik-baik saja?” tanya Wen Ting dengan tulus. Ia bukan pria telmi yang tak bisa menebak kejadian apa yang barusan menimpa gadis itu. Sekilas pandang kondisi rambut si gadis yang acak-acakan, pakaian yang sedikit tersobek, mata lembab bekas tangisan dan raut yang begitu tegang, Wen Ting yakin gadis itu barusan mengalami kejadian yang horor gara-gara pria itu. Itulah sebabnya Xiao Jun tengah memukulinya tanpa ampun.
Li An mulai merasa nyaman mendengar pengakuan itu, pria bermarga Lo itu terlihat tulus menanyakan kondisinya. Senyum dari pria yang ia tebak seusia dengannya itu pun tampak menenangkan dan penuh kesan baik. Entah mengapa Li An merasa nyaman dengan tamu Xiao Jun itu.
“Lo Wen Ting. Dan siapa namamu nona?” Wen Ting menyodorkan sebuah uluran perkenalan. Ia tahu keraguan Li An dan tidak keberatan mengulang namanya. Sekarang ia berharap gadis itu bersedia menyebutkan namanya dan menerima tanda perkenalannya.
Li An mengulum senyum, perasaan yang semula diisi dengan rasa cemas berlebihan kini beransur memudar tersingkirkan oleh rasa bahagia. Ia menatap jemari Wen Ting yang mulai bergerak saking kaku menunggu sambutannya, pria itu lucu dan baik. Ya, itulah penilaian awal untuknya.
“Wei Li An.” Jawab Li An singkat lalu menjabat tangan pria itu. Telapak tangan Wen Ting sangat halus, Li An seketika merasa malu lantaran ia sadar tangannya kasar karena kerja serabutan sekian lama. Ia hendak menarik tangannya namun cengkraman itu terlampau erat dan sangat disayangkan lepas begitu saja.
Sekejab kedua insan yang baru mengenal itu saling bertatapan, tanpa kedipan. Senyum mereka merekah indah, berlatar belakang dua pria yang masih berduel karenanya. Satu pihak sedang menyelesaikan dendam lama dan baru dengan adu otot, di lain sisi ada yang sedang kesusahan mengatur ritme jantung yang naik drastis akibat getaran cinta dari sentuhan tangan dan kontak mata.
“Ah, nona Li An, bagaimana kalau kita hentikan mereka dulu? Aku takut ada yang akan pindah ke rumah sakit jika dibiarkan.” Untungnya Wen Ting masih punya hati memerdulikan Xiao Jun yang terlihat bengis karena mengamuk.
Chen Kho sudah tersungkur jatuh beberapa kali namun ia tetap bangun menantang, ia tetap tidak percaya Xiao Jun sehebat itu hingga ia lupa menetralkan pengaruh sihir yang memblokir tempat.
“Kau benar, tuan Wen Ting mohon bantu adikku. Aku tidak mau dia kenapa-napa gara-gara aku.” Pinta Li An, ia bersyukur masih ada orang lain di sini hingga ia bisa mengandalkannya.
“Yang mana adikmu?” tanya Wen Ting iseng.
Li An manyun sejenak, ia terlihat seperti gadis bodoh di depan pria itu. “Li Xiao Jun, dia adikku. Mohon tolong dia tuan.”
Wen Ting tersenyum sembari membunyikan sepuluh jemari tangannya dalam dua tekukan. “Baiklah, serahkan padaku nona. Jurusku lebih hebat daripada mereka.” Ujar Wen Ting penuh percaya diri, ia mengambil beberapa langkah ke depan agar dekat ke ring silat.
Li An memandang penuh harap-harap cemas, berharap pria itu adalah penolong yang tepat. Berharap ia tak lagi salah menilai seseorang walau lewat perkenalan singkat.
***