OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 81 FIRST KISS?



Setelah dua hari menjaga Weini siang malam di rumah sakit, Haris harus menyempatkan diri pulang sejenak ke rumah untuk berganti pakaian. Itupun setelah Weini melayangkan protes agar pria itu lebih mengurus diri ketimbang selalu berada di sampingnya.


“Non, bentar lagi ujian Negara. Habis lulus mau ngapain?” tanya Dina mencari topik obrolan ringan.


Weini yang sedang menyantap sepotong pizza belum mengeluarkan jawaban, ia makan dengan lahap seperti habis kelaparan seminggu. Dina terkikih melihat itu, bagi Dina sosok artis seperti Weini memang jarang ada. Ia tetap low profile meskipun sangat terkenal, tapi Dina tidak bisa menebak bagaimana kelangsungan karier Weini jika kasus yang sekarang dihadapinya tidak segera dibungkam.


“Palingan lanjut syuting dulu. Nggak tahu ke depannya, masih malas mikiri kuliah.” Jawab Weini setelah meneguk air mineral.


“Tapi Kak, aku orang yang paling nggak suka terlalu dilindungi. Apalagi sampai merahasiakan masalah yang harusnya aku hadapi, jadi kesannya kayak aku lagi sembunyi. So, mumpung ayah nggak di sini. Tolong buka


TV itu! aku tahu itu tidak rusak dan remotenya kalian sembunyikan.” Weini mengerlipkan sebelah mata, ia tampak sangat sadar saat meminta Dina.


Dina langsung manyun, ia ragu dan takut. “Ntar aku kena marah om dan tuan Xiao Jun. jangan mempersulitku lah Non.”


Weini menggeleng kencang, “You can trust me! Tidak ada yang bisa menyakitiku kecuali aku yang mengijinkannya. Mereka hanya takut aku sedih, aku tertekan. Tapi apa menurutmu aku bisa selemah itu?”


Dina manggut-manggut, Weini benar bahwa ia bukan gadis lemah yang hanya bisa bersandar pada pundak pria yang mencintainya untuk dilindungi. Mereka yang mencintainya lah yang enggan berlomba-lomba menjadi


perisainya, padahal Weini tidak minta diperlakukan sespesial itu.


“Baiklah, tapi janji ini rahasia kita. Begitu om kembali, kita harus bertingkah seolah tidak terjadi hal itu.” Dina mengeluarkan remote TV dari tas jinjingnya, segitu banget dia menyembunyikan benda itu hingga disimpan seperti barang pribadi.


Weini nyengir kuda saat Dina dengan enteng menunjukkan tempat persembunyian remote, ia mengangguk demi menunjukkan kemantapan hati agar Dina segera menyalakannya.


“Cari berita entertainment di chanel XY, kayaknya jam segini tayang deh.” Ujar Weini antusias.


Dina hanya bisa nurut dan memencet satu persatu nomor mencari chanel yang dimaksud. “Non, bukannya kamu sibuk sekolah dan syuting, kok bisa hapal jam tayang acara gossip?”


Weini hanya tertawa tanpa berniat memberikan jawaban. Acara berita seputar artis itu memang sedang tayang, namun bukan dirinya yang menjadi buah bibir. Weini tetap menonton dengan antusias, hingga selepas


jeda iklan sepotong cuplikan wajahnya dan Metta muncul di layar kaca.


“Kencengin volumenya kak!”


Weini mendengar dan melihat betapa Metta mendramatisir segala yang terjadi. Kebohongan dan air mata palsu yang ia tangiskan dalam konferensi persnya serta kuasa hukumnya yang seakan tidak memberi ampun pada Weini.


“Non. Udah ya!” Dina mulai gusar. Ia takut Weini terpengaruh berita miring itu hingga menambah beban pikirannya. Namun Weini melambaikan tangan yang menandakan ia enggan diganggu gugat.


“Kasian…” komen Weini singkat.


“Iya, non kasian banget harus difitnah ama tuh nenek sihir.” Dina ikutan iba pada Weini.


“Bukan aku. Dia yang kasian.” Koreksi Weini segera ketika Dina salah paham.


Mulut Dina langsung melongo, bisa-bisanya Weini bilang kasihan pada orang yang jelas-jelas menjatuhkannya. “Nggak salah tuh non? Di posisi sekarang tuh justru non yang lebih kasian. Nama baik non dipertaruhkan.”


