OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 501 MAUKAH?



Grace berlari meninggalkan Dina yang lebih lamban dan paling tidak suka adegan kejar-kejaran. *out of story ha ha... suara hati Dina : Thor, gue mending disuruh ***** aja deh dari pada dibikin kejar-kejaran kayak gini!


Author : Oh... oke Noted! Ntar Ming Ming aku kasih Fang Fang aja lah daripada mubajir peran Dina-nya udah minta dibikin ******.


Dina : (auto Speechless *_* ) No! Thor nggak jadi, iya deh aku lari lagi*.


Dan cerita kembali berlanjut....


Dina berlari lebih kencang lagi menyusul Grace yang sudah jauh meninggalkannya. Grace seolah mendapatkan suntikan semangat dua kali lipat dari biasanya, saking ia tak sabar lagi untuk segera menemui Stevan. Andai ia tahu Stevan akan datang saat ini, pastinya Grace tak akan berlama di kantor polisi.


Stev... kamu harus menjelaskan padaku! Harus! Gumam Grace tak sabaran dalam hatinya.


Selangkah lagi ia akan sampai ke pintu apartemennya, tangan Grace terjulur untuk sampai ke gagang pintu. Sekalipun ia masih harus memasukkan password namun tetap saja ia hendak meraih goal itu dulu. Dan betapa kagetnya ia ketika ia berhasil berpegang pada gagang, justru pintu itu terbuka hingga Grace terkesiap. Spontan tubuhnya terjerembab ke depan lantaran pintu yang bergeser.


“Aaarrghhh!” pekik Grace seraya memejamkan mata, ia tahu tubuhnya ambruk dan pasti akan kesakitan menyentuh lantai.


“Eh?” Gumam Grace heran, nyatanya jatuh pada tempat yang empuk. Perlahan ia memberanikan diri membuka matanya, dan yang ia lihat adalah kemeja yang sangat ia kenali siapa pemiliknya.


“Kamu nggak apa apa kan?” Tanya Stevan dengan senyum tanpa dosa, serta begitu lembut menatap Grace yang ternganga melihatnya.


Dina baru mencapai pintu depan dengan ngos-ngosan dan melihat ke dalam yang sudah ada adegan romantis ala novel di depan mata.


Ng... ini orang bukannya merasa bersalah malah masih bisa senyam senyum gitu. Nggak tahu apa, aku semalaman nggak tidur mikirin dia!? Gerutu Grace kesal dalam hatinya, ia masih diam saja, tak peduli jadi sorotan dan tontonan gratis dari orang terdekatnya dan tak membiarkan Stevan kabur begitu saja pasalnya masih jadi sandarannya sejak tadi.


“Hiyaaa... ke mana saja kamu! Kenapa sukanya menghilang tanpa kabar? Sekarang nongol masih bisa senyum, nggak tahu apa kita sibuk dan panik nyariin kamu!” Pekik Grace yang secara ganas memukul mukul dada Stevan.


Dina shock seketika, terbayang reaksi Grace yang melow dan lembut tadi malam, saat ia menggebu-gebu menyampaikan tekadnya untuk memberi Stevan pelajaran. Tampaknya saat ini image cewek imut itu lenyap sudah dari Grace. “Eh, dia yang ngelarang aku hajar, eh malah dia yang lebih semangat hajar!” Seru Dina melengos.


Fang Fang kelabakan, ia tak ingin nonanya bertindak sembrono dan berusaha menyudahi semua tontonan tak wajar ini. “Nona sudah nona... malu dilihatin orang.” Bisik Fang Fang ke telinga Grace.


Stevan masih diam saja, membiarkan Grace menumpahkan segala uneg-unegnya. Ia tersenyum lega dan tak mengelak sekalipun Grace melayangkan baku hantamnya. “Udah puas? Lanjutin lagi aja nggak apa apa.” Pinta Stevan lembut.


Fang Fang menarik lengan Grace dengan lembut, memintanya segera menyingkirkan tubuhnya dari atas Stevan. “Nona, tolong segera bangun. Nggak enak dilihat sama yang lain. Di sana ada orang tua Stevan dan ayah nona.” Bisik Fang Fang pelan di telinga Grace namun terdengar sangat menggelegar.


Grace setengah meloncat dari tubuh Stevan, terkejut bukan main saat tahu tingkahnya tengah disoroti oleh orang tua mereka. Wajahnya memucat dan kebingungan, ia tersenyum canggung kepada dua orang asing yang meliriknya. “Kenapa nggak dari tadi sih bilangnya, aku harus bagaimana ini? Duh... malunya.” Bisik Grace pada Fang Fang yang sudah membantunya berdiri. Dalam sekejab Grace bisa mempraktekkan sikap gadis terhormat yang diajarkan Bibi Gu di kediaman Li, ia bersikap anggun demi menghilangkan image buruknya barusan.


Kao Jing berdehem tegas pada Grace dan hanya bisa mengangguk kepada orang tua Stevan. Andai tidak terkendala bahasa, mungkin Kao Jing sudah menyampaikan lebih banyak ucapan maaf atas kelancangan putrinya.


Stevan tersenyum geli melihat tingkah Grace yang canggung, reflek ia merangkul lembut gadis itu dan berbisik padanya. “Jangan cemas, orang tuaku bisa ngerti kok kalau kamu nggak seganas itu.” Bisik Stevan jahil.


“Sudah tenang saja, jadi dirimu saja seperti biasa. Ini tidak seburuk yang kamu bayangkan.” Ucap Stevan dan mempererat genggaman tangannya pada gadis kecintaannya. Dan dengan bangga ia bawa untuk diperkenalkan ke hadapan ayah dan ibunya.


“Fang, kita berdua aja yuk. Biar nggak terlalu ngenes jadi jomblo yang gigit jari.” Bisik Dina menggandeng tangan Fang Fang.


Fang Fang nyengir, “Aku yang jomblo saja nggak pakai gigit jari kok. Biasa aja deh, Din.”


Stevan menggandeng Grace menghadap orang tua mereka, berjalan penuh wibawa dan elegan untuk memperkenalkan wanita yang paling dicintainya. Dan tak hanya itu saja, kali ini kedatangan Stevan membawa misi yang lebih serius ketimbang sekedar perkenalan biasa. Grace hampir lupa bernapas saking groginya, ia sesekali menundukkan wajah saat semakin dekat dengan ruang tengah. Hingga tepat di sana dan ia sadar sedang ditatap lembut oleh tiga pasang mata.


“Ayah, paman, tante... apa kabar?” Sapa Grace sopan dan ramah. Tata krama yang langsung membuat ayah dan ibu Stevan jatuh hati dan melupakan keganasan Grace beberapa menit lalu.


Mama Grace berdiri lalu mendekati Grace, ia menyentuh tangan Grace dengan penh perhatian. Sorot matanya sangat teduh, ia sungguh menyukai gadis pilihan Stevan. “Cantik, punya sopan santun dan sangat pemberani. Gadis cantik, siapa namamu?” tanya Mama Stevan lembut.


“Grace Li, tante.” Jawab Grace seraya tersenyum senang lantaran ia disukai oleh calon mertuanya.


“Ehem... Grace, ini mamaku dan itu papaku.” Ujar Stevan berdehem canggung.


Grace mengangguk hormat, sebuah kebiasaan yang tidak bisa lepas dari dirinya yang memang berdarah bangsawan.


Ayah Grace hanya mengangguk dan tersenyum sebagai respon, hanya itu yang bisa dilakukan dua orang pria yang duduk bersama dan terkendala bahasa.


“Stev, selanjutnya giliranmu. Jangan kelamaan ya!” Gumam mama Stevan kemudian kembali duduk bersama pasangannya.


Grace mengernyitkan dahinya, tak paham apa yang dimaksud mama Stevan. Namun Stevan jelas tahu apa rencana selanjutnya, ia hanya berdiri grogi dan terdiam sejenak. Suasana berubah mendebarkan, semua yang melihat hanya terdiam sebagai penonton setia.


Stevan berdehem, ia mengatur posisi tubuhnya hinga berhadapan dengan Grace dan satu tangannya masih memegangi tangan Grace. Satu tangannya mengambil sebuah kotak berwarna merah bludru lalu dibuka di hadapan Grace.


Grace terkesima, sebuah cincin berlian berkilau di hadapannya. Tanpa kata-kata pun ia sudah tahu apa maksud pria itu. kini Grace terdiam menunggu kata-kata indah yang akan terlontar dari Stevan. Ia cukup malu karena semua ini terjadi di depan orang tua serta teman terdekatnya. Tapi tetap saja, Grace merasa jadi orang paling bahagia saat ini.


Stevan menatap lembut pada Grace, dengan hati yang berdebar kencang dan penuh kesiapan yang tak terduga sebelumnya. Ia siap meminta Grace menjadi teman hidupnya, berbagi suka duka hingga maut memisahkan. “Grace Li, 你愿意嫁给我吗 Ni yuan yi jia gei wo ma? (apakah kamu mau menikah denganku?)”


Grace terharu, ia menutup mulut dengan kedua tangannya, tak pernah ia duga Stevan akan melamarnya seromantis ini. Bukan dengan kejutan yang luar biasa mewah, tetapi dengan usahanya yang maksimal untuk belajar bahasa Mandarin. Bahasa yang lebih dimengerti oleh Kao Jing tentunya.


Dina merasa suasana ini terlalu tegang, sebagai provokator ulung pencair suasana, ia pun segera berteriak. “Terima... terima... terima....”


Grace tersenyum mendengar sorakan itu, ia pun menatap Stevan yang masih setia menanti jawabannya. Sebuah anggukan mantap ia berikan, menyusul sebuah kalimat yang sedari tadi dinantikan. “我愿意 wo yuan yi (aku bersedia)”


❤️❤️❤️