Weini tersenyum tenang, ia menatap Dina yang tak mengerti pola pikirnya. “Salah benar itukan relative, nggak ada yang 100 persen salah dan nggak ada yang 100 persen bener. Salahku adalah memberi dia peluang untuk melancarkan misi jahatnya, dan dia juga salah memilih musuh. Dia nggak ngukur kemampuannya sanggup memenangkan lawan atau tidak.”


“Yang Weini katakan benar.  Permainannya akan lebih seru kalau lawan mengira kemenangan sudah di genggaman namun ternyata ia bahkan tidak bisa menyentuhnya.” Xiao Jun dan Lau tiba-tiba masuk ke ruangan Weini.


Dina gelagapan lantaran TV masih menyala dengan volume kencang. Ia otomatis ketakutan karena lalai menjaga amanah Xiao Jun yang memintanya menjauhkan berita kasus ini dari Weini.


“Tu tuan, eh… Om. Sejak kapan sampenya?” Dina gugup sampai terbata-bata.


Lau tersenyum, “Sejak nona Weini merayumu menyalakan TV. Hahaha” tawa Lau akhirnya meledak karena ekspresi ketakutan Dina yang sangat jelas.


“Sudahlah jangan salahkan kak Dina, aku yang memaksanya. Halo paman Lau, apa kau bawakan aku masakanmu? Masakan di sini sangat memprihatinkan.” Weini melengos hanya karena membayangkan makanan tawar yang disuguhkan untuknya.


“Halo nona, senang melihat anda sudah punya selera makan yang baik. Besok saya akan masakkan untuk anda.” Lau menunduk hormat pada Weini.


Dina memandang Xiao Jun yang tersenyum menatap Weini, rasanya ia mengerti betapa bahagianya Xiao Jun bisa melihat Weini yang sekarang. “Ehem… om, kayaknya kita harus memberi ruang dulu buat sepasang kekasih. Mereka sudah dua hari nggak ketemu loh.” Dina sengaja berdehem dan menggoda.


Wajah Xiao Jun danWeini langsung memerah malu. Mereka terdiam tanpa memberontak atau menyanggah komentar Dina. Sebaliknya, dia menyeret Lau menyingkir dari hadapan pasangan baru itu.


“Pastikan tidak ada yang masuk sebelum tuan Xiao Jun keluar, bahkan om Haris sekalipun dilarang masuk.” Dina memberi perintah pada dua pria penjaga pintu sebelum ia melangkah lebih jauh.


Lau terkesan dengan inisiatif Dina yang tahu diri itu. “Kita ngobrol di kedai kopi di bawah saja, Dina.”


“Gimana kalo ke kantin saja om, aku laper.” Ujar Dina mengelus perut.


Usul Dina yang blak-blakan itu disambut tawa lepas dari Lau. Tak peduli seberat apa masalahnya, urusan perut tidak bisa terlewatkan.


***


Xiao Jun mengambil posisi duduk di samping Weini. Dalam ruangan yang hanya terisi mereka berdua saja rasanya seperti penuh sesak. Mereka belum menemukan bahan pembicaraan yang pas untuk memecah kesunyian.


“Ng… jangan banyak pikiran. Aku sudah menyewa pengacara untukmu.” Xiao Jun akhirnya yang memecah keheningan.


Weini menatapnya, belum ada yang bisa ia ucapkan. Ia hanya ingin menatap pria di hadapannya, ada rasa tak percaya bahwa sekarang ia sudah menjadi pacar pria tampan itu. Di luar dugaan, Xiao Jun malah meraih


tangan Weini dan menggenggamnya. Kini keduanya sibuk mengatur detak jantung yang tak beraturan.


“Thanks.” Ujar Weini singkat. Ia membiarkan Xiao Jun meremas jemarinya. Meskipun hanya bertautan tangan namun kebahagiaannya tidak mampu ditafsirkan kata-kata lagi.


“Weini…”


“Ya?”


Panggilan dari Xiao Jun itu membuat keduanya bertatapan dalan jarak 30 centimeter. Pandangan mata tanpa kedipan seolah menyihir mereka mendekatkan jarak. Tangan Xiao Jun yang satunya menyentuh dagu Weini, menarik wajah Weini condong ke atas menghadap wajahnya. Jantung Weini berdegup sangat cepat, ia tak bisa lagi memikirkan apapun selain reflek menutup mata. Kini napas Xiao Jun bahkan bisa ia rasakan, Weini tak bisa menebak seberapa dekatnya bibir mereka. Apa Xiao Jun akan merenggut ciuman pertamanya?


***